
Kamilia mencoba menahan air mata agar tidak jatuh lagi. Cerita Saiful membuat dirinya begitu terguncang. Aib yang seharusnya dia jaga kini sudah tak ada gunanya lagi ditutupi. Semua tentang dirinya Saiful tahu.
"Kau … kau melihatku, Kang?" tanya Kamilia lirih.
"Ya," jawab Saiful.
Oh, Tuhan. Kamilia menutup wajahnya yang merah padam. Rasa malunya membuatnya kini seperti telanjang di hadapan Saiful. Semua yang dia tutup rapat kini terbuka. Apa jadinya kalau orang desa tahu. Di balik pesonanya sebagai seorang model, tersimpan kebusukan masa lalu.
Kamilia memandang Saiful dengan pandangan yang sukar dilukiskan. Seumpama pengemis, meminta belas kasih lelaki itu. Seperti seorang pesakitan yang berharap pengampunan.
"Aku tidak pernah menceritakannya kepada orang lain, Tika," kata Saiful. Lelaki itu mengerti dengan tatapan Kamilia yang mengharapkan pengertian. "Aku tahu engkau hanyalah korban dari bapakmu."
"Dia bukan bapakku," ujar Kamilia cepat. Sesaat kemudian dia menutup mulutnya, ingin sekali dia menampar mulutnya yang keceplosan bicara.
Saiful memandangnya dengan tatapan penuh tanda tanya. Dia berharap penjelasan dari kata-kata Kamilia barusan. Kamilia tidak segera menjawab. Dia mempertimbangkan baik buruknya untuk berterus-terang.
"Aku anak orang lain." Akhirnya Kamilia bicara. Namun, dia enggan untuk merinci kehidupan ibunya dahulu. Ini adalah rahasia ibunya yang harus dijaga.
Saiful maklum, dia tidak banyak bertanya lagi. Selentingan dia dulu pernah mendengar kicauan orang-orang kampung terhadap keluarga Kamilia.
**
"Kejam sekali Ibrahim itu sama anaknya." Begitu Saiful mendengar pembicaraan tetangganya waktu dia masih remaja dahulu.
"Dia bukan anaknya, kok. Wajar dia galak, ibunya gak mau terus terang, siapa bapaknya?"
"Nikah empat bulan sudah melahirkan, anak dari mana itu? Untung aja Ibrahim tidak menceraikannya. Mungkin dia tadinya wanita gak bener."
Saiful yang waktu itu masih remaja tanggung, mendengarkan ocehan tetangganya. Dia belum sepenuhnya mengerti apa yang mereka bicarakan.
Kini, setelah dia dewasa barulah paham apa yang mereka bicarakan. Dulu, dia hanya mengerti anak Pak Ibrahim –Kartika punya senyum yang teramat manis.
**
"Aku tidak bisa menceritakan tentang ibuku," ujar Kamilia.
"I iya, Tika, aku maklum," ujar Saiful tergagap. Dia malu dengan Kamilia karena ketahuan tengah melamun.
Mereka berdua terdiam, hanyut dalam pikiran masing-masing. Kamilia dengan jalan takdir yang begitu menguras air mata. Sementara Saiful menjalani kehidupan dengan hati yang patah. Ibarat burung, tak mampu dia terbang karena sayapnya terluka.
__ADS_1
Cinta di antara mereka memang ada dan tulus. Namun, nasib tidak membiarkan mereka berjodoh. Saiful tetap dalam penantian, sedangkan Kamilia sedang merajut tali kasih dengan yang lain.
Sebenarnya hati mereka lelah untuk bertahan dengan keadaan ini. Bagi mereka dunia ini sangat keras, sehingga dibutuhkan energi yang tidak sedikit untuk menerima kenyataan.
"Hari sudah sore, aku pulang," kata Kamilia memecah keheningan.
Tanpa menunggu jawaban Saiful, Kamilia berlalu. Lelaki itu menghirup wangi tubuh Kamilia yang lewat di sampingnya. Hatinya seketika berdebar. Cepat dia tepiskan perasaan itu.
""Ya, Tika." Saiful berkata hampir tak terdengar.
**
Saat Garganif pulang, dia tidak mendapati Kamilia dan Rinai di rumah. Garganif tidak tahu harus mencari ke mana. Setelah dipikir-pikir dia akhirnya menemui Bagas.
Bagas sangat marah dengan pengakuan Garganif. Hampir saja dia memukul wajah suami Kamilia itu. Kalau tidak dihalangi oleh Freza.
"Ada apa ini?" tanya Freza.
"Dia sudah menyakiti Kamilia," ujar Bagas. Matanya menyala karena marah, ingin rasanya dia menonjok muka di depannya itu.
Garganif menceritakan kesalahpahaman Kamilia terhadapnya. Bagas yang menangkap ada bau perselingkuhan di antara mereka, geram mendengar penuturan Garganif.
