Mencari Jejak Mu Yang Hilang

Mencari Jejak Mu Yang Hilang
Aku mendapatkan pekerjaan baru


__ADS_3

Hari sudah sore, akhirnya Haura membuka mata melihat Linda berada disebelahnya dengan senyum mengembang di wajahnya.


"Akhirnya kamu siuman juga Ra. Aku sangat senang sekali. Apa sekarang kamu sudah merasa baikan?".


"Mmmm, tapi aku masih merasa sangat pusing sekali Lin".


"Aku tau, sebaiknya kamu istirahat saja dulu. Aku memanggil tuan Devano sebentar yah".


"Kemana?".


"Diruang ICU".


"Tunggu sebentar Linda. Lalu bagaimana dengan bos kamu itu, apakah dia baik-baik saja atau tidak?".


Linda semakin tersenyum lebar, "Berkat kamu sekarang tuan Markus sudah baik-baik saja. Terima kasih Ra, kamu benar-benar sangat baik sekali".


"Syukurlah kalau begitu".


"Iya, aku keluar sebentar yah. Tadi tuan Devano berkata kepada ku kalau kamu sudah siuman beliau meminta ku memanggilnya".


"Ya sudah, pergilah".


"Tunggu sebentar yah" Linda segera keluar dari dalam kamar inap Haura yang berada di kelas VIP menuju ruangan ICU. Lalu ia melihat sepasang suami istri itu berada didalam yang tak henti-hentinya memperhatikan putra mereka. Hingga seketika sang suster bertanya kepada Linda, "Akh, maaf suster. Saya bisa minta tolong?".


"Iya, silahkan".


"Tolong suster panggilkan pria itu untuk saya, dia orang tua bos saya hehehehe... Boleh ya sus? Maaf sudah merepotkan suster".


"Tidak apa-apa" sang suster segera memberitahu Devano kalau seseorang sedang menunggunya diluar yang tak lain adalah Linda. Tidak selama setelah itu, ia pun keluar dari dalam ruangan ICU menghampiri Linda yang menunggu di depan sana.


"Tuan" Linda tertawa kecil merasa sangat bahagia sekali. "Itu tuan, saya mau memberitahu tuan kalau teman saya Haura sudah sadarkan diri tuan".


"Benarkah?" Devano ikut senang mendengarnya. "Ayo, saya ingin mengucapkan terimakasih banyak kepadanya".


"Iya tuan, mari".


Keduanya pun segera berjalan menuju ruangan Haura, sedangkan Haura yang sedang menunggu mereka tak henti-hentinya tersenyum dalam hati sambil membayangkan hadiah apa yang akan mereka berikan kepadanya.


Tok... Tok....

__ADS_1


Mengetahui siapa orang yang sudah mengetuk pintu tersebut, Haura segera memperbaiki posisi tidurnya dan langsung melihat keambang pintu kalau orang yang membukakan pintu tersebut adalah Linda bersama dengan Devano.


"Ra!" Linda memanggilnya. Ia lalu memberitahu kepada Devano kalau Haura sudah baik-baik saja membuat Devano sendiri yang bertanya.


"Apa kamu sudah merasa baikan?".


Haura tersenyum lebar, "Iya tuan, saya sudah merasa baik-baik saja".


"Syukurlah kalau kamu sudah merasa baikan, saya sangat berterima kasih sekali".


"Hehehehe.. Iya tuan. Sesama kita yang hidup di dunia ini harus saling menolong. Terus, bagaimana sekarang keadaan anak tuan? Apa dia sudah baik-baik saja? Tadi aku sempat memperhatikan wajahnya saat diruang operasi begitu sangat menyedihkan".


"Berkat kamu anak saya sudah baik-baik saja. Dan sebagai hadiah, apa yang kamu inginkan dari kami? Katakan, saya akan memberikan apapun yang kamu minta".


"Benarkah tuan?" Haura terlihat benar-benar sangat bahagia sekali. "Benarkah tuan mau memberikan apapun yang saya minta?".


"Iya, katakan saja apa yang kamu inginkan".


"Kalau begitu, tolong berikan aku pekerjaan tuan" Haura menutup kedua matanya, ia takut kalau Devano tidak bisa menuruti permintaannya karna ia tau kalau ia tidak memiliki pendidikan yang pantas bekerja di perusahaan mereka. "Ya Tuhan, semoga saja dia mau menerima ku" doa dalam hati.


