Masa Remaja

Masa Remaja
Episode 47


__ADS_3

...Sepotong Cinta...


Jauh sudah langkahku menyusuri hidupku yang penuh tanda tanya, kadang hati bimbang menentukan sikapku tiada tempat mengadu, hanya iman di dada yang mampu membuatku selalu tabah menjalani. Lama sudah ku jalani setiap rintangan yang harus ku lewati, penak pedih dan hanya terdiam dalam emosi yang tak beraturan perjalanan panjang penuh lika-liku kehidupan yang terkadang membuat aku lelah.


"Capek!" Ungkapnya


"Lagian udah tau jauh kamu malah ikut!" Ujarnya


"Deh kan kamu yang ngajakin aku!" Jawabnya


"Makanya kamu harus sering berolahraga, jangan main hp mulu" ungkapnya


"Hmm" dia hanya cemberut sambil duduk di kursi taman


"Ada apa sih?" Tanyanya


"Enggak apa-apa kok!" Jawabnya sambil memalingkan wajahnya


"Kamu kalau begitu lucu banget!" Jawabnya sambil mengelus kepalanya


"Ih apaan sih" jawabnya sambil melepaskan tangannya


"Udah nih minum!" Ujarnya sambil memberikan sebuah botol berisi air minum


Lama sudah Ara dan Rian berkeliling taman sambil joging.


"Pagi-pagi kayak gini makan bubur enak nih!" Ujarnya


"Huh kami fikirannya makan mulu!" Ungkap Rian


"Ih kamu mah gitu!" Ujar Ara sambil merengut


***

__ADS_1


Teori konspirasi bermula saat rembulan bertemu dengan malam, kemudian mereka menyapa dibalik kejauhan sembari menunggu sang fajar datang meski sebenarnya waktu fajar menyingsing itu sangat lama dan juga menyita waktu, kemudian rembulan terpaksa untuk menunggu datangnya matahari namun ketika fajar menyingsing, rembulan redup dan tak mampu menyapa matahari. Kisahnya hampir sama kayak kamu dan aku yang gak mungkin bisa bertemu karna banyaknya halangan dan juga rintangan, ditambah dengan kalkulasi waktu dimana fakta menyatakan bahwa rembulan dan matahari itu berbeda, matahari hanya ada saat pagi dan juga siang sedankan rembulan hanya ada dimalam hari. Sama kayak aku dan kamu yang gak mungkin bersatu karena kamu ya kamu sedangkan aku hanya seseorang yang menunggu di balik kejauhan sambil berkata "sudahlah, kamu mungkin sudah dengan yang lain" aku cuma bisa apa? Aku cuma seseorang yang membungkukkan badanku sambil bertahan dan gak sanggup buat berdiri kembali meski aku terjatuh.


Hanya diam yang merawat asa, dan hanya pelik yang melawan kerinduan karena hati ini mungkin bukan milik kamu dan aku juga bukan seseorang yang pantas buat kamu, terimakasih sudah kasih kenangan terindah meski kita cuma dua orang yang gak suka saling menyapa. Alam terkadang menyapaku dengan sapuan musim yang dibalut dengan langit yang tersenyum manis kepadaku, bak melodi musim semi terkadang ia merayuku dengan alunan melodi dan nada yang terlukis dengan merdu. Namun aku tak sadar, aku hanya bergeming tak sadarkan diri, renungku sambil mengelus dada "semoga aku dapat melihat mentari esok pagi" kemudian saat aku terbangun diantara sepi dengan pikiranku yang melayang aku selalu mengutuk diriku karena aku tak mampu mengubah alur perjalanan hidupku.


Aku barusadar bahwa cinta itu terkadang menyiksamu, dengan rayuan manja ia datang kemudian ia pergi kembali seperti kupu-kupu yang merayu sebuah bunga kemudian ia memetik sebuah kenangan dibalik keindahan. Aku bersyukur meski begitu aku juga tak semudah itu merangkai kata, aku terbiasa berpura-pura tersenyum meski sebenarnya aku membohongi diriku dengan sejuta ada yang ku coba untuk ku hindari. Dibalik kejauhan aku memilih untuk tetap setia sendiri dengan mencoba mengubur setiap kenangan yang pernah aku alami dalam-dalam, meski aku bukanlah seseorang yang sekuat itu untuk bisa tetap berdiri bertahan. Dalam keheningan malam aku berbisik dan berkisah kepada rembulan "sepi, aku tak ingin sendiri. Setiap permasalahan terjadi dan menghampiri aku terus-menerus seperti sebuah metamorfosis yang sempurna, padahal khayalku tak sejalan dengan kenyataan" dalam hati aku hanya bisa mengutuk diriku sendiri meski aku sadar aku cuma orang bodoh yang penakut dan juga selalu menghindar.


