MELACUR KARENA TERPAKSA

MELACUR KARENA TERPAKSA
TEMPAT KENANGAN


__ADS_3

Garganif kaget mendengar jeritan Paulina. Lelaki itu mengajak Kamilia untuk pergi ke rumah sakit. Mereka pergi dengan hati berdebar-debar.


"Ada apa dengan bayi Paulina?" tanya Kamilia. Kekhawatiran menggelayuti wajah cantik tersebut. Naluri keibuannya muncul, dia sangat khawatir, takut terjadi apa-apa dengan bayi cantik tersebut.


"Entahlah," jawab Garganif. Lelaki itu juga sama. Merasakan kekhawatiran yang Kamilia rasakan. Apalagi Garganif mendampingi Paulina sejak wanita itu ngidam. Saat bayi mungil itu lahir, entah mengapa rasa sayangnya begitu besar terhadap Rinai.


"Rinai, kamu baik-baik, ya, Nak! Tunggu mami-papi!" Kamilia setengah meratap. Garganif melirik wanita tersebut. Lelaki itu bahagia Kamilia mau menerima bayi tersebut. Tadinya Garganif bingung harus bagaimana membujuknya.


Perjalanan terasa lama sekali. Akhirnya mereka sampai juga. Terlihat Paulina sedang menangis di hadapan bayinya yang sedang diberi tindakan oleh dokter.


"Ada apa, Paula?" tanya Garganif.


Paulina malah melirik ke arah Kamilia. Dia merasa terkejut wanita yang mendatanginya pagi tadi datang lagi bersama Garganif. Garganif maklum.


"Ini Kamilia, istriku," jelas Garganif. "Rinai kenapa?"


"Rinai?" Paulina semakin bingung.


"Bayi itu aku beri nama, Rinai," jawab Garganif.


Paulina kemudian mengerti, dan setuju untuk nama bayi yang Garganif berikan. Dia tidak ingin berlama-lama punya urusan dengan bayi itu. Paulina ingin Garganif segera mengambil alih bayinya tersebut.


"Dia tadi tersedak," jelas Paulina. "Dia sesak, dokter sudah memasang selang oksigen."


"Semoga Rinai baik-baik saja," kata Kamilia.


Setelah sang bayi bisa ditangani keadaan mulai tenang. Paulina berinisiatif mengulurkan tangannya ke arah Kamilia. Mengajaknya berkenalan, Paulina kagum dengan kecantikan Kamilia.


"Beruntung sekali kamu, Arga!" kata Paulina.


"Tentu saja," jawab Garganif bangga. Dia mengerling nakal ke arah istrinya. Kamilia melotot gemas. "Awas aja nanti di rumah!" ancamnya pelan.

__ADS_1


"Aku tidak pulang, hahaha." Garganif tertawa, lucu melihat istrinya melotot.


"Ssstt, berisik!" Kamilia meletakkan telunjuknya ke bibir. Isyarat agar Garganif memelankan suaranya.


"Eh … maaf … maaf." Garganif menutup mulutnya dengan tangan kanannya.


Dalam hatinya Kamilia berpikir, mengapa ada seorang ibu yang rela memberikan anaknya. Sementara di luar sana, masih banyak wanita yang mendambakan seorang anak.


**


Dua tahun kemudian.


Paulina pulang liburan ke Jakarta. Dia ingin menyempatkan waktu untuk menengok Rinai. Ayahnya tidak mengijinkan Paulina untuk itu.


"Tolonglah, Ayah! Sekali saja," Paulina memohon. Air matanya berlinang, rindunya teramat dalam kepada putrinya itu.


Paulina pernah melihat foto anaknya di medsos Kamilia. Tentu saja anaknya yang cantik itu begitu modis dan mewarisi bakat model ibu angkatnya itu. Sejak saat itu, perlahan-lahan rasa sesal merayapi perasaannya. Rindu yang tidak lagi bisa ditahan memaksanya pulang ke tanah air.


Dulu, Paulina pernah bertanya kabar tentang anaknya itu kepada Garganif. Tidak banyak cerita yang didapatnya dari lelaki itu. Garganif kini sudah berubah. Dia seperti menutupi segala hal tentang anaknya tersebut.


Paulina pergi diam-diam ke rumah Kamilia. Namun, dia tidak mendapatkan siapa pun di sana. Akhirnya Paulina pergi ke tempat mereka dulu sering bersama. Paulina, Rico dan Garganif.


