MATA SANG PEWARIS

MATA SANG PEWARIS
2.JIWA YANG BERPINDAH


__ADS_3

Seorang laki-laki tua berdiri disamping meja dengan mengutak-atik ramuan dan beberapa benda aneh lainnya, dia sesekali meniupnya dan mengucapkan kata-kata aneh dari mulutnya, lalu mencipratkan ke sesuatu yang ada diatas meja, lalu pergi keluar rumah mengambil beberapa rotan dan memukulkannya ke atas meja.


"HAHH!!!" Erina terbangun dengan terkejut, karena sesuatu yang baru saja mendarat dikulitnya.napasnya terengah-engah dan berat, dia berkeringat dingin, serasa baru saja maraton sejauh lima puluh kilometer.


Dia melihat kekanan dan kekiri. Otaknya sempat loading saat melihat sekeliling nya, tempat aneh yang entah dimana, juga pemandangan aneh didepannya. Erina sangat terkejut saat melihat laki-laki tua yang aneh didepannya


"AAAAA!!!MONSTER??!!" Erina berteriak sekuat tenaga setelah melihat orang itu, orang itu berusaha menenangkan Erina yang berteriak seperti orang kesetanan. Erina melempar semua yang ada didekatnya ke arah orang tua itu, dia benar benar tidak bisa dikendalikan.


Kemudian datanglah seorang pemuda yang tiba-tiba memukul kepala Erina menggunakan gelas perak dan membuat Erina seketika menjadi pingsan. Dan suasana kembali damai seperti semula. Orang tua itu memelototi pemuda yang memukul Erina tadi, dan memberi bahasa isyarat seakan-akan mengatakan


'aku akan buat perhitungan denganmu nanti'


Tak lama kemudian, Erina membuka mata, kembali melihat pemandangan yang sama seperti tadi, kedua orang tadi masih disana. Namun Erina memilih untuk fokus pada rasa sakit yang ada di kepalanya, dia memegangi sambil meringis kesakitan, lalu menyandarkan punggung ke tembok dibelakangnya.


"Kurasa kau harus menjalani pengobatan lanjut, Asera" Orang tua itu mendekati Erina sambil membantunya menegakkan tubuh, tetapi Erina menepis tangannya.


"Ehem,Aku Luke" Erina menatap pemuda didepannya yang tiba-tiba menyebutkan nama, dia pikir Erina mau berkenalan dengannya, Erina masih sempat mencibir dan menatap Pemuda bernama Luke itu dengan sinis.


Luke yang melihat itu pun memutar bola mata malas


"Dasar gadis sombong"


Orang tua disana memberi sebuah minuman pada Erina, dan meninggalkannya, hanya berdua bersama Luke.


"Jangan menatapku!,Monster" Erina muak dengan Luke yang selalu menatapnya dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Kau Aneh Nona Asera" Ujar Luke sambil menunjuk ke arah Erina


"Apa maksudmu?kau memanggil orang yang salah,cepat!!bawa aku pulang"


"Siapa kau berani memerintahku?jika bukan karena aku dan ayahku,kau pasti sudah lama mati"


Tunggu,Apa maksudnya mati?, seketika Erina tersadar, dia kan baru saja jadi korban bom bunuh diri itu. Dan jelas dia sudah mati. Apa dia ada di nirwana?,atau bisa saja di neraka.


"KAU MONSTER!!KAU BENAR-BENAR MONSTER!!!BAWA AKU PULANGGG!!" Erina berteriak sekencang-kencangnya, membuat gendang telinga Luke seperti ingin robek.


Luke menutup telinga dengan kedua tangannya,sambil menghindari aksi Erina yang lagi-lagi melempar asal apapun yang ada disampingnya.

__ADS_1


...****************...



...LUKE...



...ASERA ARMOS...


"Kau tidak boleh lupa tugasmu,Luke!.Ini lebih sulit dari yang ku kira, setelah mengharapkan kehidupannya, ini malah menjadi berat,tidak tahu apa yang akan dihadapi Asera selanjutnya."


"dia gadis yang hebat,dia punya segalanya" Luke menjawab dengan tatapan lurus kedepan.


Sasargun dan Luke harus membimbing Asera agar mudah untuk merebut kembali mereka semua. Karena semuanya harus kembali seperti sediakala. Diatas tebing yang tinggi, dengan jurang didepannya. Orang tua dan anak itu berbincang sampai malam datang, dengan memikirkan revolusi yang seharusnya sudah hampir tiba.


"kau sadar jika itu bukan jiwa Asera yang sebenarnya kan?" Tanya Luke pada Sasargun.


"aku memang menunggu jiwa itu datang selama lima belas tahun ini, karena jiwa orang yang sudah mati tidak bisa dikembalikan ke tubuh asalnya."