"Apa bedanya aku dengan sebuah rintik hujan, ia datang dengan tetesan kemudian pergi menggenangi dengan sebuah sapaan yang tak lain dan tak bukan hanya menyisakan luka"


Kamu begitu berarti dan istimewa dihati selamanya rasa ini, tak mungkin terganti. Aku hanya terdiam diam seribu bahasa, namun kamu datang dan pergi menyisakan luka di dada. "Jangan hanya terdiam dan bersikap seolah hanya kamu yang tersakiti aku juga"


"Yah ujan gimana gue bisa ketemu sama Ara" ujar Rian


"Ngapain lu di luar aje" ujar ayahnya Rian dengan logat Betawinya yang kental


Rian mempunyai ayah bernama Rojak atau biasa di panggil babe Rojak, Rian juga punya ibu yang bernama Fatimah atau yang biasa di panggil Nyak Timeh. Rian hidup di tengah-tengah keluarga yang sederhana namun walaupun begitu Babenya Rian mempunyai sebuah Bengkel yang terkenal dan juga mempunyai bisnis kontrakan dan juga kos-kosan meski begitu dia tetap saja di beri uang jajan sedikit.


"Tambahin dong Nyak!" Ujar Rian dengan logat Betawinya


Rian merupakan anak ke tiga dari delapan bersaudara kakaknya Rian yang pertama yaitu Mpok Astuti kini sudah menikah dan tinggal di rumah suaminya sedangkan kakaknya Rian yang kedua sudah meninggal dunia karena keguguran, dan Rian dilahirkan kata Babenya karena tidak kesengajaan.


"Bener bayinya laki-laki?" Tanya Babenya Rian


"Lah kok mirip artis Korea ya?" Ujar enyaknya Rian


Itu sebabnya karena Rian yang paling ganteng maka dari itu adik-adiknya memanggil Rian dengan sebutan Babang Tamvan Rian, di kampungnya Jalan Setu Babakan No.45 Jakarta dia termasuk anak yang paling di banggakan karena dia jago sepak bola.


Namun suatu ketika Babe Rojak dengan Enyak Timeh bercerai dan kini Rian tinggal bersama ayahnya saja yaitu Babe Rojak di Bandung menyusul dengan Enyak Timeh yang ternyata sudah kawin lagi, Babe Rojak pun tak mau kalah dan akhirnya ia menikah dengan wanita keturunan Tionghoa yang tinggal di Bandung yang bernama Zaenab yang tak lain juga masih keturunan orang Betawi asli yang tinggal di Bandung.


"Be kenapa sih pake kawin lagi?" Ujar Rian dalam benaknya Rian sembari melihat foto Enyak dan Babenya


Kenapa ya orang tua ku jadi begini padahal udah enak-enak tinggal di Jakarta sekarang jadi ngikutin bokap pindah ke Bandung di tambah sekarang juga teman-temannya beda, jadi kangen sama si Siti teman kecil ku.


Dahulu aku mempunyai teman yang bernama Siti Rahma sampqi suatu ketika aku, jatuh cinta padanya.

__ADS_1


"Ian lo ngapain liat Siti aje?" Tanya teman sebangku Rian


"Enggak kok" ujar Rian sembari pura-pura menulis kembali


"Ye Lo naksir sama Siti ye?" Tanyanya


"Sok tau Lo kayak Mbah Google" ujar Rian sembari meneang kepala temannya


"Sakit woy" ujarnya sembari meneang kepala Rian


Ucup Bin Baba Miing yang tak lain dan tak bukan adalah sepupu ku dia bukan hanya saudara bagiku tapi juga merupakan best friend ku, cuma dia memang yang mengerti bagaimana aku.


"Eh minggir Nanang Rian Ganteng mau lewat" ujar Ucup


"Deh apaan sih lu cup" ujar geng cewek-cewek yang lagi pada nongkrong dan kemudian bubar gara-gara gengan Ucup, Rian dan kawan-kawan yang tiba-tiba muncul.


Saat itu aku masih berusia 15 tahun alias masih SMP untung ajah aku bisa masuk SMP Negeri walaupun rapot ku gak terlalu bagus juga sih.


"Eh si Siti tuh!" Ujar teman-teman Rian yang lainnya yang ngebucinin Siti


"Apaan sih Lo baru liat dia aja biasa aja kali" ujar Rian cengengesan seolah-olah gak punya perasaan


"Apaan sih Lo Rian" jawab Siti sambil kemudian mengibaskan rambutnya


Sementara itu, Rian menjadi pergolakan batin di hatinya dia menyadari bahwa sikapnya yang berpura-pura tak ada apa-apa padahal sebenarnya dia menyimpan rasa kepada Siti Rahma yang tak lain adalah teman sekelasnya.


"Lo pada ngapain sih berhenti ngikutin gue!" Ujarnya


"Lah siapa yang ngikutin orang kita pada mau ke kantin!" Ujar Rian and the gang


"Malu gue kirain ngikutin gue" ungkap Siti dalam benaknya


***

__ADS_1


__ADS_2