
Kemudian sang dokter melihat mereka, dan memberitahu sebaiknya Hernita mendapatkan perawatan yang lebih baik dari rumah sakit mereka. Lalu David berkata kepada dokter, "Baiklah dok, pagi ini juga kami akan membawa anak kami. Terima kasih banyak dok sudah berjuang untuk menyelamatkan putri kami".
"Sama-sama tuan, jika pasien sudah mau dibawa, kami akan membantu".
Lalu David mendengar ponselnya berdering mendapatkan panggilan dari Alex yang baru tiba di rooftop gedung rumah sakit. Mengetahui hal tersebut, David langsung memberitahu mereka kalau sudah saatnya Hernita dibawa kelantai atas karna pesawat yang akan membawa mereka telah tiba.
"Baiklah, mari sus dibantu" mereka pun segera membawa pergi Hernita dari dalam ruangannya.
Kemudian mereka melihat Devano dan Jenifer dengan raut wajah sedih, "Maafkan kami Vano. Kami harus membawa putri kami untuk mendapatkan perawatan yang jauh lebih bagus dari rumah sakit ini. Dan jika suatu saat nanti mereka sudah kembali pulih, kalau mereka benar-benar jodoh. Mereka akan bertemu kembali dan bersatu dalam pernikahan".
"Ya, kami juga tidak bisa bilang apa-apa David. Semoga Hernita segera pulih dan kembali seperti biasanya".
"Mmmmm, terimakasih. Kami pergi dulu".
Begitu mereka pergi meninggalkan Devano dan Jenifer yang masih berada di dalam ruangan tersebut. Devano melihat istrinya itu dengan senyuman tipis karna ia sangat yakin kalau istrinya itu benar-benar belum siap kehilangan calon menantu yang begitu sangat ia idam-idamkan seperti Hernita.
"Sudahlah mah, jangan menangis seperti ini lagi. Mereka membawa Hernita juga untuk kepulihan dia, harusnya mama senang bukan sedih seperti ini".
"Tidak pah! Mama menangis bukan karna itu. Mama menangis, bagaimana jika suatu saat nanti Hernita tidak mau lagi kepada Markus? Dan lebih memilih menikahi pria asing yang berada di Amerika sana pah. Lalu bagaimana dengan Markus pah? Bagaimana dengan anak kita yang begitu sangat mencintai Hernita".
"Hhhmmss... Papa tau apa yang mama cemaskan. Tapi mau bagaimana lagi? Jika mereka berdua benar-benar jodoh, itu artinya mereka akan bertemu kembali dan Hernita akan menjadi menantu mama sampai selama-lamanya".
"Akh, hanya memikirkannya saja membuat mama tidak bisa melakukan apa-apa pah. Mama sangat takut sekali. Mama benar-benar sangat takut sekali pah".
"Sudahlah mah, sebaiknya mama istirahat saja dulu, dari semalam mama belum ada istirahat".
"Bagaimana mama mau istirahat pah disaat seperti ini? Terus, bagaimana dengan Markus pah? Kapan Markus akan di pindahkan keruang rawatan".
"Tidak tau mah, kita tunggu saja apa kata dokter. Ayo".
Keduanya keluar, mereka lalu mendatangi ruangan ICU melihat putranya itu terlihat begitu sangat pulas dalam tidurnya. Kemudian salah satu suster yang bertugas mendatangi mereka, "Permisi Bu pak, tadi dokter mencari keberadaan bapak dan ibu. Silahkan temui dokter sekarang juga di dalam ruangannya".
__ADS_1
"Iya sus, terima kasih" ucap Devano menyuruh istrinya itu duduk disana, biar ia saja yang menemui sang dokter sampai ia tiba disana, ia langsung masuk ke dalam melihat si dokter tersenyum kepadanya.
"Silahkan duduk tuan" ucapnya ramah.
"Terima kasih dok. Lalu bagaimana keadaan putra saya? Apakah sudah ada tanda-tanda kepulihan?".
"Begini tuan, seperti yang baru saja saya periksa. Putra tuan semakin menunjukkan adanya perubahan semakin baik, dan sore nanti juga pasien sudah boleh di pindahkan kedalam ruang rawatan. Namun maksud tujuan saya memanggil tuan kemari, saya ingin menyampaikan kalau sepertinya pasien mengalami cedera di bagian kepala belakang".
"Terus dok?" Devano kembali khawatir.
