
...Jangan Berisik...
"Loh kok bulu kuduk gue berdiri" ungkapnya
Saat ku menengok ke belakang lagi...
(Nengok) kanan... Kiri
"Gak ada siapa-siapa" ujarnya
"Ini jalanan kenapa angker amat ya!" Ujarnya dalam hati
Tiba-tiba ku dengar suara seseorang memanggil namaku..
"Arya!!!" Panggilnya dari kejauhan
"Kayak ada yang manggil nama gue!" Ungkapnya
"Tapi suaranya....." Ujarnya sambil gemetar
Dan tiba-tiba ada seseorang menepuk pundak ku...
"Woy!!" Ujarnya
"Akhhhhhh, kabur!!!" Ujar Arya sambil berlari ketakutan
"Lah dia kenapa?" Tanya Rian
Sedari tadi aku menunggunya di pengkolan warung dekat sekolah, aku kira dia akan tiba, namun apa janjinya dia memang tak pernah berubah selalu saja seperti itu. Sampai hati dia membuat aku merenung dan juga menunggu.
***
Bukan kisah Romeo dan Juliet yang kisahnya apik tertulis dan juga di filmkan, bukan pula tentang Rama dan Shinta yang termasyhur. Bukan orang kaya, cuma orang biasa, bukan penulis tapi hanya seseorang yang ingin meluapkan setiap perasaan lewat bait kata-kata dan juga goresan tinta yang ku tuangkan bersama hati dan juga perasaan.
Bait semusim yang tertulis manis tentang kisah kasih aku bersamanya yang duduk di pelataran cinta bersama dengan hati ku yang selalu terngiang-ngiang akan bisikan cintanya yang begitu merdu, tanpa batas waktu yang terungkap tapi tak mampu ku ucap. Aku hanya seseorang yang memujanya di balik kejauhan, aku hanya hanya seseorang yang berusaha keras untuk tetap setia bersamanya meski aku hanya berada di balik kejauhan, jangan tanyakan perasaan ku jika kau tak bisa beralih dari masa lalu yang menghantuimu karena ini sungguh tidak adil.
Gemercik suara hujan yang deras dari tetesan air hingga terdengar kencang, gak cukup satu tapi ribuan genangan air itu menyapu bahuku dan membasahiku, aku hanya terdiam sembari membiarkan setiap genangan air hujan dan juga riuh suara angin berhembus kencang di wajahku. Aku bukan siapa-siapa, aku bukan sang sutradara yang menciptakan perjalanan hidupku yang terdokumentasikan menjadi sebuah film. Meski dalam keramaian aku masih tetap sendiri dan merasa kesepian, seperti hanya ada seekor kunang-kunang yang menemani di kesunyian. Aku hanya aku dan bukan dia, biar ku simpan rasa ini di kejauhan karena mungkin kau bukan untukku dan mungkin pula rasa ini suatu saat akan hilang dengan sendirinya.
Pernah gak sih kamu suka sama seseorang tapi hanya sebatas rasa dan gak pernah bisa mengungkapkannya, mungkin ajah kamu takut tapi sebenarnya juga malu jika harus berhadapan langsung sama orang yang kamu sukai jadinya kamu cuma berusaha buat nutupin perasaan kamu dan sekedar diam dan canggung atau awkward jika berhadapan sama orang yang kamu sukai alhasil kamu jadi terlihat seperti orang absurd dan aneh diharapkannya. Aku adalah puisi bersyair harapan, bersajak rindu, serta berbaiat kenangan dan masa lalu, mencoba melupa namun tak kuasa, hanya dapat menggenggam kenangan dan masa lalu dalam harapan rindu yang ingin ku ubah menjadi kenyataan. Namun aku sadar masa lalu tetaplah sebuah masa lalu, tak perlulah berharap banyak padanya jikapun nantinya dia kembali datang kisahnya jelas sudah tak sama. Lantas kenapa hati ini tak ingin berhenti berharap, padahal ia sendiri tahu bahwa masa lalu telah meninggalkannya. Dan yang meninggalkan semestinya tak untuk dikejar bukan?.
