
Keluar dari Kafe, Edward langsung menarik perhatian semua orang terutama perempuan. Mata semua perempuan tertuju pada Edward. Mereka takjub melihat ketampanan dan aura berkelas darinya. Apalagi laki-laki asing dengan rambut pirang kecoklatan sangat jarang terlihat di sekitar Mall ini.
Beberapa perempuan berbisik-bisik, menebak-nebak dimana Mereka pernah melihat laki-laki tampan itu karena wajah Edward terlihat familier. Para laki-laki mengagumi outfit mahal dan tubuh proporsional nya.
Seorang perempuan berusaha mencari perhatian dengan menjatuhkan diri di hadapan Edward tetapi Dia mengabaikan dan melewati nya begitu saja. lalu ada seorang perempuan cantik dengan pakaian sexi dan bermerek, berjalan dengan percaya diri menghampiri Edward, Dia berdiri di hadapan Edward dan menyapa,
"Hei, apa Kita pernah bertemu? Kamu orang yang menarik, boleh berkenalan? " ucap perempuan itu percaya diri dengan senyum yang terkembang.
Edward berjalan ke samping melewati nya tanpa menoleh sambil berkata,
"Kalau Kamu masih sayang dengan hidup mu, menjauhlah sekarang!" seru Edward tajam dan perlahan pada perempuan yang mendekati nya.
Perempuan itu terkejut, bulu kuduk nya berdiri dan dia membeku seketika.
Edward terus berjalan menghampiri Airin yang sedang menunduk dan mengurut kakinya di bangku taman dan duduk di sebelah nya. Semua perempuan disana menatap iri pada gadis bertopi putih yang tidak menyadari seorang pangeran tampan duduk di sebelah nya.
"Kenapa kakinya," tanya Edward.
"Edward!" seru Airin terkejut. Tanpa menoleh pun Airin hapal suara Edward.
Sifatnya tidak pernah berubah, selalu datang tiba-tiba.
"Coba Aku lihat," Edward berjongkok dan memeriksa kaki Airin.
"Sepertinya keseleo," Edward melihat lebam di pergelangan kaki Airin dan mencoba mengurut kaki Airin.
"Aww," Airin mengeluh kesakitan.
"Ayo ke rumah sakit," Ajak Edward khawatir.
Airin terdiam.
Sedikit sedikit ke rumah sakit, apa orang kaya tidak mengenal tukang urut ?
"Tidak usah, Ed," jawab Airin.
"Kalau begitu, ke apartemen ku saja," ajak Edward.
Mulai lagi dech Edward.
"Mengapa Kamu suka sekali membawaku ke apartemen mu, Ed ?" tanya Airin merasa heran.
"Aku tidak bermaksud apa-apa Sakura, ada obat di apartemen ku," ucap Edward dengan wajah tanpa dosa.
"Di apotik Mall ini juga ada kali, Ed," Airin memutar bola matanya.
"Hehe ... kalo begitu tunggu sebentar," Edward kemudian sibuk dengan telepon genggam nya.
"Mark, tolong belikan obat keseleo, Aku tunggu sekarang di taman," perintah Edward pada asisten nya.
Sementara Edward menelepon, Airin kembali duduk tegak dan menyadari semua mata perempuan disana tertuju pada Mereka.
Ada apa? Mengapa mereka berbisik-bisik dan melihat ke sini?
Airin mencoba mengikuti arah pandangan para perempuan di sana yang menuju ke arah Edward.
Ah ternyata biang keladi nya, si bule rese ini.
__ADS_1
Edward memakai setelan jas hitam lengkap, sehingga aura Presdir nya terpancar kuat di tambah dengan penampilan nya terlihat sangat tampan, tinggi dan maskulin yang tidak kalah dengan super model atau aktor papan atas. Membuat mata perempuan mana pun akan menoleh kepadanya.
"Bukannya ini weekend, ko pakai jas ke mall ?" tanya Airin.
"Aku baru selesai meeting dengan klien di dekat sini terus mencari kopi di Mall ini," Edward menjelaskan.
"Oh, ya ya," Airin mengangguk.
Plot novelnya kuat sih ya, jadi ada saja alasan buat Edward datang ke TKP, padahal kan kantor Edward ke sini jauh di mata jauh di hati.
"Kamu bawa apa, sampai dua kantong penuh begitu," tanya Edward melihat barang bawaan Airin.
"Oh, kantong ini novel-novel yang baru ku beli, dan kantong ini Milktea, nanti sore teman-teman ku mau datang ke apartemen ku," Airin menjelaskan.
"Ck ...ck ...ck... padahal kan bisa pesan online, dari asrama ke sini kan jauh, sekitar satu jam kan?" tanya Edward tidak habis pikir.
Tidak di sangka akan bertemu Sakura di sini.
