
Sasargun meletakkan Luke diatas ranjang, Luke sempat tidak bisa mengendalikan emosinya tadi, Naga didalam tubuhnya marah pada Asera dan menguasai tubuh Luke, membuat Luke bersikap seperti tadi, Asera pasti sudah mati tadi jika Sasargun tidak segera kesana.
Asera masih terkejut, ternyata Luke belum bisa mengendalikan kemampuan naganya dengan maksimal
"Guru, berapa lama efek kemampuan guru?" Tanya Asera pada Sasargun
"Tidak lama, aku selalu melakukan ini saat Luke hilang kendali"
Asera sedikit terkejut dengan penuturan Sasargun, "Apa Luke sering seperti ini?"
Sasargun mengangguki pertanyaan Asera, kemudian melanjutkan mengobati Luke, Asera duduk disamping Luke dan melihat luka di wajah Luke, dia ingat bagaimana Luke mendapat luka itu, dia tidak sengaja menggoresnya.
Tentu saja Asera marah, kemudian Asera dan Sasargun berbicara banyak hal, tanpa Luke seharusnya juga ikut bercerita dengan mereka
"Asera, jika kau mau, kau bisa mencari banyak informasi sendiri tentang Kekaisaran Armos, itu akan lebih baik"
Asera meninggalkan Luke dan Sasargun, Asera tidak tahu apapun soal dunia itu, walaupun Sasargun menjelaskan padanya tadi, sehingga dia memutuskan untuk pergi ke hutan untuk menenangkan diri.
...****************...
Sesampainya di hutan, Asera menyadari jika hutan tidak seburuk yang dia kira, hutan yang didepannya itu berbeda, indah sekali, "Dunia apa ini?, bagaimana cara kerja dunia disini?" Asera berucap lirih, kemudian menarik pedangnya, dia ingin mengayunkan pedangnya lagi
"satu"
"dua"
"tiga"
Asera mengulangi gerakannya berkali-kali, dengan memikirkan apa yang dikatakan oleh Sasargun, kekaisaran Armos, nama Kekaisaran itu terus-menerus terlintas dalam benaknya, seperti ada sesuatu dengan kekaisaran itu, ada yang mengganjal dalam hatinya.
Ketika Asera melihat sebuah batu yang terlihat lebih berkilau dari yang lainnya, mata kiri Asera terasa nyeri, awalnya Asera tidak memperdulikan itu, tetapi lama kelamaan, matanya semakin sakit
'sakit!!' Asera merintih kesakitan, hingga dia tersungkur di tanah dengan memengang mata kirinya dengan kedua tangannya, tidak lama kemudian, seekor burung gagak menghampirinya, Asera tidak bisa melihat dengan jelas tetapi, dia bisa melihat jika burung itu akan menyerangnya, burung itu sedikit besar, dan berwarna hitam
Asera mengangkat pedangnya ketika burung itu menyerangnya. Dengan sekuat tenaga, Asera mengayunkan pedangnya ke arah burung itu, tetapi, dia malah mendapat cakaran yang cukup dalam di bahunya.
__ADS_1
"Ah, sial"
Asera berusaha berdiri setelah jatuh karena sambaran burung itu, suara berisiknya mengganggu pendengaran Asera, tetapi Asera harus fokus, dia tidak boleh teralihkan oleh suara burung itu yang terasa ingin menghipnotisnya.
'kenapa burung ini?' Asera bergumam dalam hatinya, dia bingung dengan apa yang diinginkan binatang itu, tetapi Asera merasa tidak asing dengan burung gagak itu
"kenapa aku merasa pernah melihatnya?"
Mematahkan waktu berpikir Asera, burung itu kembali menyambar Asera dengan suaranya yang masih berisik, Asera lunglai karena menahan rasa sakit di mata dan bahunya, tetapi Asera tidak mau mati lagi, apalagi mati karena seekor burung. Itu tidak keren
"tidak! aku harus melawannya"
Asera mengacungkan pedangnya, membuat strategi untuk menebas leher gagak itu, daripada dia yang dicakar lehernya, Asera tidak membayangkan itu. Mengerikan
Asera menunggu burung itu untuk menyerang, dengan sigap Asera menahan cengkeraman burung itu dengan pedangnya, Asera sempat terpental karena kekuatan burung itu sangat besar, Asera hampir tidak mampu menahannya.
