
"Maafkan Nenek," Nenek kembali meminta maaf, tidak ada yang bisa melukis kan berapa besar rasa bersalah nya kepada cucu nya
"Tidak ada yang perlu di maafkan, justru Ade berterima kasih pada Nenek," Airin memeluk Nenek nya.
"Nenek, penyelamat Ade dan Tuhan pasti punya rencana indah dibalik semua kejadian ini," Airin menghibur Nenek nya, walaupun sebenarnya dirinya sendiri lah yang berusaha ia hibur dan tenangkan.
"Ade punya satu permintaan pada nenek," Airin melepaskan pelukannya dan duduk di hadapan Neneknya.
"Sebutkan, Nenek pasti akan memberikan semua yang Kamu minta," sahut Nenek, Beliau merasa sedikit lega cucu nya mau meminta sesuatu kepadanya.
"Ceritakan tentang kehidupan Airin Melati disini," Airin ingin tahu seperti apa Airin Melati selama tujuh tahun menggantikan nya di sini.
"Kamu yakin? bukankah itu akan membuat mu merasa tidak nyaman?" tanya Nenek ragu-ragu.
"Ade yakin, tolong ceritakan kehidupan Airin Melati di sini," Airin memohon pada Neneknya.
Nenek nya terdiam, menatap iba kepada cucunya.
"Baiklah, Nenek ceritakan semua nya yang Nenek tahu, bla ... bla ... bla ...," Nenek Airin bercerita panjang lebar tentang kehidupan Airin Melati saat menjadi Airin Suharja.
Air mata Airin mulai menetes, tetapi dengan cepat ia hapus dengan punggung tangannya, karena tidak ingin Nenek melihatnya dan semakin merasa bersalah padanya.
"Nenek, terima kasih, boleh Ade pergi ke kamar?" tanya Airin, Dia ingin cepat pergi dari sana, Dia tidak bisa membendung air matanya lagi.
"Pergilah," Nenek Airin mengerti cucu nya pasti merasakan ketidakadilan dalam hidupnya dan yang patut di salahkan adalah dirinya karena tidak mampu mencegah Airin Melati menghilangkan gelangnya delapan tahun yang lalu.
"Terima kasih, Nek," Airin memeluk Nenek nya sebelum beranjak pergi ke kamarnya.
Di kamar, setelah membersihkan diri dan berganti pakaian. Airin duduk di balkon kamar nya, menatap langit biru dan memikirkan semua percakapan dengan Neneknya.
Ada rasa iri yang merayap di hati nya saat mengingat masa lalu. Kehidupan Airin Melati disini benar-benar berbanding terbalik dengan kehidupan nya di dunia sana. Saat Airin Melati diperlakukan layaknya putri raja dan di puja puji semua orang disini.
Di dunia sana enam atau tujuh tahun yang lalu, Dia, Airin Suharja harus jungkir balik memutar otak setiap hari, mencari cara agar Dia dan anak-anak bisa makan minimal dua kali sehari dan membayar hutang yang selalu ditagih oleh Bang Amat, debt colector yang cukup baik hati memberi keringanan pembayaran hutang Airin Melati dengan mencicilnya setiap hari.
Sungguh suatu ironi kehidupan.
Apa yang harus kulakukan sekarang? Apa harus merayakan nya karena telah kembali pulang ke rumah dan dunia ku? atau kah harus bersedih mengingat anak-anak dan segala yang Aku perjuangkan di dunia sana adalah milik Perempuan yang sudah merebut kebahagiaan dan masa kecilku ?
Dadanya terasa sesak, hatinya pedih, dan amarah nya tersulut merasakan ketidakadilan yang terjadi pada hidup nya di masa lalu.
Dia mengambil bantal di sofa lalu memukul-mukul bantalnya , membanting-bantingnya ke lantai dan menginjak-injak nya, meluapkan amarah yang terpendam di hati nya. Setelah puas dan merasa lelah, Dia duduk di lantai dan memeluk bantal yang ia pukul, banting dan injak tadi.
"Maaf bantal," lirih nya.
__ADS_1
Dia mengatur napasnya dan mengusap pipinya yang sudah basah dengan air mata lalu mengalihkan pandangan nya, menatap ke arah taman bunga mawar hadiah ulang tahun nya yang ke sepuluh. Cantik sekali mawar-mawar nya.
"Ikhlaskan semua nya Airin! lupakan masa lalu! Sekarang Kamu sudah kembali ke rumah, kembali ke keluarga mu dan kembali ke dunia mu!" Airin mencoba menyemangati dirinya sendiri.
Dia menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan selama beberapa kali.
