MELACUR KARENA TERPAKSA

MELACUR KARENA TERPAKSA
RINAI NAMANYA


__ADS_3

Garganif tidak segera menjawab. Dia teringat saat Rico berjuang untuk mendapatkan restu dari orang tua Paulina. Dia melihat bagaimana mereka berdua mempertahankan cintanya.


"Mereka lari dari orang tua," jawab Garganif.


Kamilia membiarkan Garganif terdiam. Menelusuri lembar demi lembar kenangannya dahulu. Garganif bercerita tentang Rico dan Paulina. Lelaki itu memaksa Kamilia untuk menyandarkan kepalanya di dadanya. Kamilia menurut. Mungkin hidup memang harus seperti taman bunga. Beraneka-ragam mewarnai di dalamnya. Ada kalanya berwarna putih, ungu ataupun biru. Ada kalanya pula sehitam jelaga.


**


Rico, Paulina dan Garganif. Perkariban mereka sudah dimulai sejak berseragam putih-abu. Sampai masing-masing mempunyai gelar akademik. Hingga akhirnya mereka harus dipaksa menepi dari hingar-bingar darah muda, karena satu kesalahan.


"Arga, aku hamil," kata Paulina di suatu senja. Garganif yang mendapat panggilan kesayangan Arga dari dua karibnya itu sontak kaget.


"Ceroboh!" umpat Garganif.


Paulina menunduk. Dia yang tidak mendapat restu dari orang tua merasa lelah untuk terus membujuk. Orang tuanya tetap tidak merestui. Dia memilih jalan pintas, hamil duluan agar Rico bisa menikahinya.


Mereka salah ternyata. Orang tua Paulina malah mengusir putrinya. Mereka tidak menerima siapa pun, kecuali putrinya sendiri –Paulina. Terdengar kejam, tapi seperti itulah. Lelaki seperti Rico tidak punya pilihan. Akhirnya mereka menikah tanpa restu orang tua Paulina.


Kamilia beringsut membetulkan duduknya. Garganif masih tetap mendekapnya. Malam sudah mulai larut, embun sudah membasahi jendela kamar. Mengaburkan pemandangan di luar yang tertutup gulita. Garganif kembali bercerita.


Hidup mungkin keras bagi sebagian orang. Namun, ada lagi yang merasakan hidup sangat keras. Seberapa besar mereka menahan kesakitan agar bisa menang. Tidak peduli lelah teramat sangat. Kemampuan mengendalikan rasa sakit inilah yang dituntut.


Paulina tidak lagi memiliki keceriaan. Tidak ada lagi tawa dan canda berderai. Rico merasa bersalah. Memaknai semuanya sebagai sebuah luka. Mereka seperti orang asing. Dua hati yang pernah berjanji, goyah diterpa kenyataan hidup. Paulina menjalani kehamilannya dengan kesedihan yang tersamar.


**


Rasa sesal merayapi hati Paulina. Dia ingin kembali, tetapi keluarganya tidak mau menerimanya kembali. Keluarganya hanya mau Paulina kembali seorang diri. Tanpa suami tanpa anak.


"Arga, aku harus bagaimana?" tanya Paulina kepada Garganif.


"Entahlah, Rico bagaimana?"


"Aku belum bilang kalau aku ingin kembali," kata Paulina lagi.


"Seharusnya kamu bilang dia, dia adalah ayah dari anak yang kamu kandung," saran Garganif.

__ADS_1


"Aku takut dia tidak mau menerima, dia sangat mencintaiku," kata Paulina lagi.


Garganif membayangkan Rico akan kecewa karena pengorbanannya sudah disia-siakan Paulina. Paulina yang sudah merasakan kemewahan sejak bayi tidak biasa hidup sederhana. Cinta telah membutakannya dan dia menyesal. Ternyata cinta yang dia agungkan tidak seindah kenyataan.


"Aku mau memberikan bayi ini."


Pernyataan Paulina membuat Garganif kaget. Begitu parah kekecewaan Paulina tentang hidup sampai mau nekat seperti itu. Garganif tidak bisa berkata apa-apa lagi. Pikiran laki-laki itu ikut kacau. Garganif merasa kasihan kepada Rico –sahabatnya.


"Aku mesti bilang gimana sama Rico?" tanya Garganif.


Paulina diam, dia tidak pernah membayangkan hidup ini begitu sulit untuk memilih. Dia tidak tahan menderita, dia juga takut kalau terus-terusan melawan orang tua. Usia mudanya masih ingin bermanja. Namun, kenyataan memaksa dirinya untuk memilih salah satu.


**


Rico datang ke tempat Garganif. Dia mengadukan hal yang sesungguhnya sudah diketahuinya. Wajah Rico kusut, untuk pertama kalinya Garganif melihat air mata luruh di wajah tirus itu.


"Aku harus bagaimana?" tanya Rico.


