
...SASARGUN...
Erina duduk didepan rumah, memandangi matahari yang enggan untuk terbit, dia duduk disana selama tiga jam pada dini hari, dia tidak bisa tidur semalaman, sakit kepalanya sudah tidak seberapa, tapi ada sesuatu yang membuatnya kembali memutar otak untuk menebak apa yang terjadi.
Dia memandangi tubuhnya sendiri. Kulit putih pucat, dengan jari kuku yang panjang, dan pakaian kecil yang dia gunakan, rasanya itu bukan dirinya.
Erina mengetahui jika dia sudah mati, dan jiwanya berpindah ke tubuh seseorang yang sama matinya seperti dia. Tetapi dia masih bertanya-tanya, dia ada di tubuh siapa?.
Bayangan ibunya melintas di kepalanya, saat ibunya melarang untuk pergi ke pesta bersama Rena, dan saat dimana dia dan ibunya berdebat kecil malam itu. Air mata Erina menetes kala mengingat hari itu. Pasti ibunya sekarang sedang menangis karena kepergiannya.
"I-ibu,Maafkan aku" Erina menangis sambil melirihkan kata maaf, tapi semua itu sia-sia, dia sudah tidak bisa bertemu ibunya lagi, dan pasti ibunya disana akan hidup dengan rasa bersalah karena telah gagal menjaganya.
Erina merasa bersalah. Dia terisak, sampai fajar terlihat di ufuk timur, menjadikan pagi itu pagi yang buruk untuknya. Andai saja dia bisa kembali ke masanya, pasti dia akan mencari dalang dibalik pengeboman itu.
Suara langkah kaki terdengar mendekati Erina yang masih duduk disana
"Kau tahu apa yang membuat orang disekitarmu sedih?"
Erina mendongak ketika Luke tiba-tiba membuka mulut dan duduk disampingnya.
"pergi!"
"tidak mau"
Erina menghela nafas, berniat beranjak dari tempatnya sebelum Luke, menarik tangannya.
"kau belum menjawab pertanyaanku,Asera"
"orang disekitarku sedih karena mereka tidak berhasil untuk membuatku frustasi",Erina menjawab pertanyaan Luke dengan perkataan yang agak lain
Luke menaikkan sebelah alisnya lalu tersenyum
"Jangan membiarkan orang disekitarmu sedih karena melihatmu bersedih"
"lalu apa peduli Mereka?"
"mereka peduli"
"tahu dari mana?"
__ADS_1
"tatapan matanya" Erina terdiam mendengar jawaban Luke, memang sorot mata itu tidak bisa berbohong.
Kemudian dia pergi dari hadapan Luke tanpa bicara lagi
"Asera!!"
"Panggil aku jika ada apa-apa"
Lagi lagi Luke memanggilnya dengan nama itu, siapa sebenarnya Asera ini.
Erina pergi kedalam rumah, mencari keberadaan Sasargun yang pasti sedang berkutat dengan obat-obatannya. Orang tua itu sangat baik, Erina sempat berbincang dengan sebelum dia keluar rumah tadi pagi. Dan perlakuan Erina padanya sudah tidak seperti awal lagi.
Gadis itu berjalan mendekati Sasargun, hingga perhatiannya teralihkan oleh sebuah pedang dengan sarung hitam yang terpasang didinding.
"kau menginginkannya?" Sasargun membuka suara ketika melihat Erina yang memegang pedang itu.
Erina mengangguk, "Apa boleh?"
"Tentu saja,Ambillah" Erina mencoba mengangkat pedang itu, tapi terlalu berat untuknya, kemudian Luke datang dan mengangkat pedang itu dengan satu tangan.
Luke memasang wajah sombong didepan Erina, "Dasar lemah"
Luke berjalan keluar setelah mengangkat pedang itu, juga membawa pedang itu bersamanya. Erina hendak mengeluarkan emosinya saat melihat kelakuan Luke, sebelum Sasargun mencegahnya dan menyuruh Erina untuk mengejarnya.
"Apa aku harus menerima jika mereka memanggilku Asera?" Lirih Erina pada dirinya sendiri.
"Ya, Asera, mungkin aku menyukai nama itu"
...****************...
"Kau harus memegangnya seperti ini"
Luke membenarkan posisi tangan Asera saat memegang pedang,dia mengajari Asera, seperti mengajari anak berusia lima tahun. Memegang pedang saja Asera tidak bisa, butuh waktu berjam-jam untuk membenarkan posisi tangannya.
Asera hanya diam kala tangan Luke dan tangannya bersentuhan, yang dirasakan Asera bukan perasaan senang, tetapi rasa resah merambat ke hatinya, entah kenapa, Asera juga tidak tahu
"Luke"
"Hm?" Luke menjawab tanpa menatap Asera, dengan tangan yang masih membenarkan posisi tangan Asera yang dari tadi tidak kunjung benar dalam memegang pedang
"Kurasa aku tidak mengingat masa kecilku, bisakah kau menceritakannya padaku?" Asera bertanya, atau lebih ke permintaan yang mungkin Luke akan sulit menjawabnya. Asera tahu jika dia memiliki rahasia besar dan dirinya itu penuh kejutan, tentang masa lalunya, kemampuannya, ataupun takdirnya, dia yakin itu
__ADS_1
Luke mendongak lalu menelan ludah, "Emm apa kau ingin mencoba berkuda?"
