Masuk Ke Dunia Novel

Masuk Ke Dunia Novel
Pinky Swear


__ADS_3

Airin sudah berpamitan kepada keluarga nya dan keluarga Adams untuk kembali ke asrama. Keluarga Adams menginap di rumahnya hari ini.


Dia berjalan menuju garasi, untuk mengambil mobil nya. Dia ingin mengirup udara segar sehingga memilih berjalan kaki daripada naik lift. walaupun jaraknya cukup jauh.


Dia merasa pengap karena hampir seharian harus berada satu ruangan dengan Alex dan Edward. Walaupun Mereka sibuk mengobrol dengan Ayah, Aidan, Paman Andrew dan entah apa yang di obrolkan sehingga pembicaraan mereka tidak kunjung selesai. Terkadang Airin merasakan tatapan yang dalam dari Alex dan Edward yang membuatnya merasa tidak nyaman.


Kata orang, cinta itu terasa menyenangkan, tetapi apa nya yang menyenangkan, yang ada Aku selalu merasa kecewa dan frustasi.


Airin berpikir sambil menghentak-hentakan kakinya dengan keras pada permukaan jalan yang beraspal, sehingga langkah kakinya mengeluarkan bunyi yang cukup kencang dijalanan yang sepi.


"Dunia belum berakhir bila Kau putuskan Aku ... masih banyak teman-teman ku di sini menemaniku.


Dunia belum berakhir bila Kau putuskan Aku, wajahku pun ga jelek-jelek amat, ada yang mau .


..," Airin bernyanyi dan berjalan sambil memutar-mutar kunci mobil dengan jari telunjuk nya.


"Kupikir-pikir, kupikir-pikir lebih baik Aku menyingkir ...," Airin terus bernyanyi, sesekali Dia bergaya seperti sedang memainkan gitar, sesekali Dia bergaya seperti penyanyinya menunjuk-nunjuk ke arah depan.


Airin tahu lagu ini dari Gina, Dia sering menyanyikan nya setelah pengakuan cinta nya di tolak mentah-mentah oleh Mark, dua Minggu yang lalu. Tetapi bukan Gina namanya kalau mudah menyerah, Dia kembali menembak Mark saat acara ulangtahun Airin kemarin, tetapi tetap di tolak. Airin salut dengan daya juang dan muka tebal Gina sekaligus kasihan pada Mark yang diikuti Gina kemana-mana saat pesta kemarin.


Airin terkekeh mengingat Gina dan Mark. Hati nya terasa ringan sekarang, bernyanyi memang obat patah hati paling manjur.


"Aku t'lah tau hati ini harus menghindar, Namun kenyataan ku tak bisa ... maafkan Aku terlanjur mencinta ...," Airin kembali bernyanyi, kali ini lagu Maafkan Aku, milik Tiara Andini.


"Hm hm hm," Dia bergumam sambil berjalan mendekati garasi yang tinggal sepuluh puluh meter lagi di depan nya.


"Sakura, tunggu."


Airin mendengar seseorang memanggilnya. Dia menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang, terlihat Edward berlari menghampiri nya.


"Huh? Mau kemana Ed, buru-buru sekali?" tanya Airin melihat Edward yang membungkuk sambil memegang kedua lututnya.


"Mengejar Kamu lah, Aku mencari mu kemana-mana," jawab Edward dengan napas yang masih terengah-engah.


"Mengapa Kamu tidak menggunakan lift, malah berjalan jauh memutar seperti ini?" tanya Edward.


"Ya suka-suka Aku dong, Ed," jawab Airin, mendelik.


Belum lima menit hatiku merasa tenang, eh si raja hutan datang bawa masalah baru.


"Ada urusan apa? Aku tidak merasa punya hutang padamu sampai harus di kejar-kejar seperti debt colector seperti ini," tanya Airin merasa aneh, permasalahan Mereka juga sudah di selesaikan oleh Nenek.


"Hehehe ...," Edward hanya terkekeh, tanpa menjawab.


"Kamu mau kemana?" Edward balik bertanya, tubuhnya sudah kembali tegak.


