
...Kamu Dan Aku Sama Dengan Kita...
Riuh suara angin sepoi-sepoi, di iringi dengan merdunya suara burung berkicauan, semiring pepohonan yang rindang membawaku kepada kesejukan dan juga kebahagiaan, bukan karena aku mampu melupakan sejenak masalah ku tetapi karena aku pun bahagia karena bisa bertemu sepupu ku Raisa.
"Udah lama gak ketemu kamu udah gede aja Sa!" Ujarnya
"Kamu juga tambah tinggi!" Jawabnya
"Aku sampai gak nyampe" ungkapnya lirih
Cahaya matahari menghampiriku dengan tersenyum lebar aku melangkah.
"Eh kamu mau kemana?" Tanya mamaku
"Mau jalan sekolah ma?" Ujar Arya polos
"Kamu mau jalan sekolah masa gak sarapan dulu sih?" Jawab mamaku
"Lama mah nanti gak keburu!" Ujarnya
"Ywdh nih bawa bekal saja!" Ungkap mamaku
"Enggak ah udah kayak anak TK aja, malu aku ma!" Jawab Arya
"Ywdh bareng papa ajah!" Ujar papaku
"Enggak ah papa kan gak searah dengan ku!" Ujar Arya
***
Pernah gak jalanin hubungan sama seseorang yang cuma mau didengarin, tapi gak pernah mau dengerin kamu? Yang sama dia tuh, kamu gak ada kesempatan untuk cerita, karena dia akan selalu bandingin masalah kamu dengan masalahnya. Pernah gak dekat sama orang yang kayak gitu? Keadaannya tuh kayak: "ya aku sayang kamu, tapi semakin kesini hubungan ini justru bikin aku merasa sendirian."
Jarak terkadang membuatnya menjadi asing, membuat seseorang tak percaya akan kekuatan cinta. Silangit yang sama kamu berada, namun belum kamu temukan satu sosok pilihan-Nya.
Bagiku hidup hanya selalu hitam dan putih, kebahagiaan akan selalu berbanding lurus dengan kesedihan. Kita hanya menunggu waktunya bergiliran bukan?
Begitupun dengan kesunyian.
Hari ini terasa ramai, mungkin esok kita akan berdialog lagi dengan kesendirian.
Meski dalam keramaian aku masih merasa kesepian, entah kenapa sunyi sepi ku rasa tanpa seseorang yang bisa menemani ku di kesendirian ini, tak terasa sudah semakin jauh aku berjalan sendiri. Egois ku rasa bila aku mengeluh saja tanpa mau berusaha, entah kenapa goresan pena ku sampai pada titik kosong dimana tinta hitam yang ku tulis diatas kertas putih ternyata telah habis, setiap yang ku tulis sesuai dengan perjalanan hidup dimana hati menangis menjerit menceritakan setiap perjalanan hati yang lirih, meski sang waktu berbicara dengan nada yang lirih sambil di temani sang piano yang terus berbunyi dengan merdunya seperti melodi sendu yang menohok hati. Jarum jam terus berdetak kencang ke arah sumbu yang tak terbatas dengan penuh ke haluan aku terus bertanya kepada diriku sendiri, hari ini apakah akan lebih baik dibandingkan hari-hari sebelumnya atau malah akan memberikan aku kesibukan uang sebenarnya membawaku pada rasa takut untuk memulai perubahan.
Sudah berkali-kali dilukai hatinya, sudah berkali-kali pula diabaikan perasaannya, tapi masih tetap ingin mencintai orang yang sama. Ya gimana ya?. Barang kali, kita memang tak tau masa depan seperti apa yang akan kita punya, namun kita masih bisa mengusahakannya.
Saat itu, ketika aku berjalan di sebuah lorong tanpa ku sadari seperti ada seseorang mengikuti langkah kaki ku, namun saat aku menoleh ke belakang tidak ada siapa-siapa.
"Hmmm, kayak ada yang ngikutin gue?" Ujar ku dalam hati
Sssttttttt...
__ADS_1
Riuh ku dengar suara angin, angin yang membuat aku merinding dan membuat ku ngeri ketakutan.
"Loh kok bulu kuduk gue berdiri" ungkapnya
Saat ku menengok ke belakang lagi...
(Nengok) kanan... Kiri
"Gak ada siapa-siapa" ujarnya
"Ini jalanan kenapa angker amat ya!" Ujarnya dalam hati
Tiba-tiba ku dengar suara seseorang memanggil namaku..
"Arya!!!" Panggilnya dari kejauhan
"Kayak ada yang manggil nama gue!" Ungkapnya
"Tapi suaranya....." Ujarnya sambil gemetar
Dan tiba-tiba ada seseorang menepuk pundak ku...
