
Linda yang ditinggal pergi begitu saja merasa aneh kepadanya dan ia berpikir tidak seperti biasanya ia seperti itu. Kemudian Linda melihat keatas lantai, ia melihat kepingan-kepingan bunga itu bertaburan diatas lantai membuat ia seketika merasa sesuatu sedang tidak beres.
"Astaga! Apa ini?".
Jiwanya yang tidak bisa tenang setelah melihat bunga itu, Linda pun segera menghubungi nomor ponsel Haura dan bertanya, "Apa yang terjadi Haura, kenapa bunga-bunga ini bertaburan diatas lantai tempat kamu berdiri tadi? Ayo jawab aku Haura".
"Aku minta maaf Linda. Tadi saat aku sedang tergesa-gesa berlari kearah lift. Aku tidak sengaja menabrak orang yang sudah memesan bunga itu sampai bunga tersebut terjatuh diatas lantai".
"Apa? Kamu sudah gila Haura? Aaarrrkkkhh... Itu artinya aku akan di pecat olehnya hanya karna kelalaian kamu Haura aaarrrkkkhh".
"Maafkan aku Linda. Aku benar-benar minta maaf. Tapi ini semua bukan salah kamu, aku yang salah tidak bisa melihat jalan ku sendiri sampai akhirnya aku menabrak pria itu".
"Aarrkkhhh sudahlah, aku tidak ingin mendengar mu lagi" secara sepihak Linda langsung mematikan ponselnya dan menyuruh petugas kebersihan disana segara membersihkan lantai tersebut dan mencari keberadaan Markus sekarang ini. "Ya Tuhan, aku benar-benar sudah tamat hanya karna dia. Semua benar-benar sudah tamat".
.
Begitu Markus mendapatkan bunga tersebut, ia kembali mendatangi sang kekasih yang sudah lama menunggu dirinya disana seorang diri. "Markus, kamu dari mana saja sih? Aku sudah menunggu mu begitu sangat lama. Dan juga makanan ini, aku yakin ini sudah dingin".
"Maafkan aku sayang, sepertinya aku tidak sempat memakan itu lagi. 15 menit lagi aku ada meeting, kita pergi saja ayo sayang".
"Kamu yakin Markus? Sayang loh makanan ini dibuang begitu saja".
"Iya sayang, ayo buruan".
Keduanya pun segera pergi meninggalkan kantin tersebut dan kembali ke lantai ruangannya. Namun saat keduanya tiba disana, dengan kedua mata terbelanga Hernita melihat para karyawan berbaris di depan pintu ruangan Markus membawa sebuah poster yang bertulisan.
"Hernita ku sayang, Will you Merry me?".
"OMG! Ini apaan Markus?" Hernita tersenyum bahagia melihat kekasihnya itu malah berjongkok dihadapannya sambil mengeluarkan sebuah kotak cincin dari dalam jas. "Markus".
"Sayang, maukah kamu menikah dengan ku? Aku sangat mencintaimu, aku ingin memiliki kamu seutuhnya".
"Ya Tuhan" Hernita terharu, ia meneteskan air mata melihat kepada para karyawan itu berkata terima, terima, tolong terima lamaran tuan Markus nona hingga pada akhirnya Hernita menganggukkan kepala. "Mmmm, aku mau menerima lamaran kamu Markus dan hidup bersama mu sampai selama-lamanya. Aku mencintaimu".
Dengan rasa begitu sangat bahagia, Markus langsung memasang cincin tersebut di jemari manis Hernita sembari bangkit berdiri membawa sang kekasih ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Terima kasih sayang, terima kasih sudah mau menerima aku sebagai pendamping kamu sampai tua kelak".
"Mmmm, aku akan bersama mu sampai selama-lamanya".
Mereka yang ikut melakukan kerjasama ini pun bertepuk tangan meriah sambil berkata selamat kepada keduanya. Dan salah satunya kemudian memberikan bunga yang tadi Haura bawakan diterima langsung oleh Hernita dengan senyum mengembang di wajahnya.
"Cantik sekali bunga ini sayang" ucap Hernita mencium bibir Markus di hadapan mereka semua membuat mereka lagi-lagi tertawa gembira.
.
