
...Hanya Dia...
"Nek, aku kangen banget sama nenek!" Ujarku sembari memeluk nenekku
"Sayang, nenek juga kangen banget sama kamu!" Ungkapnya sembari mencium ku
"Kamu kemana aja gak main, nenek sampai sedih!" Ujarnya sembari mengeluarkan air mata yang jatuh tepat di pipinya
"Hmmm, panjang ceritanya nek!" Jawabku sembari mengelap air mata yang tiba-tiba menetes di pipi nenekku
Jangankan dia awan saja ikut menangis mendengar ceritaku, tak pelak aku hanya bisa terdiam dan mencoba menutup-nutupi semua yang terjadi kepada ku, tak lain dan tak bukan supaya dia tak merasa sedih bila mendengar cerita ku.
***
Aku tak pernah bisa menyadari setiap kesalahan yang pernah ku perbuat hingga di suatu ketika aku kehilangan sosok yang paling aku cintai, yang tak lain dan tak bukan adalah ibuku.
Waktu itu saat aku sedang sekolah, aku tak tahu aku tiba-tiba...
"Kok ada bendera kuning, ada apa ya?" Tanyaku dalam benakku
"Ada apa ini, ramai-ramai?" Tanya ku sambil berteriak dan melihat jenazah ibuku yang terbaring lemah
Mamaku meninggal karena kecelakaan saat ia mengendarai mobil, mamaku adalah sosok wanita pekerja keras meskipun papa telah bekerja tetapi mama juga ikut bekerja alhasil adikku yang masih kecil di rawat oleh baby sister yang tak lain dan tak bukan sekarang menjadi mama tiriku.
Sejak kepergian ibu ku setahun yang lalu aku tak bisa berhenti untuk menangis dan juga terkadang aku teringat padanya, bukan karena kebaikannya tetapi karena hubungan mama dan juga papa yang kurang harmonis mereka selalu saja bertengkar. Bahkan ada gosip bahwa papa telah menikah lagi, dan ternyata gosip itu benar adanya oleh sebab itu mama ku jadi jarang di rumah dan dia lebih sibuk dengan pekerjaannya di luar rumah tanpa memperhatikan aku dan juga adikku Chelsea.
"Chelsea makan yuk!" Seru suster Mira
"Enggak" jawab Chelsea sambil cemberut
Kali ini Chelsea jadi susah disuruh makan, badannya jadi gampang sakit dan dia juga suka cemburu jika melihat suster Mira bersama papa kami. Dan benar saja selang beberapa bulan kemudian papa kami menikah lagi dengan seorang wanita yang tak lain adalah suster Mira yang merupakan pengasuh Chelsea, awalnya aku sempat marah pada papaku namun lambat laun aku menerima kehadiran mama baru untuk aku dan juga adikku Chelsea.
Meski terkadang aku suka cuekin mama tiriku dan bersikap kasar tapi tetap saja ia baik pada ku,dan di tambah lagi aku baru tahu kalau ternyata mama tiriku merupakan salah satu kerabat jauh kami. Yang ternyata merupakan sepupu dari kakeknya kakekku, ya karena keluarga mama tiriku bisa di bilang tidak terlalu kaya. Maka dari itu semua papa ku yang mengatur dari mulai memberikan dia mobil dan juga rumah.
Mira Santika: atau biasa di panggil Mira
Adalah sosok wanita yang sabar dan pengertian dia bisa di bilang, merupakan wanita yang cantik dari hatinya memang dia sangat jauh berbeda dengan ibu kami yaitu Sarah Amalia yang merupakan salah satu anak keturunan bangsawan yang kaya raya maka dari itu dia mempunyai perusahaan sendiri ya hampir sama dengan ayahku, tapi dia jauh berbeda dengan ibuku yang merupakan kaum sosialita sedangkan mama tiriku hanya wanita biasa bahkan terbilang jauh dari kesan anggun dia cuma wanita biasa-biasa ajah bahkan dia cuma lulusan SMA, meskipun wajahnya tak secantik ibuku tapi dia memang termasuk wanita yang cantik hatinya buktinya saja dia merawat Chelsea adikku yang bukam anak kandungnya tetapi dia rawat bak anaknya sendiri. Oleh sebab itu, papaku menikahinya meskipun aku tak setuju.
Di samping itu usianya juga tak terlampau jauh dengan diriku, dan kini ia sedang mengandung buah cintanya dengan papaku. Aku memang tak terlalu gembira tapi ya mau bagaimana lagi sudah setua ini aku malah nambah adik lagi di tambah adik tiri. Rasanya aku akan menjadi sosok kakak yang paling keren, karena hanya aku yang paling tua.
Sementara kisah cintaku dengan sepupuku Raisa, ya hanya sebatas kakak dengan adik saja. Tetapi entah kenapa dengan Raisa apa ia menganggapnya lebih dari itu, aku dengannya memang sangat dekat sekali dan sampai suatu ketika Raisa pindah rumah namun entah kemana.