Dia masuk ke dalam mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
"Nenek mengatakan ini adalah kamar asli ku, nenek melarang Airin Melati mengubahnya, Syukurlah, tetapi membayangkan Dia tidur di kasur, sofa dan tempat yang sama denganku, Ko , Aku merasa kesal ya, hahhhh ...," Airin menghela nafas.
Dia melirik pada lukisan bunga sakura di atas tempat tidur nya. Dia mengingat Edward selalu memanggil nya sakura.
"Ku rasa Aku mulai membenci bunga sakura juga sekarang, Haih ... hidupku ...," Airin menjatuhkan tubuh nya di sofa di dalam kamarnya.
"Hidup penuh liku-liku, ada suka ada duka ...," tanpa sadar Airin menyanyikan lagu yang selalu di nyanyikan Bang Amat saat datang menagih hutang ke rumah nya dulu.
"Terkadang tidak tahu apa-apa itu jauh lebih baik, sekarang bagaimana Aku bisa tidur di kamar ini lagi?" Airin merasa bingung, hati nya membenci Airin Melati.
tok ... tok ... tok ...
"Ade ...?" suara Bi Onah memanggil Airin dari luar.
"Masuk, Bi" jawab Airin.
"Ada apa, Bi?" tanya Airin.
"Hanya memberi tahu satu jam lagi waktu nya makan siang, O ya ada keluarga Adams juga di bawah, Nyonya meminta Ade memakai pakaian yang pantas," Bi Onah menjelaskan.
Huh? untuk apa Mereka ke sini?
Airin sedikit terkejut, bukannya kemarin Aku sudah memutuskan pertunanganku dengan Edward?
"Keluarga Adams? untuk apa datang ke sini?" tanya Airin pada Bi Onah.
"Kurang tau, De, tetapi sekarang Mereka sedang mengobrol dengan Nyonya Besar, Nyonya dan Tuan" Bu Onah menjelaskan.
Haih ... Apa tidak bisa beristirahat sebentar saja? Mengapa masalah datang silih berganti?
"Boleh kabur tidak Bi? Ade tidak mau bertemu keluarga Adams?" Airin menatap mata Bi Onah penuh harap. Dia benar-benar tidak mau bertemu Mereka.
"Tidak baik, melarikan diri dari masalah, lebih cepat di hadapi lebih cepat di selesaikan," Bi Onah menasihati nya.
"Pleaseeee ...," Airin memohon kepada Bu Onah, mengedip-ngedip kan kedua matanya.
__ADS_1
Bi Onah merasa Iba pada anak majikannya yang sudah seperti cucu nya ini tetapi tidak bisa berbuat apa-apa kali ini. Bisa-bisa Dia di lempar ke penjara oleh Nyonya Besar bila ketahuan membantu Airin kabur. Bi Onah merinding membayangkan nya.
"Lebih baik Ade bicara dengan Nyonya besar, Bi Onah mana berani menyelundupkan Ade kalau ada Nyonya Besar di rumah," Bi Onah berbicara jujur pada Airin.
"Hahhhh ..., ya sudah, Ade nanti turun," Airin pasrah.
"Bi Onah keluar dulu ya, jangan bersedih, nanti pasti ada jalan keluar nya," Bi Onah berusaha menghibur Airin.
"Ya, makasih ya, Bi," Airin merengut dan cemberut.
Bi Onah keluar dari kamar Airin dan menutup pintu kamar nya lagi.
"Kapan Aku bisa bebas dari masalah? hidup .. hidup ..," Airin menggelengkan kepalanya dan berjalan perlahan dengan langkah gontai menuju kamar mandi.
tok ... tok ...
"Ade ....," Panggil Bi Onah lagi.
Langkah Airin terhenti di pintu kamar mandi.
"Masuk, Bi," sahut Airin.
Bi Onah masuk dengan tergesa-gesa.
"Ada apa lagi, Bi?" tanya Airin.
"Keluarga Mendoza juga baru datang, De," Bi Onah terlihat terengah-engah.
"Apa!" seru Airin.
"Aaaagh ... Apa Aku benar-benar harus kabur ya sekarang?" Airin berteriak merasa stress. Dia tidak ingin bertemu dengan siapapun sekarang ini.
Airin berlari masuk ke ruang ganti, Bi Onah mengikuti nya.
"Ade sedang apa?" tanya Bi Onah.
"Mencari tali untuk turun dari balkon," Airin sibuk hilir mudik kesana kemari.
"Ade serius?" tanya Bi Onah terkejut.
*******
...Terima kasih untuk semua Readers 🤗...
__ADS_1