
Setelah seharian menghabiskan waktu bermain dengan Azlan dan Mia kini Rini sudah bersiap untuk tidur. Malam sudah menunjukkan pukul 10 jam istirahat untuk Rini. Karena terlalu lelah Rini langsung tepar begitu saja di atas kasur. Hanya dalam hitungan menit Rini sudah memasuki alam mimpi. Malam ini untuk pertama kalinya Rini tidur tanpa bantuan obat tidur.
Ponsel Rini berdering menandakan ada panggilan masuk tepat saat jam menunjukan pukul 10:47 menit. Rini yang sudah terlelap tidak menghiraukan panggilan masuk tersebut. Akan tetapi ponselnya terus berdering hingga membangunkan pemilik ponsel tersebut.
~ Halo~ sapa Rini dengan suara yang terdengar agar serak
~ Assalamualikum Rin...udah tidur ya kamu??~
~ Walaikumsallam...iya aku udah tidur kebangun gara-gara kamu, lagian malem-malem telfon ada apa sih Mi??~
~ Sebenernya aku mau nanya sesuatu sama kamu? Tapi lupain aja deh besok aja aku nanyanya~
~ Heeemmmm~ jawab Rini yang langsung mengakhiri panggilan tersebut dan langsung melanjutkan tidurnya.
******
Pagi menjelang terlihat di kediaman Azlan dirinya tengah bersiap dengan setelan olahraganya untuk joging sebentar. Azlan berlari-lari kecil mengelilingi desanya. Udara sejuk menyebar ke seluruh penjuru si desanya tersebut. Tidak ada polusi tidak ada kebisingan yang ada hanyalah kententraman.
Azlan menyapa semua warga yang dia temui hari ini dengan ramah. Jam sudah menunjukan pukul setengah 7 pagi Azlan memutuskan mengakhiri lari paginya dan bersiap untuk berangkat mengajar.
Di perjalanan pulang Azlan melihat dari jauh Rini yang baru saja mengeluarkan motornya untuk bekerja. Rini terlihat memakai kacamata dan rambutnya yang terurai indah. Sungguh pemandangan yang indah bagi Azlan seolah mendapatkan vitamin mata Azlan bahkan sampai tidak berkedip melihatnya.
Azlan melanjutkan langkahnya kembali kerumahnya karena Rini terlihat masuk kedalam rumahnya. Tentu saja Rini masuk untuk sarapan dan menyempurnakan penampilannya rambutnya harus dia ikat dengan rapi.
__ADS_1
Tepat pukul 06:50 Azlan bersiap untuk melajukan mobilnya. Saat hendak masuk ke dalam mobil Azlan melihat Rini yang baru saja melintas di depan rumahnya. Rini memakai sragamnya tentu saja jaket dan helm yang melekat di kepalanya. Azlan tidak bergeming dari tempatnya berdiri sampai Rini sudah tidak terlihat lagi barulah Azlan masuk ke dalam mobilnya dan berangkat ke sekolah tempatnya mengajar.
*******
Aktifitas bekerja dan bersekolah dimulai hari ini adalah senin. Hari dimana banyak sekali orang yang membencinya baik bagi pelajar ataupun pekerja.
Rini terlihat sudah melakukan aktifitasnya sebagai pelayan para nasabah bank. Sebenarnya Rini ingin menjadi dokter tapi Rini mengurungkan niatnya karena Rini takut dengan darah. Dan sekarang inilah Rini menjadi seorang pegawai bank.
Setelah berkutat dengan pekerjaannya selama setengah hari Rini dan Mia terlihat tengah menyantap hidangan makan siangnya di sebuah rumah makan dekat kantor bank. Tama tidak ikut karena memang Mia ingin bertanya sesuatu yang serius kepada Rini. Karena itulah Mia melarang Tama untuk ikut makan siang dengannya dan Rini.
"Rin kamu nggak ada perasaan suka apa sama Azlan??" tanya Mia setelah banyak obrolan basa-basi
"Kenapa nanyanya gitu sih Mi??" jawab Rini
"Soalnya dari yang aku liat kemarin kayaknya Azlan suka deh sama kamu"
"Beneran Rin cara dia natap kamu itu beda banget kayak ada emoticon love gitu dimatanya"
"Udah deh Mi jangan bahas Mas Azlan"
"Rin beneran kamu nggak ada rasa sama Azlan??" tanya Mia yang tidak ingin menyerah
"Perasaanku ke Mas Azlan itu cuman perasaan kagum Mia..."
