
...Pertemuan...
Dan di balik pertemuan Raisa dan Yudha, di tengah-tengah perbincangan mereka ada Ara dan Rian yang sedari tadi sedang joging di taman.
"Ay, bukannya itu Raisa ya?" Tanya Ara
"Yang mana sih?" Tanya Rian
"Itu!" Ujar Ara sambil menunjuk ke arah ke dua pasangan yang sedang berpelukan mesra di taman
"Kamu ngapain sih pake ngeliatin orang pacaran!" Ujar Rian
"Yeh siapa yang ngeliatin, orang aku juga tiba-tiba ngeliat mereka kok!" Jawabnya polos
"Iya itu kayak Raisa, tapi cowok yang bersamanya siapa ya?" Tanya Rian
"Mana ke tehe!" Jawab Ara polos
"Hadeuhh!!" Ujar Rian
Jangankan untuk sekedar menyimpan rasa, untuk berkata-kata saja aku tak mampu, aku tak mampu dan tak berdaya untuk melihatnya, dia yang manja dan juga manis membuat aku selalu ingin bersamanya tetapi sayang dia saudari ku dia adalah sepupuku Raisa, aku baru teringat kalau Raisa tinggal di Bandung sementara aku di Jogja. Sudah lama sekali aku tak pergi ke Bandung karena aku memang tak terlalu dekat dengan Raisa, sementara sifat Raisa sangat hangat dan perhatian padaku membuat aku tersanjung.
***
Bukan kisah Romeo dan Juliet yang kisahnya apik tertulis dan juga di filmkan, bukan pula tentang Rama dan Shinta yang termasyhur. Bukan orang kaya, cuma orang biasa, bukan penulis tapi hanya seseorang yang ingin meluapkan setiap perasaan lewat bait kata-kata dan juga goresan tinta yang ku tuangkan bersama hati dan juga perasaan.
__ADS_1
Bait semusim yang tertulis manis tentang kisah kasih aku bersamanya yang duduk di pelataran cinta bersama dengan hati ku yang selalu terngiang-ngiang akan bisikan cintanya yang begitu merdu, tanpa batas waktu yang terungkap tapi tak mampu ku ucap. Aku hanya seseorang yang memujanya di balik kejauhan, aku hanya hanya seseorang yang berusaha keras untuk tetap setia bersamanya meski aku hanya berada di balik kejauhan, jangan tanyakan perasaan ku jika kau tak bisa beralih dari masa lalu yang menghantuimu karena ini sungguh tidak adil.
Gemercik suara hujan yang deras dari tetesan air hingga terdengar kencang, gak cukup satu tapi ribuan genangan air itu menyapu bahuku dan membasahiku, aku hanya terdiam sembari membiarkan setiap genangan air hujan dan juga riuh suara angin berhembus kencang di wajahku. Aku bukan siapa-siapa, aku bukan sang sutradara yang menciptakan perjalanan hidupku yang terdokumentasikan menjadi sebuah film. Meski dalam keramaian aku masih tetap sendiri dan merasa kesepian, seperti hanya ada seekor kunang-kunang yang menemani di kesunyian. Aku hanya aku dan bukan dia, biar ku simpan rasa ini di kejauhan karena mungkin kau bukan untukku dan mungkin pula rasa ini suatu saat akan hilang dengan sendirinya.
Pernah gak sih kamu suka sama seseorang tapi hanya sebatas rasa dan gak pernah bisa mengungkapkannya, mungkin ajah kamu takut tapi sebenarnya juga malu jika harus berhadapan langsung sama orang yang kamu sukai jadinya kamu cuma berusaha buat nutupin perasaan kamu dan sekedar diam dan canggung atau awkward jika berhadapan sama orang yang kamu sukai alhasil kamu jadi terlihat seperti orang absurd dan aneh diharapkannya. Aku adalah puisi bersyair harapan, bersajak rindu, serta berbaiat kenangan dan masa lalu, mencoba melupa namun tak kuasa, hanya dapat menggenggam kenangan dan masa lalu dalam harapan rindu yang ingin ku ubah menjadi kenyataan. Namun aku sadar masa lalu tetaplah sebuah masa lalu, tak perlulah berharap banyak padanya jikapun nantinya dia kembali datang kisahnya jelas sudah tak sama. Lantas kenapa hati ini tak ingin berhenti berharap, padahal ia sendiri tahu bahwa masa lalu telah meninggalkannya. Dan yang meninggalkan semestinya tak untuk dikejar bukan?.
Bukan kisah Romeo dan Juliet yang kisahnya apik tertulis dan juga di filmkan, bukan pula tentang Rama dan Shinta yang termasyhur. Bukan orang kaya, cuma orang biasa, bukan penulis tapi hanya seseorang yang ingin meluapkan setiap perasaan lewat bait kata-kata dan juga goresan tinta yang tertulis bersama hati dan juga perasaan.