"Tidak apa-apa, ini bukan sesuatu yang begitu sangat serius. Disini saya hanya ingin menyampaikan kepada tuan, kalau jika suatu saat nanti pesien mengatakan sakit di bagian kepala belakang. Tolong segera menghubungi rumah sakit karna ini hanya prediksi saya saja".
"Baiklah kalau begitu. Tapi, kenapa dokter tidak periksa sekarang saja? Bukankah itu jauh lebih baik".
"Tidak! Seperti yang baru saja saya lakukan ini hanya prediksi saya saja. Tidak mungkin kami melakukan operasi lagi di bagian kepala pasien".
"Oh ya sudah. Nanti saya akan memberitahu anak saya begitu dia sudah siuman. Terima kasih banyak dok".
Devano keluar, ia lalu menarik nafas panjang sembari berjalan keruang ICU melihat istrinya itu belum juga istirahat dan malah asik melap tangan putranya.
"Mah!".
"Papa sudah datang?" Jenifer tersenyum. "Apa kata dokter pah? Markus baik-baik saja kan pah?".
"Iya mah, Markus baik-baik saja dan nanti sore Markus akan dipindahkan ke dalam ruang rawatan".
"Syukurlah Pah. Mama senang mendengarnya, semoga Markus segera siuman.
"Iya mah, kita berdoa saja".
"Kira berdoa pah".
__ADS_1
.
2 hari kemudian setelah Markus dipindahkan kedalam ruang rawatan, ia belum juga sadarkan diri. Sedangkan Haura yang baru saja masuk bekerja sebagai karyawan baru di Group Makmur, ia tak henti-hentinya tersenyum bahagia melihat kepada mereka semua yang sedang melihatnya dengan kening mengerut.
"Hehehehe... Selamat pagi semuanya. Perkenalkan nama saya Haura, saya tinggal di kompleks xx bersama dengan Linda. Kami berdua teman sejati. Tapi karna pekerjaan Linda jauh lebih tinggi yaitu sebagai sekertaris tuan Markus, jadi mulai hari ini saya akan bersama dengan kalian. Saya mohon, tolong bantu saya. Terima kasih".
Lalu salah satunya bertanya kepadanya, "Kamu lulusan dari universitas mana?".
Deng!
Haura terdiam, ia tidak tau harus menjawab apa membuat ia hanya diam saja tidak berani mengeluarkan kata-kata.
"Kenapa kamu diam saja? Ayo jawab dulu pertanyaan saya supaya kami semua dapat bekerjasama dengan mu. Bukankah begitu?" tanyanya kepada rekannya yang lain.
"Iya, benar apa kata Reva. Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaannya agar kita semua bisa membantu mu".
"Akh" Haura melemparkan senyuman kepadanya. "Maafkan saya, tapi....
"Tapi apa? Jangan bilang kamu hanya lulusan dari sekolah tinggi? Ais, sangat rendahan sekali. Kalau begitu, apa yang harus kami lakukan? Kamu saja hanya lulusan dari sekolah tinggi tidak seperti kita-kita ini. Ck, bagaimana ini?".
"Ya sudahlah, mau bagaimana lagi? Lagian dia juga sudah diterima di perusahaan ini sebagai salah diantara kita. Yah, terpaksa kita juga harus menerimanya" jawab Marlon sedikit membela Haura yang membuat ia tersenyum senang dalam hati.
"Astaga! Akhirnya aku selamat juga. Terima kasih orang baik".
Kemudian Marlon memanggil namanya, lalu menunjukkan meja kursi yang akan menjadi miliknya. Dengan senang hati, Haura berjalan kearah meja kursinya dan langsung dibuat kagum betapa bahagianya dirinya akhirnya ia bisa juga merasakan sebagai karyawan tetap dan berada di dalam perusahaan yang begitu sangat terkenal.
"Ya Tuhan, aku sangat bahagia sekali. Terima kasih Tuhan, terima kasih semua atas anugerah mu" ucap Haura dalam hati melihat Marlon membawa sebuah dokumen kepadanya. "Itu apa?".
"Ini dokumen yang harus kamu kerjakan. Cepat selesai sebelum jam pulang, dan jangan segan-segan bertanya kepada ku kalau ada sesuatu yang tidak kamu pahami".
"Baiklah, aku akan memberitahu mu".
__ADS_1
"Mmmm" Marlon pergi, dan Haura segera membuka dokumen tersebut.