
Ceklek
Pintu kamar Rini terbuka menandakan gadis cantik itu akan mengawali hari. Rini Pramudhita gadis cantik berusia 23 tahun bekerja sebagai customer service di sebuah bank di daerahnya. Mata Rini yang sipit dan hidung yang mungil membuat wajah Rini tambah cantik. Rini sudah bekerja 8 bulan di bank tersebut setelah lulus kuliah.
"Sarapan dulu Rin"..kata Tutik ibu Rini
"Iya mah ini juga mau sarapan dulu, ayah kemana mah??"
"Ayahmu sudah berangkat duluan". Ayah Rini mendirikan usaha sendiri dan Mamahnya sudah berhenti bekerja setelah menikah dengan Ayah tirinya.
Rini tinggal bersama Mamah, Ayah, dan Adik laki-laki yang berusia 15 tahun dan baru kelas 1 SMA. Rini juga memiliki adik perempuan yang masih kecil berusia 3 tahun. Rini adalah korban broken home Ayah Rini adalah Ayah tiri dan Risya adiknya yang paling kecil adalah hasil buah hati Mamah Rini dan Ayah tirinya.
Meskipun Sugeng adalah Ayah tiri tapi kasih sayang yang diberikan sama seperti Ayah kandungnya. Rini, Mamah Tutik, dan Rois adik laki-laki Rini sudah lama tidak berkomunikasi dengan Ayah kandungnya. Tetapi Rini kadang masih berkomunikasi lewat telepon walaupun jarang sekali.
"Mah Rini berangkat yah" pamit Rini setelah menyelesaikan sarapan paginya.
"Ya sudah hati-hati jangan ngebut"
"Mbak nanti kalo pulang beliin sempol ayam ya mbak" pinta Rois adik Rini yang masih mengunyah sarapanya
"Belom gajian ntar nunggu gajian"
__ADS_1
"Masih lamalah mbak cuman 10rb doang"
"Bodo amat weeeeee, udah ah nanti kalo gajian mbak traktir sekarang mau berangkat dulu takut telat" "Assalamualaikum".
"Walaikumsallam" sahut Mamah Rini dan adiknya bersamaan.
Rini mengeluarkan motor maticnya yang berwarna hitam itu yang dia beli sendiri hasil tabungan selama dia bekerja. Setelah memakai jaket dan helmnya Rini melajukan motornya. Rini dan keluarga tinggal di kampung kelahirannya. Sebenarnya Rini ingin sekali merantau tapi dilarang oleh Mamahnya. Jadi terpaksa Rini tetap tinggal di kampung dan bekerja di bank di daerahnya.
Setelah 30 menit tibalah Rini di tempat kerjanya. Rini memakirkan motornya kemudian mulai berjalan masuk. Jarak tempat parkir tidaklah jauh. Suasana di tempat kerja Rini sangatlah sejuk karena masih banyak pohon pohon dan ada pohon yang sudah berusia puluhan tahun yang besar menambah hawa sejuk.
"Rin tungguin" teriak Mia saat turun dari ojek online sahabat Rini dari SMA sampai kuliah dan sampai bekerja bahkan sama sama menjadi customer sevice.
"Ayok cepetan"
Rini dan Mia jalan berjalan beriringan menuju meja kerja mereka masing-masing. Di sana sudah ada Tama senior mereka sekaligus kekasih Mia. Tama dan Mia menjadi sepasang kekasih sudah 6 bulan.
Tanda open / buka sudah dibalik tepat jam 8 waktunya para karyawan bank untuk bekerja melayani kebutuhan perbankan masyarakat. Hari yang sibuk bagi Rini dan Mia banyak nasabah bank yang datang. Meski begitu tidak menyurutkan semangat kedua sahabat itu untuk melayaninya.