Garganif menggelengkan kepalanya. Dia bingung harus bagaimana. Walau Paulina sudah memberitahukan sebelumnya. Tidak ada solusi sama sekali di otaknya.


Rico merasa kalah dalam menaklukkan hidup. Tidak ada yang bisa dilakukannya untuk menahan Paulina agar tetap di sisinya. Garganif apalagi, lelaki itu tidak mampu berkata apa pun.


Dalam kekalutannya Rico pulang mengendarai sepeda motor. Pikirannya yang tidak menentu menjadikan dirinya tidak konsentrasi berkendara. Saat melewati sebuah tikungan tajam, dia terlalu lebar mengambil arah kanan. Tiba-tiba dari depan datang sebuah truk.


Braaak!


Tabrakan tidak dapat dihindarkan lagi. Garganif yang belum beranjak dari teras kaget mendengar bunyi tersebut. Tikungan itu tidak jauh dari rumahnya. Lelaki itu berlari ke arah suara. Sudah ramai orang berkerumun di sana. Garganif histeris melihat helm yang dia kenal tergeletak di pinggir jalan.


"Rico … Rico!" Garganif menerobos kumpulan orang-orang yang mengelilingi korban. Dia melihat Rico terbujur berlumuran darah. Kepalanya terbentur dengan sangat keras. Darah mengucur tiada henti.


"Rico … Rico, jangan pergi Rico! Bukankah kita akan selalu bersama! Rico … bangun!" teriak Garganif histeris.


Namun Rico tetap pergi karena perdarahan yang begitu hebat di kepalanya. Paulina shock mendapati kenyataan itu. Bukan perpisahan seperti itu yang dia inginkan. Terlambat, semua penyesalan itu tidak membuat Rico kembali.


Paulina menangis saat pemakaman Rico. Bayinya kontraksi kemudian dibawa ke rumah sakit. Garganif setia menemani. Untung saja Paulina tidak sampai melahirkan, kalau sampai melahirkan bayinya lahir prematur. Akan semakin sulit mengurusnya.

__ADS_1


Garganif merasa kepalanya seperti pecah memikirkannya. Malam itu Garganif pergi ke rumah bordil Tante Melly untuk mencari hiburan. Menenangkan diri sejenak dari kekacauan pikiran karena Paulina.


Pertemuannya dengan Kamilia membawa pencerahan dalam hidupnya. Dia jatuh cinta kepada wanita itu. Sempat patah hati karena ditolak. Namun, Garganif berusaha meyakinkan Kamilia. Lelaki itu memang sungguh-sungguh mencintai Kamilia.


**


"Lalu … selanjutnya bagaimana?" Kamilia bertanya.


"Aku tidak tahu," jawab Garganif.


"Bayinya namanya siapa?" tanya Kamilia lagi.


"Ada ide, Sayang?" Garganif balik bertanya. Lelaki itu mengecup kening istrinya. Kamilia melenguh manja.


Mereka akhirnya terhanyut dalam ciuman yang panjang. Kamilia membiarkan suaminya memanjakan dirinya. Namun, dia mengalihkan perhatian Garganif ketika suaminya itu mulai nakal.


"Aku suka nama Rinai, eh dia perempuan, kan?" tanya Kamilia.


"Ya, dia sangat cantik seperti dirimu," jawab Garganif.


"Aneh … kenapa diriku, seperti ibunya lah, Paulina kan cantik."


"Iya … Sayang. Mau gak kau menjadi ibunya?" tanya Garganif.


"Apa? Mengapa aku?" Kamilia terperanjat. Wanita itu sampai berdiri.


"Awas kena pecahan kaca!" seru Garganif.


Lelaki itu menarik Kamilia ke pelukannya. Badan Garganif terdorong dan jatuh dengan badan Kamilia di atasnya. Garganif tertawa, Kamilia memukul dada suaminya. Dia malu, Garganif terus tertawa. Kamilia cemberut, lelaki itu terdiam melihat Kamilia merajuk. Dia meraih kepala istrinya. Menciumnya lembut lalu membawanya ke dalam dekapan hangatnya. Untuk sesaat Kamilia terbuai, tapi kemudian dia berontak manja. Garganif tetap memeluknya. Malah semakin erat sambil membisikkan kata-kata cinta di telinganya.


"Sayang, biarkan Rinai menjadi bagian dari hidup kita," bisik Garganif.


Kamilia mengangguk, wanita itu setuju dengan rencana suaminya. Kamilia juga sudah jatuh cinta dengan bayi mungil itu. Walau dirinya sempat membencinya.


Dering telepon mengagetkan mereka berdua. Nama Paulina tertera di layar handphone Garganif. Lelaki itu menerimanya, Kamilia melihatnya.

__ADS_1


"Arga … bayiku … bayiku!" Paulina menangis histeris di ujung telepon.


__ADS_2