Jantung Luke berdebar kencang, entah apa yang dipikirkan pemuda itu, dia terlihat menyembunyikan sesuatu yang tidak ingin dia katakan pada Asera. Luke membasahi bibirnya yang kering, dia terlihat gugup, dia tidak berani melihat mata Asera. Setelah mereka sampai di kandang kuda milik Luke, Asera malah menatap Luke dengan tatapan dingin, "katakan padaku!, apa ini caramu untuk menghindari pertanyaanku?" Ketus Asera sambil menunjukkan mimik wajah yang membuat suasana terasa menekan.
Luke masih menatap Asera seperti tadi, penuh kebingungan, ekspresi itu bisa dibaca oleh Asera, bukannya Asera adalah seorang cenayang, tetapi di kehidupan modernnya, Asera cukup faham tentang gerak-gerik seseorang yang tidak pandai berbohong seperti Luke, maka dari itu Asera tidak mudah tertipu
"sudahlah, aku tahu kau akan berbohong, tidak perlu menjawab pertanyaanku, aku tidak akan percaya" Tambah Asera sebelum Luke menjawab pertanyaannya.
Asera melangkahkan kakinya masuk ke dalam kandang kuda milik Luke, mendahului sang pemilik yang kini merubah ekspresinya menjadi sedikit kesal, tentu saja, karena Asera yang sepertinya tidak menghargai waktu berpikirnya. Siapa juga yang ingin menunggu jawaban dari seseorang yang berpikir selama itu, andai Luke tau, menunggu itu melelahkan, dan Asera tidak cukup kesabaran untuk itu
"Asera!!" Luke tiba-tiba berteriak, Asera yang merasa nada Luke tiba-tiba meninggi pun berbalik badan
"Apa??!!" Nada Asera juga tak kalah tinggi dengan Luke, dia mendekati Luke dan menyilangkan kedua tangannya didepan dada
"Apa kau bersedia menjawab sekarang?"
"Tidak, terlalu rumit dan banyak untuk diceritakan, tetapi kau harus selalu berhati-hati, aku akan menemanimu, jadi, jika kau ingin pergi kemanapun, kau harus memberitahu ku"
Bukan, bukan jawaban itu yang ingin Asera dengar, dia ingin mendengar tentang masalah apa sebenarnya yang membuatnya harus berhati-hati, dia sadar jika selama ini dia terus berada dalam masalah, dan senantiasa dalam bahaya, tapi bagaimana dia bisa menghadapinya jika tidak tahu masalahnya, dasar Luke.
"Aku ragu jika kau bisa melindungiku,kukira kau adalah laki-laki yang--" Sebelum menyelesaikan ucapannya, Asera dikejutkan oleh pedang Luke yang sudah berada di depan lehernya. Luke menodongkan pedangnya ke Arah Asera, dia sudah benar-benar gila
Luke menatap Asera dengan lekat, tatapannya berbeda, tangannya berubah jadi hitam, mulai dari ujung tangannya, perlahan-lahan warna hitam itu menyebar hampir ke seluruh tubuhnya, Asera takut dan tidak berani bergerak, dia hanya berpikir, Luke sudah gila, Aura disana berubah jadi gelap, sangat menakutkan.
"Luke!! apa ini??"
Asera mundur beberapa langkah, tetapi itu sia-sia, Luke terlihat semakin marah, Asera tidak tahu apa yang harus dia lakukan, tiba-tiba, Luke mengangkat pedangnya, Asera membulatkan matanya, tangannya berusaha mengangkat pedang yang dari tadi dia pegang, Kenapa dia tidak menyadari itu dari tadi
'Sringg' 'sringg' 'tangg'
Asera menghadang pedang Luke yang sudah dilayangkan kearahnya, memang Asera tidak bisa berpedang, tetapi apa salahnya jika dia mengayunkan pedangnya tanpa trik untuk mempertahankan nyawanya, dia spontan melakukan itu, mengayunkan pedangnya dengan asal
'srrttt'
Darah terciprat di wajahnya, Asera terkejut, dia tidak sengaja melukai wajah Luke tepat di pipinya, seketika mereka berhenti, tak berselang lama, Luke kembali mengangkat pedangnya, membuat Asera semakin ketakutan, Asera menatap mata Luke, karena Asera sudah tidak mampu lagi mengangkat pedang
"Luke!! kumohon" Lirih Asera saat Luke benar-benar akan menebas lehernya, Asera menghela nafas pasrah," Kurasa aku akan mati lagi"
satu
dua
__ADS_1
ti--
'brukkk'