
...Takut Jatuh Cinta...
Di Jogja cuacanya memang berbeda dengan Bandung aku harus menyesuaikan diri, apalagi karena aku gampang terserang flu.
"Kamu kenapa Yudh?" Tanya nenekku
"Enggak" jawabku lesuh
"Kamu kayak gak semangat gitu" ujar nenekku
Aku sebenarnya tak tega dengan nenekku, tetapi aku juga tak mau terlalu merepotkannya, apalagi karena dia tinggal seorang diri. Rumah nenek sangat luas di tambah ada lantai dua dan juga nenek mempunyai beberapa asisten rumah tangga.
***
Bukan kisah Romeo dan Juliet yang kisahnya apik tertulis dan juga di filmkan, bukan pula tentang Rama dan Shinta yang termasyhur. Bukan orang kaya, cuma orang biasa, bukan penulis tapi hanya seseorang yang ingin meluapkan setiap perasaan lewat bait kata-kata dan juga goresan tinta yang ku tuangkan bersama hati dan juga perasaan.
Bait semusim yang tertulis manis tentang kisah kasih aku bersamanya yang duduk di pelataran cinta bersama dengan hati ku yang selalu terngiang-ngiang akan bisikan cintanya yang begitu merdu, tanpa batas waktu yang terungkap tapi tak mampu ku ucap. Aku hanya seseorang yang memujanya di balik kejauhan, aku hanya hanya seseorang yang berusaha keras untuk tetap setia bersamanya meski aku hanya berada di balik kejauhan, jangan tanyakan perasaan ku jika kau tak bisa beralih dari masa lalu yang menghantuimu karena ini sungguh tidak adil.
Gemercik suara hujan yang deras dari tetesan air hingga terdengar kencang, gak cukup satu tapi ribuan genangan air itu menyapu bahuku dan membasahiku, aku hanya terdiam sembari membiarkan setiap genangan air hujan dan juga riuh suara angin berhembus kencang di wajahku. Aku bukan siapa-siapa, aku bukan sang sutradara yang menciptakan perjalanan hidupku yang terdokumentasikan menjadi sebuah film. Meski dalam keramaian aku masih tetap sendiri dan merasa kesepian, seperti hanya ada seekor kunang-kunang yang menemani di kesunyian. Aku hanya aku dan bukan dia, biar ku simpan rasa ini di kejauhan karena mungkin kau bukan untukku dan mungkin pula rasa ini suatu saat akan hilang dengan sendirinya.
Pernah gak sih kamu suka sama seseorang tapi hanya sebatas rasa dan gak pernah bisa mengungkapkannya, mungkin ajah kamu takut tapi sebenarnya juga malu jika harus berhadapan langsung sama orang yang kamu sukai jadinya kamu cuma berusaha buat nutupin perasaan kamu dan sekedar diam dan canggung atau awkward jika berhadapan sama orang yang kamu sukai alhasil kamu jadi terlihat seperti orang absurd dan aneh diharapkannya. Aku adalah puisi bersyair harapan, bersajak rindu, serta berbaiat kenangan dan masa lalu, mencoba melupa namun tak kuasa, hanya dapat menggenggam kenangan dan masa lalu dalam harapan rindu yang ingin ku ubah menjadi kenyataan. Namun aku sadar masa lalu tetaplah sebuah masa lalu, tak perlulah berharap banyak padanya jikapun nantinya dia kembali datang kisahnya jelas sudah tak sama. Lantas kenapa hati ini tak ingin berhenti berharap, padahal ia sendiri tahu bahwa masa lalu telah meninggalkannya. Dan yang meninggalkan semestinya tak untuk dikejar bukan?.
Bukan kisah Romeo dan Juliet yang kisahnya apik tertulis dan juga di filmkan, bukan pula tentang Rama dan Shinta yang termasyhur. Bukan orang kaya, cuma orang biasa, bukan penulis tapi hanya seseorang yang ingin meluapkan setiap perasaan lewat bait kata-kata dan juga goresan tinta yang tertulis bersama hati dan juga perasaan.