Paulina duduk di bangku taman. Memandang jalan kecil yang menuju ke tempat duduk dia kini. Di mana dirinya selalu menunggu Rico datang dengan setia. Latar belakang mimpinya dahulu kini sudah berubah, semakin asri dan teduh. Tempat yang nyaman untuk sekedar mengenang masa lalu.


Pohon-pohon yang dulu kecil sekarang sudah tinggi. Jalan itu masih tetap menuju bangkunya. Paulina seperti melihat Rico kini sedang menuju ke arah dirinya. Lelaki bersenyum menawan itu sudah merebut hatinya saat pertama bertemu di taman ini. Jadilah tempat ini adalah tempat favorit mereka berdua.


Rico selalu menantikan dirinya dahulu. Kini, dia sedang menuju ke arah dirinya. Paulina merasakan debaran yang dulu selalu dirasakannya. Luar biasa sekali cinta yang dulu dia rasakan. Paulina menyesal telah menyia-nyiakan waktu bersama Rico dahulu.


Tersenyum meski terlihat samar, Rico menghampirinya kini. Semakin dekat, semakin dekat, Paulina bersiap dengan senyum termanisnya.


"Papi!" Sebuah teriakan membuyarkan lamunan Paulina tentang Rico. Pemuda itu menghilang dengan hadirnya sesosok anak perempuan berambut keriting.

__ADS_1


**


"Sayang katanya mau pergi ke taman, ayo bangun!" Kamilia membangunkan Rinai anaknya.


"Mami, aku masih ngantuk!" kata gadis kecil itu. Namun, menurut saja saat dirinya di suruh bangun dan bersiap.


Suara manjanya begitu menggemaskan. Kamilia merasa sempurna sudah kini hidupnya. Sejak malaikat kecil itu hadir. Dia dan Garganif merasa sebagai orang yang teramat bahagia.


Kehadiran Rinai sudah melengkapi hidupnya yang tidak sempurna. Sekian lama berumahtangga belum ada tanda-tanda kehamilan dari wanita tersebut. Sejauh ini Garganif masih bisa menerima.


Anak perempuan dengan binar mata sesuci malaikat itu pun, sudah siap dengan kuncir dua. Rambutnya yang keriting bergulung seperti ombak.


"Mami, aku mau bawa ini!" seru anak kecil itu riang. Dia mengacungkan sebuah snack besar.


"Boleh, itu Papinya ajak biar berangkat sekarang!" suruh Kamilia.


Tawa riang Rinai di sepanjang jalan saat mengitari taman membuat Kamilia bahagia. Saat-saat seperti ini selalu dia rindukan. Saat Garganif tidak melulu berkutat dengan huruf-huruf di kantornya. Mereka jarang sekali pergi meski untuk sekedar makan.


"Rinai … Rinai, kamu di mana?" Kamilia mulai berteriak.


Tiba-tiba tawa kecil itu menghilang seiring lenyapnya Rinai dari pandangan. Tentu saja Garganif dan Kamilia panik. Garganif pergi menelusuri semua jalan yang tersembunyi.


"Arga, Rinai ke mana?" tanya Kamilia panik.


"Sabar, aku akan mencarinya," jawab Garganif.


Lelaki itu teringat satu tempat di mana dulu dia dan Rico selalu menemui Paulina. Satu tempat di balik rimbunan pepohonan kecil. Garganif seperti dejavu, pandangannya menangkap bayangan Paulina sedang duduk di sana persis seperti dulu.


Untuk sesaat Garganif seperti kembali ke masa lima tahun yang lalu. Dia dan Rico seperti tidak ada lagi batasan rahasia kehidupan mereka. Garganif rela menjadi obat nyamuk demi hubungan Paulina dan Rico tetap aman. Mata-mata ayah Paulina akan memonitor terus. Paulina akan dimarahi kalau bertemu dengan Rico. Garganif menghela napas teringat sahabat yang kini sudah almarhum.


"Aku selalu berdoa untukmu, teman," bisiknya.

__ADS_1


Beberapa kali Garganif mengucek matanya. Bukan halusinasi kalau dia melihat Paulina duduk di bangku itu. Bangku yang sama yang dulu diduduki wanita itu kalau sedang menunggu. Perlahan-lahan dia mendekati wanita itu. Sama, Paulina memandang dirinya tanpa kedip. Garganif lupa kepada Rinai, pandangannya fokus kepada Paulina.


"Papi!" Rinai berteriak sambil memeluk kaki Garganif.


__ADS_2