MELACUR KARENA TERPAKSA

MELACUR KARENA TERPAKSA
KAKEK WISNU


__ADS_3

Lamunan Garganif terjeda, lelaki itu melihat ke arah anaknya – Rinai. Lelaki itu menoleh lagi ke arah bangku taman tadi. Sosok Paulina lenyap. Garganif mengusap matanya meyakinkan kalau yang dilihatnya tadi adalah halusinasi. Empat tahun sudah tidak bertemu dengan Paulina sejak Rinai dia bawa pulang.


"Anak Papi dari mana, sih?" tanya Garganif. Dia jongkok menjawil pipi tembem anaknya. Rinai sangat menggemaskan dengan pipinya yang seperti bakpao.


"Aku sembunyi, Papi," jawab Rinai sambil tertawa kecil. Renyah tawanya membuat segala kekhawatiran Garganif lenyap.


"Rinai nakal!" seru Kamilia. Tiba-tiba dia sudah ada di antara mereka.


"Tidak nakal, Mami. Hanya bersembunyi," kata Rinai masih membela diri.


"Ayo kita pergi!" ajak Kamilia.


"Aku mau ke mall, Papi," kata Rinai merajuk.


"Oke, let's go!" ajak Garganif.


Tidak jauh dari tempat itu, ada sepasang mata yang menyaksikan kebahagian mereka. Matanya tiba-tiba basah menyaksikan adegan demi adegan yang diperankan Kamilia. Dalam hatinya sangat iri melihat kecupan manis dari si kecil Rinai kepada Kamilia dan Garganif.


"Wiliam Garganif, kamu sudah melupakan aku," desis wanita tersebut. "Benar adanya. Kisah pertemanan kita akan menjadi kenangan yang terlupakan. Saat hatimu bukan lagi tempat yang nyaman. Kini aku menolak singgah, saat kulihat engkau terdekap. Aku memilih untuk tidak merapat, di mana kini hatimu memiliki tempat teduh. Aku mencoba kuatkan hati, saat kautemukan bahagia. Bersamanya yang seperti malaikat. Perlahan rasa akan kulepaskan, demi Rinai. Tidak peduli walau kini aku berkekasih sepi. Menemuimunya dalam tiada."


Wanita itu –Paulina meratap dalam hatinya. Dia sengaja bersembunyi dari pandangan Garganif. Dia tidak ingin merusak kebahagiaan mereka, Kamilia dan keluarganya. Walau dulu Garganif selalu ada untuk dirinya.


Hatinya masih diselimuti kerinduan kepada sosok mungil Rinai. Ingin sekali rasanya memeluk malaikat kecil itu. Namun, perjanjian yang ditempel materai mengurungkan niatnya.


"Ini, tanda tangan di sini!" Kamilia menyodorkan selembar kertas waktu itu.


Paulina yang ingin segera kembali ke keluarganya tidak memperdulikan isi dari kertas tersebut. Pasti hanyalah perjanjian biasa saja. Saat dirinya membaca lagi salinannya, barulah Paulina mengerti. Dirinya tidak boleh menampakkan diri di hadapan Rinai.


**


Ramai sekali suasana mall siang ini. Rinai berlari-lari kecil menuju tempat permainan. Dia menarik tangan ibunya. Namun, kemudian terlepas. Rinai terus berjalan cepat, karena sudah tahu letaknya. Dia tidak melihat ke depan.


Bruuuk!


Rinai menabrak seorang bapak tua. Anak perempuan itu mundur, wajahnya pucat karena takut.


"Ma … maaf, Kek!" kata Rinai.


Melihat wajah yang menggemaskan itu sang kakek langsung jongkok. Tiba-tiba dirinya merasa melihat sosok putrinya dahulu. Ya … anaknya dulu sangat mirip dengan anak perempuan tersebut.

__ADS_1


"Namamu siapa, Cantik?"


"Rinai, Kek," jawab Rinai. "Nama Kakek siapa?"


"Panggil saja Kakek Wisnu, oke!" suruh Kakek Wisnu.


"Iya, Kek," jawab Rinai.


Kamilia tiba di tempat Rinai berada, wanita itu minta maaf kepada Kakek Wisnu. Kakek Wisnu malah senang bertemu dengan Rinai. Entah mengapa dia jatuh cinta kepada anak kecil tersebut. Dia seperti melihat Paulina dalam sorot mata anak kecil tersebut.


Kakek Wisnu malah minta izin kepada Kamilia untuk membawa Rinai jalan-jalan. Kamilia tersenyum sambil mengizinkan. Perempuan itu membersamai mereka juga berjalan-jalan.


Rinai rupanya sangat senang. Entah mengapa Kakek Wisnu sangat terkesan dengan bocah perempuan itu. Dia seperti punya ikatan batin dengan Rinai.