"Tapi kalian berdua cocok kok Rin"
"Apanya yang cocok Mia?? Aku dan Mas Azlan itu beda jauh. Mas Azlan itu orangnya religius banget sedangkan aku sholat aja kadang masih bolong-bolong. Gak ada cocok-cocoknya aku sama Mas Azlan yang seorang guru agama dan guru ngaji itu. Kelurganya juga terhormat ayahnya pensiunan polisi terus ibunya juga bidan. Beda banget sama keluarga aku Mi kamu tahu sendirikan gimana keluarga aku. Kamu juga tahu sampai saat masih ini banyak ibu-ibu yang ngegunjingin keluarga aku. Mas Azlan berhak mendapatkan yang lebih baik dari aku Mi. Lagian juga apa kata orang nanti kalo misalkan aku nikah sama Mas Azlan pasti keluarga Mas Azlan ikut jadi bahan rumpi warga. Perasaanku ke Mas Azlan hanya sekedar rasa kagum aku tahu aku sadar diri dan aku juga tidak berani berharap lebih sama Mas Azlan"
__ADS_1
"Hei hei hei kenapa kamu sekarang mentingin kata orang Rin? Biasanya kan kamu cuek sama apa kata orang dan lagian ya Rin kayaknya Azlan beneran suka sama kamu bahkan kemarin dia nggak keberatan aku bilang dia pacar kamu"
"Sekarang kasusnya beda Mia dulu yang mereka omongin aku dan keluargaku. Aku nggak masalah mau diomongin kayak gimana tapi kelurga Mas Azlan keluarga yang terhormat Mi. Kamu juga tahu kan kalo aku tidak ingin menikah jangan bahas Mas Azlan lagi kehidupanku dan Mas Azlan jauh berbeda. Bahkan berfikir untuk memiliki hubungan lebih serius dengan Mas Azlan aku tidak berani. Aku nggak pantes buat Mas Azlan dan Mas Azlan berhak mendapatkan yang lebih baik dari aku"
"Tapi kan Rin..."
"Cukup Mia aku mohon jangan bahas ini lagi dari segi mana pun aku tidak pantas untuk Mas Azlan"
*Andai kamu tahu rahasia terbesarku Mi, aku bener-bener nggak pantes buat Mas Azlan. Mas Azlan terlalu sempurna untukku bahkan aku tidak pantas untuk semua laki-laki di muka bumi ini. Aku memutuskan untuk tidak ingin menikah bukan hanya karena aku trauma dengan laki-laki tapi ada alasan lain yang jauh lebih besar itu. Aku akan berdoa pada Tuhan semoga Tuhan berbaik hati mengirimkan jodoh yang sempurna untuk Mas Azlan.*
Jam istirahat sudah habis Rini dan Mia kembali melanjutkan pekerjaannya. Nampak Rini benar-benar tidak semangat untuk menlanjutkan pekerjaannya. Pikirannya kalut memikirkan apa yang dia bicarakan dengan Mia tadi.
Setelah jam menunjukkan 5 sore terlihat Rini baru saja menyelesaikan pekeejaannya. Dengan langkah gontai Rini melangkahkan kakinya ke tempat parkir. Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit sampailah Rini di rumahnya.
Setelah makan malam keluarga Rini dan Rini sendiri kompak berkumpul di ruang tengah. Rini jarang ikut kumpul bersama keluarganya karena lelah bekerja setelah makan malam Rini memutuskan untuk langsung istirahat. Tapi malam ini Rini memutuskan untuk ikut duduk menonton TV sambil bercengkrama ringan dengan keluarganya.
"Ayah malam ini Rini boleh nggak tidur sama mamah?? tanya Rini kepada ayah tirinya. Rini ingin menenangkan dirinya dengan tidur bersama mamahnya. Sungguh pelukan mamahnya adalah obat mujarab untuk segala kegundahan.
"Kok tumben Rin?? kamu ada masalah?? kalo kamu ada masalah cerita sama mamah" ucap mamah Rini karena tidak biasanya putrinya meminta untuk ditemani tidur
"Enggak mah Rini cuman kangen aja tidur sama mamah, boleh ya mah?? boleh kan ayah??" pinta Rini sambil memelas
"Iya boleh tapi benar kata mamahmu kalau kamu ada masalah cerita sama kami" ucap Ayah Rini
Setelah mendapatkan persetujuan malam ini Rini tidur bersama mamahnya dan Risya dikamar Rini. Risya berada dipinggir sebelah kanan dan Rini di sebelah Kiri serta mamahnya di tengah-tengah putri-putri tercintanya.
~Selamat Membaca~
__ADS_1