"Raisanya ada Bi?" Tanyaku
__ADS_1
"Raisa, oh non Raisa sekarang rumahnya udah pindah!" Jawab asisten rumah tangganya
"Kenapa dia bisa pindah, tapi dia gak ngabarin aku, aneh!" Ujarku dalam hati
"Owh ywdh makasih bi!" Jawabku kemudian bergegas pergi mengendarai sepeda ku
Gak banyak berbicara, bibirnya indahnya seperti menutup dan tak bisa mengucapkan kata-kata. Entahlah orang seperti apa dia yang tiba-tiba saja datang dan kemudian tiba-tiba dia pergi, dia membuat aku terkejut tak karuan karena bertemu dengannya setelah sekian lama kita berpisah.
Dia hanya terdiam tapi bukan berarti dia menutup-nutupi semuanya, dia hanya berusaha untuk tidak melakukan sesuatu hal yang terlihat bodoh, qpalagi di tambah dengan ayahnya yang kurang perduli padanya.
"Apa artinya aku dimatanya!" Ujar Yudha yang hampir meneteskan air matanya
"Cowok itu siapa ya?" Ujar Raisa dalam benaknya
"Hei kamu!" Panggil Raisa
Nengok kanan kiri...
"Cewek itu kenapa sih?" Ujar Yudha dalam benaknya
"Iya kamu!" Ujar Raisa kembali seraya sambil mendekati cowok tersebut
"Kayaknya aku kenal kamu deh!" Ujarnya
"Hmmm, masa kamu lupa sama aku, aku Raisa sepupu kamu Yudh!" Ujar Raisa sembari memeluk Yudha
"Kenapa gue awkward banget ya!" Ujar Yudha dalam benaknya
"Raisa? Kamu Raisa?" Tanyanya seperti kaget dan tak percaya karena di hadapannya ada seorang gadis cantik yang tiba-tiba memeluknya
Dan di balik pertemuan Raisa dan Yudha, di tengah-tengah perbincangan mereka ada Ara dan Rian yang sedari tadi sedang joging di taman.
"Ay, bukannya itu Raisa ya?" Tanya Ara
"Yang mana sih?" Tanya Rian
"Itu!" Ujar Ara sambil menunjuk ke arah ke dua pasangan yang sedang berpelukan mesra di taman
"Kamu ngapain sih pake ngeliatin orang pacaran!" Ujar Rian
"Yeh siapa yang ngeliatin, orang aku juga tiba-tiba ngeliat mereka kok!" Jawabnya polos
"Iya itu kayak Raisa, tapi cowok yang bersamanya siapa ya?" Tanya Rian
__ADS_1
"Mana ke tehe!" Jawab Ara polos
"Hadeuhh!!" Ujar Rian
Jangankan untuk sekedar menyimpan rasa, untuk berkata-kata saja aku tak mampu, aku tak mampu dan tak berdaya untuk melihatnya, dia yang manja dan juga manis membuat aku selalu ingin bersamanya tetapi sayang dia saudari ku dia adalah sepupuku Raisa, aku baru teringat kalau Raisa tinggal di Bandung sementara aku di Jogja. Sudah lama sekali aku tak pergi ke Bandung karena aku memang tak terlalu dekat dengan Raisa, sementara sifat Raisa sangat hangat dan perhatian padaku membuat aku tersanjung.
Riuh suara angin sepoi-sepoi, di iringi dengan merdunya suara burung berkicauan, semiring pepohonan yang rindang membawaku kepada kesejukan dan juga kebahagiaan, bukan karena aku mampu melupakan sejenak masalah ku tetapi karena aku pun bahagia karena bisa bertemu sepupu ku Raisa.
"Udah lama gak ketemu kamu udah gede aja Sa!" Ujarnya
"Kamu juga tambah tinggi!" Jawabnya
"Aku sampai gak nyampe" ungkapnya lirih
Jangankan untuk sekedar menyimpan rasa, untuk berkata-kata saja aku tak mampu, aku tak mampu dan tak berdaya untuk melihatnya, dia yang manja dan juga manis membuat aku selalu ingin bersamanya tetapi sayang dia saudari ku dia adalah sepupuku Raisa, aku baru teringat kalau Raisa tinggal di Bandung sementara aku di Jogja. Sudah lama sekali aku tak pergi ke Bandung karena aku memang tak terlalu dekat dengan Raisa, sementara sifat Raisa sangat hangat dan perhatian padaku membuat aku tersanjung.
Riuh suara angin sepoi-sepoi, di iringi dengan merdunya suara burung berkicauan, semiring pepohonan yang rindang membawaku kepada kesejukan dan juga kebahagiaan, bukan karena aku mampu melupakan sejenak masalah ku tetapi karena aku pun bahagia karena bisa bertemu sepupu ku Raisa.
"Udah lama gak ketemu kamu udah gede aja Sa!" Ujarnya
"Kamu juga tambah tinggi!" Jawabnya
"Aku sampai gak nyampe" ungkapnya lirih
Cahaya matahari menghampiriku dengan tersenyum lebar aku melangkah.
"Eh kamu mau kemana?" Tanya mamaku
"Mau jalan sekolah ma?" Ujar Arya polos
"Kamu mau jalan sekolah masa gak sarapan dulu sih?" Jawab mamaku
"Lama mah nanti gak keburu!" Ujarnya
"Ywdh nih bawa bekal saja!" Ungkap mamaku
"Enggak ah udah kayak anak TK aja, malu aku ma!" Jawab Arya
"Ywdh bareng papa ajah!" Ujar papaku
"Enggak ah papa kan gak searah dengan ku!" Ujar Arya
***
__ADS_1