
Ibunya memandang Kamilia tanpa kedip. Ada keraguan di matanya. Kamilia balas menatap mata ibunya. Dia meyakinkan kalau dirinya akan kuat mendengar cerita ibunya.
"Kehamilanku berhasil digugurkan." Kata-kata ibunya kembali menampar perasaan Kamilia.
"Lalu … a aku anaknya siapa?" tanya Kamilia.
"Setelah kepergianku dari rumahnya, Tuan Freza tentu saja marah-marah mencariku. Setiap orang ditanya, termasuk supir. Dia memaksa supaya mengantarnya kepadaku. Tuan Freza menangis melihat keadaanku. Dia minta maaf. Malam itu juga aku dibawanya ke rumah sakit. Dirawat sampai pulih. Kemudian dinikahinya secara agama, walau tidak setiap hari bertemu.
Aku bahagia dengan segala kasih-sayangnya. Dia juga tampak bahagia bila bersamaku. Sampai akhirnya nyonya tahu tentang semua ini. Aku didatangi saat Freza tidak ada di rumah."
"Tinggalkan dia dan kembalilah ke kampungmu!" suruhnya.
"Aku diam dan hanya menunduk, bingung harus berbuat apa. Sedangkan di perutku sepertinya sudah tumbuh kembali janin yang baru. Aku berusaha menyembunyikan semua ini. Walau Freza sudah tahu kalau aku sudah telat datang bulan."
"Dia mau menikah minggu depan. Dan kau jangan sampai mengacaukan semuanya! Ini pergilah!" Nyonya mengancamku dan melemparku dengan gepokan uang.
"Aku tetap diam. Akhirnya terpikir olehku, memang sebaiknya aku pergi. Malam itu juga aku pergi. Kembali ke kampung. Membawa janin dalam kandungan. Freza tidak tahu kampungku. Keluarganya juga mengancam untuk tidak menyusulku.
Sakit … tentu saja. Namun, orang susah sepertiku tidak punya banyak pilihan. Ketika Ibrahim datang melamar, orang tuaku menerima. Akhirnya menikah tanpa sempat aib ini diketahui orang.
Lama-lama Ibrahim curiga. Namun, nasib baik lelaki itu tidak pernah menyebarkan aibku. Dia selalu menyiksaku kalau teringat betapa dia kecewa sudah memperistri diriku yang sedang hamil.
Akhirnya kamu lahir. Ibrahim tidak menyambutmu dengan suka cita. Dia membencimu. Aku hanya mengelus dada kalau melihat dia mencaci dirimu."
"Pantesan bapak menjualku dulu sama Harso," kata Kamilia. "Kalau begitu benar adanya aku anaknya Tuan Freza?" Kamilia bertanya lirih.
Ibunya tidak menjawab, menggeleng juga tidak. Perempuan yang masih menyisakan kecantikannya itu beranjak ke kamarnya. Kembali membawa sesuatu di tangannya.
"Pakailah!" suruh ibunya.
Kamilia melihat sebuah gelang yang sangat bagus terbuat dari emas putih dengan batu permata berwarna merah.
"Waah!" seru Kamilia. "Ini sangat cantik, dari mana Ibu mendapatkan ini?" tanya Kamilia.
"Pakai saja, nanti juga ada yang mengakuinya," jawab ibunya diplomatis.
Kamilia hanya mengangguk-angguk. Terlalu rumit kalau dipikir, semua orang punya masa lalu.
**
__ADS_1
Dengan menumpang bus, sang model pulang kembali ke Jakarta. Dia lega setelah mendengar pengakuan langsung dari ibunya. Dipakainya gelang pemberian ibunya. Sekarang wanita itu lebih siap untuk menghadapi berbagai kenyataan hidup, akan dia hadapi semuanya.
Banyak kontrak yang dibatalkan gara-gara kasus di rumah bordil Tante Melly. Bagas dengan sigap datang membantu. Beberapa kali jumpa pers digelar untuk klarifikasi. Akhirnya dengan susah payah nama baik Kamilia bisa kembali.
Malam ini Tuan Freza memanggil Kamilia. Dia ingin tahu pasti siapa sesungguhnya Kamilia. Kalau perlu harus tes DNA.
Kamilia tertunduk di bawah tatapan dingin Tuan Freza. Ada dua cangkir teh di hadapan mereka. Wanita itu melirik memperhatikan sekeliling. Mencari-cari keberadaan seseorang.
"Di mana dia?" tanya hatinya.
"Bagas tidak akan ke sini!" Seperti tahu dengan pikiran Kamilia, Tuan Freza berkata. "Minum Mila!" suruhnya.