Bait semusim yang tertulis manis tentang kisah kasih aku bersamanya yang duduk di pelataran cinta bersama dengan hati ku yang selalu terngiang-ngiang akan bisikan cintanya yang begitu merdu, tanpa batas waktu yang terungkap tapi tak mampu ku ucap. Aku hanya seseorang yang memujanya di balik kejauhan, aku hanya hanya seseorang yang berusaha keras untuk tetap setia bersamanya meski aku hanya berada di balik kejauhan, jangan tanyakan perasaan ku jika kau tak bisa beralih dari masa lalu yang menghantuimu karena ini sungguh tidak adil.
Gemercik suara hujan yang deras dari tetesan air hingga terdengar kencang, gak cukup satu tapi ribuan genangan air itu menyapu bahuku dan membasahiku, aku hanya terdiam sembari membiarkan setiap genangan air hujan dan juga riuh suara angin berhembus kencang di wajahku. Aku bukan siapa-siapa, aku bukan sang sutradara yang menciptakan perjalanan hidupku yang terdokumentasikan menjadi sebuah film. Meski dalam keramaian aku masih tetap sendiri dan merasa kesepian, seperti hanya ada seekor kunang-kunang yang menemani di kesunyian. Aku hanya aku dan bukan dia, biar ku simpan rasa ini di kejauhan karena mungkin kau bukan untukku dan mungkin pula rasa ini suatu saat akan hilang dengan sendirinya.
Bukan seseorang yang pandai merangkai kata, bukan pula seorang cenayang yang mampu mengungkapkan kata-kata, bukan pula sang pendahulu yang mampu mengucapkan kata, dan bukan pula sang pelukis yang mampu menggambar kata-kata. Setiap asa melukiskan kata, setiap hal memberikan informasi tentang perjalanan hidup dan setiap waktu akan menggoreskan tinta tentang arti kebahagiaan dan juga kesedihan. Gue cuma orang biasa bukan seorang protagonis yang layak di sanjung dan juga bukan sosok antagonis yang layak buat di bully, bukan juga seorang figuran yang cuma numpang lewat, gue bukan cewek gaul yang sok gaul dan juga bukan cewek keren yang sok keren, gue gak seromantis Nicolas Saputra dan juga gak secantik Dian Sastro Wardoyo, btw ini bukan kisah antara Rangga dan Cinta.
Riuh suara angin sepoi-sepoi, di iringi dengan merdunya suara burung berkicauan, semiring pepohonan yang rindang membawaku kepada kesejukan dan juga kebahagiaan, bukan karena aku mampu melupakan sejenak masalah ku tetapi karena aku pun bahagia karena bisa bertemu sepupu ku Raisa.
"Udah lama gak ketemu kamu udah gede aja Sa!" Ujarnya
"Kamu juga tambah tinggi!" Jawabnya
"Aku sampai gak nyampe" ungkapnya lirih
Jangankan untuk sekedar menyimpan rasa, untuk berkata-kata saja aku tak mampu, aku tak mampu dan tak berdaya untuk melihatnya, dia yang manja dan juga manis membuat aku selalu ingin bersamanya tetapi sayang dia saudari ku dia adalah sepupuku Raisa, aku baru teringat kalau Raisa tinggal di Bandung sementara aku di Jogja. Sudah lama sekali aku tak pergi ke Bandung karena aku memang tak terlalu dekat dengan Raisa, sementara sifat Raisa sangat hangat dan perhatian padaku membuat aku tersanjung.
Riuh suara angin sepoi-sepoi, di iringi dengan merdunya suara burung berkicauan, semiring pepohonan yang rindang membawaku kepada kesejukan dan juga kebahagiaan, bukan karena aku mampu melupakan sejenak masalah ku tetapi karena aku pun bahagia karena bisa bertemu sepupu ku Raisa.
__ADS_1
"Udah lama gak ketemu kamu udah gede aja Sa!" Ujarnya
"Kamu juga tambah tinggi!" Jawabnya
"Aku sampai gak nyampe" ungkapnya lirih
Cahaya matahari menghampiriku dengan tersenyum lebar aku melangkah.
"Eh kamu mau kemana?" Tanya mamaku
"Mau jalan sekolah ma?" Ujar Arya polos
"Kamu mau jalan sekolah masa gak sarapan dulu sih?" Jawab mamaku
"Lama mah nanti gak keburu!" Ujarnya
"Ywdh nih bawa bekal saja!" Ungkap mamaku
"Enggak ah udah kayak anak TK aja, malu aku ma!" Jawab Arya
"Ywdh bareng papa ajah!" Ujar papaku
"Enggak ah papa kan gak searah dengan ku!" Ujar Arya
***
__ADS_1