
Beberapa hari kemudian Rini sudah sembuh dan sudah bisa beraktivitas seperti biasa. Hari ini adalah hari libur sejuta umat. Ya, ini adalah hari minggu.
Pesan dari Azlan terus mengalir seperti air. Rini tak ambil pusing hanya membalas seadanya saja. Rini tak ingin memberi harapan palsu pada Azlan dan juga Rini takut jika suatu saat rasa sayangnya semakin besar.
Biarpun begitu Azlan masih tetap memberikan perhatian pada Rini. Lewat pesan-pesan singkat atau sesekali membawakan bekal makan siang untuk Rini.
"Dek..." panggil Rini kepada adiknya Rois yang saat ini mereka sama-sama berada di ruang keluarga.
"Apa??" jawab Rois tanpa menoleh masih asyik dengan playstasion di tanganya.
"Bikinin nasi goreng dong" pinta Rini sambil mengedipkan kedua matanya.
"Masak sendiri kenapa sih mbak? lagi asyik nihh udah dimasakin sarapan juga sama mamah" balas Rois sewot.
"Plisss dek lagi pengen nasi goreng masakin ya pliss" rengek Rini dengan puppy eyesnya.
Memang beberapa menu masakan seperti nasi goreng dan telur dadar rasanya lebih enak jika Rois yang memasak. Tak jarang Rini meminta adiknya memasakkannya untuk Rini. Walaupun pada akhirnya dompet Rini harus menangis. Ya, tidak ada yang gratis di dunia ini semua harus serba mengeluarkan uang.
"Gocap atau tidak sama sekali" ucap Rois sambil menaik turunkan alisnya.
"Ya elah dek bakal beli lipstick dek... ceban aja ya" tawar Rini sambil cengingisan.
"Yaudah kalo nggak mau silahkan mbakku yang paling cantik buat sendiri" ucap Rois sambil mengejek Rini dengan membuat wajah super konyol.
*Punya adek gini amat dah (sambil tepok jidat) apa-apa duit terus. Pengen remek tuh muka ngeselin ihhhhhhhhhhh". Batin Rini memelasi isi dompetnya.
"Yaudah deh gocap tapi bikinin sekarang mbak belum sarapan udah jam 10 pagi nih laper banget".
"Asyikk beneran gocap nih mbak??" tanya Rois memastikan.
__ADS_1
"Iyahhhhh udah buruan bikinin cacing di perut mbak udah pada demo ini".
"Go-pro sayang tunggu dedek yang manis ini menjemput yahhh" teriak Rois sambil melompat sumringah kemudian menuju dapur sambil berteriak tidak jelas.
"Dasar ABG labil absurd banget tingkahnya" gumam Rini sambil geleng-gelang kepala.
"Adek kamu kenapa Rin?? kok kayak orang kesurupan gitu??" tanya mamah Rini baru pulang dari posyandu bersama Risya.
"Kayak gak tau dia aja mah kan dia emang suka kesurupan gak jelas" jawab Rini sambil terkekeh.
"Xi..Xi..Xi.. udah gede tingkahnya masih aja kayak anak kecil.Ya sudah mamah ke kamar dulu sama Risya".
"Oke mah".
Rois Alghifari remaja berusia 16 tahun saat ini masih kelas 1 SMA. Rois memiliki wajah sangat tampan dan imut boyfriend material pokoknya. Kulit putih bersih mata sipit, hidung mancung dan jago beladiri pencak silat. Rois juga memiliki tinggi 181 cm sangat tinggi untuk ukuran remaja seusianya. Rini yang notabanenya kakak tingginya hanya 160 cm saja.
Memang kedua kakak adik itu memiliki karakter yang berbeda. Rini cenderung tertutup dan judes sedangkan adiknya sedikit lebih terbuka dan humoris. Dari segi pemikiran juga Rini lebih unggul dari Rois. Tapi dari segi fisik adiknyalah yang lebih unggul.
Rini selalu mendorong Rois untuk menjadi atlet pencak silat nasional. Keinginan Rini di dukung penuh oleh kelurganya yang lain. Rini menilai adiknya itu lebih cenderung main di fisik daripada di otak. Ya, Rois memang tidak pintar-pintar amat maka dari itu Rini mendorong adiknya untuk menjadi seorang atlet.
"Silahkan mbakku yang cantik dimakan nasi gorengnya jangan lupa gocapnya yahh". ucap Rois sambil menaruh sepiring nasi goreng di meja ruang keluarga tersebut.
"Unch.. unch makasih adikku yang tingginya kayak tiang listrik nanti habis makan yah diambilin" jawab Rini langsung menyambar nasi goreng di atas meja dan menyantapnya.
Rois menanggapi dengan wajah datar sudah biasa Rini memanggila adiknya itu tiang listrik. Tak apalah tiang listrik asal 50 ribu didapatnya. Rois berencana membeli Go-pro untuk mendokumentasikan kegiatannya. Ya, Rois memiliki hobi jalan-jalan naik gunung, pergi ke pantai ataupun wisata alam lainnya.
Setelah satu piring nasi goreng tandas Rini bergegas menuju dapur untuk membersihkan piring kotornya. Berjalan memasuki kamar mengambil satu lembar uang 50 ribuan dan berjalan kembali ke ruang kelurga.
__ADS_1
"Nihhh gocap". ucap Rini menempelkan uang 50 ribuan tersebut di jidat adiknya.
"Thankyou sist". jawab Rois sambil mengipas ngipaskan uang tersebut.
"Beneran mau beli Go-pro". tanya Rini sambil memakan keripik kentang dan memperhatikan adiknya bermain game playstation.
"Iyah kemarin ikut bantu ayah kerja lumayan duitnya digabung sama tabunganku tambah gocap udah dapet ntar sore eksekusi" jawab Rois antusias.
"Eksekusi udah kayak penjahat aja.. beli dimana emang??"
"Ada abangnya temen aku yang jual mbak".
"Owh... ikutan main dong dek tapi jangan main sepak bola main tinju-tinjuan aja".
"Males ahhh nanti mbak kalah ngambek lagi kayak kemarin-kemarin".
"Enggak udah ayok main".
"Lagian ya mbak, mbak itu kalo main semua tombol di pencetin gak serulah gak ada tekniknya kasian juga stiknya"
"Berisik udah cepetan buruan tanding ayok".
Akhirnya kedua kakak adik itu beradu jotos di dunia game. Teriakan dan umpatan tak hentinya keluar dari mulut Rini. Biarpun asal pencet yang penting lawan K.O tidak masalah bagi Rini tidak perlu teknik khusus.
Adzan dzuhur menghentikan aktivitas bermanin mereka. Mereka menyudahi permainan tersebut dan tentu saja Rois yang menang. Rini dan Rois bergegas mengambil wudhu dan menunaikan ibadah sholat berjamaah di mushola kecil di dekat ruang keluarga.
Setelah rumah Rini direnovasi dan diperbesar ayah tirinya membangun mushola kecil yersebut agar bisa sholat berjamaah satu keluarga. Rini hanya sesekali ikut sholat berjamaah dengan keluarganya. Rini lebih sering menjalakan ibadah sholat dikamarnya sendiri.
Permainan berlanjut lagi setelah kedua kakak adik itu seselai sholat. Rois agak kesal dengan kakaknya tersebut pasalnya jika Rini kalah maka ia akan dituduh bermain curang. Padahal memang kakaknya saja yang tidak bisa malah menuduh orang sembarangan.
__ADS_1