MELACUR KARENA TERPAKSA

MELACUR KARENA TERPAKSA
SIKSAAN ARYA


__ADS_3

Kamilia mengantar Bagas sampai depan rumah. Dia lalu berkemas untuk pergi dari rumah besar ini. Kamilia sesaat memandang kamarnya berkeliling. Dua tahun dia menghuni kamar ini.


Tidak terbersit di benaknya sedikit pun, hidupnya akan kembali berkisah tentang kepedihan. Wanita itu seperti dejavu saat dirinya berkemas dulu. Memasukan baju-baju usang ke dalam tas. Baju-baju yang kini entah ada di mana, mungkin sudah menjadi lap.


Kamilia goyah, ingin sekali dia lari dari perjanjian nista itu. Kembali ke kampung dan menemui mata sehangat mentari pagi. Kamilia sesaat terkenang dengan pemuda itu. Lelaki yang tetap melajang sampai kini. Entah dirinya menunggu siapa.


Kamilia berpikir mungkin hati lelaki itu sudah terkunci, dan dialah pemilik kunci tersebut. Sekaligus mematahkannya. Kamilia sadar akan hal itu, dirinya tidak punya muka saat bertemu tanpa sengaja pun. Bagaimana pula akan membalas cintanya yang selalu lelaki itu perlihatkan secara samar-samar. Rasa sesal di dasar hatinya menyeruak, saat mereka menyia-nyiakan kesempatan.


"Aku terlalu kotor untukmu, Kang," desis Kamilia.


Hujan mengiringi kepergian Kamilia dari rumah Tuan Freza. Berlomba dengan air hangat yang jatuh dari matanya. Senja kian temaram mengantar Kamilia ke apartemen yang disediakan Tuan Arya. Kamilia memulai episode baru hidupnya sebagai wanita simpanan. Simpanan atau kekasih … entahlah, Kamilia sudah tidak peduli lagi.


Hari sudah malam ketika Kamilia sampai. Tidak lama kemudian Tuan Arya datang. Kamilia bersikap waspada, tangannya dikepalkan memastikan tangannya masih punya kekuatan. Dia akan melawan seandainya Tuan Arya melakukan tindakan kekerasan.


"Sudah lama, Mila?" tanya Tuan Arya basa-basi.


"Ya," jawab Kamilia pendek.


Tuan Arya rupanya tidak sabar lagi dengan serangan hasratnya. Dia menerjang Kamilia minta dilayani. Kamilia mengeluh dalam hatinya, tetapi mulutnya terkunci. Sudah lama Tuan Arya mengidam-idamkan Kamilia. Top model yang baru sadar kembali dari kehilangan ingatan. Makanya, saat Tante Melly menghubungi untuk urusan uang jaminan Hendra, dirinya tidak banyak berpikir. Langsung menyanggupi permintaan Tante Melly.


Kamilia mengeluh saat selesai beradu peluh. Menggeliat badannya karena rasa ngilu saat bertukar keringat.Tuan Arya rupanya seorang yang tidak biasa. Tidak cukup permainan biasa yang dia lakukan, menyakiti badan Kamilia adalah salah satu kepuasannya.


**


Sesaat Kamilia tertidur karena lelah. Dengkur Tuan Arya telah membangunkannya kembali. Rupanya hari sudah tengah malam. Kamilia merasa badannya sakit luar biasa. Badannya penuh bilur-bilur merah bekas sabetan sabuk.


Tuan Arya sedikit bermain-main tadi dengan tubuhnya. "Huh … apa dia bilang? Bermain-main?" kecam Kamilia dalam hatinya.


Tuan Arya mengikat tangan Kamilia, kemudian menutup matanya. Lelaki itu pertama mengelitiki Kamilia. Lama-lama dia gemas, beralih ke sabuk yang dia pakai. Kamilia semakin terlihat lemah karena tidak mampu melawan. Dendam semakin berkobar dalam hatinya.Tunggu saatnya nanti dia pasti akan menggigit. Segala rasa dendam yang terpupuk sejak dahulu menghantam dadanya. Sakit dan minta dilampiaskan.


Dadanya masih berdenyut nyeri, seperti badannya kini. Babak belur di tangan manusia berhati Iblis. Matanya kembali menghangat teringat rasa sakit yang kini terasa. Persis seperti dulu Heru memperlakukannya.

__ADS_1


"Hey … lelaki itu. Di manakah dia kini?"


Kamilia menyungging senyum pahit. Teringat dulu dia baku hantam dengan Sinta – istri Heru. Walau akhirnya dirinya juga babak belur, setidaknya dia sudah memberikan perlawanan. Tanpa terasa Kamilia tersenyum untuk kisah konyol itu. Harusnya aku pergi saat itu tanpa pulang ke desa.


