Married With A Geeky Man

Married With A Geeky Man
Bab 12


__ADS_3

Kesan menyenangkan yang terdengar dari dalam sebuah bus yang dikenakan rombongan pelajar itu. Riuhnya suara teman sekelas tak membuat Lin terusik sama sekali. Dia justru menikmati kebersamaan ini. Karena sejatinya dia adalah orang yang kesepian. Lin memang tidak memiliki seorang teman. Selama di sekolah, bisa dikatakan hanya Geza yang sering berbincang dengannya. Ya, meskipun itu hanya beberapa kata saja.


“Baiklah anak-anak, ibu harap kalian dapat menyelesaikan kegiatan ini dengan baik. Jaga perilaku kalian di desa ini, jangan sampai mencemarkan nama baik sekolah kita. Dan ingat, kita disini bukan untuk liburan. Maksimalkan waktu sebaik mungkin, sekalian kalian belajar bagaimana kehidupan di desa” jelas Bu ning yang tak lain adalah perwalian kelas XI IPA 1.


BAIKK BUU!! Serempak para siswa menjawab


“Baik. Ayo kita turun” ajak bu Ning karena bis yang dikenakan mereka kini telah terhenti tepat di depan balai desa.


Terlihat beberapa warga desa setempat turut menyambut rombongan para siswa dari sekolah X, yang berdasarkan informasi beredar sekolah ini merupakan salah satu sekolah elit juga memiliki siwa-siswi unggulan. Mereka tentu sangat antusias menantikan program apa yang akan dilakukan anak-anak ini.


“Mari bapak, ibu, anak-anak” ajak seorang bapak dengan senyum merekah, yang diyakini Lin tak lain adalah ketua RT desa ini.


“Nah, saya selaku ketua RT disini sangat senang menerima adik-adik rombongan sekolah X untuk melakukan program sekolah di desa kami. Dengan harapan kami menantikan program yang akan dijalankan oleh adik-adik yang tak lain tentu demi kepentingan warga” Lanjutnya saat mereka sudah berada di dalam balai pertemuan.


.


.


.


.


Para siswa mendengarkan dengan seksama acara sambutan itu sebelum akhirnya mereka ditempatkan di sebuah pondok khusus yang sudah disediakan pihak desa.



Bangunan lama dengan nuansa tradisional itu memiliki cerita tersendiri bagi warga desa. Dua bangunan saling berhadapan itu membagi rombongan siswa laki-laki dan perempuan menjadi terpisah meskipun berdampingan. Mala mini mereka akan langsung beristirahat usai menggelar makan malam bersama di balai tadi. Karena memang waktu para rombongan hampir malam dikarenakan jarak desa yang cukup jauh.


“Haah, rasanya sedikit melelahkan” Melina meregangkan seluruh otot tubuhnya sambil menikmati pemandangan malam di desa itu. Ia sangat menyukai suasana desa. Rasanya sejuk dan asri.


Pemandangan di sekitar rumah tradisional yang mereka tempati memang sangat indah. Letaknya didaerah dataran tinggi membuat seluruh pemandangan desa terlihat dari tempat Lin berdiri saat ini.


“Aku sangat menyukai tempat ini”


“Mami, Ayah, apa kalian sedang melihatku sekarang? Lihatlah aku sekarang sudah makin dewasa. Aku sudah bisa mengemasi barang-barangku sendiri untuk datang kemari. Aku menyediakan segala keperluanku ” suasana seperti ini kembali membuat Melina teringat akan kedua orang tuanya.


“kenapa kalian harus pergi begitu cepat? Aku bahkan tidak sempat mengucapkan apapun. Ak- aku masih sangat membutuhkan kalian. Aku membutuhkan didikan kalian, kasih sayang kalian, perhatian kalian.. aku masih ingin merasakan itu semua. Ke-kenapa Tuhan mengambil kalian dariku? Rasanya tidak adil” Melina mengungkapkan isi hatinya dengan sedikit berteriak. Seakan terlena dengan suasana saat ini, Melina sampai tak menyadari jika perkataannya mungkin bisa terdengar oleh orang lain.


.

__ADS_1


.


“Hidup manusia itu ibarat sebuah Kapal. Berlayar adalah fungsi utamanya, karena jika tidak bisa kau bukan apa-apa dengan kata lain tak berguna. Badai dan ombak hal biasa yang sering ditemui ketika berlayar. Dan kau tak bisa menghindari itu. Jika tidak mampu melewatinya kau akan mati tenggelam. Tapi jika bisa, kau akan terus melaju hingga sampai dermaga. Toh akan ada waktunya kau berhenti”


DEG


Melina tersentak mendengar itu. Benar saja. Ada seseorang yang mendengar semua perkataanya.


