
Kamilia kembali ke rumah dengan janji-janji manis Garganif. Dia percaya suaminya itu masih mencintainya, tidak begitu saja akan menghancurkan mahligai yang sudah dibangunnya sekian lama.
Kehidupan berjalan kembali seperti biasanya. Kamilia sudah memaafkan Garganif. Entah di mana Paulina berada Kamilia sudah tidak peduli lagi. Baginya yang penting Garganif sudah tidak banyak tingkah lagi, selesai.
Suatu pagi Garganif pergi ke kantor tidak seperti biasanya. Terlalu pagi menurut Kamilia. Dengan penuh rasa penasaran Kamilia bertanya, "Pagi sekali, Sayang. Hendak ke mana?"
"Aku ada urusan ke luar kota tiga hari, kuharap kau baik-baik bersama Rinai di rumah," jawab Garganif.
"Baiklah, segera pulang, ya!" ujar Kamilia.
"Tentu, Sayang!"
Rinai belum bangun saat Garganif pergi, lelaki itu hanya mencium anaknya sesaat. Kamilia memandang kepergian Garganif dengan perasaan yang sukar untuk dijelaskan. Dalam lubuk hatinya yang paling dalam ada setitik kecurigaan yang muncul. Entah mengapa rasa itu tiba-tiba saja muncul dan mengganggu perasaannya.
Tak ada orang lain yang membuat kecewa, tapi ekspektasinya terlalu tinggi. Mengapa hati mesti bertarung dengan kecurigaan. Cukuplah menepi, tidak usah berteriak. Jika embun tak cukup sebagai simbol air mata, maka hujan adalah kumpulan emosi jiwa. Tidak ada yang tersisa untuk sebuah kekalahan. Sukacita yang dia bawa, perlahan pudar dan tentunya akan berakhir. Indera Kamilia tumpul dalam mengamati. Memilih diam tanpa mengekspresikan emosi.
"Bergetarkah hatimu, saat aku pura-pura mengerti? Engkau berusaha untuk kupahami tapi aku terlalu bodoh untuk mengerti, sehingga terulang dan terulang lagi kecewa ... setiap saat." Kamilia bergumam sendiri.
Kamilia melihat binar jatuh cinta di mata Garganif. Entah untuk siapa, Kamilia tidak berani menebak-nebak. Pekerjaannya sebagai model menyita banyak perhatian, sehingga dia lalai memperhatikan pendar lain di mata suaminya.
"Semoga itu hanya perasaanku saja. Bukankah Garganif sudah berjanji untuk setia dan aku percaya," bisik hatinya.
Seharian itu Kamilia tidak sedetik pun pikirannya lepas dari suaminya. Kecemasannya membuatnya untuk menelpon. Namun, Garganif ternyata mematikan HP-nya. Tentu saja Kamilia semakin cemas jadinya. Tidak biasanya Garganif mematikan telepon selulernya.
"Apa yang terjadi?" Pikiran Kamilia dipenuhi dengan berbagai persepsi buruk.
**
Berbusana kemeja putih bercelana hitam, serta jas hitam licin menyempurnakan penampilannya. Lelaki itu menjabat tangan seorang ustadz. Dia berikrar untuk menjadi suami seorang perempuan yang tengah tersenyum manis di sampingnya. Wanita itu sudah memakai kebaya berpotongan sederhana, serta berwarna putih pula. Binar bahagia tergambar jelas di manik matanya.
Tidak banyak orang hadir dalam acara tersebut. Hanya beberapa orang saja dan bertindak sebagai saksi. Namun perempuan itu tidak peduli, ia sangat bahagia dengan pernikahannya itu. Kesederhanaan tidak mengurangi perasaan hatinya saat ini. Perempuan cantik itu mengangguk dengan cepat saat ustadz itu bertanya mengenai kebersediaannya menjadi istri lelaki di sampingnya.
__ADS_1
"Sah!"
Suara itu terdengar bersamaan saat lelaki itu mengakhiri ucapan ijab qobulnya. Sebuah perkawinan telah selesai dilaksanakan. Wajah-wajah yang tadinya tegang berubah menjadi riang. Tampak hembusan napas lega dari lelaki yang memakai kemeja putih. Perempuan itu menerima mahar darinya, lalu mencium tangannya.
"Terima kasih, Garganif," desis perempuan itu.
"Kau sekarang menjadi istriku, Paulina," ujar Garganif sambil mencium kening Paulina.