Bait semusim yang tertulis manis tentang kisah kasih aku bersamanya yang duduk di pelataran cinta bersama dengan hati ku yang selalu terngiang-ngiang akan bisikan cintanya yang begitu merdu, tanpa batas waktu yang terungkap tapi tak mampu ku ucap. Aku hanya seseorang yang memujanya di balik kejauhan, aku hanya hanya seseorang yang berusaha keras untuk tetap setia bersamanya meski aku hanya berada di balik kejauhan, jangan tanyakan perasaan ku jika kau tak bisa beralih dari masa lalu yang menghantuimu karena ini sungguh tidak adil.
Gemercik suara hujan yang deras dari tetesan air hingga terdengar kencang, gak cukup satu tapi ribuan genangan air itu menyapu bahuku dan membasahiku, aku hanya terdiam sembari membiarkan setiap genangan air hujan dan juga riuh suara angin berhembus kencang di wajahku. Aku bukan siapa-siapa, aku bukan sang sutradara yang menciptakan perjalanan hidupku yang terdokumentasikan menjadi sebuah film. Meski dalam keramaian aku masih tetap sendiri dan merasa kesepian, seperti hanya ada seekor kunang-kunang yang menemani di kesunyian. Aku hanya aku dan bukan dia, biar ku simpan rasa ini di kejauhan karena mungkin kau bukan untukku dan mungkin pula rasa ini suatu saat akan hilang dengan sendirinya.
Bukan seseorang yang pandai merangkai kata, bukan pula seorang cenayang yang mampu mengungkapkan kata-kata, bukan pula sang pendahulu yang mampu mengucapkan kata, dan bukan pula sang pelukis yang mampu menggambar kata-kata. Setiap asa melukiskan kata, setiap hal memberikan informasi tentang perjalanan hidup dan setiap waktu akan menggoreskan tinta tentang arti kebahagiaan dan juga kesedihan. Gue cuma orang biasa bukan seorang protagonis yang layak di sanjung dan juga bukan sosok antagonis yang layak buat di bully, bukan juga seorang figuran yang cuma numpang lewat, gue bukan cewek gaul yang sok gaul dan juga bukan cewek keren yang sok keren, gue gak seromantis Nicolas Saputra dan juga gak secantik Dian Sastro Wardoyo, btw ini bukan kisah antara Rangga dan Cinta.
Entah kenapa gue jadi sosok yang puitis padahal gue bukan sosok cewek yang humoris atau romantis, dan juga bukan sosok cewek yang gaul bak mie gaul, bahkan juga bukan artis yang sok artis, jangankan buat bersikap sok akrab wajah gue yang pendiam justru mungkin dianggap orang kurang ramah dan tak pandai bergaul, padahal gue sebenernya gak ngerti apa-apa. Kenapa ya akhir-akhir ini gue sering banget nulis di buku harian gue sampai suatu ketika gue sadar buku harian gue udah penuh sama curhatan gue, yang intinya panjang di kali lebar sama dengan entah sejak kapan gue jadi sosok yang romantis bak pesinetron papan atas padahal aslinya gue orang biasa dan tak terkenal. Mungkin bukan seorang gue namanya kalau gak punya rasa, sebab setiap rasa akan membawa kita kepada suasa cinta, ataupun persahabatan kayak cerita yang gue tulis di sini. Entahlah Lo mau baca atau enggak seterah Lo ya istilahnya bodo amatlah, karena dari dulu gue orangnya gak suka banyak omong tapi sekalinya ngomong banyak banget.
Riuh suara angin sepoi-sepoi, di iringi dengan merdunya suara burung berkicauan, semiring pepohonan yang rindang membawaku kepada kesejukan dan juga kebahagiaan, bukan karena aku mampu melupakan sejenak masalah ku tetapi karena aku pun bahagia karena bisa bertemu sepupu ku Raisa.
"Udah lama gak ketemu kamu udah gede aja Sa!" Ujarnya
"Kamu juga tambah tinggi!" Jawabnya
"Aku sampai gak nyampe" ungkapnya lirih
Cahaya matahari menghampiriku dengan tersenyum lebar aku melangkah.
