MELACUR KARENA TERPAKSA

MELACUR KARENA TERPAKSA
RENCANA BALAS DENDAM


__ADS_3

Garganif pulang setelah tiga hari menghilang. Kamilia hanya diam tanpa berkata sepatah kata pun. Garganif tampak salah tingkah. Kamilia semakin curiga dengan tingkahnya.


"Aku minta maaf, Sayang," ujarnya.


"Untuk …."


"Emm … tidak memberimu kabar," kata lelaki itu gugup.


"Oh, rupanya kamu menyadarinya, lantas kenapa? Apa yang kamu kerjakan sehingga tidak mau diganggu? Oh, sejak kapan kamu merasa terganggu dengan telepon dari istrimu?" Rentetan pertanyaan seperti peluru dari mulut senapan, memberondong Garganif. Tampak lelaki itu bingung untuk menjawab.


"Jujur lebih baik daripada kamu mencari-cari alasan dengan kebohongan!" kecam Kamilia.


"Mengapa mesti berbohong, aku pergi ke daerah yang tidak ada sinyal … please, aku cape, biarkan aku beristirahat," kata Garganif.


Kamilia membiarkan suaminya berlalu. Dirinya hanya memandang punggung suaminya yang berjalan memasuki kamar. Wanita itu menghela napas panjang. Bau ketidakjujuran tercium, aromanya begitu kuat menusuk hidung Kamilia.


Kamilia sudah merasakannya sejak Garganif pergi tapi dia mencoba untuk tidak memperlihatkannya tanpa bukti. Dia bersiap untuk penyelidikan rahasia kini. Hatinya gemuruh oleh rasa cemburu dan sakit hati. Membakar hatinya hingga hanya menyisakan hitam. Hancur sudah, kepercayaannya terkoyak lagi.


Garganif terlelap dalam mimpinya. Hatinya sukar untuk dijelaskan. Dia bahagia telah menikahi Paulina cinta pertamanya, sementara hatinya juga tidak ingin menyakiti Kamilia.


Kamilia masuk kamar, memandang suaminya yang sedang terlelap. Hatinya merasa semakin jauh dengan lelaki itu. Dia merasa Garganif adalah sosok asing kini. Pandangannya beralih ke koper pakaian. Kamilia beranjak untuk membereskannya. Dikeluarkannya baju-baju suaminya, satu persatu diteliti dan diciumnya. Berkerut keningnya saat dia mencium aroma yang berbeda dari suaminya. Matanya kian terbelalak saat sebuah benda kecil terselip di antara baju-baju kotor itu.


"Milik siapa ini?" tanya hatinya. Segera dia memasukkan benda tersebut ke dalam saku dasternya. Pada saatnya nanti dia akan membuktikan perselingkuhan suaminya. Sungguh Garganif tidak tahu dengan siapa dia berhadapan. Kamilia akan meminta pertolongan kakaknya kalau diperlukan. Kali ini dirinya tak ingin diinjak-injak lagi oleh yang namanya laki-laki.

__ADS_1


**


Paulina tersenyum penuh kemenangan. Sebentar lagi akan dia dengar kabar tentang pertengkaran Garganif dengan Kamilia. Semuanya akan membuat lelaki itu semakin tidak betah berada di rumah. Sebuah keuntungan untuk dirinya. Lelaki yang kini menjadi suaminya itu akan semakin sering berada dalam dekapannya.


Sampai hari menjelang tengah malam, tidak ada kabar apa pun dari Garganif. Hatinya merasa marah karena merasa terabaikan. Dia tidak dapat tidur karena rasa cemburunya kian meraja. Dia nekat mengirimkan pesan kepada Garganif. Namun, handphone lelaki itu tidak aktif.


"Sialan! Pakai dimatiin segala!" umpatnya. Tidak berhenti mulutnya merutuk Garganif. Dia merasa punya hak atas diri laki-laki itu karena sudah menjadi istrinya. Dia ingin sekali mengirim pesan kepada Kamilia, memberi tahu kalau dirinya adalah madunya kini.


Mulut perempuan itu menyeringai, teringat dengan muslihatnya kepada Kamilia. Lipstik yang ditaruh di bawah baju-baju kotor itu akan segera ditemukan Kamilia. Mereka pasti bertengkar hebat. Dirinya hanya tinggal menunggu kedatangan Garganif membawa baju-bajunya. Dirinya akan menjadi pemilik tunggal suaminya.


Kembali perempuan itu melihat jam dinding. Detaknya terdengar jelas di keheningan malam. Paulina memandang bintang dari balik jendela. Semakin benderang seiring malam yang semakin larut. Seterang harapan yang bermekaran di hatinya.


