Membuka Hati Yang Beku

Membuka Hati Yang Beku
eps 5


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 5 sore terlihat Rini baru keluar dari bank. Mungkin kebanyakan masyarakat menilai bahwa bekerja di bank sangatlah enak karena kerjanya hanya duduk dan melayani nasabah. Tapi ada sisi lain yang tidak diketahui walaupun jam operasional bank hanya sampai jam 3 sore tapi bagi sebagian karyawan bank jam pulang kerja justru adalah awal permulaan pekerjaan-pekerjaan lain yang harus diselesaikan pada hari itu juga.


Saat melintas di depan rumah Azlan terlihat Azlan yang baru saja keluar dari rumah bersama dengan Abinya. Azlan terlihat sangat tampan menggunakan setelan baju koko dan sarung serta peci yang melekat di kepalanya. Rini berpapasan dengan Azlan dan Abinya tapi Rini hanya cuek toh wajahnya tidak terlihat karena menggunakan helm bogo dengan kaca gelap.


Adzan sudah berkumandang Rini sudah berada dikamarnya setelah mandi dan berwudhu Rini bersiap untuk menunaikan ibadah sholat maghrib. Rini tidaklah terlalu religius seperti Azlan terkadang ibadah sholat Rini masih bolong-bolong. Rini juga bisa membaca Al-Quran tetapi tidak begitu fasih dan lancar.


Kehidupan yang dulu Rini jalani membuatnya merasa bahwa Tuhan tidak adil. Rini jadi malas untuk beribadah karena dirinya marah kepada sang pencipta kenapa hidupnya begitu sengsara dan menyedihkan. Di saat teman-teman sebayanya memakai tas dan sepatu bagus dan memiliki uang jajan yang cukup, Rini justru harus bekerja dulu untuk mendapatkan uang jajan.


Iri? Tentu saja Rini sangat iri tetapi setelah pulang ke rumah melihat mamah dan adiknya rasa irinya sirna. Yang Rini pikirkan adalah bagaimana cara agar dirinya bisa mengangkat derajat keluarganya. Nama keluarganya sudah jelek dimata masyarakat banyak ibu-ibu yang selalu menggunjingkan keluarganya.


Saat malam menjelang tidur seperti inilah semua rekaman memori masa lalunya kembali berputar. Terlihat bagaimana hidupnya dulu yang sangat menyedihkan perjuangannya bersama mamahnya tidak pernah bisa Rini lupakan. Ingin rasanya Rini menangis tetapi tidak ada air mata yang keluar perasaannya benar-benar mati. Rini sudah tidak bisa merasakan emosi sedih, marah, kesal, bahagia, dan senang.


*Kenapa hidupku dulu begitu menyedihkan?? Bahkan sekarang pun aku tidak bisa merasakan kebahagiaan, mamahku sudah menikah lagi mamahku sudah berhasil bangkit tapi mengapa aku terus seperti ini, aku sungguh sangat lelah terus menerus terlihat baik-baik saja. Aku sungguh sangat lelah selama 12 tahun harus selalu tersenyum di depan mamahku. Aku sungguh lelah menyembunyikan perasaanku yang hancur. Mengapa papaku tega meninggalkan aku dan mamahku bahkan saat itu adikku masih kecil. Meskipun begitu aku mohon padamu Ya Tuhan jangan ambil kebahagiaan mamahku kali ini, biarlah aku yang merasakan derita. Sekali lagi aku mohon padamu Tuhan jangan ambil kebahagiaan mamahku melihat mamahku tersenyum sungguh membuat hatiku merasa damai biarlah aku yang menderita.*


Setelah bergelut dengan pikirannya Rini bangkit dari tempat tidur mengambil 2 butir obat yang biasa dia minum. Tanpa obat itu Rini tidak akan bisa tidur. Setelah meminum obatnya Rini kembali berbaring dan memejamkan matanya.


Adzan subuh berhasil membangunkan Rini dari tidurnya. Rini bangun sebelum alarmnya berbunyi seperti ada magnet yang menarik Rini untuk segera bangun.

