
Alex duduk kembali di sebelah Airin, mengemil kacang mede panggang.
"Sering-sering lah nonton drama atau film yang lucu, Kamu jauh lebih cantik tersenyum daripada menangis," Alex membelai rambut Airin, membersihkan daun- daun kering yang menempel pada rambut Airin.
"Ya, ya," jawab Airin singkat.
Siapa juga yang ingin menangis, itu karena situasi dan keadaan yang selalu memaksaku menangis.
"Jangan selalu membuatku khawatir, Airin," Alex memeluk bahu Airin dan membuat kepala Airin bersandar kepada-nya.
"Bersandar lah kepadaku selamanya seperti ini, Aku akan berusaha membuat mu selalu tersenyum sepanjang hidup mu," Alex memeluk Airin dengan erat.
Airin terdiam. Dia tidak menolak perlakuan Alex kepadanya, karena sudah menetapkan hati nya memilih Alex. Tetapi Dia tidak mengatakan apapun, karena Dia butuh waktu melupakan Edward.
"Bagaimana keadaan gadis kecil yang kemarin?" tanya Airin mengalihkan pembicaraan.
Dia mengingat gadis kecil yang tenggelam bersama nya dan belum sempat menengoknya kemarin.
"Dia selamat, tetapi harus di rawat beberapa hari di rumah sakit," Alex menjelaskan.
"Ayo, Kita menengoknya besok," Airin bersemangat, ia menegakkan badan nya, berbalik menatap Alex dan tersenyum lebar.
"Tidak usah, Kita jangan mengganggu nya, Dia butuh banyak istirahat," Alex beralasan, Dia tidak mau Airin bertemu Ayah si gadis kecil. Alex tahu, laki-laki itu bukan orang biasa.
Edward sudah membuat ku pusing, Aku tidak mau Airin bertemu laki-laki lain lagi.
"Oh, begitu ya, padahal Aku ingin mengenalnya, Aku suka anak kecil," Airin sedikit kecewa.
"Menikah sekarang yuk? jadi nanti malam Kita bisa langsung membuat gadis kecil milik Kita sendiri, Bagaimana?" Alex tersenyum lebar dan mengedipkan sebelah matanya.
"Ish, Alex mesum!" seru Airin. Dia bangkit dari duduk nya tetapi Alex menahannya.
"Hahaha ... bercanda Airin, bercanda ... Aku akan berusaha bersabar, sampai Kamu lulus kuliah," Alex menatap Airin dan menggenggam tangan nya.
"Tolong pegang kata-kata nya ya!" seru Airin mendelik dan cemberut pada Alex.
"Aku usahakan Airin, Aku usahakan," jawab Alex, mengangguk setuju, tetap tersenyum lebar.
Mereka kembali menatap Ikan Koi dan memakan cemilan nya, kali ini Airin membuka bungkus Twister mini black.
"Tutup mata mu Alex, coba Kamu tebak cemilan apa yang Aku masukan ke mulutmu," perintah Airin.
"Ok, aaaa ...," Alex membuka mulutnya, menunggu Airin menyuapi nya.
Airin memasukan sesuatu pada mulut Alex.
"Keripik kentang," jawab Alex.
"Betul,"
"Sekarang apa?" tanya Airin memasukan lagi cemilan ke dalam mulut Alex.
"Hm ...Dimsum,"
"Strawberry,"
"Anggur,"
"Macaroni schotel,"
"Twister,"
"Rumput laut,"
"Coklat,"
"Kiwi,"
"Egg tart,"
"Kue sus,"
"Nachos,"
"Macaron,"
Airin terus memasukan cemilan yang ada di kantong cemilannya ke dalam mulut Alex.
__ADS_1
"Sebenarnya Kamu bawa berapa banyak cemilan di kantong mu, Airin?" tanya Alex mulai protes, tetapi tetap menurut untuk tutup mata dan mengunyah cemilan yang diberikan Airin.
"Hahaha ... soalnya jawaban Kamu benar semua, Aku jadi penasaran, cemilan apa yang Kamu tidak tahu. Jangan di buka matanya, ini yang terakhir," Airin membuka bungkus snack nya, lalu memasukannya ke dalam mulut Alex. Alex mengunyahnya.
"Huhah... huhah .. Apa ini Airin?" Alex merasa mulutnya terbakar,
"Hahaha ...," Airin tertawa geli melihat wajah panik dan merah Alex.
Alex membuka matanya lalu menyambar milktea milik Airin. Dia tidak suka makanan pedas.
"Yah, milktea ku," Airin menatap nanar pada minuman nya yang langsung di habiskan Alex.
