MELACUR KARENA TERPAKSA

MELACUR KARENA TERPAKSA
KEHILANGAN RINAI


__ADS_3

Kamilia memandang ke depan. Menerawang ke arah mobil-mobil yang terjebak kemacetan. Mencoba memikirkan ke mana Garganif bersama Paulina pergi.


"Kalau kau mencoba menghianatiku, kau tidak akan kumaafkan … Wiliam Garganif!" teriak Kamilia.


Gerimis masih turun, ibaratnya alam juga mengerti dengan hati Kamilia. Akhir-akhir ini gerimis sering melanda hatinya. Sejak kedatangan Paulina kembali dalam hidupnya, Kamilia merasa tidak tenang.


Kamilia melihat Garganif berbeda akhir-akhir ini. Selalu saja ada alasan untuk membawa Rinai jalan-jalan. Hanya mereka berdua tanpa Kamilia. Tadi lelaki itu sudah berani menjemput Rinai tanpa konfirmasi kepadanya.


"Ada apa dengan mereka," tanya hati Kamilia.


Kamilia tidak tahu harus pergi ke mana kini. Dia yakin kalau Garganif tidak akan pulang. Pasti ada suatu tempat yang dituju mereka bertiga.


"Tunggu, aku tahu tempat tersembunyi di taman ini!" Kata-kata itu terngiang kembali di telinga Kamilia. Kata-kata Garganif dulu.


"Aku akan coba mencari mereka ke sana, siapa tahu mereka ada di sana."


Kamilia membelokkan arah ke taman yang dulu pernah mereka kunjungi bersama. Mungkin Garganif berada di sana. Membawa serta Rinai yang datang dari masa lalu mereka. Bukan tak mungkin, Garganif dan Paulina menggali kembali kenangan yang dulu pernah singgah.


Gundah hati Kamilia memikirkan itu. Wanita itu melihat Paulina adalah tipikal wanita yang tidak punya tenggang rasa. Asal dirinya suka orang lain terluka dia tidak peduli.


Kamilia berjalan menyusuri jalan kecil di dalam taman. Sepi, karena memang ini bukan hari libur. Dia mengingat-ingat jalan mana dulu yang menuju tempat tersembunyi itu. Kamilia berjalan pelan-pelan sambil melihat kiri-kanan.


Dari kejauhan tampak olehnya laki-laki dan perempuan beserta seorang anak perempuan. Kamilia mengenalinya dari pakaian yang laki-laki itu kenakan. Dia … Garganif beserta Rinai.


Gadis kecil itu tampak tidak peduli dengan kedua orang tersebut. Dia asyik dengan bunga-bunga dan kupu-kupu. Kamilia melihat Garganif duduk berdekatan dengan Paulina. Tangan Garganif menggenggam tangan Paulina. Betapa perihnya hati Kamilia. Dengan mengendap-endap Kamilia menghampiri Rinai yang agak jauh dari mereka.


"Ssst … Rinai," panggil Kamilia pelan-pelan. Rupanya Rinai mendengar desisan Kamilia. Rinai menoleh dan mendapati ibunya menempelkan telunjuk ke bibir.


Rinai terdiam, dia berjingkat menghampiri ibunya. Kamilia dengan cepat membawa Rinai pergi dari tempat itu.


**


Garganif menggenggam tangan Paulina. Seketika dirinya seperti terlempar ke masa-masa mereka duduk bersama dahulu. Dulu, ada Rico juga, tetapi kini hanya mereka berdua.


Genggaman tangan Garganif dirasakan hangat oleh Paulina. Mereka meresapi kebersamaan, walau ada hati yang terluka melihat sikap mereka.

__ADS_1


"Aku menyesal, Arga," kata Paulina.


"Menyesal untuk apa?" tanya Garganif.


"Menyia-nyiakan kebersamaan yang dulu pernah kita lalui," jawab Paulina.


"Semuanya sudah terjadi, mengapa harus disesali." Garganif berkata sambil meraih kepala Paulina. Gadis itu merebahkan kepalanya di dada lelaki tersebut.


Mereka tidak sadar, sepasang mata menyaksikan adegan itu. Sepasang mata yang kemudian basah dengan merebaknya air mata. Sepasang mata yang terluka menatap nanar perbuatan mereka.


Paulina dan Garganif lupa dengan sekeliling. Mereka lupa terhadap Rinai karena sibuk dengan kata hati yang mengubah segalanya menjadi indah kini. Garganif sudah menemukan kembali cinta pertamanya. Namun, dia lupa statusnya kini sudah berubah.


"Dulu aku menyimpan rasa ini karena tidak ingin menyakiti Rico," kata Garganif. "Dan kulihat kamu pun sangat mencintai Rico. Makanya aku heran, angin apa membawa cintamu pergi, hingga memilih pulang dan pergi dari Rico?" sambungnya lagi bertanya.


