
"Kalau Kamu mau memutuskan pertunangan Kita, karena ini Aku terima," Airin menatap Alex yang terlihat marah lalu mengalihkan pandangannya ke depan jalan.
Amarah Alex semakin tersulut, tadi ia mendengar apa yang dilakukan Edward pada Airin di apartemen nya, sekarang Airin ingin memutuskan pertunangan mereka.
Alex menghentikan buggy car nya lalu menarik lengan Airin ke arah gazebo yang ada di taman mawar.
"Alex, pelan-pelan, sakit," Airin meringis. Alex mencengkram kuat lengan Airin.
Alex tidak berkata apa-apa hanya terus menariknya.
Airin mengikuti nya dengan rasa was-was. Alex yang sedang marah terlihat menakutkan. Alex melepaskan Airin dan mengunci posisinya sehingga Airin berdiri bersandar pada tiang Gazebo.
"Alex, untuk apa Kita ke sini?" tanya Airin.
Sorot mata Alex menatap tajam padanya. Airin langsung menunduk karena takut.
"Kamu ingin memutuskan pertunangan Kita dan kembali ke Edward, begitu maksudmu!" seru Alex.
"Bukan begitu, Aku--," Airin ingin menjelaskan tetapi di potong oleh Alex.
"Dengarkan Aku, Airin, Aku sudah bersabar padamu, dan memberi mu pilihan, Kamu yang memilihku ingat itu," seru Alex tajam.
Aura Alex dingin yang terpancar pada dirinya saat ini, sangat berbeda dengan Alex yang ia kenal sebelumnya. Airin merinding.
Apa ini sifat Alex yang sebenarnya? Haih, bagaimana Aku bisa melupakan nya. Keluarga Alex adalah keluarga mafia.
"Kamu adalah milikku dan Aku tidak akan melepaskan mu seumur hidupmu," seru Alex dingin.
Airin semakin merinding.
"Tunjukkan dimana saja Edward mencium mu!" serunya. Amarah nya membludak, pikiran nya kacau, Ia tidak suka orang lain menyentuh miliknya dan lebih tidak suka Airin yang ingin memutuskan nya.
"Disini, disi--," belum selesai Airin menjelaskan nya Alex sudah mulai mendekati lehernya. Airin mencoba menghalangi Alex tetapi kedua tangannya di tekan keatas.
"Jangan, Alex," Airin mencoba mencegahnya.
"Kamu tunangan ku, Airin, tubuh mu adalah milikku," seru Alex menatap tajam pada Airin.
Airin terdiam. Alex benar. Dia yang memilih Alex. Sesuai drama-drama yang ia tonton dan novel yang ia baca, bila sudah bertunangan, cepat atau lambat kontak fisik seperti ini akan terjadi. Edward pun melakukan yang sama. Tetapi mengapa hati nya tidak rela?
Harusnya Aku diam saja, tidak usah mengatakan apapun pada Alex soal kejadian di Apartemen Edward.
Airin sangat menyesal dan tidak sanggup melihat Alex, ia menutup matanya. Ini perasaan yang berbeda dengan saat Edward akan menyentuh nya. Dia jauh lebih takut di sentuh Alex daripada Edward.
Alex mulai menciumi semua tempat yang pernah di sentuh Edward dengan penuh nafsu. Napasnya menderu terasa panas di leher Airin. Airin merinding, Dia mencoba menutupi lehernya dengan menekuk kepalanya ke kanan dan ke kiri, tetapi tenaga Alex lebih kuat.
"Alex, tolong hentikan," Airin memohon pada Alex, tetapi Alex yang sudah diselimuti amarah dan nafsu, tidak menggubris nya.
Air mata mengalir di pipi Airin. Dia sadar dia tidak mencintai Alex. Dia tidak ingin Alex menyentuhnya. Dia hanya mencintai Edward dan hanya ingin di sentuh oleh nya. Dia tidak bisa melakukan kontak fisik sebagai seorang kekasih dengan orang lain selain Edward.
Tetapi Dia tidak berdaya sekarang, Dia membuka matanya, melihat ke sekeliling taman.
