MELACUR KARENA TERPAKSA

MELACUR KARENA TERPAKSA
PULANG


__ADS_3

Tak henti-hentinya Kamilia mengutuk dirinya yang ceroboh. Kamilia melihat ke arah Tante Melly yang juga nampak khawatir. Kamilia menggelengkan kepalanya.


"Bisakah kita bicara, Tuan?" tanya Tante Melly. "Dia bukan pelacur, kau bisa pilih yang lain, free buat Tuan." Tante Melly masih mencoba membujuk.


Lelaki itu tetap menginginkan Kamilia untuk melayaninya malam ini. Tentu saja Kamilia tidak mau. Namun di sisi lain, karirnya dipertaruhkan.


"Tunggu sebentar!" Kamilia berjalan ke pojok ruangan. Menelpon seseorang, kemudian balik lagi.


"Bagaimana?" tanya Arya.


Kamilia hanya tersenyum. Dia tidak menanggapi permintaan Arya. Tentu saja lelaki itu jengkel. Dia sengaja mengambil beberapa foto Kamilia.


"Anda tidak bisa mengambil foto tanpa izinku, Tuan!' Kamilia berkata keras.


Keributan tidak bisa dihindarkan lagi, Kamilia merebut handphone Arya. Arya berkelit, Kamilia menangkap ruangan kosong lalu terjatuh. Sekali lagi Arya mengambil foto Kamilia. Lelaki tengil itu kemudian pergi.


"Mila!" Tante Melly berteriak sambil memburu Kamilia yang terduduk di lantai. "Sialan banget tuh orang!" sungut Tante Melly.


"Mila … Mila!" Seorang lelaki berlari menuju ke arah mereka. "Mana orangnya?" Ia bertanya dengan khawatir.


"Telat … dia sudah pergi, Bagas," jawab Kamilia. "Dia sudah mengambil fotoku, besok pasti heboh. Bisa-bisa karierku terancam kalau begini," sambungnya.


"Bisa kita atasi, lagian kamu ngapain ke sini?" tanya Bagas menyelidik. "Papa bisa marah! Ayo pulang!" bentak Bagas.


Kamilia memandang Tante Melly yang memandangnya penuh tanda tanya. Kamilia enggan untuk menjelaskan. Dia sendiri tidak yakin dengan segala yang terjadi belakangan ini. Hidup tidak melulu tentang dua pilihan. Sedih atau bahagia. Ada berbagai pertimbangan di dalamnya. Meninggalkan yang membuat sedih atau mengikuti yang belum tentu membuatnya bahagia.


Kamilia berfikir dalam kegamangan. Kesedihan yang akan dia tinggalkan, mungkin kebahagiaan yang belum terwujud. Akhirnya Kamilia pasrah mengikuti ke mana Bagas membawanya. Setidaknya Bagas berpikir kalau dirinya adalah adiknya. Kecil kemungkinan kalau Bagas berbuat curang.


Terlalu berat untuk Kamilia yang hanya seorang gadis kampung. Takdir yang membawanya menjadi seorang bintang sekaligus batu hitam di pinggir kali. Semua membuatnya kadangkala tidak kuat menghadapi.


**

__ADS_1


SEORANG MODEL TERNAMA BERINISIAL K, TERLIBAT KERIBUTAN DI RUMAH BORDIL.


Headline sebuah surat kabar membuat telepon Kamilia berdering terus-menerus. Para awak media mempertanyakan kehadiran Kamilia di rumah bordil tersebut.


Wanita yang kini tinggal di rumah Tuan Freza itu merasa bingung. Tidak ada pengalaman dirinya menghadapi semua ini. Meminta tolong Bagas rasanya tidak mungkin. Media tidak boleh tahu tentang dirinya yang menjadi adik Bagas --fotografernya.


Dengan sedikit penyamaran, Kamilia berhasil keluar kota untuk pulang ke desanya. Melihat Kamilia yang begitu cantik dan menjadi model ternama, tetangganya berbisik-bisik. Tentu saja isi kepala mereka tidak sama.


"Ehh itu si Kartika, cantik banget ya." Masih terdengar oleh Kamilia mereka menyebut namanya.


"Aku dengar dia menjadi wanita penghibur." Seseorang menimpali.


"Eh sembarangan! Dia menjadi model tahu."


"Harso yang bilang, katanya dulu dia menjualnya kepada seorang pengusaha kota … eeh gak tahu lah, takut salah juga. Hihihi hihihi."


Kamilia melirik mereka sekilas. Mereka terdiam menerima pandangan Kamilia yang dingin. Cepat mereka mengubah paras seramah mungkin, sambil menyapa.


Kamilia diam saja, tersenyum tipis sambil berlalu. Kamilia melihat rumahnya sedikit lebih rapi sekarang. Uang yang dikirim tiap bulan rupanya sudah digunakan untuk merenovasi rumah.


"Tika!"