__ADS_1
Bukan kisah Romeo dan Juliet yang kisahnya apik tertulis dan juga di filmkan, bukan pula tentang Rama dan Shinta yang termasyhur. Bukan orang kaya, cuma orang biasa, bukan penulis tapi hanya seseorang yang ingin meluapkan setiap perasaan lewat bait kata-kata dan juga goresan tinta yang tertulis bersama hati dan juga perasaan.
Bait semusim yang tertulis manis tentang kisah kasih aku bersamanya yang duduk di pelataran cinta bersama dengan hati ku yang selalu terngiang-ngiang akan bisikan cintanya yang begitu merdu, tanpa batas waktu yang terungkap tapi tak mampu ku ucap. Aku hanya seseorang yang memujanya di balik kejauhan, aku hanya hanya seseorang yang berusaha keras untuk tetap setia bersamanya meski aku hanya berada di balik kejauhan, jangan tanyakan perasaan ku jika kau tak bisa beralih dari masa lalu yang menghantuimu karena ini sungguh tidak adil.
Gemercik suara hujan yang deras dari tetesan air hingga terdengar kencang, gak cukup satu tapi ribuan genangan air itu menyapu bahuku dan membasahiku, aku hanya terdiam sembari membiarkan setiap genangan air hujan dan juga riuh suara angin berhembus kencang di wajahku. Aku bukan siapa-siapa, aku bukan sang sutradara yang menciptakan perjalanan hidupku yang terdokumentasikan menjadi sebuah film. Meski dalam keramaian aku masih tetap sendiri dan merasa kesepian, seperti hanya ada seekor kunang-kunang yang menemani di kesunyian. Aku hanya aku dan bukan dia, biar ku simpan rasa ini di kejauhan karena mungkin kau bukan untukku dan mungkin pula rasa ini suatu saat akan hilang dengan sendirinya.
Bukan seseorang yang pandai merangkai kata, bukan pula seorang cenayang yang mampu mengungkapkan kata-kata, bukan pula sang pendahulu yang mampu mengucapkan kata, dan bukan pula sang pelukis yang mampu menggambar kata-kata. Setiap asa melukiskan kata, setiap hal memberikan informasi tentang perjalanan hidup dan setiap waktu akan menggoreskan tinta tentang arti kebahagiaan dan juga kesedihan. Gue cuma orang biasa bukan seorang protagonis yang layak di sanjung dan juga bukan sosok antagonis yang layak buat di bully, bukan juga seorang figuran yang cuma numpang lewat, gue bukan cewek gaul yang sok gaul dan juga bukan cewek keren yang sok keren, gue gak seromantis Nicolas Saputra dan juga gak secantik Dian Sastro Wardoyo, btw ini bukan kisah antara Rangga dan Cinta.
Entah kenapa gue jadi sosok yang puitis padahal gue bukan sosok cewek yang humoris atau romantis, dan juga bukan sosok cewek yang gaul bak mie gaul, bahkan juga bukan artis yang sok artis, jangankan buat bersikap sok akrab wajah gue yang pendiam justru mungkin dianggap orang kurang ramah dan tak pandai bergaul, padahal gue sebenernya gak ngerti apa-apa. Kenapa ya akhir-akhir ini gue sering banget nulis di buku harian gue sampai suatu ketika gue sadar buku harian gue udah penuh sama curhatan gue, yang intinya panjang di kali lebar sama dengan entah sejak kapan gue jadi sosok yang romantis bak pesinetron papan atas padahal aslinya gue orang biasa dan tak terkenal. Mungkin bukan seorang gue namanya kalau gak punya rasa, sebab setiap rasa akan membawa kita kepada suasa cinta, ataupun persahabatan kayak cerita yang gue tulis di sini. Entahlah Lo mau baca atau enggak seterah Lo ya istilahnya bodo amatlah, karena dari dulu gue orangnya gak suka banyak omong tapi sekalinya ngomong banyak banget.