"A aku –"
"Sudahlah," potong Freza. "Maumu apa sekarang?"
"Aku hanya inginkan Kamilia kembali, ke mana aku harus mencarinya?" tanya Garganif.
"Suami tidak berguna!" kecam Bagas. "Ayo ikut aku!" suruh Bagas lagi.
Bagas menduga-duga kalau Kamilia pergi ke rumah ibunya. Dia akan menyusulnya ke sana. Urusan adiknya mau menerima Garganif atau tidak, itu urusan belakangan.
"Berani kau menyakiti adikku, nyawa kamu taruhannya!" ancam Bagas.
Garganif tidak menjawab. Dia merasa bersalah, kehadiran Paulina diakuinya sudah membuat hatinya bergetar kembali. Walau ini salah, Garganif tidak bisa mengelak.
Lelaki itu tidak mau kehilangan Kamilia tapi dia juga ingin memelihara getaran ini. Garganif tidak berdaya melawan cinta pertamanya yang kini hadir lagi.
Bagas melajukan mobilnya dengan hati tidak tenang. Bagaimana kalau Kamilia tidak ada di rumah ibunya. Mau ke mana lagi mencarinya. Bagas melirik geram kepada lelaki di sampingnya. Lelaki itu yakin hati Garganif sudah mendua.
__ADS_1
Dua orang yang sama-sama mencintai Kamilia tidak sengaja saling pandang. Pandangan Bagas menghujam tajam menembus mata Garganif. Garganif tampak gugup, saat itu pula Bagas sudah bisa menebak hati laki-laki itu.
Terdiam dalam kekakuan sikap masing-masing, membuat Garganif mencari cara mengusir bosan. Bagas juga menyetel musik dengan kencang. Hatinya jengkel kepada Garganif.
Menjelang sore mereka sampai. Rinai menyambut Garganif dengan pelukan erat. Garganif mencium anaknya itu. Sementara Kamilia berdiri di ambang pintu memandang mereka yang baru datang.
**
"Kita pulang, Mila," bujuk Garganif.
Kamilia diam saja, di matanya masih terbayang suaminya itu menggenggam tangan wanita itu. Muak sekali Kamilia teringat itu semua.
Bagas sengaja membawa Rinai bermain. Dia memberi kesempatan untuk mereka berbicara, tanpa gangguan. Namun, hati Kamilia sudah membatu. Susah payah Garganif berusaha meyakinkan bahwa dirinya tidak akan mengulangi perbuatannya.
"Aku dan Paulina hanya berteman, kita pulang," ajak Garganif sekali lagi.
"Sikapmu sangat menyakitkan," cetus Kamilia.
"Beri aku kesempatan lagi, Paulina hanya terkenang kepada Rico," jelas Garganif.
"Terkenang Rico, kamu yang jadi pelampiasan, begitukah?" tanya Kamilia sinis.
"Aku tidak mau berdebat, Sayang. Kita hanya harus pulang, itu saja," jawab Garganif diplomatis.
"Sekali lagi kau berbuat seperti itu, aku tidak akan memaafkanmu. Itu artinya sampah sudah menemukan tempatnya." Kamilia memberi ultimatum terakhir kepada suaminya.
"Iya, Sayang. Aku tidak bisa hidup tanpa kalian. Kamu dan Rinai adalah harapan, kita menua bersama," kata Garganif. Lelaki itu menghampiri Kamilia. Memeluknya hangat lalu mengecup keningnya.
Sementara Kamilia berbenah untuk kepulangan kembali ke Jakarta, Garganif pergi melihat sekeliling. Dia melewati sebuah rumah sederhana. Ada seorang laki-laki tampan sedang duduk di terasnya.
Garganif tiba-tiba merasa pandangan orang itu begitu menusuk. Sekilas nampak matanya berkilat marah, padahal Garganif tidak mengenal orang itu. Garganif mengedikkan bahu dan berlalu.
"Siapa dia? Mengapa pandangannya seperti marah?" batin Garganif.
Lelaki itu tidak jadi menelusuri kampung. Tiba-tiba moodnya hancur karena lelaki tadi. Perasaan khawatir menyergapnya, walau dia tidak mengenal orang itu.
Ayunina melihat Kamilia dengan perasaan kehilangan. Tidak mungkin baginya untuk selalu berada di samping putrinya. Ibrahim kini sakit-sakitan. Lelaki tua itu sudah mulai menuai karmanya. Minuman keras menggerogoti ketahanan tubuhnya. Dirinya hanya mampu terbaring lemah. Ingin sekali Kamilia membiarkannya. Hidup atau mati dirinya tidak peduli.
"Luka yang kau tanamkan, kini sudah berbuah busuk. Hatiku terlalu benci untuk sekedar mengasihanimu," rutuk Kamilia dalam hati.
__ADS_1