Devano langsung menjawab iya. Sedangkan Haura yang belum bisa mempercayai apa yang baru saja ia dengar, ia meminta kepadanya lagi agar Devano mengulangi jawabannya sampai ia benar-benar jelas mendengar jawaban tersebut.


"OMG Linda! Aku enggak salah dengar kan Linda? Aku enggak salah dengar kalau aku bisa bekerja di perusahaan Makmur group? OMG ya Tuhan".


Linda ikutan tertawa bahagia, "Iya, kamu tidak salah dengar Ra. Kamu harus berterima kasih banyak kepada tuan Devano akhirnya kamu bisa mendapatkan pekerjaan yang layak juga".


"Hahahaha iya Linda. Tuan, terima kasih banyak tuan, terima kasih banyak sekali akhirnya saya bisa mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih baik dari pekerjaan ku yang sebelumnya".


"Iya, kalau begitu saya permisi dulu".


"Iya tuan".



Haura, wanita cantik yang memiliki senyuman manis. Ia sudah lama berteman dengan Linda, dan keduanya juga pernah menempuh pendidikan sama di sekolah dasar yang berada di kota xx.


Namun nasibnya tidak sama dengan Linda, ia hanya bisa menempuh pendidikan sampai tingkat SMA sedangkan Linda sampai ke tingkat sarjana yang berada diluar negeri. Dan selama ini juga, Haura hanya pekerja serabutan, ia bekerja disebuah toko bunga yang tidak selalu membutuhkan tenaga kerja yang ia miliki.


"Ya Tuhan, rasanya ini semua seperti mimpi Linda. Dan aku ingin sekali tertawa terus menerus hahahhaha... Aku bahagia, aku benar-benar sangat bahagia sekali Linda".

__ADS_1


"Syukurlah kalau kamu bahagia, aku juga ikut bahagia".


"Hehehehe.. Iya Linda, itu semua juga karna kamu. Karna kamu sendiri yang menyatakan kalau bos kamu sedang kritis dan membutuhkan donor darah".


"Iya, semua memang sudah jalanya Tuhan agar kamu mendapat pekerjaan yang layak dan jauh lebih baik".


"Mmmmm".


.


Hingga esok harinya Haura sudah diperbolehkan pulang kerumahnya dengan anjuran dokter kalau untuk sementara ini ia tidak boleh kelelahan akibat aktivitas di luar dan juga tidak boleh lupa memakan yang memiliki nilai gizi tinggi.


"Iya dok, saya akan mengingat itu semua. Kalau begitu kami permisi dulu".


"Iya silahkan".


Keduanya segera meninggalkan rumah sakit, namun saat mereka sedang berjalan menuju lift, tiba-tiba ibunda Hernita menjerit histeris keluar dari dalam kamar mengatakan kepada dokter kalau putrinya sedang kejang-kejang.


Dengan rasa penasaran, Linda dan Haura pun mencoba mendekati ruangan tersebut, mereka juga melihat kedua orang tua Markus berlari masuk ke dalam ruangan Hernita.


"Astaga! Ada apa lagi dengan wanita itu Linda?" tanya Haura melihat Hernita ditangani sang dokter.


"Entahlah, aku juga tidak tau Ra. Kasihan sekali mereka, entah kenapa disaat-saat momen paling indah seperti ini kecelakaan itu harus terjadi. Padahal mereka hampir saja mau resmi sepasang suami istri".


"Iya, kasihan sekali mereka".


"Sudahlah, kita pergi saja. Semoga nona Hernita baik-baik saja".


"Mmmm, ayo".


Keduanya pun pergi meninggalkan rumah sakit, sedangkan mereka yang berada di dalam ruangan Hernita tak henti-hentinya menangis apalagi sang ibunya.


"Aarrkkhhh pah.. Putri kita pah. Apa yang terjadi dengan Hernita pah? Apa yang terjadi".


"Mama tenang dulu, kita tunggu apa yang akan dokter katakan" sambil menunggu si dokter, David melihat putranya Alex yang juga berada di dalam sana. "Alex, siapkan pesawat sekarang juga. Papa tidak bisa jamin kalau kakak kamu bekalan pulih jika masih dirawat dirumah sakit ini".


Alex sedikit bimbang, ditambah keadaan Hernita yang seperti ini. "Papa yakin?".


"Iya".

__ADS_1


"Baiklah pah".


__ADS_2