__ADS_1


"Hoaammm baru jam 4 subuh...tumben aku bangun pas adzan biasanya gak pernah" ucap Rini yang merasa heran


"Kayak kenal sama suaranya bukannya itu suara Azlan... Bodo amat ahh kenapa jadi kepikiran sama dia"


Karena sudah terlanjur bangun akhirnya Rini memutuskan untuk membersihkan diri dan menunaikan ibadah sholat subuh. Setelah selesai sholat Rini melangkahkan kakinya menuju dapur mengambil segelas air minum dan meneguknya.


"Tumben Rin udah bangun biasanya kan kamu keluar kamar pas mau sarapan" ucap mamah Rini


"Iya mah gatau kenapa kebangun aja"


"Udah sholat subuhkan??"


"Nah gitu dong Rin sekaliyan biar kamu pinter masak, jadi nanti kalo udah nikah kamu udah bisa masak" ucap mamah Rini sontak membuat raut wajah Rini berubah datar dalam hatinya Rini ingin berkata bahwa dia tidak akan pernah menikah tapi itu akan membuat mamah Rini bersedih. Rini hanya bisa mengelak saat mamahnya menyuruhnya menikah.


"Mamah ihhh aku belum pingin nikah mah lagian aku kan juga bisa masak mah"


"Iya kamu cuman bisa masak telor dadar sambal tomat sama mie instan doang" ucap mamah Rini ya itu adalah menu kesukaan Rini nasi hangat, telur dadar dan sambal tomat sungguh sangat nikmat

__ADS_1


"Mamah nggak asik ah masa anak sendiri dikatain nggak bisa masak" ucap rini sambil cemberut


"Kenyataannya emang gitu Rin"



Rini sudah tidak menjawab obrolan mamahnya kini Rini tengah berkutat dengan penggorengan. Rini disuruh mamahnya untuk menggoreng tempe menu wajib yang harus ada disetiap sarapan dan makan malam. Karena setiap jam makan siang hanya ada mamah Rini dan Risya saja, sedangkan dirinya, Ayah tirinya dan adik laki-lakinya tidak berada dirumah.


"Rin kamu kapan mau nikah sayang?? Tahun depan umur kamu udah 24 tahun, kamu nggak mau kan dibilang perawan tua??" tanya mamah Rini disela aktivitas memasak


"Mah Rini masih pingin sendiri mah, Rini masih pingin menikmati masa muda Rini, belum juga genap satu tahun Rini bekerja, Rini masih pingin bekerja, Rini masih pingin membahagiakan mamah" jawab Rini


"Dengan kamu menikah kamu sudah membahagiakan mamah Rin, kita ini hidup di kampung umur kamu sudah sangat siap untuk menikah Rin, temen-temen kamu aja udah pada nikah semua malah udah ada yang punya anak"


Rini hanya diam saja Rini tidak ingin obrolan ini menjadi lebih panjang. Karena Rini yakin mamahnya akan terus mendesaknya untuk segera menikah.


Sungguh Rini tidak ingin membuat mamahnya sedih dan kecewa tapi apa daya Rini benar-benar tidak berniat untuk menikah. Rini sangat takut jika rumah tangganya akan seperti mamahnya dulu. Rini hanya bisa mengelak dengan berbagai alasan saat mamahnya menyuruhnya untuk menikah. Mamahnya tidak tahu jika Rini trauma pada laki-laki dan depresi karena memang Rini sangatlah pintar untuk menutupi perasaannya. Pernah saat itu mamahnya Rini menemukan obat Rini di tasnya saat ingin meminjam handphone. Mamah Rini bertanya pada Rini itu obat apa Rini menjawab bahwa itu adalah vitamin biar dia tidak gampang sakit. Mamah Rini tidak tahu bahwa selama ini anaknya bergantung pada obat itu untuk bisa tidur.

__ADS_1


~Selamat Membaca~


__ADS_2