MATA SANG PEWARIS

MATA SANG PEWARIS
11. KEMBALI BERJUANG


__ADS_3

Asera berusaha untuk berdiri ketika kakinya sudah lemas, karena sedari tadi dia terjatuh dan terbentur, Asera cukup mengerti apa tujuan dari pertarungan itu, tetapi, Asera merasa jengkel karena dia terus terluka disana


"Apapun yang terjadi, aku harus bisa keluar" Asera mengucapkan kata-kata yang bisa membuatnya tetap kuat


Saat itu, Asera mulai merasa jika kemampuannya bertambah, dia curiga jika orang yang membuatnya seperti itu melakukannya dengan sengaja, agar Asera mempunyai kemampuan bertarung yang baik


Tak lama kemudian, lawannya mendekat dan hendak memukul Asera, dengan kecepatan yang lebih tinggi dari sebelumnya, membuat konsentrasi Asera harus selalu terfokus untuk membaca gerakan dan cekatan dalam menghindari dan mencari kesempatan untuk melakukan serangan balik


Tak berlangsung lama, Asera berhasil mencari celah untuk melancarkan serangan balik, lawannya seketika terpental jauh. Teknik dan kejadian itu terulang beberapa kali


Tetapi, ketika Asera mulai senang, lawannya mulai menghilang, tubuhnya menjadi transparan tidak terlihat, alhasil, Asera terpukul dibagian perutnya, tetapi, Asera tidak melihat apapun, peniru itu benar-benar tidak terlihat


Asera sempat kebingungan, dia mundur beberapa langkah dan berusaha mencari cara agar bisa memecahkan dan menemukan dimana lawannya itu berada


Asera menganggap itu sebagai teka-teki, dimana dia harus memecahkan rumus untuk menemukan jawabannya


Udara berhembus menerpa kulitnya, dia mencoba memfokuskan pikirannya, dengan menutup mata, dan mencoba mendengar segala sesuatu yang ada disekelilingnya


Sekarang ini, yang bisa dia andalkan hanyalah telinganya, dia berharap cara itu akan berhasil


Asera pun memulainya, menutup mata dan merasakan hembusan angin yang menerpa kulitnya, dia bisa mendengar suara angin disekitarnya


Kemudian, ada sesuatu yang janggal disekitarnya, suara angin di sebelah kirinya tidak terdengar, itu artinya ada sesuatu yang menghalangi, sehingga angin tersebut tidak sampai ke telinga Asera


Tak berpikir panjang, Asera langsung melancarkan serangan ke bagian kirinya, yang dimana dugaan yang pernah dipikirkannya itu benar. Asera berhasil melukai lawannya dengan mudah


Tetapi, ketika hendak melakukan cara itu lagi, leher Asera tercekik dan diangkat sampai kakinya melayang beberapa inci dari tanah, itu membuat Asera kesakitan


"Dasar sialan!!, tunjukkan wujudmu!!" Ucap Asera dengan terbata-bata karena lehernya sedang tercekik


Asera berusaha melepaskan cekikan itu, karena sangat menyiksa Asera


'tidak, aku tidak boleh mati disini'


'Wasera dan Armos membutuhkanku'


Kemudian Asera membulatkan tekadnya untuk bertahan hidup, dia mengerahkan seluruh tenaganya untuk melakukan serangan, dia melakukan apa yang dia bisa saja, Asera tidak yakin jika cara yang dipikirkannya akan berhasil, tetapi, bukan Asera jika tidak mau mencoba


Maka Asera mulai melancarkan aksinya, kejadian itu berlangsung selama kurang lebih dua puluh menit, akhirnya, Asera mengambil tusuk yang ada di rambutnya, dan menusukkannya tepat di jantung lawannya


Tiba-tiba, Asera juga merasakan sakit dibagian jantungnya


"Aaakkhh, apa lagi ini?" Asera berteriak jengkel dengan apa yang terjadi


Asera terduduk dengan menahan rasa sakit yang tak kunjung hilang


Kemudian, dilihatnya sosok tadi hilang menjaga abu, dan rasa sakit yang Asera dapat mulai memudar

__ADS_1


Dinding disekitar Asera mulai memutih dan transparan, membuat Asera membuka mata dan kembali pada raganya yang asli. Asera tidak percaya bisa kembali lagi, dia sangat senang


Seseorang yang dilihatnya pertama kali adalah, Luke


Laki-laki itu senantiasa berada disana ketika Asera tidak sadarkan diri, Luke yang sedang tidur terbangun karena Asera yang tiba-tiba bergerak


"Asera"


"Luke, apa kabar"


