
“tapi aku gak suka kamu kayak gitu lagi” rengek wanitanya
“ iya, iya aku gak akan ulangin lagi, ok” sambil menyuapi sang kekasih makanan yang tadi dipesannya. Mereka nampak akur kembali saat tadi memulai drama saat menginjakkan kaki di kantin.
Sementara itu, seorang wanita yang kini tengah duduk sendiri menikmati coffe kesukaannya terihat jengah dengan drama orang-orang disekitarnya. Hal ini sudah biasa ditemui Lin saat ke kantin.
Sebulan sudah Lin lewati tanpa adanya perkembangan apapun. Jika terus menunda mungkin Lin akan kehilangan perusahaan sang ayah. Tapi Lin juga sedang buntuh memikirkan cara mendapatkan pasangan yang tepat, sesuai permintaan Pak Riko. Lin memutuskan mengikuti ide Riko, tapi tidak mudah bagi Lin mendapatkannya secepat mungkin.
Disaat pikirannya sedang berkecamuk, tak sengaja seorang pria yang sedang dihindarinya lewat didepannya kala itu. Lebih mengejutkan lagi, pria itu hendak menarik kursi dihadapannya dan duduk dengan pandangan yang terlihat sangat serius bagi Lin.
“Melina” satu kata yang mampu membuat hati Lin sedikit tergelitik.
“i-iya. Kenapa?” Tanya Lin mencoba menetralkan keterkejutannya.
“Aku ingin menanyakan suatu hal padamu?”
“Apa? “ sebelum menjawab, pria itu tampak memperhatikan sekitar seolah dia ingin mengatakan suatu rahasia.
“Apa Zaskia Firon adalah ibu mu? Lin mengernyitkan keningnya mendengar apa yang dikatakan laki-laki dihadapannya itu.
Tidak biasanya dia seperti ini. Dan apa dia mengenal mama?!. Gumam Lin dalam hati.
“em-mp, apa kau mengenal ibu sambungku?” laki-laki itu terkejut mendengar bahwa wanita itu adalah ibu sambung,
maksudnya ibu tiri? bukan ibu kandung,, pikir Geza.
“Tidak, lupakan saja. Ma-maaf mengganggu waktumu” setelah dipikir-pikir Geza masih ragu dengan apa yang ditemuinya semalam. Dan mengetahui bahwa Zaskia bukan ibu kandung Melina sudah cukup bagi Geza. Dia pun melangkah meninggalkan Lin dengan tergesa-gesa.
“Hei.. “ Lin melongo melihat kepergian cowok itu setelah berhasil membuatnya penasaran.
Astga, benar benar pria ini. Lagi dan lagi dia dihiraukan oleh pria culun yang satu ini. Bahkan mereka sudah berhasil menjadi pusat perhatian semua penghuni kantin kala itu.
“Bisa aja tuh si culun deketin Melina”
“Iya, kalau aku jadi Melina aku bakal risih sih”
“Ehh, tapi kerap beberapa kali aku liat si Melina yang nyamperin si culun duluan”
“Apa mungkin mereka… “
__ADS_1
HAHAHHAHAHHAHA
ketiga gadis itu kemudian tertawa bersamaan dengan Lin yang pergi meninggalkan Kantin setelah mendengar ocehan mereka.
**
Langit bercahaya oleh karena ribuan bintang yang menghiasi. Malam ini tampak cerah. Ribuan bintang yang bersinar sedikit menyilaukan mata, tapi tentu tak sebanding dengan apa yang ada dibawah langit. Bunyi klakson kendaraan yang saling bersautan menambah kesan ramainya kota. Saat ini Melina sedang menikmati udara malam dengan sedikit kemacetan.
“Maaf Non, sepertinya didepan ada pasar malam” suara sang supir memecah lamunan Lin.
“Pasar malam?”
terus terang Lin sangat ingin kesana. Sejak dulu waktu kedua orang tuanya masih ada, Lin sering pergi bersama mereka. Menikmati malam dengan menaiki beberapa wahana dan mencoba berbagai jajanan, rasanya sangat menyenangkan apalagi dengan orang yang kita sayang. Melina jadi teringat akan kedua orang tuanya..
FLASHBACK ON
“Melinaa, jangan lari-larian begitu sayang” Sandrina berlari mengejar putrinya yang tidak sabaran ketika mereka baru tiba.
“hehe, mama ayo cepe-tan dongg, Lin gak cabal pengen naik itu” Lin kecil menunjuk kearah bianglala yang cukup ramai didatangi pengunjung ingin menaikinya.
