Married With A Geeky Man

Married With A Geeky Man
Bab 3


__ADS_3

Lin terus berjalan tanpa mempedulikan orang-orang di sekitarnya yang bertanya-tanya apakah cinta seorang Viano Gilbert diterima atau ditolak.


Tak hanya mereka yang bingung, Vian pun begitu. Dia bingung,


“apakah Lin menerimanya? Oh astagaa wanita ini memang lain dari pada yang lain.” Gumam Vian.


Pada akhirnya Vian memutuskan untuk mengejar Lin dan mempertanyakan kepastian jawabannya.


Lin yang sedang berjalan di koridor melewati kelasnya begitu saja dan memutuskan untuk ke halaman belakang sekolah. Vian yang melihat itu heran, kenapa Lin tidak masuk ke kelasnya. Dan hal itu semakin membuat seorang Vian penasaran dan terus mengikuti Lin dari belakang.


Sesampainya di halaman belakang, seakan tahu bahwa dirinya sedang diikuti, Lin mengedarkan pandangannya ke samping dan melihat Vino yang saat ini terhenti dan menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya.


“Linnn ” panggil Vian


Mendengar itu, Lin tak menjawab dan tiba-tiba dia melemparkan bunga yang belum lama ini digenggamannya itu ke tong sampah yang ada di depannya. Hal itu sontak membuat Vian terkejut.


Lin menatap Vian dan menghampirinya.


“Maaf ya,, aku gak bisa terima cinta kakak. Dan kakak boleh melakukan apapun buat bisa menyenangkan hati aku” kata Lin yang saat ini berada di hadapan Vian.


“tapi kenapa Lin? Aku pikir kamu bakal kasi aku kesempatan,, aku bisa kok buat kamu suka sama aku sambil kita pacaran” bujuk Vian dengan tatapan sedih dan berharap Lin akan merubah perkataannya.

__ADS_1


Namun, tentu tak akan semudah itu membuat Lin berubah pikiran. Bahkan dia menatap Vian dengan muka datarnya seperti biasa. Hal itu membuat Vian seakan susah menelan ludahnya sendiri. Saking gugupnya menghadapi Lin dan muka datarnya itu. Untung cantik, pikir Vian.


“aku udah sangat baik ke kamu, aku hargai kamu udah suka sama aku dan siap menjatuhkan harga diri kamu sebagai cowok popular karena nembak aku didepan umum” jelas Lin.


“ta-tapi Lin, aku mohonnnn.. pliss” pinta Vian dan jangan ditanya lagi saat ini bahkan dia sudah berlutut di hadapan Lin. Kalau tadi didepan umum, beda halnya sekarang hanya mereka berdua.


Lin tak menggubris itu dan melangkah maju ingin meninggalkan Vian yang saat ini tengah berlutut. Dia ingin ke kelas. Bisa saja Ibu Monica sudah masuk karena saat ini memang jam pelajaran Matematika. Jangan ditanya soal disiplinnya guru Matematika, kayaknya seluruh dunia juga sudah paham.


Baru beberapa langkah tangannya sudah ditarik bahkan hampir terjatuh kalau bukan karena Lin yang memang cepat menangani situasi. Lin menatap tajam ke arah Vian.


“ma-maaf Lin tapi aku mohon, kasi aku kesempatan satu kali aja. Plisss!”


Lin yang tak ingin emosinya meledak disini pun berusaha menenangkan dirinya sendiri melihat kelakuan pria didepannya itu. Sebetulnya Lin sudah terbiasa terjebak dalam situasi seperti ini. Karena kalau mau dihitung mungkin sudah ada 30-50 cowok yang menembaknya di sekolah. Dan semuanya di tolak mentah-mentah bahkan kebanyakan Lin mempermalukan mereka depan anak-anak.


Lin pun mencodongkan tubuhnya ke arah Vian seperti ingin membisikkan sesuatu ke telinga pria itu.


“LEPASIN TANGAN AKU SEKARANG!! Dan seterusnya jangan pernah ganggu aku lagi kalau kamu masih sayang sama tangan kamu itu” tekan Lin yang saat ini sedang berbisik pada Vian.