Kamilia mengambil cangkir teh itu. Saat itulah mata Tuan Freza melihat pergelangan tangan Kamilia. Permata di gelang cantik itu berkilau. Hampir saja Tuan Freza tersedak. Kaget melihat gelang Kamilia.
"Gelang dari mana itu, Mila?" tanya Tuan Freza.
"Ibuku yang memberikan, Tuan," jawab Kamilia.
"Kapan?"
Pertanyaan Tuan Freza membuat Kamilia yakin. Pemberi gelang ini adalah Tuan Freza. Rupanya ibunya malu untuk mengakui. Sudah lama Kamilia menunggu saat seperti ini. Di mana semuanya jelas.
"Tidak usah tes DNA, kau adalah putriku. Kau dan Bagas tidak terpaut jauh. Jelasnya kau adalah kakaknya Bagas." Tuan Freza menjelaskan dengan detail.
"Ya, Tuan."
"Panggil Papa!"
Kamilia tersenyum kecut. Entah dirinya harus bahagia atau tidak.
**
Byuur.
Seember air mengguyur badan Hendra. Lelaki itu terikat di tiang, dengan tangan ke belakang. Dia mendongakkan kepalanya.
"Bagas?" Hendra bertanya dengan ragu "Mengapa Bagas ada di sini?" tanyanya lagi. Ini adalah markas Freza, dari mana Bagas tahu tempat ini.
"Mengapa kau heran? Ini adalah tempat ayahku," katanya.
__ADS_1
Hendra melotot sakit terkejut. Dia memang tahu kalau Freza punya anak laki-laki. Namun, dia tidak mau berkecimpung dalam bisnis ini. Tidak menyangka sama sekali, ternyata orang itu adalah Bagas. Bagas anak majikannya … sungguh tidak bisa dipercaya.
"Lepaskan!" teriak Hendra.
"Hahaha. Siapa yang mengikat kamu seperti anj*ng piaraan? Lepaskan!" Bagas menyuruh anak buah bapaknya untuk melepaskan Hendra.
"Aku khawatir dengan Kamilia? Apakah dia baik-baik saja?" tanya Hendra.
"Sekarang kau menanyakan tentang dia. Selama ini kamu hanya sibuk dengan Calista. Dasar laki-laki tidak tahu diri!" teriak Bagas marah.
Hendra tidak berani marah kini. Dulu mungkin sudah dihajarnya Bagas. Sekarang lelaki ini adalah majikannya. Hendra tertunduk.
"Sekali lagi kau menyakiti Kamilia, pistolku ini akan minta tumbal!" kata Bagas sambil memainkan pistol sambil duduk di kursi bapaknya.
"Iya, aku tidak akan mempermainkan lagi Kamilia," janji Hendra.
"Kau pikir dia mau kembali padamu?Dia adalah kakakku, tapi aku lebih suka menganggapnya sebagai adik." Bagas mentertawakan keluguan Hendra.
"Apa? Dia adikmu?"
"Aah sudahlah … pergi!" suruh Bagas sambil mengibaskan tangannya.
Hendra kembali ke apartemennya. Kamilia sudah menunggunya. Mereka hanya duduk mematung tanpa bicara. Masing-masing sibuk dengan pikirannya.
Kamilia juga merasa bingung. Dia ingin pergi dari hidup Hendra. Perjanjian dulu di atas kertas masih menjadi pikirannya. Sebelum Hendra menginginkannya dia tidak boleh pergi dari Hendra. Dasar bodoh, perjanjian macam apa itu.
Penghasilannya sebagai model tentu saja cukup untuk membiayai hidupnya di Ibukota. Apalagi Freza yang mengaku sebagai bapaknya, tentu siap dimintai uang. Freza sangat sayang kepadanya.
"Mila, aku tak ingin kamu meninggalkanku," kata Hendra memecah keheningan.
Kamilia diam seperti biasanya. Hidupnya yang sudah berubah menjadi seorang bintang tidak mengubahnya menjadi seorang yang cerewet. Wanita itu lebih suka bicara dengan pikiran sendiri.
"Kamu mendengarku kan, Mila?"
"Tentu saja aku mendengarnya," jawab Kamilia.
Kembali hening. Kamilia memilih berceloteh dengan alam pikirannya yang jauh mengembara. Kembali dengan masa yang lalu. Di mana Hendra tampil menjadi penyelamat. Sekaligus ibarat malam kelam, di mana gurat-gurat luka memancarkan cahaya semu.
"Bagaimana, Mila?" tanya Hendra penasaran.
__ADS_1
"Aku … aku …."