“Iya sebentar ya, kita tunggu ayah dulu” jelas Sandrina sambil mendekap Melina kemudian menuju sebuah kursi dan memutuskan menunggu Maurits yang sedang menerima telpon.
1 menit
5 menit
.
.
hingga 10 menit
“Ma- mama kok ayah lama” Tanya Lin dengan tidak sabaran
“Iya sebentar lagi sayang, ayah mungkin lagi menerima telpon penting” Sandrina juga sebenarnya heran kenapa suaminya lama sekali, padahal mereka sudah menunggu sekitar 10 menit di tempat ini.
Tak lama kekhawatirannya pudar saat melihat orang yang dicintainya datang membawa sesuatu yang sangat disukai puteri kecilnya itu.
“Ayahh, ayah, Lin mau, mau” benar saja. Lin lebih dulu melihat ayahnya datang membawa gulali besar berwarna pink yang sangat menggiurkan di matanya. Dia bahkan sudah merengek ingin segera mengambil gulali itu dari tangan ayahnya.
__ADS_1
“Astagaa anak ayah, awas nanti jatuh sayang” Maurits segera memberikan Gulali itu kepada puteri kesayangannya yang hampir jatuh karena ketidaksabarannya.
“Maaf sayang aku lama karena tadi sempat mengantri membeli ini, hehe” Maurits menggaruk tengkunya yang tak gatal setelah melihat tatapan tajam dari sang istri.
“Aku hampir saja mau menyusul kamu, Mas”
“Yasudah ayo sekarang kita kemana dulu?” Tanya Maurits sambil mengusap lembut kepala sang istri dengan penuh sayang.
“ emp, sepertinya Lin ingin naik bianglala itu mas” Tunjuk sandrina sesuai keinginan anaknya tadi.
“oh ya,, baiklah. Ayo berangkat! “ teriak Maurits dengan penuh semangat 45 mengangkat putrinya yang terkejut karena tengah asik menikmati gulali di tangannya.
Ahaha ahahah haha
Terdengar gelak tawa Melina kecil saat ayahnya mengangkat tubuhnya setinggi mungkin kemudian menghempaskannya tapi kemudian mengayunkan kembali. Sandrina yang melihat itu ikut tertawa bahagia. Mereka pun menaiki beberapa wahana dan mencicipi beberapa jajanan yang terlihat menggiurkan. Tak lupa juga mereka mengabadikan kebahagiaan malam ini dengan ber-selfie ria.
FLASHBACK OFF
Tak bisa menampikkan rasa itu, Lin tersenyum haru dengan perasaan gundah sekaligus rindu. Tak pernah terbayangkan sebelumnya kehidupannya akan seperti ini. Ibunya yang sangat dicintainya pergi begitu cepat, tanpa melihat dirinya tumbuh menjadi gadis dewasa. Begitupun sang ayah, bahkan Lin belum menyelesaikan sekolahnya. Waktu bersama kedua orang tuanya terasa sangat singkat.
“Maaf non, Apa non mau mampir? “ Tanya sang supir
“Baiklah. Kita berhenti sebentar saja, pak.”
“Baik non” setelah melihat ada kesempatan, sang supir langsung membelokkan mobilnya mencari tempat parkir di sekitar pasar malam itu.
Cukup lama mereka berada dalam mobil tanpa melakukan apapun. Melihat majikannya seperti tidak ingin turun, sang supir hanya bisa menatap sendu kearah pandangan Lin saat ini. Seolah ikut merasakan apa yang dirasakan majikannya itu. Pak sam tentu tahu betul karena dulu dia juga kerap kali mengantar keluarga bahagia itu ke tempat yang sedang dijadikan pasar malam seperti sekarang ini.
*
“Ayoo, kau pokoknya harus tanggung jawab dengan menemaniku malam ini” desak seorang wanita sambil menarik lengan seorang pria secara paksa.
“Hei, lepaskan aku” pinta sang pria
“ TIDAK. Kau pokoknya harus menemaniku jalan-jalan malam ini. Kita bisa menikmati banyak hal di pasar malam ini” Ultimatum sang wanita sambil tersenyum kearah pria yang baru ditemuinya tadi. Cukup lucu tapi entah kenapa membuatnya tertarik.
“Tapi ke- “ belum sempat dia berbicara, wanita asing ini sudah keburu menariknya memasuki wahana rumah hantu.
“Ke-kenapa kita masuk kesini? “ Tanya sang pria yang terkejut ketika mereka kini sedang berada di sebuah ruangan dengan lampu remang-remang.
__ADS_1
**********************%%%%%%**********************
Jangan lupa like dan vote terus author nya yaa🤗