"Woy!!" Ujarnya
"Akhhhhhh, kabur!!!" Ujar Arya sambil berlari ketakutan
"Lah dia kenapa?" Tanya Rian
"Kenapa muka Lo di tekuk aja?" Tanyanya
"Enggak kenapa-kenapa kok!" Jawabnya
"Paling gara-gara cewek" ujar yang lain
"Apaan sih Lo ikut nimbrung ajah!" Jawabnya
Tiba-tiba di kejauhan ada Arya yang sedang berlari ketakutan, dan menghampiri teman-temannya.
"Kenapa Lo ya?" Tanya yang lainnya
"Tau kayak di kejar-kejar setan ajah" jawabnya
Uhhhhhhhmm...
Aku cuma bisa terengah-engah dan terbata-bata, bahkan mau cerita panjang lebar aja butuh waktu.
"Tadi di pertengahan jalanan yang lorong itu, tiba-tiba ada yang manggil gue terus dia juga nepuk pundak gue...." Ceritanya panjang lebar
Dan dari kejauhan tiba-tiba Rian datang.
__ADS_1
"Apaan sih Lo Ya, gue panggil kagak nyaut-nyaut" ujarnya
"Lah Rian Lo ngapain?" Tanyanya
"Jadi tadi itu elo?" Tanya Arya
"Ya iyalah masa hantu!" Ujar Rian
Rian dan Arya memang satu kelas ditambah lagi keduanya juga bersahabat meski terkadang selalu berantem melulu kalau ketemu. Sifat Arya yang polos dan lugu membuat dia jadi bahan untuk bercandaan kawan-kawannya, sedangkan Rian yang orangnya terkenal paling jahil malah punya banyak fans di kalangan cewek-cewek, meski begitu Rian cuma punya satu cewek yaitu Ara.
"Btw pesenin gue mie gaul dong!" Ujar Rian
"Lo ajah!" Ujar Arya
"Elo dong kan elo yang neraktir gue" jawab Rian
"Apaan sih Lo, ywdh gue pesenin, tapi gue tulis Lo ngutang sama gue ya" jawab Arya
"Lah!" Ujar Rian
Biar begitu diantara teman-temannya yang lain cuma Rian ajah yang keliatan keren tapi sayang dia gak punya duit. Sedangkan di kamus Arya gak ada kata teman bagi dia hutang ya tetap hutang.
"Bu es nya ngutang dulu!" Ujar Rian
"Apaan sih kamu yang kemaren aja belum di bayar!" Ujar Bu kantin
Rian, selalu pengen eksis tapi sayang kantongnya bolong. Motor yang dia pakai saja merupakan motor dari bengkel ayahnya yang dia pakai untuk ke sekolah, sedangkan kalau dia sudah pulang sekolah terkadang ayahnya gak tau kalau motor di bengkel yang pakai adalah dia.
"Ini kenapa ada baret-baretnya gini perasaan udah di rapihin" ujarnya
"Di!" Panggil ayahnya Rian ke karyawannya
"Iya pak!" Jawabnya
"Ini motor siapa yang make?" Tanyanya
"Hmmm" dia cuma bisa diem dan pura-pura gak tahu karna udah di sogok sama Rian
"Anu pak!" Jawabnya terbata-bata
"Anu anu apanya?" Ujar ayahnya Rian
"Pasti Rian yang make ya?" Tanyanya
Setiap ke sekolah Rian selalu Gonta ganti motor tetapi bukan motor miliknya melainkan milik pelanggan di bengkel motor ayahnya, alhasil Rian di marahi habis-habisan sama ayahnya.
"Kamu ini bagaimana sih, sudah ....." Ayahnya Rian marah-marah tapi aku skip.
Rasa yang kita anggap pergi ternyata masih ada, cuma ada kata antara aku dan juga dia, fotonya saja masih ku simpan tetapi tidak ku pajang hanya ku taru di lemariku dan ku letakkan di bagian paling dalam, itu pun jarang sekali aku sentuh. Dia memang berbeda bukan seperti Raisa yang ku kenal dahulu, hanya tinggi badannya saja yang masih sama, orang bilang kalau cinta apapun bisa terjadi tapi ini berbeda cuma sebuah rasa yang tiba-tiba nempel kemudian dia pergi entah kemana. Kayak Dejavu dia ilang terus datang dia pergi kemudian kembali, sebuah rasa yang tersimpan dengan penuh kehangatan kasih sayang tetapi banyak hal pula yang membuat itu istimewa.
__ADS_1
***