Mencari Jejak Mu Yang Hilang

Mencari Jejak Mu Yang Hilang
Lamaran.


__ADS_3

Pagi hari ini Markus sudah bersiap melamar sang kekasih pujaan hatinya. Ia membuat suatu rencana akan melamar Hernita di perusahaan mereka karna Hernita bekerja sebagai manajer keuangan di perusahaan yang Markus pimpin. Kemudian Markus meminta bantuan kepada karyawan lainnya, lalu tidak lama setelah itu, salah satu karyawannya langsung memberitahu kalau Hernita sudah datang.


"Tuan, nona Hernita sudah tiba di kantor".


"Baiklah, kalian semua silahkan bersiap. Dan Linda, mana orangnya?".


"Disini tuan".


"Bagaimana dengan bunganya? Apakah kamu sudah mempersiapkannya?" tetapi Linda malah gelisah menundukkan kepala membuat Markus mengulangi pertanyaannya. "Ada apa? Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan saya?".


"Maafkan saya tuan. Bunga yang sudah saya pesan sampai sekarang belum datang juga tuan" jawab Linda semakin menundukkan kepala dan semakin merasa sangat bersalah kepada atasannya itu.


Mendengar jawaban Linda, Markus pun marah besar membentak Linda. "Apakah kamu sedang bermain-main Linda? Bagaimana bisa pekerjaan yang sedari kemarin saya perintahkan kepada mu tidak bisa dengan baik kamu kerjakan?".


"Maafkan saya tuan maafkan saya. Saya benar-benar sangat minta maaf" Linda melihat rekan-rekannya yang lain begitu sangat kecewa kepadanya. Dan ia hanya bisa menunduk meneteskan air mata melihat kemarahan seketika di wajah Markus.


"Telepon sekarang juga orang yang sudah kamu pesan buket bunga itu. Saya tidak mau tau, sebelum Hernita tiba disini, saya mau bunga itu sudah tiba. Tidak terkecuali!" Markus mengunakan kalimat yang mematikan, tetapi Linda tetap mengiyakan.


"Baik tuan, saya akan menghubungi orang itu lagi".


Kemudian Linda sedikit menjauh dari mereka dan ia pun segera menghubungi orang tersebut yang tak lain adalah sahabatnya sendiri.


"Hallo Ura. Kamu sudah dimana sekarang? Kamu tidak bisa secepatnya tiba disini? Tuan Markus sudah marah besar karna bunga itu datang terlambat. Sedangkan kekasihnya sudah mau tiba".


"Aku lagi di jalan Linda. Mohon bersabarlah, jalanan begitu sangat macet. Kamu tau sendirikan kalau setiap pagi jalan selalu macet? Tolong katakan kepada bos mu itu untuk menunggu sebentar lagi. Dan sepertinya aku akan segera tiba di kantor mu".


"Ok, aku akan menunggu mu".


"Mmmm, Thank you Linda".


Lalu Linda melihat Markus berlari kearah lift, orang yang ia hampiri itu adalah Hernita sang pujaan hati. Setelah itu ia melihat Markus membawa Hernita masuk kembali ke dalam lift dan ia tau kalau Markus sedang mencoba mengulur waktu.


"Selamat pagi sayang. Kamu sudah sarapan? Aku tebak kamu belum sarapan" Markus tersenyum manis dan itu membuat Hernita mengernyitkan dahi merasa ada sesuatu yang janggal dengannya.

__ADS_1


"Tumben kamu mau sarapan di kantin? Tidak seperti biasanya".


Markus lalu merangkul pinggang Hernita, "Supaya aku pernah sayang ku" jawabnya tidak lama setelah itu pintu lift terbuka. Keduanya pun segera keluar dari dalam lift menuju kantin yang berada di lantai dua. Kemudian menyuruh Hernita duduk sembari bertanya ia ingin memakan apa. Namun Hernita menolak dan menjawab kalau ia sudah sarapan pagi dari rumah.


"Kamu saja Markus, aku akan menemani mu sampai selesai".


"Loh, kamu enggak mau sarapan sayang?".


"Tidak, kamu saja. Ayo buruan di pesan. Ini sudah jam 8 lewat loh, tidak bagus seorang karyawan seperti ku terlambat masuk".


"Kalau begitu, kamu pesan saja untuk ku sayang. Aku ke toilet sebentar yah".