Syukurlah Aku tidak ke toko buku tadi, bisa-bisa Sakura salah paham lagi.
"Aku tadi habis les menembak, tidak jauh dari sini," jawab Airin.
Kalau tidak penasaran dengan Kamu dan Mia, untuk apa Aku cape-cape kesini.
"Les menembak?" tanya Edward sedikit terkejut.
"Iya, Aku mau beralih profesi jadi mata-mata," bisik nya dengan wajah serius.
Memata-matai Kamu dan Mia, tepat nya hehe ...
"Huh?" tanya Edward masih bingung.
Edward terdiam.
Mulai deh Sakura dengan segala khayalan nya.
"Berhenti berkhayal," Edward menjentik jari nya di kening Airin.
"Ouch, sakit," Airin meringis, membuka topi nya dan mengusap-usap keningnya sambil cemberut karena Edward tidak percaya padanya.
"Kalau tidak percaya, ya sudah, kenapa juga harus menjentik keningku segala," Airin kesal.
Edward terkekeh melihat Airin lalu mengacak-acak rambut depan nya.
"Jangan, nanti rambutnya berantakan," Airin menepis tangan Edward dan semakin cemberut.
"Haha ..." Edward tertawa, merasa gemas pada Airin.
"Boleh Aku lihat buku nya?" tanya Edward menoleh pada Airin dan mengalihkan pembicaraan.
"Hm," jawab Airin singkat.
Edward mengeluarkan novel-novel yang di beli Airin dan terkejut melihat judul yang sama dengan novel-novel yang di beli Kevin.
"Itu best seller, banyak orang yang membeli nya tadi," Airin menjelaskan.
"Oh," jawab Edward singkat.
__ADS_1
Ini novel- novel best seller, lagi pula sekarang weekend, pasti banyak orang di toko, tidak mungkin Sakura berpapasan dengan Kevin kan?
Sakura pun memakai topi, tidak akan terlalu banyak laki-laki yang menyadari kecantikan nya kan?
Edward merasa gelisah. Dia menatap Airin yang mulai menyeruput Milktea dan menatap air mancur didepan nya.
Tetapi seandainya ada laki-laki yang mendekatinya, Aku yakin Sakura pasti mengabaikan nya.
Aku dan Alex saja, yang sudah setahun mengejarnya, masih belum bisa meluluhkan hatinya, apalagi cuma remah-remah kacang polong.
Edward tersenyum puas menatap Airin.
Di depan Airin ada seorang perempuan yang sibuk menelepon dengan suara yang lantang. Dari tadi perempuan itu terus melirik pada Edward. Airin memperhatikan nya dari belakang dan merasa kesal.
Birisik banget dan bajunya aduduh, di siang hari begini pakai baju super seksi, Dia mau menggoda siapa? Edward?
Airin menatap perempuan yang memakai dress hitam super pendek tanpa lengan di depan nya, dari atas kebawah dan dari bawah ke atas, lalu Dia menoleh pada Edward yang sedang tersenyum ke arah nya.
Edward tidak akan tertarik pada perempuan seperti itu kan?
"Ed, ayo pindah ke bangku dekat pohon di sana," Airin menunjuk bangku di ujung taman. Dia tidak ingin Edward memandangi perempuan lain saat sedang bersama nya.
"Apa tidak terlalu jauh?" tanya Edward.
"Tidak jauh, lagipula di sini panas," Airin bangkit lalu mengambil kantong belanjaan nya.
Hatiku yang panas terbakar, melihat semua mata perempuan di sini menatapmu, Ed.
"Biar Aku saja yang bawa," Edward mengambil kantong belanjaan Airin, lalu memapah Airin ke ujung taman diiringi tatapan iri para perempuan di sana.
Mereka duduk bersebelahan di bawah pohon yang rindang dekat tempat parkir.
"Udara di sini sejuk ya," Airin membuka percakapan.
Yess, disini bebas dari mata genit para perempuan tadi, Edward ku aman, hehe...
Airin tersenyum tipis, tanpa terlihat Edward.
"Hm," jawab Edward singkat. Melihat keadaan sekitar yang sepi.
"Oh, iya, Aku punya sesuatu untukmu di mobilku," Edward teringat surat perjanjian cintanya untuk Airin.
"Apa?" tanya Airin.
"Pembuktian cinta ku," jawab Edward menatap Airin dengan serius.
"Huh? Pembuktian cinta?" tanya Airin bingung, kedua alisnya terangkat.
"Iya, Kamu kan memintaku memberikan pembuktian cintaku," jawab Edward tersenyum.
"Oh," jawab Airin singkat. Dia bingung dan tidak tahu harus berkata apa.
Pembuktian cinta seperti apa yang Edward bawa di mobilnya?
Airin penasaran.
*******
__ADS_1
...Terima kasih untuk semua Readers 🤗...