Mengapa Ayah tidak memasang cctv di sekitar sini?
Siapa yang akan menolongku sekarang?
__ADS_1
Tuhan tolong Aku.
Airin merasa putus asa. Air matanya terus mengalir.
"Dia bilang hentikan Alex!" Edward datang dari belakang, menarik Alex dan memukul wajah nya dengan kencang hingga terjerembab ke tanah.
"Pergilah!" seru Edward dipenuhi amarah, Dia melangkah menghampiri Airin.
"Dia, tunangan ku, Kamu lah yang harus pergi dari sini," Alex bangkit, menarik dan membalas pukulan Edward.
"Tetapi, yang Dia cintai adalah Aku, dan Aku belum memutuskan pertunangan Kami secara resmi," Edward kembali membalas pukulan Alex.
Kedua nya saling berjibaku menyerang dan bertahan, tidak ada yang kalah dan menang karena kekuatan mereka seimbang.
Airin terduduk lemas di tanah, air mata nya terus mengalir. Dia hanya ingin jujur kepada Alex, tetapi mengapa semuanya menjadi kacau seperti ini, dan mengapa Edward mengatakan mereka masih bertunangan?
Ini semua memang kesalahannya, harusnya Dia tidak mencoba untuk menerima Alex saat perasaan nya pada Edward masih begitu kuat. Seharusnya nya Dia menjauh dari keduanya.
*****
Ujang adalah salah satu asisten rumah tangga di keluarga Suharja. Dia diminta Bi Onah mencari Nona Airin di taman mawar karena acara makan siang akan segera berlangsung, tetapi Dia terkejut saat melewati Gazebo. Dia melihat Tuan Muda Edward dan Tuan Muda Alex sedang berkelahi dan yang lebih mengejutkan Nona Airin terduduk di tanah sambil menangis.
Apa yang sedang terjadi?
Beberapa tahun yang lalu rumah ini heboh karena masalah asmara terlarang Tuan Muda Aidan sekarang masalah asmara Nona Muda Airin pun tidak kalah heboh dengan kedua tunangannya.
Mengapa kehidupan Konglomerat sangat rumit?
Dia tidak berani mendekati atau melerai mereka, karena bagaimanapun mereka berdua bukan orang sembarangan. Apalagi keduanya adalah tunangan Nona Airin.
Tuan Muda Alex seorang dokter dan salah satu pengusaha sukses di dunia juga dan yang lebih menakutkan nya, Dia berasal dari keluarga mafia siapa yang berani berurusan dengan keluarga Mendoza pasti mati tujuh turunan.
Dia kebingungan, kemudian memutuskan berlari secepat mungkin ke rumah utama untuk memberitahukan kepada Bi Onah, agar di sampaikan kepada Nyonya.
"Ujang, ada apa, terburu-buru seperti itu," Aidan yang baru turun dari mobil bersama Mellisa merasa heran. Mereka tidak jadi jalan-jalan karena keluarga Adams dan keluarga Mendoza datang.
"Tuan Muda Alex dan Tuan Muda Edward, berkelahi di dekat gazebo taman mawar, Tuan Muda," Ujang bercerita sambil terengah-engah.
"Apa?!" seru Aidan.
"Ya sudah Kamu kembali lakukan pekerjaan mu, biar Aku yang menangani masalah ini," perintah Aidan.
"Baik Tuan Muda," Ujang berbalik arah menuju samping rumah utama.
Semoga Non Airin, baik-baik saja.
Ujang merasa iba kepada anak majikannya. Nona Airin sudah berubah sifatnya, sekarang dia gadis yang baik, ceria dan tidak pandang bulu. Semua orang menyayanginya.
"Bun, Kamu masuk duluan dan istirahat ya, Aku melihat Mereka dulu," ucap Aidan lembut pada Mellisa lalu mengecup kening nya.
"Hati-hati, Ayah," sahut Mellisa.
"Ok," Aidan tersenyum lalu naik buggy car yang terparkir di pintu taman mawar.
Aidan tiba di area tengah kebun mawar, Dia melompat dari buggy car nya dan berlari ke arah gazebo menghampiri Adiknya.