Ternyata Garganif yang telah berjanji setia kepada Kamilia, malah kini bertindak di luar batas. Dirinya dan Paulina rupanya tidak bisa lagi untuk berpisah. Cinta masa lalu begitu kuat sehingga mereka mengabaikan masa kini. Garganif yang sudah beristri tidak menghalangi Paulina untuk tidak bermain api. Perselingkuhan mereka kini sudah naik levelnya, mereka sudah sah menjadi suami istri.
**
"Mengapa dulu aku mesti menikah dengan Rico, jika cinta sejatiku adalah kamu?" bisik Paulina.
Mereka baru saja menunaikan kewajiban sebagai suami-istri. Malam pertama di pernikahan yang sembunyi-sembunyi. Paulina merasa bahagia walau dinikahi secara siri oleh Garganif.
Garganif tidak menjawab, dia hanya mengelus kepala yang bertumpu di tangannya. Paulina mempermainkan bulu-bulu di dada Garganif. Dia sangat suka dengan area itu. Kembali mereka bercumbu menikmati malam pengantin. Berpadu dalam napas tersengal dan beradu peluh bersama.
**
"Mami, aku mau makan!" kata Rinai.
"Oke, Sayang. Ditunggu, ya!" Kamilia segera mengambil piring. Pikirannya masih tidak tenang. Sengaja dia tadi pulang cepat dari pemotretan karena merasa gelisah. Hatinya masih tertuju kepada telepon Garganif yang tidak aktif.
Prang!
"Mami!" Refleks Rinai menjerit begitu mendengar suara itu. Gadis kecil itu berlari menghampiri ibunya.
"Stop! Jangan ke sini!" teriak Kamilia. Si kecil menghentikan langkahnya. Dia menatap ibunya yang sibuk dengan pecahan-pecahan piring.
"Kenapa, Mami?" tanyanya. Keningnya mengkerut lucu, ekspresinya menandakan tanda tanya besar dalam hatinya.
__ADS_1
"Piringnya jatuh," jawab Kamilia gugup. Wanita itu memunguti pecahan beling dengan hati-hati. Hatinya semakin kusut, kegelisahannya memuncak.
Rinai makan dengan diam. Biasanya celotehnya selalu meramaikan meja makan. Entah mengapa, melihat ibunya murung, selera berceritanya juga jadi hilang. Gadis kecil itu memandang sesekali ke arah ibunya. Hatinya ingin bertanya, tetapi tidak berani.
Kamilia hanya menemani Rinai makan malam. Dirinya tidak berselera sama sekali. Sejak pagi hanya segelas susu yang mengisi perutnya. Pikirannya mengembara ke mana-mana. Semua yang dilakukannya tidak ada yang beres. Saat tadi melakukan pemotretan, berkali-kali dirinya kena tegur fotografer.
"Ekspresi, Mila!" seru fotografer.
Kamilia hanya tersenyum tipis. Matanya tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya.
"Ada apa denganmu hari ini, Mila?" tanya sang fotografer.
Kamilia tidak menjawab. Dia sendiri tidak tahu penyebab kegelisahannya yang memuncak. Biasanya juga terkadang Garganif tidak bisa dihubungi tapi tidak selama ini. Murni karena gangguan sinyal biasanya.
"Aku pulang saja," kata Kamilia sambil berkemas.
"Tapi ini belum selesai, masih satu sesi lagi," protes fotografer.
"Besok aku datang lebih awal," tegas Kamilia. Kamilia berlalu meninggalkan sang fotografer yang tidak bisa berbuat apa-apa. Kamilia tidak bisa dicegah untuk pulang.
Kini, dirinya duduk di tepi ranjang setelah membacakan sebuah buku cerita menemani Rinai. Gadis kecil itu tertidur dengan damai. Pertanyaannya tentang raut muka ibunya yang gelisah dibawanya ke alam mimpi.
Pandangan Kamilia kosong menatap raut cantik di hadapannya. Dia menepuk-nepuk lembut agar Rinai semakin terlelap. Pikirannya menerawang ke masa empat tahun silam.
"Asal kamu tidak pernah menghianatiku, aku bersedia mengurus bayi ini!"
"Tentu saja aku tidak akan menghianatimu," tukas Garganif.
"Jika kamu berbuat curang, bawa anak ini!"
Garganif hanya diam sambil memeluk Kamilia. Rasanya baru kemarin laki-laki itu berjanji setia. Mengapa hati Kamilia kini ragu.
__ADS_1