“Ge-geza” Ujarnya.


Sementara itu, pria yang disebutkan mengangkat wajahnya dengan sedikit memperbaiki kaca mata yang digunakannya. Melihat kearah Lin yang juga sedang menatap kearahnya.


“Kau sangat berisik dan mengganggu Melina” Pungkasnya. Walaupun dengan nada halus, tetap saja membuat Melina mendelik tersinggung. Bagi kaum wanita, kalimat seperti itu terdengar kasar.


“Sejak kapan kau disitu? Aku tidak melihatmu”


“Sejak kau datang ke tempat ini. Bagaimana kau bisa melihatku, kau bahkan tak pernah memperhatikan sekelilingmu. Kau hidup diduniamu sendiri” Kata Geza


“Maaf mengganggumu” tak ingin memperpanjangnya Melina bergegas meninggalkan Geza seorang diri.


Geza hanya bisa melihat Melina yang pergi sambil menunduk seakan menahan malu. Tanpa sadar senyumnya terbit melihat tingkah wanita itu. Melina memang cantik, siapapun akan jatuh cinta dengan fisiknya. Tapi Geza adalah seorang pria yang tidak hanya melihat wanita dari segi fisiknya. Fisik tidak selalu menjadi tolak ukur untuk menyukai seseorang. Karakter dan perilakulah yang menentukan dirinya berkualitas atau tidak.


***


.


“emp, Lin apa kau ingin makan buah? Aku akan mengambilkannya untukmu” Ujar Jack. Sementara yang ditanya hanya menatapnya dengan datar.


“ehm bagaimana kalau buah naga?” tanyanya lagi


“Anggur mungkin? Oh aku tahu, apel? “ tanpa berniat membalas pria itu, Lin beralih mengambil tempat duduk sambil memainkan handphone disana.


.


“Hey kau itu sudah ditolak. Sudahlah, berhenti mengganggu Melina ku” Vano datang menimpali, diikuti beberapa teman dengan gelak tawa mengejek Jack.


“Apa urusanmu?! “ Jack pergi meninggalkan mereka dengan perasaan kesal.


“UPS!! Lihatlah dia sedang merajuk”

__ADS_1


HAHHAHAH


“Ok. Kalian lihat ya, aku pasti akan mendapatkan Melina” Kata Vano pada teman-temannya itu


“Kau yakin? Aku sih tidak ahahhhaha” timpal Philip menertawakan Vano


“iya, kau tahu kan Melina itu susah didekati. Selain cantik dan pintar, dia juga kaya. Anak konglomerat ni boss” Tao menambahkan


“Pokoknya kalian lihat saja dulu. Kebiasaan sudah berkomentar tanpa melihat hasilnya” Omel Vano pada kedua temannya.


“Ok kita lihat saja nanti. Kau kelihatannya sangat yakin” ujar Tao


“bagaimana kalau kita taruhan?”


“Kau benar phi, Jika kau tidak bisa mendapatkan Melina setelah kegiatan kita di desa selesai, kau harus mencuci mobilku dan philip sebulan penuh” tantang Tao pada Vano.


“Ok siapa takut. Tapi jika aku bisa mendapatkan Melina, kalian harus membayarku 100jt. Gimana?” Pungkas Vano merasa dirinya akan menang.


“Wahh kau menjadikannya objek mencari uang rupanya” kata Philip


“kalian lebih dulu meremehkanku”


“Baiklah aku setuju” kata Philip, dia sangat yakin Melina tidak akan mungkin menerima Vano


“Sepakat” Tao juga sama yakinnya. Sementara Vano hanya tersenyum melihat kedua temannya itu.


.


.


Disudut lain, Geza sempat mendengar percakapan para lelaki pagi itu. Semenjak bersekolah hanya satu nama yang sering Geza dengar dari para pria, siapa lagi kalau bukan Melina Mao. Beberapa dari mereka memang mengincar Melina. Mungkin bukan hanya mengagumi, tapi citra mereka tentu akan naik jika berhasil mendapatkan seorang Melina.


Dia memang famous di sekolah ini. Gumam Geza sedikit melirik ke arah Lin yang cuek-cuek saja dengan para pria itu.


..


...************************%%%%%%%%%*******%%%%*******************...


Hai readers?! Masih penasaran kan dengan kelanjutan kisah Melina dan Geza??..

__ADS_1


Maaf yaa, author jarang update karena lagi ada kesibukan akhir-akhir ini🙏


Tolong kasi authornya vote, like dan hadiah yaa.. biar tambah semangat nulisnya🤗🥰


__ADS_2