Tidak lama kemudian, Garganif sampai ke tempat mereka. Untuk sesaat lelaki itu seperti terpaku melihat pemandangan di depannya. Kamilia dan Rinai bersama orang yang dia kenal. Tentu saja Garganif sangat mengenal Kakek Wisnu. Namun, Kakek Wisnu tidak begitu mengenalnya karena Garganif tidak pernah berinteraksi langsung. Sosok yang sangat disegani karena dulu dia adalah seorang pejabat. Makanya kakek tua itu tidak setuju dengan cinta antara Paulina dengan Rico. Apa yang akan diterimanya bila hal itu terjadi.


Garganif melangkah mendekati mereka. Hatinya berdebar-debar untuk menyapa. Takut jika bapaknya Paulina mengenalnya.


"Hallo semua!" sapa Garganif.


"Hai … inikah Ayahnya Rinai?" tanya Kakek Wisnu.


"Senang sekali berkenalan dengan anakmu, Nak, sekali-kali boleh ajak anaknya ke rumahku," kata Kakek Wisnu.


"Ii … iya, Kek," ujar Garganif. Dia berusaha untuk menyembunyikan kegugupannya. Rupanya Kakek Wisnu tidak mengenalinya. Hanya wajah Rico yang kakek itu ingat. Mereka malah berbagi nomor telepon kini.


**


Kamilia membaca pesan dari Kakek Wisnu. Dia harus membawa Rinai untuk bertemu dengannya. Kamilia tersenyum, dia bahagia anaknya banyak yang menyayangi.


"Sayang, Kakek Wisnu ingin Rinai mengunjunginya," ujar Kamilia kepada Garganif.


"Tidak!" larang Garganif.


"Kenapa?" tanya Kamilia heran.


Garganif bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin dia mengatakan kalau Kakek Wisnu adalah kakeknya Rinai. Harus bagaimana menjelaskannya.


"Kenapa!" tanya Kamilia lagi.

__ADS_1


"Gak ada alasan, pokoknya tidak boleh," kata Garganif tegas.


"Aneh, kalau tidak ada alasan mengapa tidak boleh?"


Garganif terdiam. Tidak mampu lagi menjawab. Dia akan merahasiakan ini kepada Kamilia. Namun Kamilia justru curiga. Pandangannya begitu menusuk, meminta penjelasan. Akhirnya lelaki itu menyerah, membiarkan mereka mengunjungi rumah Kakek Wisnu.


Hal pertama yang membuat Kamilia terhenyak adalah sebuah foto gadis muda yang dia kenal. Kamilia melirik ke arah Garganif. Tampak lelaki itu cukup tegang. Kamilia menjadi maklum kini. Mengapa dia tidak mengizinkan tadi Rinai mengunjungi Kakek Wisnu.


"Paulina! Ada tamu nih!"


Kakek Wisnu memanggil putrinya. Paulina datang dari ruang dalam. Dia bergegas karena tadi bapaknya bilang kalau akan ada tamu special.


"Ooh … sudah da … tang–" Paulina menurunkan volume suaranya. Dia kaget dengan kehadiran Garganif dan Kamilia.


"Ini tamunya!" tunjuk Kakek Wisnu ke arah Rinai.


"Hai, Tante," ucap Rinai memberi salam.


Deg!


Paulina memandang ke arah Rinai kemudian ke arah Kamilia dan Garganif. Paulina pura-pura tidak mengenal mereka. Begitu juga Kamilia, mereka hanya berbasa-basi sekedarnya. Kamilia menyesal telah membawa Rinai ke sini. Suaminya tidak pernah bercerita tentang Kakek Wisnu.


Kamilia, Garganif dan Paulina memandang Kakek Wisnu dan Rinai. Tampak mereka sangat menikmati kebersamaan mereka. Ibarat cucu dan kakek yang sudah lama tidak bersua.


Paulina mengajak mereka untuk duduk di bangku taman. Menjamunya dengan teh dan kue.


"Papahku tidak mengizinkan aku menjenguk Rinai. Mengapa sekarang ada Rinai di sini?" tanya Paulina pelan.


"Kami bertemu di mall, tiba-tiba saja ayahmu sudah mengenal Rinai dan jatuh cinta." Kamilia menjelaskan.


"Diriku pernah hancur kemudian bisa bangkit kembali. Aku masih bisa bertahan karena Rinai. Aku berusaha untuk kembali melangkah." Paulina berkata dengan suara tertahan.


"Mengapa kamu ingat Rinai? Bukankah dulu kamu melepaskan diri darinya?" tanya Kamilia.


"Tidak begitu, Mila," kata Paulina memelas.


"Sudah, nanti papamu curiga." Garganif menimpali.


"Arga … tolonglah! Biarkan Rinai bersamaku."

__ADS_1


"Apa!" seru Kamilia.


__ADS_2