MELACUR KARENA TERPAKSA

MELACUR KARENA TERPAKSA
CINTA SAIFUL


__ADS_3

Kamilia mencari-cari sosok itu. Tetap saja tidak menemukannya, malah hari sudah semakin gelap.


"Mami, cari siapa?" tanya Rinai.


"Tidak mencari siapa-siapa," jawab Kamilia.


Kamilia meneruskan perjalanannya, ibunya kaget dengan kedatangan Kamilia. Dia tidak mengenali Rinai. Ibunya hanya tahu kalau Kamilia mempunyai anak, tetapi tidak pernah bertemu.


"Mila, ada apa kamu pulang?" tanya Ayunina –ibunya.


"Tidak ada apa-apa," jawab Kamilia.


Ibunya maklum dengan keadaan putrinya tersebut. Dia mengerti ada sesuatu yang disembunyikan oleh Kamilia. Ayunina melihat putrinya yang diam saja tanpa banyak bicara.


Setelah Rinai tertidur, Ayunina mendekati Kamilia. Pandangan Kamilia yang menerawang sudah menjelaskan bahwa persoalan yang dihadapi Kamilia begitu berat.


"Ada apa?" Ayunina kembali bertanya. "Jangan bilang tidak ada apa-apa," sergah ibunya.


"Garganif …." Kalimat Kamilia menggantung.


"Ada apa dengan suamimu?" tanya Ayunina.


"Sepertinya dia sudah kehilangan rasa cintanya padaku," jelas Kamilia.


Ayunina hanya terdiam, menunggu Kamilia untuk meneruskan ceritanya. Kamilia menghela napas panjang. Terbayang di benaknya penghianatan Garganif. Matanya perih menahan perasaan yang menggumpal di dadanya.


"Ibu adalah sebaik-baik tempat saat hatimu tidak sedang baik-baik saja," kata Ayunina.


Kamilia menangis, rasa sakit luar biasa tengah dirasakannya. Dia tidak habis pikir begitu cepatnya sikap Garganif berubah.


"Dia berselingkuh dengan temannya, Mak," kata Kamilia. Dia terdiam lagi lama, memilih kata-kata yang tepat untuk menjelaskan kepada ibunya.


"Siapa?" tanya ibunya.


"Paulina, temannya sejak SMA, hidupnya dulu memang dihabiskan mereka bertiga." Kamilia menjelaskan sambil menerawang. "Paulina, Garganif dan Rico, suaminya Paulina."


"Suaminya Paulina?" tanya Ayunina.


"Dia sudah meninggal," jelas Paulina.


"Ooh."

__ADS_1


"Sekarang mereka seperti bernostalgia, menghabiskan waktu yang sempat mereka sesali dulu. Garganif lupa ada aku sekarang. Dia benar-benar lupa, padahal Rinai cukuplah menjadi pengingat. Perjuanganku bersama dia tidaklah mudah." Kamilia berkata penuh kesedihan.


"Mungkin mereka hanya bernostalgia, bukan selingkuh." Ayunina memperkirakan.


Kamilia diam, dia pun berharap seperti itu. Namun, sekarang ini Kamilia hanya merasakan sakit di hatinya. Masih terbayang di benaknya, Garganif menggenggam tangan Paulina.


Sering mendapatkan kekecewaan, perasaan Kamilia sangatlah sensitif. Dia tidak bisa melihat sebuah penghianatan. Hatinya mudah sekali hancur. Andai Garganif mengkhianati dirinya. Kamilia dengan sekuat tenaga akan mempertahankan Rinai. Rinai adalah satu-satunya penghibur bagi dirinya.


**


Pagi hari gerimis seperti halnya hati Kamilia. Dia pergi ke tempat di mana dulu sering mengadukan kekecewaan hatinya kepada alam.


Dia pergi setelah menitipkan Rinai kepada ibunya. Duduk menyendiri dalam pelukan mendung. Pohon di mana dia berdiri kini sangat mengenal dirinya. Dia suka dengan aroma tempat asalnya. Mereka tidak pernah mencerca, karena setiap kebahagiaan yang dia cecap tak selamanya perlina.


Semua kepedihan yang dia terima dikubur dalam-dalam. Dia harus kuat, memaknai luka pada sudut hatinya yang sudah lebam. Luka hati seorang Kartika yang kini berganti nama menjadi kamilia. Dia memilih menepi pada sudut kelam.


"Jangan pergi!" Kata-kata yang selalu dibisikkan kepada Kamilia setiap malam. Kalimat itu sekarang sudah tidak sakti lagi. Nyatanya dia pergi meninggalkan bilur-bilur luka yang berdarah lagi.


Kamilia menyeka air matanya yang kini berlomba turun. Dia menangis dalam diam, bahkan langit pun seperti ikut bersedih. Sampai senja Kamilia duduk, meratapi nasib yang tidak pernah berpihak padanya.


"Kartika!"


Kamilia menajamkan pendengarannya. Terasa asing sekali ada yang menyebutkan namanya di tempat sunyi begini. Wanita itu melihat ke arah jalan yang menuju ke tempat dirinya berada kini.