Tepat jam makan siang Rini, Mia, dan Tama pergi untuk makan siang di warung sekitar bank. Kadang kalau malas untuk keluar mereka delivery order. Kadang Rini memilih membawa bekal sendiri. Karena hari ini Rini tidak membawa bekal akhirnya ikut Mia dan Tama untuk makan soto di warung.
Meskipun menjadi obat nyamuk Mia dan Tama tapi baik Mia atapun Tama tidak merasa keberatan karena Tama tahu Rini dan Mia sudah lama bersahabat. Dan Tama baru memasuki hidup mereka sejak bekerja di bank. Setelah jam makan siang selesai mereka kembali melanjutkan aktivitas mereka melayani nasabah.
__ADS_1
"Rin hati-hati ya pulangnya gausah ngebut" kata Mia memperingatkan sabahatnya itu, saat ini mereka sudah di parkiran karena sudah waktunya pulang.
"Iya iya emang aku pernah ngebut apa??" bantah Rini karena memang Rini selalu melajukan motornya dengan santai.
"Kalian juga hati-hati yah, Mas Tama bawa motornya jangan ngebut jangan modus juga"
"Iya iya santai aja Rin nanti modusnya kalo udah halal aja" jawab Tama sambil cekikian
"Yaudah kalo gitu Bye"
"Bye"
Rini melajukan motornya untuk pulang kerumah mengakhiri aktivitas melelahkan hari ini. Rini tidak memiliki kekasih ataupun dekat dengan lawan jenis. Rini sungguh tidak ingin dekat atapun memiliki kekasih bahkan Rini tidak ingin menikah. Trauma akan rumah tangga mamahnya membuat Rini muak dengan yang namanya laki-laki. Sebenarnya Rini tidak ingin memiliki ayah sambung tapi Rini tidak boleh egois karena mamahnya berhak bahagia.
Memiliki trauma dan beban hidup yang berat membuat Rini seolah mati rasa dan tidak memiliki emosi. Sejak usia 11 tahun Rini harus ikut berjuang membantu mamahnya mencari nafkah untuk biaya pendidikan Rini dan adiknya. Rini menjadi saksi bagaimana susahnya kehidupan mereka karena papanya yang menikah lagi tanpa sepengetahuan mamahnya dan malah memilih keluarga barunya. Rini juga menyaksikan sendiri bagaimana rasa sakit hati mamahnya bahkan melihat sendiri setiap malam mamahnya menangis. Sungguh karena itulah Rini benar-benar menutup diri membekukan hatinya pada laki-laki dan tidak berkeinginan untuk menikah.
Setelah berjuang bersama mamahnya selama 8 tahun tepat saat Rini baru satu tahun menyenyam jenjang perkuliahan, mamah Rini menemukan tambatan hatinya dan menikah dengan Ayah tirinya. Akhir yang bahagia bagi mamah Rini tapi tidak dengan Rini. Sungguh beban yang selama ini Rini pikul membuatnya depresi berat dan trauma pada laki-laki. Rini bahkan mengonsumsi obat untuk membantunya tidur nyenyak sejak kelas 1 SMA hingga saat ini.
Rini bahkan pernah berfikir untuk mengakhiri hidupnya tapi niat itu dia urungkan karena merasa kasihan pada mamahnya. Rini tidak tega meninggalkan mamahnya untuk berjuang sendiri akhirnya Rini memilih untuk tetap hidup dan menjadi penyemangat untuk mamah dan adiknya. Rini belajar dengan rajin untuk bisa mendapatkan bantuan dan beasiswa setidaknya hal itu mampu mengurangi beban mamahnya. Sejak ditinggah papa kandungnya Rini sekolah sambil bekerja, uang hasil kerjanya sebagian dikasihkan mamahnya dan sisanya untuk jajan sendiri. Rini dan mamahnya melarang Rois untuk ikut bekerja karena memang saat itu Rois masih anak-anak.
__ADS_1
~Selamat Membaca~
Ini novel pertamaku mohon maaf jika banyak kesalahan dalam penulisan.