
"Ade serius?" tanya Bi Onah terkejut dan panik.
Apa jadi nya kalau ketahuan oleh Nyonya Besar.
Airin menyerah, Dia tidak menemukan tali apapun, yang ada hanya kumpulan ikat pinggang mahalnya yang pasti tidak akan kuat menahan bobot tubuhnya. Dia berjanji pada dirinya sendiri, lain kali Dia akan menyiapkan peralatan panjat tebing di ruang gantinya ini, untuk persiapan.
"Hehe ... Ade hanya bercanda," Airin berbalik dan memperlihatkan senyum manisnya.
"Syukurlah, Bi Onah merasa sport jantung, Karir Bi Onah disini bisa berakhir, hilang tanpa jejak, bagai daun yang di tiup angin --," Bi Onah mulai mengeluarkan puisi andalannya, agar Airin mengerti situasi dan kondisi nya sebagai asisten rumah tangga, tetapi ucapan nya di potong Airin.
"Melayang di angkasa, terseret meteor, terhisap lubang hitam dan tidak akan pernah kembali, ya ya, Ade sudah hapal," Airin memotong dan melanjutkan puisi andalan Bi Onah.
"Nah, itu Ade paham posisi, Bi Onah," ucap BI Onah.
"Ya sudah, Ade ganti pakaian dulu terus keluar. Ade di taman mawar, kalau Ibu tanya, mata Ade sembab, jadi butuh udara segar" Airin langsung sibuk memilih-milih pakaian.
"Ok nanti Bi Onah sampaikan pada Nyonya, nah begitu, jadi anak manis dan penurut sama orang tua," Bi Onah tersenyum puas.
Airin membalas senyuman Bi Onah kemudian sibuk kembali dengan pakaian nya.
Airin memilih dress floral sederhana warna abu-abu selutut dengan clutch bag kecil warna putih dan sepatu flat putih. Memakai riasan sederhana dan menggerai rambutnya.
Setelah selesai, Dia mengambil karpet lipat, milktea dan beberapa cemilan di lemari es, lalu pergi menuju lift yang terhubung dengan garasi timur dan memakai buggy car menuju taman mawar. Dia turun lalu berjalan melalui jalan setapak, menggelar karpet lipat dibawah pohon, meletakan kantong berisi cemilan nya dan duduk meluruskan kaki nya di depan kolam ikan koi Ayahnya.
"Segar sekali udara di sini," Airin merentangkan kedua tangan nya. kemudian mengalihkan pandangan nya pada ikan koi yang beraneka warna.
"Ikan koi adalah simbol cinta dan persahabatan. Mereka pun bisa dijadikan teman seumur hidup, bahkan ada ikan koi yang mencapai usia dua ratus tahun. Ikan koi mempunyai sifat lembut dan pemberani, ikan koi ada 174 jenis tetapi yang terkenal ada tiga, yaitu kohaku, sanke, dan showa," Airin mengulang fakta tentang ikan koi yang selalu Ayahnya dengungkan setiap hari.
"Kalian itu sangat istimewa ya," Airin menelungkup kan badan nya di depan kolam dan berbicara pada sekumpulan ikan koi di kolam yang sibuk berenang kesana kemari.
Senyum Airin terkembang, ia celupkan tangannya ke dalam kolam, bermain dengan beberapa ikan koi yang menghampiri nya.
"Pantas saja, Ayah betah di sini, ternyata sangat menyenangkan bermain bersama kalian, lucu nya," Airin terus mengobrol dengan para ikan koi.
Airin memutar jarinya di dalam air menimbulkan riak-riak kecil di kolam. Sesekali ia membelai ikan koi yang menghampiri nya.
__ADS_1
"Kalian, lapar ?" tanya Airin pada ikan-ikan koi di hadapannya yang mulutnya membuka dan mengatup menghirup udara.
"Hati-hati, jangan terlalu dekat ke kolam!" Suara seorang laki-laki dari belakang terdengar panik. Kedua tangan nya memegang pinggang Airin dan dengan cepat mengangkat tubuh Airin dan melemparkan ke udara.
"Uwaaaah," Airin merasakan tubuhnya melayang di udara untuk beberapa detik, lalu berputar dan seseorang menangkapnya.
"Gotcha," si pemilik suara merasa puas karena berhasil menangkap Airin dengan mulus, senyum nya merekah indah,membuat iri bunga-bunga di sana.
"Alex," sahut Airin yang masih terkejut dengan pertunjukan akrobat Alex barusan.