"Wah, makanan macam apa itu, tajam dan pedas sekali ?" tanya Alex, mulutnya sakit dan terbakar, keringatnya menetes di dahinya, Dia melepas jas nya dan menggulung kemeja hitamnya.
"Nih ,mie lidi super pedas, Kakakku membelikannya sekalian dengan cheese stick super pedas ini," Airin tersenyum bangga memperlihatkan Mie lidi super pedasnya dan mengeluarkan cemilannya yang lain.
"Akhirnya ada makanan yang Kamu tidak tahu juga, haha ...," Airin tertawa puas.
"Tidak lucu, Airin," Alex mendelik pada Airin lalu mengambil satu buah Mie lidi Airin dan mengamatinya.
"Makanan ini tidak baik untuk kesehatan, lihat bubuk cabe dan msg nya, wah bagaimana bisa Kamu makan, makanan seperti ini?" Tanya Alex, menggelengkan kepalanya tidak mempercayai penglihatannya.
"Sini, berikan padaku, Kita buang ke tempat sampah!" serunya meminta semua mie lidi milik Airin.
"Tidak, Mengapa harus di buang? Membuang-buang makanan itu dosa Pak dokter dan Aku suka ko, enak, pedas dan gurih ...," Airin menolaknya.
Alex berusaha merebutnya. Jiwa dokternya meronta-ronta tidak terima tunangannya makan, makanan sembarang.
"Apa Kamu tidak bosan keluar masuk rumah sakit, kalau makanan mu seperti itu, nanti gampang terserang radang tenggorokan," Alex masih berceramah.
"Stop disitu Pak dokter, jangan bergerak! ini harta karun ku," Airin memeluk mie lidinya. Dia bangkit dan berlari.
"Gadis nakal!" seru Alex mengejarnya.
"Haha ...kamu tidak akan bisa mengejarku, Aku juara lari tingkat RT," Airin berteriak dan berlari sekuat tenaga, tetapi Dia lupa, sekarang Dia tidak lagi di tubuh Airin Melati, si juara lari tingkat RT, melainkan di tubuhnya sendiri Airin Suharja yang tidak pandai berlari.
"Aaargh ... tubuhku lambat sekali," Airin merasa frustasi melihat Alex sudah semakin dekat di belakang nya.
Alex menyusulnya dengan cepat dan berhasil menangkap Airin dari belakang.
"Kena! haha ...," Alex merasa menang.
"Kamu tidak akan bisa lari kemana pun sekarang," Alex memeluk nya erat dari belakang, lalu dengan sigap mengambil mie lidi Airin dan melemparkannya ke tempat sampah.
"Yah, Mie lidi ku," Airin menatap mie lidi nya melayang di udara kemudian jatuh tepat di tengah tong sampah.
"Alex lepaskan Aku! Pokoknya Kamu harus ganti rugi mie lidi ku!," seru Airin tidak terima.
"Ya, ya nanti Aku minta Bill membawakan mie lidi yang sehat tanpa MSG," jawab Alex.
Airin masih cemberut menatap Alex yang cengar-cengir melihatnya.
Haih beginilah susahnya kalau punya tunangan seorang dokter.
"Ayo sini Aku gendong, kakimu jangan sampai terlalu lelah," Alex berjongkok di depan Airin.
"Aku masih bisa berjalan, Alex," Airin menolaknya.
Alex merasa kesal karena di tolak Airin, padahal ini pertama kalinya Dia berjongkok di depan perempuan.
"Menurut saja, kalau kaki mu sakit, Aku juga yang repot!" seru Alex.
"Galak sekali," Airin merengut tetapi menuruti Alex, karena yang tahu kondisi kakinya itu Alex. Tunangan sekaligus dokter pribadinya.
"Pegangan yang kuat!" seru Alex.
"Iya," Airin menurut, rasa pegal di kaki nya sehabis berlari kini berangsur hilang seiring langkah kaki Alex menyusuri taman mawar nya.
Mengapa tubuhku lemah sekali.
"Alex, Apa Kamu akan memanjakan ku terus seperti ini seumur hidupku?" tanya Airin tanpa sadar terbawa suasana.
Eh? Apa yang ku tanyakan, Ish! Airin Kamu tidak tahu malu.
Airin menepuk keningnya sendiri.
"Tentu saja, Aku akan memanjakan mu selamanya karena sejak pertama kali Kita bertemu, Kamu satu-satunya perempuan yang Aku cintai dan inginkan dalam hidupku, sekarang dan selamanya," Alex menyatakan ketulusannya kepada Airin.
__ADS_1
"Terima kasih Alex," Airin merasa tersentuh dengan kata-kata Alex, dan menyandarkan kepala nya di punggung Alex yang hangat.