Vian yang mendengar itu dengan terpaksa melepaskan genggamannya dan membiarkan Lin pergi begitu saja. Takut? Ya tentu saja Vian masih sedikit takut pada Lin, karena Lin berasal dari keluarga Mao yang cukup berkuasa di kota. Juga soal ancaman Lin kepadanya tadi, bukanlah hal yang tidak bisa Lin lakukan. Karena hanya tinggal memerintah, hal itu akan sangat mudah terjadi. Dan Vian, tentu saja tidak bisa melawan. Karena papanya Vian hanya pengusaha kelas biasa dan sama sekali tidak setara dengan Lin.


__ADS_1


Sesampainya di kelas, Lin bersyukur karena bu Monica belum masuk kelas. Akhirnya Lin bisa masuk dengan tenang tanpa harus ada drama. Karena sejujurnya dirinya memang paling benci dengan namanya drama, itu membuat pribadinya menjadi sosok cewek yang cuek. Bukan berarti Lin tidak peduli dengan keadaan sekitarnya tapi sungguh dia hanya terlalu malas untuk mencampuri urusan orang lain. Kecuali orang itu sangat membutuhkan bantuannya.


Kelas Matematika yang menurut orang lain sangat membosankan, tidak dengan Lin. Dia sangat menikmati pelajaran Matematika. Karena memang Lin adalah anak pintar dan tidak membutuhkan waktu lama untuk mengerti setiap materi yang dijelaskan bu Monica. Tak hanya Matematika, semua pelajaran memang disukai Lin, karena pada dasarnya dia adalah anak yang suka belajar. Itulah yang membuat Lin selalu juara kelas bahkan juara umum.


Hari ini kegiatan sekolah telah dilewati Lin dengan baik. Dan seperti biasa, dia akan lanjut dengan les piano selama 1 jam, setelah itu ke tempat pelatihan bela diri. Ya, Lin memang belajar bela diri. Bukan hanya karena kemauan pribadi, tapi ayah Lin selalu berpesan pada Lin bahwa dia harus bisa melindungi dirinya sendiri. Maka dari itu Lin harus menjadi wanita kuat dan cerdas.


Seusai les piano, Lin melajutkan perjalanannya ke tempat pelatihan bela diri yang sering dikunjunginya. Kebetulan tempat les piano hanya berada di gedung belakang sekolahnya. sedangkan tempat pelatihan bela diri cukup jauh yakni sekitar 1 jam dari sekolah nya.


Hal yang paling disukai Lin saat pergi ke tempat pelatihan ialah dia dapat menikmati pemandangan indah sepanjang perjalanan. Karena memang tempatnya melewati beberapa perkebunan yang cukup luas. Pernah Lin kepikiran untuk tinggal di daerah sini, karena suasananya yang asri dan sejuk membuat Lin nyaman dan merasa tenang. Mungkin inilah salah satu faktor utama tempat pelatihannya dibangun di sekitar sini. Selain tempatnya sejuk juga sangat tenang dan cocok untuk seni bela diri, karena kita juga diajarkan untuk dapat mengontrol emosi kita ketika bertarung. Dan ketenangan sangat diperlukan untuk itu.


BOOMMMSSSSS


Tiba-tiba mobil yang dikemudikan sang supir terhenti secara mendadak karena ban mobil yang seperti meledak. Sontak saja hal itu mengejutkan Lin dan supirnya yang selama ini selalu setia mengantarkan dirinya kemana pun dia mau.


“ Maaf non, saya akan periksa sebentar” kata supir pribadinya itu.


Lin hanya bisa diam dan menganggukkan kepalanya. Sang supir lantas memberi hormat dengan menundukkan kepalanya dan segera keluar dari mobil.


Setelah cukup lama melihat keadaan, supir itu masuk kembali ke dalam mobil untuk melaporkan hal ini pada atasannya itu.


“Non, sepertinya ban mobil kita kempes. Tapi sepertinya ada yang berniat jahat non, karena saya lihat ada beberapa paku yang seperti sengaja ditebarkan di jalanan.” Jelas pak supir.

__ADS_1


“ hmm, kalau begitu segera ganti dengan ban serep. Karena saya akan terlambat ke tempat pelatihan” balas Lin, dan seperti biasa dia hanya biasa saja menghadapi situasi ini. Walaupun ini kali pertama kejadian seperti ini bisa terjadi.


__ADS_2