"Hati-hati, baru kemarin Kamu tenggelam di danau, apa sekarang mau tenggelam di kolam ikan juga!" seru Alex menunduk ke arah Airin yang sedang ia gendong ala bridal style. Dia cukup trauma menyaksikan tunangannya tenggelam kemarin.
"Dangkal kolamnya, dan mengapa Aku harus dilempar dan di putar-putar di udara segala!?" tanya Airin merasa tidak terima.
"Tidak ada alasan, pokoknya Kamu harus jauh-jauh dari air minimal dua meter!" seru Alex serius, kening nya berkerut, tatapan nya tajam.
"Ish, galak sekali," Airin mendelik, lalu mengalihkan pandangan dari tatapan Alex.
"Ayo Kita pulang ke rumah, setengah jam lagi makan siang," Alex mulai melangkah.
"Jangan, tunggu dua puluh menit lagi, Aku masih ingin di sini, dan tolong turunkan Aku, Alex," Airin menolak dan menatap penuh harap pada Alex.
Pandangannya menyusuri wajah cantik Airin, alis mata yang melengkung rapi, mata emerald yang bersinar dengan bulu matanya yang panjang dan lentik. Terlihat sedikit mata panda Airin disana. Alex menatap pipi Airin yang kemerahan, hidungnya yang mancung, terakhir pandangan nya jatuh pada bibir mungil Airin yang bewarna pink. Rasa hangat menjalar di seluruh tubuhnya, Dia menelan ludahnya, tenggorokan nya terasa kering.
Aku ingin memakannya Sekarang!
Dia terlihat sangat cantik dan menggemaskan seperti ini, Bagaimana Aku bisa tahan menunggunya sampai tiga tahun? Ini benar-benar penyiksaan untukku.
"Hahhhhh ...," Alex mengalihkan pandangan nya dan menghela napas, tetapi seperti ada magnet yang membuatnya kembali menatap Airin.
Aku bisa gila karena mu, Airin.
"Baiklah tuan putri, your wish is my command," Alex menahan dirinya lalu mencium kening Airin dan menurunkan nya perlahan.
Airin cemberut lalu memegang keningnya, mendelik pada Alex tetapi tidak berkata apa-apa.
"Apa?" tanya Alex tanpa dosa, menatap Airin yang cemberut.
Airin tidak menjawab.
__ADS_1
Sudahlah Aku tidak ingin membuat masalah, hanya ada Aku dan Alex disini, Aku takut Dia berbuat hal yang aneh-aneh apabila Aku protes padanya sekarang.
Airin tidak ingin kejadian dengan Edward di apartemen nya, terjadi juga disini dengan Alex. Dia merinding mengingat kejadian itu.
Airin mengalihkan pandangan nya, duduk, meluruskan kakinya, meminum milktea nya lalu makan keripik kentang dan menatap kolam ikan koi.
"Hehehe ..." Alex terkekeh melihat tingkah tunangan nya, lalu duduk di sebelah Airin, memasukan keripik kentang ke dalam mulutnya dan ikut memandang kolam ikan koi.
"Mengapa Kamu menangis lagi? sampai matanya sembab begitu," tanya Alex setelah berhasil menelan keripik kentang nya.
"Kelihatan ya?" tanya Airin.
"Hm," Alex menjawab singkat. Dia tidak mengerti mengapa Airin sering sekali menangis.
"Aku habis nonton Drakor yang sedih," Itu alasan yang pertama kali terpikir oleh Airin.
"Ck ... ck ... ck ..., " Alex hanya menggelengkan kepalanya.
Airin menatap Alex yang berbalut jas abu-abu, formal. Tampan nya Alex.
Baik Edward maupun Alex, sama-sama tampan kalau sudah berbalut jas Abu-abu atau silver. Dan Aku suka melihatnya.
"Ada apa?" tanya Alex yang melihat Airin menatapnya tidak berkedip.
"Hehehe ... Apa Kamu baru sadar kalau tunangan mu ini sangat tampan?" tanya Alex tersenyum.
"Hm, sedikit," Airin mengangkat telunjuk dan jempolnya yang ia satukan ujungnya, membentuk huruf O.
"Tatap lah diriku sepuas mu sayang, Aku milikmu," Alex merentangkan tangannya, lalu mencoba berbagai pose modelnya.
Airin memutar bola matanya.
"Narsis!" serunya lalu mengalihkan pandangannya.
"Hahaha ...," Alex tertawa melihat wajah Airin yang memerah.
*******
...Terima kasih untuk semua Readers 🤗...
__ADS_1