Ibunya menyambutnya. Bapaknya diam saja di kursi. Ibunya juga sudah membeli kursi baru rupanya. Kamilia hanya menyapa seperlunya.


"Benarkah dia bukan bapakku?" tanya Kamilia dalam hati. Diam-diam dia perhatikan raut muka bapaknya. Adakah kesamaan atau hanya perbedaan yang ada. Wajah yang sudah mulai ada keriput itu terlihat lebih tenang sekarang. "Mungkin sekarang, dia sudah insyaf," pikir Kamilia.


"Tak pergi, Pak?" tanya Kamilia.


"Tak ada duit, ibumu sekarang pelit," jawab bapaknya.


Kamilia memberi uang kepada bapaknya. Sengaja Kamilia ingin agar bapaknya pergi dari rumah. Ada yang harus ditanyakan kepada ibunya. Bapaknya dengan sumringah pergi ke tempat judi. Kamilia menggelengkan kepala melihat tingkah bapaknya.

__ADS_1


***


Pesawat televisi sedang menyiarkan skandal yang menimpanya. Dikabarkan Kamilia menghilang tidak mau kompirmasi. Tentu saja itu membawa dampak untuk kariernya. Kamilia tidak peduli kini. Dia harus menyelesaikan masalahnya satu persatu.


Ibunya duduk di hadapannya. Dia tertunduk, merasa ditelanjangi masa lalunya terkuak. Tidak menyangka masa lalu yang disimpannya begitu rapat, ditemukan Kamilia -- putrinya. Sesungguhnya sudah berulang kali Ibrahim -- suaminya, mengorek keterangan darinya. Dirinya tidak pernah mau menceritakan apa yang telah terjadi. Makanya Ibrahim selalu marah kepadanya. Ujung-ujungnya tubuhnya harus menerima berbagai macam kekerasan.


Kamilia memperhatikan adiknya yang sedang makan roti oleh-oleh darinya. Kamilia ingat, makanan itu dulu hanya bisa dicicipi dalam mimpi. Mana ada uang untuk membeli roti seenak itu. Kamilia menghela napas sambil memperhatikan ibunya yang masih membisu.


"Mak … benarkah aku anaknya?" tanya Kamilia.


Ibunya menggeleng. Kamilia mengernyitkan dahinya. Dia tidak mengerti, kepada siapa harus percaya kini. Jelas-jelas Tuan Freza mengakui dirinya sebagai anak. Kini, ibunya sendiri bilang, dia bukan anak Tuan Freza.


"Ceritakan, Mak!" Kamilia setengah memaksa kepada ibunya untuk menceritakan kisahnya dulu.


Ibunya memandang ragu kepada Kamilia. Kamilia mengangguk meyakinkan kalau dirinya akan menyimak dengan baik. Ibunya mulai bercerita.


"Dulu, waktu masih gadis aku bekerja di rumah Tuan Freza. Aku tidak tahu kalau ternyata Tuan muda tertarik. Semua berjalan normal seperti biasa.


Sampai ketika saat semua orang tidak ada. Terjadilah hal yang tidak pernah kubayangkan. Tuan muda datang dengan bau alkohol dari mulutnya. Percuma menjerit, semua terjadi begitu cepat. Hanya bisa menangis untuk kehormatan yang terenggut paksa. Aku lihat lelaki itu mendengkur keras di samping tubuhku. Pikiran jahat menyuruhku mengambil pisau dapur, kemudian menusuk perutnya. Biarlah dia merasakan sakit seperti rasa sakit yang telah dia berikan padaku. Namun, kembali aku hanya bisa menangis.


Sebulan berlalu. Ada yang aneh dengan tubuhku. Kepala cepat pusing dan badan terasa lelah. Tiap pagi selalu muntah-muntah tanpa sebab. Tuan Freza curiga, dia mengajakku ke dokter kandungan. Hasilnya … seperti didorong ke dalam jurang yang teramat dalam. Positif.


Tuan Freza bingung, tetapi dia tidak pernah menyuruhku untuk menggugurkan bayinya. Di tengah kekalutannya dia terlihat bahagia. Terkadang kalau ada kesempatan dia datang dan mengelus calon bayinya."


"Aku akan menikahimu," janjinya. "Tunggu aku bilang sama orangtuaku," sambungnya.


"Aku hanya diam. Bagaimana mungkin aku yang cuma gadis kampung menjadi menantu di rumah ini? Sedangkan Tuan Freza sendiri sudah ada calon istri. Calon istri yang sepadan dengan kastanya.


Di suatu malam yang dingin. Aku dibawa oleh Nyonya --ibunya Tuan Freza. Sepertinya dia sudah tahu yang terjadi antara aku dan anaknya. Entah ke mana aku dibawa. Berakhir di sebuah klinik kecil. Freza kecil dipaksa keluar malam itu juga. Darah keluar terus-menerus. Hampir mati rasanya menahan sakit. Sakit raga dan hati."


"Apakah aku tidak berhasil digugurkan, Mak?" Kamilia menyela.

__ADS_1


__ADS_2