__ADS_1
"Eh kamu mau kemana?" Tanya mamaku
"Mau jalan sekolah ma?" Ujar Arya polos
"Kamu mau jalan sekolah masa gak sarapan dulu sih?" Jawab mamaku
"Lama mah nanti gak keburu!" Ujarnya
"Ywdh nih bawa bekal saja!" Ungkap mamaku
"Enggak ah udah kayak anak TK aja, malu aku ma!" Jawab Arya
"Ywdh bareng papa ajah!" Ujar papaku
"Enggak ah papa kan gak searah dengan ku!" Ujar Arya
Pernah gak jalanin hubungan sama seseorang yang cuma mau didengarin, tapi gak pernah mau dengerin kamu? Yang sama dia tuh, kamu gak ada kesempatan untuk cerita, karena dia akan selalu bandingin masalah kamu dengan masalahnya. Pernah gak dekat sama orang yang kayak gitu? Keadaannya tuh kayak: "ya aku sayang kamu, tapi semakin kesini hubungan ini justru bikin aku merasa sendirian."
Sudah berkali-kali dilukai hatinya, sudah berkali-kali pula diabaikan perasaannya, tapi masih tetap ingin mencintai orang yang sama. Ya gimana ya?. Barang kali, kita memang tak tau masa depan seperti apa yang akan kita punya, namun kita masih bisa mengusahakannya.
Saat itu, ketika aku berjalan di sebuah lorong tanpa ku sadari seperti ada seseorang mengikuti langkah kaki ku, namun saat aku menoleh ke belakang tidak ada siapa-siapa.
"Hmmm, kayak ada yang ngikutin gue?" Ujar ku dalam hati
Riuh ku dengar suara angin, angin yang membuat aku merinding dan membuat ku ngeri ketakutan.
"Loh kok bulu kuduk gue berdiri" ungkapnya
Saat ku menengok ke belakang lagi...
(Nengok) kanan... Kiri
"Gak ada siapa-siapa" ujarnya
"Ini jalanan kenapa angker amat ya!" Ujarnya dalam hati
Tiba-tiba ku dengar suara seseorang memanggil namaku..
"Arya!!!" Panggilnya dari kejauhan
"Kayak ada yang manggil nama gue!" Ungkapnya
__ADS_1
"Tapi suaranya....." Ujarnya sambil gemetar
Dan tiba-tiba ada seseorang menepuk pundak ku...
"Woy!!" Ujarnya
"Akhhhhhh, kabur!!!" Ujar Arya sambil berlari ketakutan
"Lah dia kenapa?" Tanya Rian
Sedari tadi aku menunggunya di pengkolan warung dekat sekolah, aku kira dia akan tiba, namun apa janjinya dia memang tak pernah berubah selalu saja seperti itu. Sampai hati dia membuat aku merenung dan juga menunggu.
"Kenapa muka Lo di tekuk aja?" Tanyanya
"Enggak kenapa-kenapa kok!" Jawabnya
"Paling gara-gara cewek" ujar yang lain
"Apaan sih Lo ikut nimbrung ajah!" Jawabnya
Tiba-tiba di kejauhan ada Arya yang sedang berlari ketakutan, dan menghampiri teman-temannya.
"Kenapa Lo ya?" Tanya yang lainnya
"Tau kayak di kejar-kejar setan ajah" jawabnya
Uhhhhhhhmm...
Aku cuma bisa terengah-engah dan terbata-bata, bahkan mau cerita panjang lebar aja butuh waktu.
"Tadi di pertengahan jalanan yang lorong itu, tiba-tiba ada yang manggil gue terus dia juga nepuk pundak gue...." Ceritanya panjang lebar
Dan dari kejauhan tiba-tiba Rian datang.
"Apaan sih Lo Ya, gue panggil kagak nyaut-nyaut" ujarnya
"Lah Rian Lo ngapain?" Tanyanya
"Jadi tadi itu elo?" Tanya Arya
"Ya iyalah masa hantu!" Ujar Rian
__ADS_1
***