
Perempuan Gipsi tua itu menatap Nenek Airin.
"Hahaha ... akhirnya Kamu tidak menatap jijik kepadaku lagi," Dia tertawa mengejek Nenek Airin.
"Baiklah, traktir Aku makan dulu di restoran steak di seberang jalan itu, Aku lapar, nanti Aku beri solusi nya," Perempuan gipsi tua berjalan mendahului Nenek Airin, menuju restoran steak.
"Ok," Nenek Airin menyetujui nya.
Mereka makan di restoran steak yang ditunjukkan oleh Perempuan gipsi itu.
"Bagaimana cara nya cepat beritahu sekarang?" tanya Nenek Airin tidak sabar ditengah santap malam Mereka.
"Haha ... tunggu biar ku selesaikan dulu makananku ini," Perempuan gipsi itu melanjutkan makan malam nya. Dia sudah menghabiskan tiga piring steak dan menyantap piring keempatnya.
Tisu di tangan Nenek Airin sudah tak berbentuk lagi karena Dia kesal menunggu terlalu lama, tetapi Dia harus tetap sabar demi cucu nya.
Setelah selesai makan. Perempuan Gipsi itu merogoh kantong tasnya.
"Ini, pasangkan lah gelang ini pada lengan cucu mu, sebelum hujan meteor berakhir," Dia mengeluarkan seuntai gelang dengan bentuk dua bintang besar dan kecil yang menyatu di tengahnya.
Saat nenek Airin akan mengambil nya, Gipsi tua itu menghalangi nya.
"Eit, tunggu dulu ... Kamu tidak lihat ada berlian dan Emerald disana? Ini tidak gratis," Perempuan Gipsi itu menyeringai.
"Bagaimana Aku tahu gelang nya asli atau tidak?" tanya Nenek Airin.
"Panggillah asisten mu, bukankah Dia ahli perhiasan?" Perempuan Gipsi itu menyeringai.
Bagaimana Dia tahu?
Nenek Airin memandang aneh pada Perempuan Gipsi itu lalu memanggil Mira, asisten nya untuk memeriksa keaslian perhiasan itu. Setelah lima menit, Mira menganguk dan mengatakan perhiasan itu asli.
"Berapa harga nya? Sebutkan!" tanya Nenek Airin. Dia tidak sabar ingin segera membawa gelang itu dan memakaikan pada Airin.
"Tiga ratus juta saja, tidak banyak, bagaimana?" tanya Gipsi tua itu.
"Deal," Nenek Airin mengeluarkan buku cek nya dan menuliskan uang tiga ratus juta di atasnya. Uang tiga ratus juta tidak berarti di bandingkan cucu nya.
"Ini," Nenek Airin memberikan ceknya.
"Bagaimana Aku tahu cek nya tidak kosong?" tanya nya
"Bagaimana Aku tahu, gelang nya bisa membangunkan cucu ku atau tidak?" Nenek balik bertanya.
"Ok, ok, Aku percaya kepadamu," Perempuan Gipsi itu mengambil cek nya lalu memberikan gelang nya pada Nenek Airin.
"Oh ya, karena sekarang ini jiwa cucu mu penuh dengan energi negatif, maka jiwa cucu mu akan pergi ke dunia lain, untuk menyerap energi positif dari alam semesta di sana, selama enam bulan," jelas Perempuan Gipsi itu sambil menikmati kentang goreng yang di celupkan ke saus sambal.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" tanya Nenek Airin, tidak percaya dengan apa yang di dengar nya.
"Ya itu tadi, jiwa cucu mu akan di tukar selama enam bulan dengan jiwa orang dari dunia lain, untuk menyerap energi positif dari alam semesta," Perempuan Gipsi itu terlihat santai menjelaskan hal yang rumit dan tidak masuk akal.
"Ku rasa Kamu sudah gila, Bagaimana jiwa bisa ditukar!" Nenek Airin menggelengkan kepala.
"Ya sudah, kembali kan gelang nya! tetapi percayalah ini jalan satu-satunya agar cucu mu bisa bangun,terima kasih makan malam nya," Perempuan Gipsi itu menarik gelang nya, menaruh cek di depan Nenek Airin dan melangkah pergi.
Nenek Airin terdiam, selama tiga tahun Dia sudah keliling dunia dan memang tidak menemukan obat untuk Airin. Lagipula Dia seperti tahu segalanya.
"Baiklah ... baiklah ... tidak perlu emosi, Nenek tua seperti Kita, harus lebih santai menghadapi sesuatu," Nenek Airin menarik Perempuan Gipsi tua itu.
Gipsi tua itu merengut tetapi kembali duduk dan melanjutkan mengemil kentang goreng nya dan sesekali menyeruput Strawberry milkshake nya.
"Mengapa harus enam bulan, itu terlalu lama," tanya Nenek Airin memecahkan keheningan.
"Sudah ku katakan, tubuh cucu mu terlalu banyak menyerap energi negatif, sehingga Dia harus menyerap energi positif dari alam semesta sana," Perempuan Gipsi itu kembali menjelaskan.
"Mungkin keluarga mu terlalu banyak dosa di masa lalu, sehingga cucu mu yang tidak beruntung, menyerap semua energi negatif nya, salahkan saja dirimu dan keluargamu," Perempuan Gipsi itu menunjuk wajah Nenek Airin, senyumnya tersungging.
Nenek Airin tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Ok, dengarkan Aku baik-baik," Perempuan Gipsi itu, lalu terdiam saat melihat pelayan yang lewat.