"Mengapa belum ada kabar dari Garganif?" bisiknya. "Apakah kurang cukup bukti perselingkuhan yang aku taro itu? Aku bisa membayangkan wajah Kamilia yang marah dan terluka, Hahaha hahaha." Rupanya iblis sudah mengubah Paulina menjadi hambanya juga. Paulina menjadi iblis betina yang tidak punya perasaan. Dirinya harus bahagia, cuma itu yang ada di otaknya. Dia ingin kembali mengambil Rinai dari pelukan Kamilia. Tidak terpikir olehnya dengan susah payah Kamilia membesarkan Rinai.


**


"Aku tahu kelicikanmu, wanita ******! Siapa pun adanya dirimu, kamu inginkan ada pertengkaran di antara kami," desis Kamilia.


Dia mengerti, lipstik itu ditaruh dengan sengaja, karena ada di antara lipatan baju. Kamilia mengerti, betapa liciknya perempuan lawan main suaminya. Dirinya tidak mau turut dalam permainan perempuan murahan itu.


"Aku mempunyai rencana sendiri yang lebih menyakitkan untukmu, wanita murahan!" batin Kamilia.


Wanita itu merencanakan sesuatu yang akan dipikirkannya matang-matang. Dia harus pura-pura tidak mengetahui apa-apa. Dirinya harus menekan rasa cemburunya kuat-kuat agar tidak kentara. Di hadapan Garganif aktingnya harus benar-benar sempurna.

__ADS_1


"Aku tidak akan memberi kalian ampun!" Jiwa Kamilia yang panas oleh pengkhianatan mereka bersumpah. Rasa sakit yang dideritanya dari sejak dijual bapaknya dulu begitu besar. Menumpuk dan akhirnya menyebabkan dendam kepada siapa saja yang menyakitinya.


**


Paulina memperhatikan lelaki tampan di hadapannya. Hatinya bergetar melihat teduh di manik matanya. Dia ingin berkenalan dengan pemuda tersebut. Hatinya yang tengah kesal kepada Garganif menginginkan sebuah petualangan.


Lelaki itu cuma memandang sekilas kepadanya. Ia tidak peduli kepada Paulina dan itu membuat wanita itu penasaran. Dirinya merasa cukup cantik untuk memikat hati pria itu.


"Apakah aku sudah tidak cantik lagi?" bisik hatinya. Digunakannya layar handphone untuk berkaca. Terlihat bayangan dirinya masih cantik dan menarik. Dandanan yang sempurna menunjang penampilannya. Entah mengapa dia begitu penasaran dengan pemuda itu. Detik itu juga Paulina merasa menyesal menikah dengan Garganif. Lamunannya tentang Garganif yang lebih mencintai dirinya kini lenyap. Kenyataannya Kamilia masih mendominasi hati lelaki itu.


Paulina merasa dendam dalam hatinya. Dia hanya mendapatkan sisa waktu Garganif bersama Kamilia. Tidak ada keadilan untuk dirinya. Setiap saat selalu menahan dongkol dalam hatinya. Sering saat mereka mau pergi, tiba-tiba Garganif membatalkan rencana. Itu sungguh membuat hati Paulina merasa sakit.


"Kau pikir cuma dirimu laki-laki di dunia ini? Hingga semaunya menyakiti perasaanku." Hati Paulina kembali berkata. Tak henti-hentinya dia mengutuk Garganif. Padahal dia sendiri tidak memikirkan perasaan Kamilia. Hati Paulina bertekad untuk membalas perlakuan Garganif kepadanya. Kini, bayangan Rinai menjauh sudah.


Paulina tersenyum manis saat pemuda itu kembali meliriknya. Dia memasang muka seramah mungkin. Berusaha memikat hati pemuda di hadapannya. Berhasil … dia memandang lama ke arah Paulina. Wanita itu memberi isyarat agar laki-laki itu pindah duduk ke sampingnya. Ajaib … lelaki itu menurut, dia beranjak dan mendekati Paulina.


Paulina menjadi salah tingkah. Setelah berasa di dekatnya, laki-laki itu memang benar-benar tampan. Hati Paulina memberontak seketika. Satu sisi ingin setia kepada suaminya satu sisi lagi ingin dekat dengan pria itu. Keinginan yang tadi menggebu-gebu untuk menyakiti Garganif kini diambang keraguan. Wanita itu nampak gugup saat laki-laki itu kian mendekat.


"Hai!"


"Ha hai," jawab Paulina gugup.


Laki-laki itu mengajak Paulina bersalaman. Mendadak jemari wanita itu dingin seperti es. Tak urung diulurkan juga tangannya. Tangan itu begitu hangat saat menggenggam jemarinya. Untuk sesaat Paulina terlena.

__ADS_1


"Bagas." Laki-laki itu menyebutkan namanya.


__ADS_2