Malam ini, malam ini Markus akan memberitahu semua anggota keluarganya kalau ia dan Hernita akan segera menikah. Dan keluarga itu sedang berkumpul bersama, Markus tak henti-hentinya tersenyum menggenggam erat jemari tangan Hernita.
"Markus, Hernita tidak akan pergi kemana-mana. Sudah sayang, jangan menggenggam jemari tangannya seperti itu. Hernita bisa kesakitan loh".
"Tidak apa-apa Tante".
Namun pada akhirnya juga Markus melepaskan tangan sang kekasih dan segera memulai apa yang hendak ingin keduanya bicarakan.
"Begini pah, mah. Maksud kami berdua menyuruh papa dan mama berkumpul disini, kami berdua akan segera melangsungkan hubungan ini ke jenjang pernikahan. Kami berdua, besar harapan kami papa sama mama merestui hubungan ini".
"Iya Tante om, besar harapan kami berdua om sama Tante merestui hubungan ini sampai ke jenjang pernikahan kami".
"Iya mah. Terus, kapan kalian berdua akan menikah?".
"Secepatnya pah, kalau bisa Minggu depan juga bisa pah".
"Mmmmm, jika mama pikir-pikir tidak masalah sih asalkan kalian berdua benar-benar sudah siap. Sisanya itu biar kami yang mengurusnya".
Keduanya pun tersenyum begitu sangat bahagia, "Terima kasih pah mah.. Terima kasih banyak sudah membantu acara pernikahan kami. Besok kami berencana fitting baju pengantin".
"Iya, bagian itu biar menjadi urusan kami berdua".
"Iya Tante, terima kasih banyak".
"Iya sayang sama-sama. Jangan khawatirkan itu semua".
__ADS_1
.
1 minggu kemudian, sekarang ini adalah hari tanggal pernikahan Markus Gerald dan Hernita Dinda putri. Keduanya terlihat begitu sangat bahagia dan keduanya tak henti-hentinya tersenyum.
"Sayang, aku sangat bahagia sekali sampai aku tidak bisa berhenti tersenyum akhirnya kamu akan menjadi milik ku yang seutuhnya" ucap Markus memeluk sang kekasih dari belakang.
"Aku juga sama halnya dengan kamu Markus, aku benar-benar sangat bahagia sekali bisa menikah dengan mu dan segera membentuk sebuah rumah tangga yang baru".
Sambil tersenyum menatap dari balkon kamar Markus, keduanya melihat di kediaman keluarga besar Gerald semua pelayan disana sedang disibukkan mempersiapkan untuk acara pernikahan mereka.
Tok... Tok....
"Markus, ini mama. Boleh mama masuk sebenar?".
Hernita melihatnya, lalu menganggukkan kepala menyuruh Markus segera membuka pintu tersebut.
"Ada apa mah?".
"Ini acara untuk besok, tolong kamu saja yang memberikan ini kepada para karyawan di kantor kamu yah".
"Iya mah".
"Tapi kalau bisa sekarang saja ya Markus".
"Baiklah mah, biar aku sendiri yang memberikan ini semua kepada mereka".
Setelah itu Jenifer keluar dari dalam kamarnya. Lalu Markus melihat Hernita masih berada di balkon. Kemudian Hernita melihat sambil bertanya, "Ada apa Markus?".
"Surat undangan, mama mau aku memberikan surat undangan ini langsung kepada para karyawan".
"Oh, kalau begitu kenapa tidak sekarang saja kita berikan? Ayo, aku akan ikut bersama dengan mu".
"Kamu yakin sayang? Apa tidak sebaiknya kamu dirumah saja".
"Hey, kamu tidak boleh seperti itu kepada ku. Jika aku tidak ikut bersama dengan mu, aku akan merasa bosan di kamar ini terus" jawab Hernita tertawa kecil merangkul lengan Markus membawanya keluar dari dalam kamar tersebut.
__ADS_1
"Kamu bisa saja punya alasan sayang. Ayo, tapi kamu pakai ini dulu supaya orang lain di kantor nanti tidak akan melihat kecantikan kamu sebelum kita menikah".
"Baiklah, aku akan memakai untuk mu calon suami ku hehehehe" keduanya segera keluar.