"Pulang ke asrama," jawab Airin.


"Aku akan mengantarmu ke asrama, sekalian pulang ke apartemen ku," jawab Edward sambil mengatur napasnya.


"Tidak usah, Aku pakai mobil ku sendiri dan Kamu pulang saja memakai mobilmu sendiri," Airin menolak nya, Dia buru-buru memasukan kuncinya ke dalam tasnya lalu berbalik dan berjalan kembali menuju garasi.


"Aku ingin bicara dengan mu," Edward akhirnya mengatakan alasan yang sebenarnya. Dia tersenyum, merasa lucu melihat tindakan Airin yang waspada terhadap nya. Dia menyamakan langkah nya dengan Airin.


"Bicara apa?" tanya Airin tetap berjalan.


"Oh, iya, terima kasih sudah menolongku tadi di taman, sekarang Aku harus cepat pulang ke asrama," Airin mempercepat langkah nya, tidak ingin terjebak oleh Edward.

__ADS_1


"Sakura ...," Edward menahan tangan Airin sehingga langkah Airin terhenti.


"Ayo, Aku antar," Edward bersikukuh.


"Aku tidak mau, Ed, setiap kali Aku pulang bersama mu, pasti berakhir di apartemen mu," Airin menjelaskan, berusaha melepaskan tangan Edward dengan bantuan tangannya yang satu lagi.


"Ya, tidak apa-apa, memangnya kenapa kalau Kamu ke apartemen ku?" tanya Edward, sambil menangkap tangan Airin yang satu lagi, lalu mengeluarkan senyum kemenangan.


Airin cemberut.


"Ya, tidak pantas saja ... lepaskan Ed," ucap Airin, mulai tidak sabar. Sekarang kedua tangannya di pegang erat oleh Edward.


"Kamu tahu Aku tidak akan melepaskan nya sebelum Kita bicara," Edward menyeringai, tetap bersikukuh.


"Ish, Keras kepala sekali," Airin cemberut.


"Kalau Aku tidak keras kepala, mana mungkin Aku bisa menangani dua perusahaan besar sekaligus dengan baik," Edward tersenyum membanggakan diri sendiri.


"Narsis!" seru Airin.


"Haha ...," Edward hanya tertawa.


Sakura terlihat semakin menggemaskan saat sedang kesal.


"Ya sudah, disana, Aku tidak mau diantar pulang olehmu!" seru Airin menunjuk ke arah sofa yang terdapat di dekat taman tulip Ibu dengan mulutnya.


"Ok, Ayo," Edward tersenyum, melepas satu tangan Airin dan menggandeng tangan yang lainnya.


Edward mengikuti Airin, Mereka duduk berhadapan.


"Ayo, Kita mulai dari awal lagi, Sakura, Aku berjanji tidak akan membuatmu kecewa lagi," Edward menarik perlahan tangan kanan Airin dan memegang nya dengan erat di atas meja dan menatap nya penuh harap.


"Hei ... Apa Kamu tidak mendengar apa yang Nenek ucapkan tadi siang?" tanya Airin, berusaha melepaskan genggaman tangan Edward.


"Aku tahu, tetapi Aku ingin bersamamu, tiga tahun terlalu lama," Edward berusaha membujuk Airin.


"Apa maksud mu ingin bersamaku?" Airin merasa Kata-kata 'bersamamu' terlalu ambigu untuknya.


Airin tetap berusaha melepaskan tangan nya, lagi-lagi Edward menangkap tangan Airin yang satunya lagi dan semakin kuat menggenggam kedua tangan Airin. Lalu tersenyum.


"Ya Aku ingin bersamamu setiap hari," Edward merasa sudah menjelaskan dengan baik, tetapi mengapa Sakura masih tidak mengerti.


"Aww," Edward terkejut melihat tangan nya sudah di gigit Airin, dan tanpa sadar mengendurkan gengaman nya.


Airin dengan cepat melepaskan tangan nya lalu menyembunyikan tangan nya di belakang pinggangnya dan menatap tajam pada Edward.