"Kang Saiful." Bibir Kamilia bergetar menyebutkan nama itu.


Lelaki itu tidak bergerak mendekat, dia menjaga jarak dengan Kamilia. Hanya dari tatapannya terlihat binar kerinduan di sana. Kamilia menunduk, rasa malu tiba-tiba memenuhi dadanya.


"Kau datang ke sini, Kartika?" tanya Saiful.


"Iya," jawab Kamilia lirih.


Seperti biasa tidak ada kata-kata yang mampu mereka ucapkan. Mereka hanya saling diam dengan beribu-ribu kata di dalam benak masing-masing.


Dalam hati Saiful ingin sekali mengungkapkan kata-kata yang dulu tak sempat disampaikan kepada Kamilia. Walau dia tahu ini hanyalah sebuah kesia-siaan. Setidaknya Kamilia tahu apa yang ada di hatinya dahulu.


"Aku!" Kamilia dan Saiful berkata berbarengan. Kamilia tersipu-sipu, dia merasa malu pikirannya sama dengan Saiful.


"Silahkan, kamu duluan!" suruh Saiful.


"Tidak, Kang. Bicaralah!" tolak Kamilia.

__ADS_1


**


"Dulu, aku pernah perasaan jatuh bangun agar bisa melupakanmu, Tika," kata Saiful memulai cerita.


Kamilia hanya tersenyum tipis. Sesungguhnya dia sudah tahu, tetapi semuanya kini tiada berguna lagi. Namun, Kamilia tetap mendengarkan.


Saiful duduk di batu besar, kali ini dia akan menceritakan seluruh isi hatinya. Tidak peduli Kamilia sudah punya suami, dia mendengarnya seperti itu. Lelaki itu tidak bermaksud merebut Kamilia dari suaminya. Sekedar hanya ingin Kamilia tahu.


"Aku pernah bersusah payah menyusulmu ke kota," kata Saiful.


Untuk sejenak Kamilia tertegun. Dia tidak menyangka sama sekali kalau Saiful pernah menyusulnya.


"La lalu," kata Kamilia gagap. "Apakah Saiful tahu kalau dirinya pernah menjadi kupu-kupu malam?" batinnya.


"Itu dulu sekali, sebelum kau berubah menjadi seorang model," kata Saiful lagi.


Rasa malu semakin menyentak Kamilia. Benarkah Saiful tahu jejaknya di saat sebelum menjadi model. Kamilia tidak akan mampu menutupi wajahnya, andai itu terjadi.


"Setiap malam aku mencari alamat yang diberikan Harso untuk mencarimu. Harso memberiku alamat setelah dipaksa dengan beberapa lembaran merah. Entah darimana dia tahu tempatmu bekerja. Aku datang pada suatu malam, dengan diam-diam aku melihatmu bekerja. Aku menangis membayangkan perasaanmu. Kucoba untuk menanyakan bagaimana caranya aku bisa membawamu. Ternyata tebusanmu sangat mahal. Maafkan aku, Kartika! Aku tidak bisa menolongmu. Aku mencoba mengumpulkan uang untuk menebus dirimu tapi sekarang kudengar engkau sudah menikah," kata Saiful.


Mendengar penuturan Saiful Kamilia menahan tangisnya. Perih matanya menahan air mata yang mendesak keluar. Tampak Saiful juga memendam kesedihan yang sama. Mukanya merah menahan segala perasaan yang berkecamuk dalam hatinya.


Air mata mengalir juga di pipi Kamilia. Ingin sekali rasanya Saiful mendatanginya, lalu mengusap air mata itu. Hati lelaki itu hancur melihat pujaannya menangis.


**


Sementara itu Garganif dan Paulina yang kebingungan mencari Rinai mencoba bertanya kepada orang sesama pengunjung. Jawabannya hanya gelengan kepala. Dalam keputusasaan mereka duduk di bangku taman. Berpikir ke mana Rinai perginya.


Garganif memandang sekeliling. Dia tertarik dengan benda bulat di atasnya. Kamera CCTV. Ah … dia seperti mendapat sebuah lotere. Bergegas dia pergi ke pusat informasi.


"Arga … mau ke mana?"


"Ayo ikut!" seru Garganif. Paulina setengah berlari menyusul Garganif. Garganif meraih tangan Paulina. Hati Paulina berdebar-debar mendapatkan perlakuan begitu manis dari Garganif. Bunga semakin bermekaran di hatinya.


"Pak, anakku hilang. Bisa melihat rekaman CCTV?" tanya Garganif kepada petugas informasi.


"Bisa, Pak," jawab petugasnya.


Garganif melihat layar yang memonitor taman tempatnya duduk tadi. Tidak ada yang aneh, Rinai masih tampak bermain. Tiba-tiba terlihat seorang wanita berjalan mengendap-endap. Memanggil Rinai, kemudian dengan cepat membawanya pergi.


Garganif menegang, dia tahu siapa wanita tersebut. Tidak pernah terpikirkan olehnya.

__ADS_1


"Kamilia … kau tahu aku di sini?"


__ADS_2