Alex pasti bisa membuatku melupakan Edward.
Airin tiba-tiba teringat drama Korea lawas Endless Love yang baru-baru ini ia tonton bersama geng riweh nya di asrama. Tokoh utama laki-laki Joon Suh menggendong tokoh utama perempuan Eun Suh menyusuri pantai. Mereka terlihat sangat ... sangat romantis, dengan latar musik yang mengalun indah, terus tiba-tiba Eun Suh nya meninggal di gendongan tokoh utama laki-laki nya. Plek saja.
Airin tiba-tiba merinding.
Uwaaaah , Bagaimana kalau tiba-tiba Aku mati, seperti Eun Suh?
"Alex ... Alex..., turunkan Aku," Airin menepuk-nepuk bahu Alex dan menggerakkan kakinya.
"Airin, bahaya," Alex terkejut dengan gerakan tiba-tiba Airin.
"Turunkan Aku," Airin bersikeras.
"Ya, ya sebentar, pelan-pelan," Alex mulai merendahkan tubuhnya dan Airin berhasil turun.
"Ayo Kita berjalan kaki saja, tidak perlu di gendong-gendong lagi," Airin berjalan mendahului Alex.
Airin masih merinding, mengingat adegan di drama Korea itu. Dia mengusap-usap kedua lengannya dengan kedua telapak tangan nya.
"Tunggu," ucap Alex, menarik tangan kanan Airin dan menggandeng nya.
"Huh?" Airin melihat tangannya sudah di gandeng Alex.
"Begini seharusnya pasangan kekasih berjalan, hehe ...," Alex tersenyum dan mengangkat tangan mereka.
"Suka-suka Kamu saja lah," Airin tidak ingin ambil pusing, melepaskannya pun tidak bisa, karena Alex menggenggam tangannya dengan kuat.
"Hahaha ...," Alex terlihat bahagia.
Mereka tiba di kolam ikan dan membereskan semuanya lalu naik di buggy car.
"Mengapa Edward masih datang ke rumah mu?" tanya Alex sambil menyupir buggy car.
"Aku tidak tahu, kemarin Aku sudah memutuskan pertunanganku dengan nya, nih lihat, cincinnya sudah di lepas," Airin menunjukan jari manis di tangan kiri nya.
Alex melirik pada jari manis di tangan kiri Airin.
"Baguslah, kalau begitu," ucapnya lalu mengalihkan pandangannya lagi ke jalan di depannya.
Mulai hari ini Airin milikku seorang, Aku tidak akan membiarkan Edward mendekati nya lagi.
Airin terdiam, Dia memikirkan tentang kejadian di Apartemen Edward.
"Umm, Aku harus mengaku padamu sesuatu, Alex," Airin berbicara hati-hati.
"Apa Kamu berbuat dosa di belakang ku," Alex tetap tenang, tetapi perasaan nya tidak enak.
"Hm ...," Airin mengangguk dan menunduk.
"Apa yang Edward lakukan padamu di apartemen nya kemarin," Alex tetap berusaha tenang, walau hati nya terbakar.
"Bagaimana Kamu tahu?" tanya Airin, kemudian teringat cincin pertunangannya dengan Alex.
"Ini," Airin menunjuk pada cincinnya lalu menoleh, Alex mengangguk.
"Apa Kamu mengikuti ku?" tanya Airin.
"Hm, kalau tidak, bagaimana Aku tahu Kamu tenggelam? Edward tidak bisa menjaga mu dengan baik," Ada kilatan Amarah di mata nya.
"Apa yang Edward lakukan padamu?" Alex merasa tidak sabar.
"Dia mencium ku di sini, disini dan di sini," Airin berbicara perlahan sambil menunjukan tempat Edward menciumnya.
Alex merasa dadanya sesak mendengar ucapan Airin dan membayangkan Edward menciumi Airin. Dia menyesal membiarkan Edward membawa Airin kemarin.
Api amarah di matanya berkobar. Dia mengepal tangan kiri nya dengan kuat.
Airin ingin Alex mendengar langsung dari nya daripada mendengar dari orang lain yang akan membuatnya semakin salah paham.
"Kalau Kamu mau memutuskan pertunangan Kita, karena ini Aku terima," Airin menatap Alex yang terlihat marah lalu mengalihkan pandangannya ke depan jalan.
Kurasa lebih baik bagiku, kalau Aku tidak memiliki tunangan, jadi Aku bisa fokus pada kuliahku, Aku pun punya banyak mimpi yang akan segera Aku realisasikan satu per satu.
******
__ADS_1
...Terima kasih untuk semua Readers 🤗...