Kamilia menatap kosong langit-langit kamar. Dengkuran Tuan Arya masih terdengar di samping tubuhnya yang telanjang. Untuk bergerak mencari bajunya saja Kamilia tidak mampu. Sungguh dirinya merindukan kematian daripada hidup tersiksa begini. Kamilia tertidur dengan air mata yang masih mengalir.


Pagi yang beku telah membangunkan kembali Kamilia. Matahari malas menampakan diri. Seolah-olah ikut berduka dengan suratan Kamilia. Rinai gerimis seperti air mata yang semalam tertumpah dari mata Kamilia.


"Kau tidak perlu kemana-mana, Mila!" Tuan Arya berkata sambil membetulkan letak dasinya. "Semua kebutuhanmu aku yang nanggung."


Wanita itu hanya diam sambil merasakan sakit yang masih terasa. Air matanya sudah kering kini. Dia berjanji pada diri sendiri, tidak akan menangis lagi.


"Kau dengar itu, Mila!"


"Karierku?" tanya Kamilia.


"Kau bisa berkarir lagi setelah selesai kontrak denganku … itu pun kalau aku tidak memperpanjangnya," tegas Tuan Arya. "Aku berangkat!" Lelaki itu pergi meninggalkan Kamilia.


Kamilia mengeja suara hatinya yang entah berteriak apa lagi. Sumpah serapah berserakan dalam jiwanya. Kemerdekaannya benar-benar sudah terampas. Kamilia meringkuk di bawah selimut. Matanya menatap kosong ke luar jendela.


Rinai itu masih menitik, berubah menjadi deras manakala mendung semakin menghitam. Kamilia tidak bisa berpikir untuk langkah selanjutnya. Satu hari bersama Arya, hatinya sudah terluka untuk sepanjang hidupnya.


Tuan Freza sangat marah saat tahu Kamilia sudah pergi dari rumahnya. Bagas menjadi sasaran kemarahannya. Lelaki itu menuduh Bagas tidak bertanggung-jawab dengan adiknya. Bagas diam saja karena merasa bersalah.


"Bodoh! Bukannya menjaga saudaramu satu-satunya, kau malah pergi pelesiran!" umpat Tuan Freza.


Bagas masih tetap diam. Dia sedang mengira-ngira ke mana gerangan Kamilia pergi.


"Cari! Atau namamu hilang dari kartu keluarga!" ancam Tuan Freza.


"Baik," sahut Bagas singkat. Lelaki itu berlalu dari hadapan Tuan Freza. Dia akan menuju suatu tempat dari mana dulu dia mengenal Kamilia. Dia membuat janji untuk bertemu di sebuah cafe.

__ADS_1


"Calista, Kamilia di mana?" tanya Bagas. Sesaat setelah mengempaskan bokongnya di kursi cafe.


"Eh … datang bukannya bilang kangen, malah Kamilia yang ditanya. Bukannya dia tinggal serumah?" tanya Calista.


"Dia pergi dari rumah," kata Bagas. Dia melihat sekeliling memindai wajah orang-orang yang masuk ke cafe. Siapa tahu ada Kamilia masuk ke cafe. Cafe ini adalah salah satu favorit Kamilia.


"Bodoh! Kurang apa dia di sana? Terbukti kan kalau dia itu perempuan ambisius." Calista mulai menjelekkan Kamilia. Bagas tidak mempedulikan.


"Kira-kira dia ke mana?" tanya Bagas.


"Kamu sudah tanya ke Tante Melly?" Calista malah bertanya.


"Aaah … mengapa aku bisa lupa!" seru Bagas sampai menepuk jidatnya.


Lelaki itu cepat bangkit, meninggalkan Calista yang berteriak-teriak. Bagas tidak peduli, lelaki itu segera berlalu.


Bagas melihat sekeliling begitu sampai di tempat Tante Melly. Dia tidak menemukan wanita tersebut. Bagas berusaha mencari sambil bertanya. Tante Melly ternyata ada di ruang pribadinya.


"Tante … Kamilia ke mana?" tanya Bagas langsung.


Wanita itu tampak terkejut, air mukanya berubah. Tante Melly bingung harus menjawab apa kepada Bagas. Akhirnya dia berpura-pura tidak tahu.


"Apanya yang di mana?" Tante Melly balik bertanya.


"Kamilia sudah seminggu tidak pulang, Tante!"


"Mengapa?" Tante Melly masih pura-pura.


"Entahlah," jawab Bagas. Matanya menerawang jauh, melihat ke luar. Banyak anak buah Tante Melly yang tersenyum genit kepadanya.


Tante Melly memandang Bagas yang kebingungan. Wanita itu sendiri bingung, haruskah dia memberitahu tentang problem Kamilia. Setelah lama saling diam akhirnya Tante Melly mengambil keputusan.

__ADS_1


__ADS_2