__ADS_1
"Ade, mengapa menangis?" Aidan datang dan bertanya.
Airin hanya menggelengkan kepala dan mengusap air matanya.
"Sudah jangan menangis," Aidan mengeluarkan sapu tangan dan mengusap air mata Adiknya. lalu memeluknya.
Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling dan pandangannya terfokus pada dua laki-laki yang sedang sibuk bertahan dan menyerang satu sama lain.
"Oh jadi mereka biang keladinya, berani-beraninya membuat mu menangis di rumah Kita
sendiri," Aidan mulai tersulut amarah.
"Siapa yang membuat Adikku menangis?," Aidan datang bertanya Alex dan Edward. Tetapi tidak di gubris oleh kedua nya.
Baik Alex atau Edward masing-masing mengeluarkan teknik bertarung terbaiknya. Mereka bertarung tanpa perduli keadaan sekitar.
Aidan yang merasa di abaikan, semakin naik darah. Dia mendekati dan menarik Alex lalu melakukan tiga kombinasi pukulan Jordan zuki, chudan zuki dan gedan zuki pada Alex kemudian melakukan tendangan Narae chagi ke arah perut dan kepala Alex sebagai penyelesaian sehingga Alex terlempar jauh ke tanah sebelah kanan Gazebo.
Kemudian Aidan berbalik pada Edward melakukan tiga kombinasi zuki yang sama dengan Alex lalu melakukan tendangan berputar Dolke chagi yang berfokus pada kepala nya untuk penyelesaian nya sehingga Edward pun terlempar ke sebelah kiri.
Aidan pemegang ban hitam karate dan taekwondo, jadi sangat mudah baginya memberi sedikit pelajaran pada kedua bocah di hadapannya.
Semua nya terjadi begitu cepat sehingga Alex maupun Edward tidak sempat menghindar ataupun menangkis serangan Aidan.
Alex terlihat kesakitan memegang perut dan kepalanya, sedangkan Edward berusaha bangkit dari tanah dengan rasa pusing di kepalanya dan sakit di perutnya.
Aidan tersenyum puas melihat kedua bocah laki-laki yang membuat Adiknya menangis, terkapar di tanah dan meringis kesakitan.
"Nah, sekarang siapa yang membuat Adikku menangis," Aidan menepuk-nepuk telapak tangannya dan menatap tajam kepada kedua nya. Mereka terdiam.
"Oppa itu salah Ade, mereka tidak bersalah, semua hanya salah paham" Airin berlari menghampiri Aidan, Dia tidak ingin Aidan tahu, aib apa yang sudah terjadi tadi.
"Sakura --," Edward ingin mengatakan sesuatu tetapi Airin mendelik padanya. Edward terdiam, patuh.
Alex hanya terdiam. Diantara rasa sakitnya, amarah nya mulai reda dan Dia menatap Airin, menyesal.
"Maaf sudah merepotkan Kalian dan membuat semuanya menjadi seperti ini, ini semua karena salahku dan kekuranganku," Airin menunduk meminta maaf pada Alex dan Edward.
"Ayo, pergi Oppa," Airin menarik Kakaknya pergi.
"Tapi Mereka sudah membuat Kamu menangis," Aidan tidak terima, Dia masih ingin melemas kan otot-ototnya.
"Sudah Ade bilang itu salah Ade, Ayo pergi, jangan memperbesar masalah nya lagi," Airin menarik Aidan pergi dari sana.
"Airin," Alex memanggilnya.
"Sakura," Edward juga memanggilnya.
Tetapi Airin dan Aidan melangkah pergi meninggalkan Mereka. Aidan berbalik sebelum menaiki buggy car nya.
"Jangan bertarung lagi, cepat bersihkan diri Kalian, Kita semua sudah terlambat, makan siang!" seru Aidan.
Edward dan Alex berusaha bangkit, Mereka saling mendelik tetapi tidak berkata apa-apa lalu berjalan perlahan menahan rasa sakit di tubuh masing-masing menuju buggy car.
*****
__ADS_1
...Terima kasih untuk semua Readers 🤗...