MELACUR KARENA TERPAKSA

MELACUR KARENA TERPAKSA
MEMELIHARA DENDAM


__ADS_3

Sejenak Tante Melly menggeser duduknya untuk menghilangkan grogi di hatinya. Bimbang antara harus jujur atau berbohong. Bagas sudah tak sabar menunggu penjelasan dari mulut Tante Melly.


"Maaf Bagas, dengan sangat menyesal aku tidak tahu tentang Kamilia," ujar Tante Melly. Lega rasanya sudah menjawab seperti itu.


Bagas tidak percaya begitu saja. Dia menatap mata Tante Melly, mencari kejujuran di sana. Tante Melly tersenyum menyembunyikan gundah hatinya. Sebenarnya dia merasa khawatir dengan kondisi Kamilia.


Setelah tidak berhasil mengorek keterangan dari Tante Melly, Bagas pergi dengan hati kacau. Ke mana lagi harus mencari informasi. Bagas memukul stir mobil karena kesal.


Freza sangat marah saat tahu Bagas gagal mencari informasi. Lelaki itu memaki-maki Bagas sebagai seseorang yang tidak berguna.


"Disuruh begitu saja gak becus, bisamu apa!?" Tuan Freza sangat marah sekaligus khawatir dengan Kamilia yang tidak ada kabar. "Ponselnya juga mati, entah apa yang terjadi dengan Kamilia," pikirnya.


Bagas hanya tertunduk. Dia memikirkan kepada siapa lagi harus bertanya. Lelaki itu berdiri dari hadapan Tuan Freza. Tuan Freza memandang Bagas sekilas. Kemudian mengetik sesuatu di ponselnya dan berlalu meninggalkan Bagas.


Bagas sampai ke tempat tujuan, dia berbasa-basi sebentar dengan petugas lapas. Kini, Hendra sudah duduk di depannya. Mukanya kucel serta membiru di beberapa bagian. Bagas mulai menginterogasi Hendra.


"Kamu tahu, kalau Kamilia menghilang?" tanya Bagas tanpa basa-basi.


Bagas melihat keterkejutan Hendra sesaat. Hendra nampak berusaha untuk menutupinya. Bagas mencatatnya dalam hati. Lelaki itu melihat setiap detil gerakan Hendra. Kali ini dia harus mendapatkan informasi tentang keberadaan Kamilia. Bagas takut terlambat sehingga hal buruk sudah menimpa Kamilia.


"Kau tahu, sudah berapa lama aku masuk penjara?" tanya Hendra.


"Kau jangan malah bertanya, aku yakin kalian punya rahasia?" Bagas balik bertanya.


"Rahasia apa? Aku tidak punya rahasia apa-apa." Hendra berkata lagi, tampak keresahan di mimik wajahnya.


"Katakan! Atau kau membusuk di penjara!" ancam Bagas.


Hendra bimbang dalam hatinya. Dia takut dengan Tuan Freza. Bisa saja dengan uang, Tuan Freza menambah hukumannya di penjara.


"Aku tidak tahu!" Hendra bersikukuh menjawab tidak tahu. Bagas memandangnya dengan tajam. Hendra seketika ciut nyalinya.

__ADS_1


"Katakan!" paksa Bagas.


Teng teng teng!


Waktu berkunjung habis. Hendra segera berdiri untuk kembali ke selnya. Bagas tidak mendapatkan keterangan yang berarti.


"Tanyakan kepada Tante Melly!" teriak Hendra sesaat sebelum menghilang di balik pintu.


"Apa? Tante Melly?" batin Bagas."Bukankah Tante Melly mengaku tidak tahu apa-apa?"


Bagas bergegas menuju tempat Tante Melly. Dia harus bertanggung-jawab dengan raibnya Kamilia. Tidak ada alasan bagi wanita itu untuk mengelak lagi. Kali ini Bagas akan memaksanya untuk bicara.


*


Kamilia merasa badannya panas. Setelah semalaman Tuan Arya kembali menyiksa dirinya. Lelaki itu mendadak berubah menjadi seganas serigala bila sudah berdekatan dengan Kamilia. Kamilia sudah tertutup akses untuk bisa keluar dari rumah ini. Hari-harinya seperti di neraka. Perjanjian yang ditandatangani sebelumnya tidak berguna sama sekali.


Malam-malam penuh erangan kesakitan menjadi akrab dengannya kini. Kamilia meratapi kebodohan dirinya untuk tidak berterus-terang kepada Tuan Freza. Wanita ini segan karena dalam hatinya merasa canggung untuk mengakuinya sebagai bapak. Dirinya merasa tidak berhak.