"apa ini pilihan yang terbaik?"


"aku merasa sedikit tidak bisa membantu kalian lebih jauh, aku serahkan padamu Luke,bantu dia, jika kalian kesulitan, datanglah padaku!"


Luke memandang Sasargun dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Iris hitamnya mengartikan lain, pemuda berparas tampan itu hanya diam, bisa saja setuju dengan pernyataan Sasargun atau bisa saja tidak.


Malam harinya, Luke pergi keluar rumah dengan


membawa pedangnya terlihat hendak berlatih, dia pergi ke arah hutan disebelah kiri rumah. Persetan dengan gadis yang masih pingsan dari tadi sore.


'Sringg'


Pohon Pinus tumbang dengan sekali tebasan, Luke pelakunya, tidak heran jika Sasargun menyuruhnya menggantikan tugasnya. Luke memang sangat kuat, walaupun tubuhnya agak kecil, memang hanya sebesar itu ukuran tubuh yang diberikan oleh tuhan padanya.


Luke mulai mengayunkan pedangnya, melesat cepat dari pohon kepohon sembari memainkan pedangnya, sesekali menyayat beberapa ranting pohon yang mengganggu jalannya.


kemudian dia berhenti disalah satu pohon dan duduk, ada perasaan resah dalam hatinya, perasaan tidak ingin kehilangan seseorang lagi yang amat disayanginya.

__ADS_1


"setiap kehidupan, pasti ada kematian, jika tujuannya hanya untuk mati, kenapa harus hidup" Luke bergumam pada dirinya sendiri, dengan bersandar pada pohon dibelakangnya.


"yang benar saja,kenapa kau lemah Luke, bagaimana kau bisa melindungi orang itu jika kau saja tidak yakin dan menyesali kehidupannya" Sebuah suara meyahut gumaman Luke di seberang sana.


"Kenapa kau ikut campur?" Luke mendengus kesal.


"hanya menyimpulkan, jika kau tidak mengharapkan kehidupannya" Sosok diseberang tersenyum mengejek.


Sesaat kemudian, Luke melemparkan pedangnya ke arah sosok itu, tetapi berhasil dihindari dan malah berbalik ke arahnya seperti bumerang. Luke memutar bola matanya malas.


"Tidak kena,Lemah" Sosok itu mencibir Luke.


"Pergi!!"


"Apa kau ti--"


"Pergi!!"


"Kau tidak so--"


"AKU BILANG PERGI!!"


Luke meninggikan suaranya, kemudian sosok itu pergi. Luke tahu dia akan dapat masalah besar karena berkata kasar padanya. Tapi itu tidak penting, perasaannya sedang kacau.


Kemudian dia berlari lagi, dengan kecepatan tinggi, menuju ke arah selatan. Dia hendak pergi ke rumah guru besarnya yang bernama Thoros. Dia mempelajari ilmu naga disana. Tapi sudah lama Luke tidak bertemu dengannya ,dan malam ini, dia akan menemuinya.


Luke bisa berubah menjadi seekor naga apabila energinya cukup untuk berubah, dan itu hanya boleh digunakan saat keadaan mendesak, karena wujud itu masih memiliki banyak kelemahan dan cukup banyak menguras energi. Jika digunakan terlalu lama, maka itu bisa membuat Luke pingsan selama beberapa hari sebagai pengisian energi kembali.


Maka dari itu, Luke mempunyai lambang naga di punggungnya, itu diberikan oleh Thoros, sewaktu Luke masih berguru padanya.


Sebelum Luke kembali kepada Sasargun.


Kemampuan berpedang Luke, kecepatannya saat berlari didalam air dan diudara, juga kemampuan berubah wujud itu, membuatnya dijuluki oleh masyarakat setempat sebagai "Zhansi Tian Long\=Naga penguasa langit"


Luke menjadi murid pertama yang berhasil menembus pertahanan udara milik Thoros, itu masih menjadi pencapaian yang tertinggi, artinya, masih ada seseorang yang lebih hebat darinya.


Setelah beberapa lama, akhirnya dia sampai, lalu mengetuk pintu besar berukiran naga disana. Kemudian dia masuk dengan sambutan yang baik. Thoros sempat terkejut akan kedatangan Luke yang tiba-tiba, juga Luke yang sempat terkejut, namun itu bukan masalah.

__ADS_1


Thoros memeluk Luke dengan erat, perasaan bahagia sedang dirasakannya saat ini, murid terbaiknya kembali mengunjunginya setelah melakukan latihan peningkatan kemampuan setelah sekian lama.


Luke menghabiskan waktu malamnya disana, berlatih bersama Thoros, dan sesekali bercerita tentang apa yang sudah terjadi selama ini dan apa yang sekarang dan nanti akan terjadi.


__ADS_2