"Jiwa mudaku masih ingin bermanja, Arga," jawab Paulina. "Cinta yang begitu besar sudah membabi-buta dan ketika kenyataan begitu sulitnya hidup, aku jenuh. Aku gak tahan hidup sengsara, Arga." Paulina berkata sambil menerawang.


"Ya, kita semua memang belum dewasa waktu itu. Kehamilan dirimu yang kemudian menyulitkan kita bersama," kata Garganif pula. "Rinai … dimana dia!?" Garganif berseru sambil bangkit dari bangku taman. Dia baru teringat dengan anaknya itu.


Paulina juga terkejut mendapati Rinai sudah tidak berada didekatnya lagi. Gadis itu sibuk mencari ke sana-sini.


Mereka berdua panik, melihat Rinai lenyap. Rasa bersalah merayapi hati keduanya. Terbawa perasaan sehingga abai kepada buah hati sendiri.


"Tadi di sini dia bermain dengan kupu-kupu," ujar Paulina. Matanya mulai panas oleh air mata yang mulai mendesak ingin keluar.


"Sekarang tidak ada, apa dia mengikuti terbang kupu-kupu, tapi ke arah mana?" tanya Garganif.


Dengan rasa panik yang luar biasa, mereka bertanya ke sana kemari. Dengan air matanya berurai Paulina kembali duduk di bangku taman. Garganif duduk menunduk sambil meremas rambutnya. Dia tidak sanggup membayangkan kemarahan Kamilia kalau Rinai tidak ditemukan.


"Bagaimana aku harus memberitahu Kamilia," batinnya.


Garganif menyesal terbujuk rayuan Paulina untuk menjemput Rinai. Tidak pernah terbayangkan Rinai hilang seperti ini. Paulina sudah terisak-isak di sisinya. Garganif meraih kepala gadis tersebut. Membelainya sebentar, menghiburnya walau hatinya begitu kacau.


"Sudah, nanti kita cari," hibur Garganif.


**

__ADS_1


Kamilia membawa Rinai pergi ke luar kota. Wanita itu bermaksud untuk mengunjungi ibunya. Membawa pergi hatinya yang terluka karena Garganif dan Paulina.


"Mami, kita mau ke mana?" tanya Rinai. Rupanya gadis kecil itu menyadari ibunya tidak sedang menuju ke rumahnya.


"Kita ke rumah nenek," jawab Kamilia.


"Nenek … nenek yang mana?" tanya Rinai. Dia tidak tahu kalau punya nenek, yang dia tahu hanya ada kakek.


"Aku kan hanya punya kakek, Mami? Kakek Freza dan sekarang ada Kakek Wisnu," celoteh Rinai.


"Tidak ada Kakek Wisnu!" sergah Kamilia.


"Mengapa, Mami?" tanya Rinai mulai cerewet.


"Sudah deh! Jangan bertanya terus!" Kamilia berkata agak keras.


Rinai menunduk mendengar ibunya berkata keras. Kamilia menyadari itu, cepat-cepat dia meminta maaf kepada anaknya itu.


"Mami minta maaf, ya Sayang," kata Kamilia.


Hatinya semakin sedih melihat anaknya murung. Kamilia mengusap-usap rambut gadis kecilnya. Entah apa yang akan terjadi bila Rinai terenggut dari hidupnya. Membayangkan itu Kamilia tidak sanggup.


Menjelang magrib Kamilia tiba di kampungnya. Dia melihat sosok yang dulu selalu mengganggu tidurnya. Entah mengapa lelaki itu sampai kini tidak menikah. Seperti ada yang ditunggunya.


Ibarat kopi yang tetap tenang dalam cawannya. Mukanya tidak pernah gelisah, justru membuat tenang semua yang mengenalnya. Untuk sesaat Kamilia tertegun menatap lelaki itu. Seperti ada kontak batin, ia menoleh ke arah mobil Kamilia. Mereka berpandangan. Kamilia menunduk tidak berani menentang mata teduh itu.


"Kartika." Dari gerakan bibir lelaki itu Kamilia tahu kalau ia mengeja namanya.


Kamilia menjadi teringat kembali dahulu. Saat petang bagini, dia beserta teman-temannya berangkat ke masjid satu-satunya. Si mata teduh itu selalu setia menunggu dengan senyum kecil di bibirnya. Kamilia akan tertunduk begitu mata mereka bertatapan.


"Mami, mengapa berhenti?" tanya Rinai. Mengagetkan Kamilia dari lamunannya tentang dia.


"Dia siapa, Mami?" tanya Rinai lagi. Kamilia melihat ke arah telunjuk Rinai. Tidak ada siapa pun.


"Ke mana perginya, cepat sekali dia menghilang," pikir Kamilia. Wanita itu mengedarkan pandangannya ke segala penjuru … tetap ia tidak tampak. Menghilang begitu saja tanpa sempat menegurnya.

__ADS_1


__ADS_2