"Hahaha ...," Edward tertawa, melihat ekspresi Airin dan sikap wapadanya.


Bagaimana Aku tidak jatuh cinta kalau sikap mu terlalu menggemaskan, seperti ini, Sakura.


Selama setahun ini Dia selalu terkejut dengan berbagai macam tindakan spontan Airin untuk menghindari nya yang membuatnya semakin penasaran.


"Apa nya yang setiap hari?" Airin semakin waspada.


"Aku ingin bertemu dengan mu setiap hari," Edward kembali menjelaskan lebih terperinci.


"Hanya bertemu?" Airin memastikan.

__ADS_1


"Ya bertemu dan melakukan hal-hal yang biasa di lakukan oleh sepasang kekasih," Edward menjelaskan lagi


Hal-hal biasa yang di lakukan oleh sepasang kekasih. Kata-kata itu terngiang di kepala Airin.


"Apa Kamu ingin melakukan sesuatu seperti yang Kamu lakukan di apartemen mu waktu itu?" tanya Airin merasa merinding.


"Itu wajar dilakukan oleh sepasang kekasih Sakura, tetapi Aku janji tidak akan melakukannya tanpa ijin mu," Edward terus membujuk Airin.


"Berarti Kamu tetap menginginkannya kan?" tanya Airin.


"Itu karena Aku mencintaimu, Sakura, jadi tubuhku bereaksi dengan sendirinya," Edward menjelaskan.


"Hiiiiih ... Aku tidak mau melakukan kontak fisik yang seperti itu lagi" Airin masih teringat rasa takut ketika kedua mantan tunangannya melakukan hal memalukan itu.


"Aku berjanji tidak akan melakukan apapun, Aku hanya ingin berada didekat mu saja," Edward terus membujuk Airin. Kalau Dia tidak berhasil membujuknya sekarang, Dia takut Alex akan merebut Airin lagi.


Airin merasa bimbang, Dia ingin bersama Edward, tetapi tidak percaya diri saat harus berhadapan dengan Mia nanti.


"Bagaimana dengan Mia?" tanya Airin.


"Ada apa dengan Mia? Aku tidak memiliki perasaan apa-apa padanya," Edward menjelaskan


"Benar?" tanya Airin.


"Benar," Edward mengangguk meyakinkan.


"Swear," ucapnya lagi sambil mengacungkan kedua jarinya.


"Tetapi, waktu itu Kamu dan Mia --," ucapan Airin langsung di potong Edward


"Itu tidak sengaja, Aku tidak akan melakukan nya lagi, Aku berjanji," Edward langsung memotong ucapan Airin karena Dia tidak suka Airin mengungkit kesalahan nya terus.


"Bagaimana, Aku bisa mempercayai mu?" tanya Airin.


"Kamu bisa mengikuti ku ke kantor atau kemana pun Aku pergi setiap hari," jawab Edward meyakinkan nya.


"Aku kuliah mana bisa mengikuti mu setiap hari!" seru Airin.


"Aku berjanji tidak akan menyentuh atau melirik perempuan manapun lagi selain Kamu seumur hidupku," Edward terus membujuk Airin.


"Masa? Ibu dan Kakak mu kan perempuan juga, belum apa-apa sudah berbohong!" seru Airin kesal.


"Ya maksudku perempuan selain keluarga, Sakura, masa tidak mengerti," Edward pun mulai kesal.


Kemudian Edward menarik perlahan jari kelingking Airin dan mengaitkan dengan jari kelingking nya.


"Waktu kecil, Kita sering melakukan pinky swear seperti ini," Edward bercerita mengenang masa kecil mereka.


Airin memperhatikan Edward dan membiarkan jarinya terkait kuat dengan jari kelingking Edward.


"Aku berjanji hanya Airin Suharja yang menjadi kekasihku selamanya," Edward mengucapkan janji nya di depan Airin.


Airin terdiam, Edward menatapnya penuh harap.


*******


...Terima kasih untuk semua Readers 🤗...

__ADS_1


__ADS_2