Mata Luke berkaca-kaca, kemudian dia memeluk Asera


"Asera, apa kau baik-baik saja?" Tanya Luke dengan panik


"Tentu saja, seperti yang kau lihat" Asera tersenyum dan melepaskan pelukan mereka


Luke merasa bahagia karena Asera kembali, tetapi sesaat kemudian, mereka sadar jika tidak biasanya mereka bersikap seperti itu satu sama lain, maka mereka berdua mengubah wajah mereka menjadi datar


Masing-masing dari mereka membuang muka, keheningan terjadi beberapa saat


"Ehem," Asera memecah keheningan


"Begini Luke, aku pernah mendengar seseorang berkata dan mengharapkanku untuk kembali" Asera melihat Luke dan menatapnya dengan intens, kemudian memicingkan matanya


Luke terlihat gugup, dia berusaha mengingat ketika dia mengatakan sesuatu agar Asera kembali


"Tidak ada, Asera, kau pasti salah dengar" Luke kemungkinan pergi keluar dan pergi dari hadapan Asera


Asera tersenyum kecil dan geleng-geleng kecil, kemudian beralih menatap tangannya, dia ingat bagaimana tangan itu bisa bertarung dengan baik


Tetapi, saat Luke hendak sampai di pintu, ada seseorang yang mendatangi rumah mereka, yaitu Guladril, saat itu, hanya ada Asera dan Luke. Karena Sasargun pergi untuk mencari bahan untuk ramuannya


Asera dan Luke terkejut dengan kedatangan Guladril yang tiba-tiba, dan, darimana Guladril tahu letak rumah mereka


"Hai, Guladril" Sapa Asera yang masih terduduk


"Bolehkah aku masuk?"


Luke kemudian mengangguk dan mempersilahkan Guladril untuk masuk, mereka duduk disalah satu kursi panjang disana


"Ada apa Guladril?" Tanya Asera


"Bagini, Luke bilang, kau sedang sakit Nona Asera, Maka dari itu, aku berniat menjengukmu kesini" Jawabnya dengan sopan


Luke segera mengambil minum untuk Guladril, Entah kenapa firasat Luke tidak enak, dia merasa tidak nyaman


"Kau baik sekali Guladril, minumlah itu" Asera mengajak Guladril berbincang-bincang panjang lebar

__ADS_1


Hingga kemudian, Guladril melihat seluruh Isi rumah itu, dia melihat semuanya secara detail, dengan alasan barang disana bagus dan antik


...****************...


Setelah kepergian Guladril, Sasargun datang dengan membawa beberapa bahan ramuan, alangkah terkejutnya dia ketika melihat Asera yang sudah bangun dan tersenyum


"Asera, kau baik-baik saja?" Tanya Sasargun


"Aku tidak apa-apa"


"Bagaimana disana, apa kau mendapatkan banyak kemajuan?" Tanya Sasargun yang sudah yakin jika kemampuan Asera meningkat


Asera mengangguk, "kemampuan bertarung secara murni"


Sasargun mengangguk paham, "itu akan membantumu"


Sasargun kemudian beranjak dari tempat duduknya dan mulai membuat ramuan


Asera kemudian menyusul Luke yang sedang berlatih diluar rumah, Luke sendirian, kemudian Asera menemaninya


Apalagi jika bukan mengasah kemampuan berpedang mereka, dengan berbagai teknik dan beberapa teknik penguasaan udara


Untuk saat ini, Asera memiliki kemampuan mengudara tingkat dasar, jadi dia hanya bisa merasakan udara dan mendengar suaranya


Kemudian, Sasargun datang dan membawakan beberapa gelas ramuan untuk pengobatan dan pemulihan tubuh Asera


"Bagaimana dengan Vorgon?" Tanya Sasargun


"Kita harus secepatnya menghentikan dia" Tambahnya lagi


"Kurasa kita membutuhkan bantuan Guru Thoros"


Sasargun terlihat berpikir, kemudian menyetujui usul dari Luke


...****************...


Larut malam...


"Aku akan menyerahkan ini padamu, jaga dengan baik, dan lindungi Asera" Ucap seseorang di seberang Luke sembari menyerahkan pedang yang ada ditangannya


Pedang itu terlihat berkilau dan sangat berat, dengan desain dan ukiran yang benar-benar indah dan antik, dan kekuatan yang ada di dalam pedang itu sangatlah besar


"Aku akan menjaga pedang Keluarga Armos dengan baik, tetapi, bukan karena aku menghormatimu, tetapi karena aku ingin membantu Asera" Jawab Luke


"Terserah kau saja" orang di depan Luke memutar mata malas


Kemudian orang itu pergi secepat kilat menghilang dari hadapan Luke

__ADS_1


Luke memandangi pedang itu dengan tatapan penuh harapan


__ADS_2