Kemudian Asera melihat ranting pohon yang menjulang, sebuah ide terlintas dipikirannya, dia segera mencari cara agar dapat menaiki pohon itu, Asera berlari sekuat tenaga, dengan memegangi bagian bahunya
Tanpa berpikir lama, Asera melompat dengan cepat, lebih tepatnya, dia berlari sembari menaiki pohon yang tinggi, dan dia tidak terjatuh, Asera sudah paham, di dunia yang ditempatinya itu tidak ada hal yang mustahil, Asera juga sempat berpikir jika lain waktu dia akan mencoba terbang.
Burung gagak itu kembali menyerang Asera di udara, posisi dimana Asera hanya bergantung pada pepohonan yang lebat, Asera kesulitan melihat hal didepannya, apalagi dengan mata kiri yang sakit, "Sial"
Asera segera melompat ke pepohonan ketika burung itu mulai jatuh ke tanah, Asera merasa lega karena berhasil melumpuhkannya, atau mungkin membunuhnya.
"Bagaimana bisa burung sekecil ini punya kekuatan yang besar?" Gumam Asera pada dirinya sendiri
Kemudian Asera menghampiri burung itu dan menyentuh lukanya, Asera kemudian teringat, dulu dia pernah menabrak seekor burung bersama Rena saat perjalanan ke pesta, dan dia ingat persis bagaimana luka yang didapat gagak itu di bagian dadanya saat tertabrak spion mobil Rena
"Apa kau gagak itu?" Asera menatapnya dengan Iba
"Ya, aku tahu, apa kau mengikutiku kesini? jika iya, berarti kau tahu jalan untuk pulang?"
Asera segera merawat gagak itu, Asera kasihan padanya, dia membawa burung itu ke rumah Sasargun untuk dirawat, dan perihal kekuatan yang dimiliki, Asera menyukai kekuatan gagak itu.
...****************...
__ADS_1
Malam harinya, Asera pergi ke Wasera untuk mencari makanan untuk gagak, dia kebingungan disana, karena ini pertama kalinya Asera turun ke desa. Hingga dia melihat Kekaisaran yang megah dan mewah
"em, permisi tuan, itu, Kekaisaran Armos?" Asera menunjuk ke arah kekaisaran sembari bertanya kepada seorang pedagang
"iya nona, itu Kekaisaran Armos,"
"Siapa kaisarnya?"
"Kaisar Vorgon Armos, nona"
Asera menganggukkan kepalanya, pedagang itu menatapnya dengan aneh, Asera tidak tahu apa penyebabnya
"Apa dia sangat kuat"
Pedang itu hanya mengangguki pertanyaan Asera yang sepertinya meragukan kekuatan Vorgon Armos
Asera pergi setelah mendapat jawaban itu, dia semakin mendekat ke kekaisaran, aura gelap dan aneh menyelimuti kekaisaran yang dilihatnya, Asera merasa aneh, dia merasa ada sesuatu yang membuat hatinya tidak tenang
Asera mendekati gerbangnya, menyentuh gerbang perak itu, tiba-tiba matanya mendadak sakit lagi, dengan ingatan yang berusaha muncul lagi dipikirannya, tetapi itu masih buram dan tidak jelas, Asera berpikir jika itu adalah ingatan masa lalu tubuhnya
"nona, apa kau baik-baik saja?"
"ya, tidak apa-apa, apa disini ada tempat pelatihan umum?"
"Apa? pelatihan umum? maksudmu tempat berlatih?"
Asera mengangguk mengiyakan, kemudian pedagang itu memberi tahu Asera tempat yang dia maksud
Sakit dan bingung. Asera merasakan itu sekarang, hingga kemudian dia memutuskan untuk kembali ke rumah Sasargun dengan makanan gagak di tangannya
Dibalik rumah penduduk, sepasang mata memperhatikannya dengan tatapan licik dan penuh dendam, mata elangnya cukup menandakan jika dia ingin melukai Asera
Asera segera berlari, ketika malam sudah mulai larut, Asera merasa ada yang memperhatikannya, tetapi dia ingat jika dia harus melihat keadaan gagak tadi, juga keadaan Luke
Asera terlihat menjauh dari semakin jauh dari desa
__ADS_1
"Asera Armos, Anaknya Louis"
"Mungkin sepanjang hidup, kau sudah menerima banyak kejutan"