"Kenapa muka Lo di tekuk aja?" Tanyanya
"Enggak kenapa-kenapa kok!" Jawabnya
"Paling gara-gara cewek" ujar yang lain
"Apaan sih Lo ikut nimbrung ajah!" Jawabnya
Tiba-tiba di kejauhan ada Arya yang sedang berlari ketakutan, dan menghampiri teman-temannya.
"Kenapa Lo ya?" Tanya yang lainnya
Uhhhhhhhmm...
Aku cuma bisa terengah-engah dan terbata-bata, bahkan mau cerita panjang lebar aja butuh waktu.
"Tadi di pertengahan jalanan yang lorong itu, tiba-tiba ada yang manggil gue terus dia juga nepuk pundak gue...." Ceritanya panjang lebar
Dan dari kejauhan tiba-tiba Rian datang.
"Apaan sih Lo Ya, gue panggil kagak nyaut-nyaut" ujarnya
"Lah Rian Lo ngapain?" Tanyanya
"Jadi tadi itu elo?" Tanya Arya
"Ya iyalah masa hantu!" Ujar Rian
Rian dan Arya memang satu kelas ditambah lagi keduanya juga bersahabat meski terkadang selalu berantem melulu kalau ketemu. Sifat Arya yang polos dan lugu membuat dia jadi bahan untuk bercandaan kawan-kawannya, sedangkan Rian yang orangnya terkenal paling jahil malah punya banyak fans di kalangan cewek-cewek, meski begitu Rian cuma punya satu cewek yaitu Ara.
__ADS_1
"Btw pesenin gue mie gaul dong!" Ujar Rian
"Lo ajah!" Ujar Arya
"Elo dong kan elo yang neraktir gue" jawab Rian
"Apaan sih Lo, ywdh gue pesenin, tapi gue tulis Lo ngutang sama gue ya" jawab Arya
"Lah!" Ujar Rian
Biar begitu diantara teman-temannya yang lain cuma Rian ajah yang keliatan keren tapi sayang dia gak punya duit. Sedangkan di kamus Arya gak ada kata teman bagi dia hutang ya tetap hutang.
"Bu es nya ngutang dulu!" Ujar Rian
"Apaan sih kamu yang kemaren aja belum di bayar!" Ujar Bu kantin
Rian, selalu pengen eksis tapi sayang kantongnya bolong. Motor yang dia pakai saja merupakan motor dari bengkel ayahnya yang dia pakai untuk ke sekolah, sedangkan kalau dia sudah pulang sekolah terkadang ayahnya gak tau kalau motor di bengkel yang pakai adalah dia.
"Ini kenapa ada baret-baretnya gini perasaan udah di rapihin" ujarnya
"Di!" Panggil ayahnya Rian ke karyawannya
"Iya pak!" Jawabnya
"Ini motor siapa yang make?" Tanyanya
"Hmmm" dia cuma bisa diem dan pura-pura gak tahu karna udah di sogok sama Rian
"Anu pak!" Jawabnya terbata-bata
"Anu anu apanya?" Ujar ayahnya Rian
"Pasti Rian yang make ya?" Tanyanya
Setiap ke sekolah Rian selalu Gonta ganti motor tetapi bukan motor miliknya melainkan milik pelanggan di bengkel motor ayahnya, alhasil Rian di marahi habis-habisan sama ayahnya.
"Kamu ini bagaimana sih, sudah ....." Ayahnya Rian marah-marah tapi aku skip.
Rasa yang kita anggap pergi ternyata masih ada, cuma ada kata antara aku dan juga dia, fotonya saja masih ku simpan tetapi tidak ku pajang hanya ku taru di lemariku dan ku letakkan di bagian paling dalam, itu pun jarang sekali aku sentuh. Dia memang berbeda bukan seperti Raisa yang ku kenal dahulu, hanya tinggi badannya saja yang masih sama, orang bilang kalau cinta apapun bisa terjadi tapi ini berbeda cuma sebuah rasa yang tiba-tiba nempel kemudian dia pergi entah kemana. Kayak Dejavu dia ilang terus datang dia pergi kemudian kembali, sebuah rasa yang tersimpan dengan penuh kehangatan kasih sayang tetapi banyak hal pula yang membuat itu istimewa.
__ADS_1
***