"Ya sudah, pergilah" ucap Hernita memesan untuknya.


Dan di dalam toilet Markus mengeluarkan ponselnya, ia menghubungi sang sekretaris itu lagi. "Bagaimana? Apa bunganya sudah tiba?".


"Maaf tuan, bunganya belum juga datang. Tapi dia sudah perjalanan menuju kemari tuan, dan sebentar lagi ia akan segera tib....


Markus mematikan ponselnya sebelum Linda menyelesaikan jawabnya. Ia terlihat begitu sangat kesal, dan berpikir bagaimana kalau ia sudah selesai sarapan nantinya bunga itu belum juga datang.


15 menit di dalam toilet, Markus keluar kembali. Namun saat ia hendak berjalan menuju kantin, tiba-tiba ia melihat seorang wanita sedang berlari kearahnya membawa sebuah buket bunga yang begitu terlihat besar sampai si wanita itu tidak melihat jalannya sendiri. Hingga naasnya terjadi kepadanya, tanpa ia ketahui ia malah menginjak tali sepatu yang membuat ia terjatuh ke dalam pelukan Markus.


"OMG!" ucap si wanita tersebut melihat buket bunga yang ia bawa bertaburan diatas langit membuat ia seketika ingin berteriak histeris mendorong tubuh Markus yang sudah membantunya. "Aaarrrkkkhh... Bunga ku!".


Lalu Markus bertanya kepadanya, "Untuk siapa bunga ini?".


Si wanita itu tidak menjawab, ia malah semakin menangis melihat bunga yang ia bawa itu hancur di atas lantai.


"Yah... Apa kamu tidak mendengar ku?".


"Bagaimana bisa aku menjawab mu sedangkan bunga yang aku bawa malah hancur seperti ini hiks.. hiks... Sekarang apa yang harus aku lakukan? Aku yakin Linda tidak bakalan mau menerima bunga hancur ini lagi hiks.. hiks..".


"Linda?".

__ADS_1


"Mmmmm, apa kamu ini mengenalnya?".


"Oh jadi kamu tukang bunga yang dia pesan itu?".


Si wanita itu langsung melihat Markus dan menatapnya dengan tatapan sendu. "Apakah kamu orang yang sudah memesan bunga ku?".


Markus tersenyum menyeringai.


"Ini tuan, aku berikan bunga ini kepada tuan dan tolong maafkan kesalahan ku".


"Apa? Kamu memberikan bunga hancur ini kepada ku? Apakah kamu sudah gila?".


Ia pun menundukkan kepala, "Saya mohon tuan, tolong terimalah bunga ini dan maafkan apa yang baru saja saya lakukan hiks.. hiks..".


"Yah" Markus seketika melihat sekitarnya melihat para karyawan itu melihat kepadanya. "Yah, jangan pikir saya mau menerima bunga itu lagi. Sebaiknya kamu bawa pergi bunga itu sekarang juga" Markus pergi meninggalkannya, namun si wanita itu langsung menahan pergelangan kaki Markus dengan air mata bercucuran. "Lepaskan tidak?".


"Tidak mau. Saya tidak akan melepaskan tangan saya sebelum tuan membeli bunga ini hiks.. Saya mohon tuan, tolong kasihi saya".


Markus menarik nafas, ia merasa malu juga dilihat seperti itu oleh karyawan-karyawan di perusahaan tersebut hingga pada akhirnya Markus menerima bunga itu juga dan tidak lupa membayarnya sehingga si wanita itu tersenyum senang menghapus air matanya.


"Terima kasih tuan, terima kasih banyak".


Kemudian Linda yang melihatnya segera berlari kepadanya, dan bertanya dimana bunga itu dan kenapa ia tidak melihat apa-apa di bawa olehnya.


"Maafkan aku Linda".


"Apa?".


"Aku sudah memberikan bunga itu kepada orang ini" ia menundukkan gambar Markus di layar ponselnya. "Hhhmmss... Tetapi semuanya...


"Maksud kamu apa Ura?".


"Sudahlah, aku tidak ingin menceritakan ini lagi kepada mu. Sebaiknya aku pulang saja, nanti bos ku bisa marah kalau aku berlama-lama disini".

__ADS_1


"Tapi kamu belum menjawab pertanyaan ku".


"Maafkan aku".


__ADS_2