"Pelayan, beri Aku jus strawberry satu," sahut Perempuan Gipsi pada pelayan yang lewat.
"Baik, Nyonya," Pelayan itu hanya mengangguk.
"Lanjutkan!" seru Nenek Airin.
"Tunggu, Aku haus dan pegal," Perempuan Gipsi itu merenggang kan tangan dan kaki nya lalu minum air mineral yang ada di meja.
Nenek Airin berusaha bersabar walaupun di dalam hatinya ingin menjadikan perempuan gipsi itu seperti rujak beubeuk.
"Hey, hentikan pikiran jahat mu itu!" Perempuan Gipsi itu mendelik pada Nenek Airin.
Bagaimana Dia bisa tahu pikiran ku?
"Aku bisa melihat niat jahat dari mata mu, sudahlah, Kamu sendiri yang mengatakan Kita harus lebih santai, rileks, Betul?" Perempuan Gipsi tua itu kembali menyeringai lalu menyeruput jus strawberry nya yang baru datang.
Mau tidak mau Nenek Airin kembali menunggu nya selesai minum, menahan rasa kesal di hati nya.
"Jiwa cucu mu akan kembali saat planet Merkurius, Venus, Mars, Jupiter dan Saturnus berbaris sejajar di angkasa, tanggal dua puluh satu, enam bulan lagi. Pastikan tubuh cucu mu tetap memakai gelang itu. Apabila gelang nya hilang, jiwa cucu mu tidak akan bisa kembali ke sini kecuali Dia berhasil menyerap energi positif yang sangat besar dari alam semesta sana," Perempuan Gipsi itu menjelaskan.
"Bagaimana dengan orang yang jiwa nya di tukar dengan cucu ku?" tanya Nenek Airin ,bingung.
"Itu urusan mu, Aku tidak mau terlibat, pastikan saja Dia aman dan tidak melepas gelang nya, selama enam bulan ke depan" Perempuan itu melirik buku menu, lalu mulai menulis pesanan lain.
__ADS_1
Nenek Airin terdiam dan Perempuan Gipsi itu sibuk menulis berbagai macam menu di kertas pesanan.
"Pelayan, tolong bungkus semua pesanan ini," sahut Perempuan Gipsi tua itu kepada pelayan.
Nenek dan Perempuan Gipsi itu terus mengobrol selama setengah jam sampai semua pesanan nya datang.
"Ku rasa sudah cukup, Aku akan pulang, ingat semua yang Aku katakan ,Ok dan terima kasih makanan dan cek nya, Selamat Tinggal," Perempuan Gipsi tua itu dengan cepat melangkah pergi dari restoran itu.
Nenek Airin termenung mengingat semua percakapan tadi, lalu Dia berjalan cepat, keluar dari restoran, menyusul Perempuan Gipsi tua itu tetapi Dia sudah tidak ada.
"Kemana Perempuan tua tadi, John?" tanya Nenek pada Asisten nya satu lagi.
"Tadi Dia berbelok ke arah jalan sana, Nyonya," John menunjuk ke belokan disebelah kanan Restoran.
"Ayo kejar," Nenek berjalan cepat menuju belokan.
John ikut berlari, Tetapi di jalan itu sedang di adakan festival lampion, sehingga jalanan penuh sesak dengan orang-orang dari penjuru dunia.
Setelah setengah jam Mereka menyerah.
"Sudahlah, siapkan pesawat jet, Kita pulang ke negara I," Nenek berjalan menuju mobil.
"Baik, Nyonya," John membukakan pintu belakang mobil untuk majikan nya, lalu menutup nya.
Kilas Balik Selesai.
Airin masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Dia terdiam, mencoba mencerna setiap kata-kata yang neneknya ucapkan tadi.
Jadi memang benar ini adalah dunia ku yang asli?
Ini keluarga dan rumahku?
Jadi inilah alasan terbesar, Mengapa Aku selalu menjadi juara satu, menatap foto mantan terlama setiap tahun nya di dunia sana. Itu karena orang yang di foto itu bukan suamiku. Dia orang lain dan Aku memang benar-benar tidak memiliki perasaan kepadanya.
Syukurlah ku kira dulu Aku tidak waras karena tidak merasakan apa-apa saat melihat foto nya.
"Tetapi mengapa Airin Melati tidak mau pulang ke dunia nya?" tanyaku merasa tidak percaya Dia rela meninggalkan Anak-anak dan keluarga nya hanya untuk bertahan disini.
"Tentu saja karena Dia dibutakan oleh harta, itu sebabnya Dia membuang gelang mu, De, karena Dia tidak mau kembali ke dunia nya dan hidup susah!" Nenek kembali terlihat menahan amarah nya.
Huh? Dia setega itu kepada darah dagingnya sendiri?
Selama ini Aku selalu merasa stress karena meninggalkan anak-anak ku di dunia sana secara tiba-tiba. Aku pun selalu merasa bersalah kepada jiwa Airin yang asli karena menempati tubuh nya. Tetapi sekarang kenyataan nya mereka bukanlah anak-anakku dan sejak awal Aku lah pemilik asli tubuh ini.
"Hahhhh ...? Apa yang harus kulakukan sekarang?" Kenyataan ini membuatku bingung.
Apa yang harus kulakukan sekarang? Merayakan nya? Atau kah Aku harus bersedih?
__ADS_1
*******
...Terima kasih untuk semua Readers 🤗...