"Semua pasti berlalu, aku yakin itu!" bisiknya menghibur dirinya sendiri. Teringat dengan tatapan adiknya. Terbayang dengan ibunya, Kamilia harus bertahan. Dia hanya yakin, di penghujung rasa sakit ini akan ada keindahan dalam hidupnya. "Mak, aku sudi menanggung segala rasa sakit ini, asal nanti kita bersama hidup tenang," kata Kamilia lirih. Perlahan-lahan air matanya kembali mengalir untuk sebuah harapan yang sudah meranggas. Ibarat pucuk sudah dipatahkan. Masih berharap tunas baru muncul dengan berlipat-lipat.


Begitulah perempuan, dia akan selalu ingat kekejaman yang didapatkan. Akan terkenang-kenang sepanjang hidup. Itu sebabnya Kamilia selalu memelihara dendam dalam hatinya. Tiba saatnya nanti dirinya akan berlaku kejam juga.


Tanpa sadar kepalan tangannya meninju kasur. Tuan Arya rupanya terbangun, Kamilia pura-pura tidur dan mendengkur halus. Wanita itu mengintip dari celah bulu matanya yang lentik. Tuan Arya memandang dirinya, hati Kamilia sudah dag dig dug. Takut hasrat lelaki itu bangkit kembali. Rupanya Tuan Arya hanya memandang kasihan kepada dirinya. Perikemanusiaannya sudah kembali ke tempatnya semula. Tuan Arya mencium dahi Kamilia serta mengusap bekas air mata di pipi wanita itu.


"Maafkan aku, Mila. Diriku memang sakit." bisik Tuan Arya. Sakit yang dimaksud lelaki itu adalah menderita kelainan seksual.


*


"Katakan!" teriak Bagas.


Akhirnya Bagas bertemu juga dengan Tante Melly. Setelah berhari-hari lelaki itu mencari. Tante Melly takut setiap hari ada yang mencari. Rupanya anak buahnya Tuan Freza juga sudah bergerak mencarinya. Mata-mata Tuan Freza sudah mencurigai Tante Melly.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Tante Melly.


"Tidak usah berpura-pura, Kamilia di mana?"


"Berapa kali aku harus menjawab, aku tidak ada hubungannya dengan Kamilia!"


"Jawab atau ikut denganku!" tawar Bagas tegas.


Tante Melly terdiam. Saat matanya melirik ke samping, ternyata sudah banyak orang-orang tinggi besar. Mereka berdiri diam sambil memandang ke arahnya. Bulu kuduk Tante Melly berdiri, ngeri dengan kesangaran mereka.


"Ini!" Tante Melly mengangsurkan sebuah kartu nama.


"Arya Kusuma." Bagas membaca tulisan di kertas tersebut. "Siapa dia?" tanya Bagas.


Lama Tante Melly terdiam. Mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan masalah yang menjerat Kamilia. Dia menerawang sebentar ke langit-langit. Bagas tampak tak sabar menunggu.


"Kamilia ada urusan piutang dengannya," sahut Tante Melly dengan ragu-ragu.


"Bekas apa!?" Bagas berseru kaget. Bagas sudah lama mengenal Kamilia. Selama ini tidak ada utang-piutang yang menjerat wanita itu. Mengapa tiba-tiba dia bermasalah dengan utang.


"Aku tidak tahu, maaf hanya itu yang bisa kuberitahu," jawab Tante Melly.


Bagas akhirnya pergi bersama dengan bodyguard bapaknya. Tante Melly bernapas lega untuk saat ini. Dia yakin dirinya kini terancam bahaya. Wanita itu lupa kalau sekarang Kamilia punya keluarga yang cukup terpengaruh.


"Sialan! Gara-gara Hendra semua kacau," rutuknya. "Sepertinya ini akan menjadi skandal yang besar, ke mana aku harus bersembunyi?"


Tante Melly memutuskan untuk pergi ke luar negeri hari itu juga. Dia takut dengan keterlibatan dirinya dalam kasus menghilangnya Kamilia. Diserahkan rumah bordil miliknya kepada orang kepercayaannya.


Bagas memperhatikan gedung bertingkat itu sejenak. Sesuai dengan yang tertera di kartu nama. Bagas dengan cepat menuju lantai empat puluh. Kantor Tuan Arya berada di sana.


"Tunggu, Pak!"

__ADS_1


Seorang resepsionis mengejar Bagas yang nyelonong hendak memasuki ruangan bosnya. Bagas tidak peduli, dia tetap memasuki ruangan itu. Bagas membaca papan nama yang ada di depan Tuan Arya untuk memastikan.


"Kembalikan adikku atau kuhancurkan hidupmu!"


__ADS_2