
Sesampainya mereka dirumah sakit, Devano bersama dengan istrinya begitu juga dengan David bersama dengan istrinya segera berlari menuju ruangan operasi dimana keduanya sedang ditangani oleh pasien. Kemudian mereka melihat sang dokter penuh dengan harap sambil mengeluarkan air mata yang tiada hentinya.
"Dokter, bagaimana keadaan anak kami dokter? Tolong katakan kalau anak kami baik-baik saja dok, saya mohon hiks.. hiks..." Ucap ibu Hernita memohon.
Lalu sang dokter menjawab, "Pasien wanita sudah berhasil melewati masa kritisnya. Tetapi pasien pria kami mengucapkan maaf, untuk saat ini belum ada perubahan, dan pasien sedang membutuhkan darah".
"Apa?" mendengar hal tersebut jantung Jenifer langsung melemah bersama dengan suaminya Devano. "Terus bagaimana keadaan anak saya sekarang dokter aaarrrkkkhh hiks.. hiks... Bagaimana keadaan anak saya sekarang dokter?".
"Sekali lagi kami minta maaf. Anak ibu sedang kritis dan anak ibu membutuhkan donor darah AB. Adalah diantara kalian memiliki golongan dari ini? Stok dirumah sakit golongan tersebut sudah habis. Agar pasien segara melewati masa kritisnya, kita butuh golongan darah itu".
Jenifer semakin menjerit menangis, "Bagaimana ini pah? Apa yang harus kita lakukan pah? Keluarga kita yang berada disini tak ada satupun yang memiliki golongan dari itu kecuali Gabriel yang sedang berada di luar negeri. Sedangkan dokter butuh sekarang pah. Bagaimana ini pah? Apa yang harus kita lakukan?".
"Mama tenang dulu, papa akan bertanya kepada karyawan dikantor apakah mereka memiliki golongan dari sama persis dengan Markus".
"Iya pah, cepat tanya mereka".
Devano segera memberitahu mereka dalam grup obrolan W.A dengan caption. "Atasan kalian sedang mengalami kritis dirumah sakit dan dia membutuhkan donor darah AB, adakah diantara kalian yang memiliki golongan darah ini? Jika ada, tolong segera hubungi saya dan datanglah kerumah sakit xxx".
Setelah pesan tersebut terkirim, Linda yang membacanya langsung memikirkan Haura yang juga memiliki golongan darah AB. Lalu ia menghubungi nomor ponsel Haura, ia kemudian bertanya dimana ia sekarang dan apa yang sedang ia lakukan.
"Ada apa Linda? Tidak seperti biasanya suara kamu tergesa-gesa seperti itu".
"Ayo cepat beritahu aku Ra. Bos aku mengalami kecelakaan bersama dengan calon istrinya".
"Apa?".
"Iya, dan sekarang mereka dirawat dirumah sakit xx dan bos aku kritis. Jadi beliau membutuhkan donor darah AB. Karna itu aku menghubungi kamu Ra, golongan darah kalian sama".
Haura terdiam.
"Ra, kamu mendengar ku? Haura!!!".
"Mmmm, aku mendengar mu. Tapi kenapa harus aku Ra? Emang yang lainnya enggak ada lagi yah?".
__ADS_1
"Astaga Ra! Ayo dong bantu bos aku. Kasihan kalau sampai tuan Markus kenapa-napa. Nanti kalau sesuatu yang tidak inginkan terjadi, bagaimana dengan nasib kami? Ayo dong Ra, please".
Lama memikirkan hal tersebut, pada akhirnya Haura mau juga mendonorkan darahnya. Hingga sekarang mereka tiba dirumah sakit, kedua orang tua Markus lalu melihat kepadanya dengan air mata berlinang.
"Siapa dia?" tanya Jenifer kepada Linda.
"Ini Haura Bu. Orang yang akan mendonorkan darahnya kepada tuan Markus".
"Benarkah?" sedikit merasa legah akhirnya mereka mendapatkan donor itu juga tanpa harus lama Jenifer memeluk Haura dengan sayang. "Terima sayang, terima kasih banyak sudah berniat membantu anak saya. Ya Tuhan, puji syukur hamba mu ini ucapakan. Mari ikut saya sayang" Jenifer membawa Haura menemui sang dokter yang sedang menunggu mereka di dalam ruangan isolasi.
Tok... Tok...
"Dokter, saya sudah membawa pendonor darah untuk anak saya dokter. Tolong selamatkan anak saya dokter".
Sang dokter dan suster melihat Haura, mereka lalu bertanya apa golongan darah yang Haura memiliki.
"AB dokter" jawabnya.
"Kalau begitu, mari kami periksa dulu" sang suster segera mencek golongan darah Haura apakah benar-benar golongan darah Haura AB atau tidak, hingga 3 menit lama kemudian mereka mengetahui hasilnya kalau Haura benar-benar memiliki golongan darah yang sama dengan Markus.
"Iya Bu, sebisa mungkin saya akan membantu".
"Mmmm, terima kasih".
Lalu mereka memasuki ruangan operasi, Haura tidak lupa mensterilkan tubuhnya sebelum ia memberikan darahnya. Kemudian setelah itu, ia baru melihat Markus terbaring lemas tak berdaya di bantu oleh alat medis.
"Kasihan sekali dia" ucap Haura dalam hati, lalu melihat sang suster bertanya kepadanya apakah ia sudah siap atau belum. "Saya sudah siap suster. Tapi sebelum suster mengambil darah saya. Apakah rasanya sangat sakit suster? Ini baru pertama kalinya saya pernah memberikan darah saya kepada orang lain. Karna itu saya bertanya apakah ini akan sakit?".
Sang suster tersenyum, "Tidak akan sakit mbak, tapi akan terasa kebas setelah beberapa kemudian. Dan nanti setelah itu, mbak jangan lupa memberitahu kami yah".
"Baik suster".
"Kalau begitu, apa sekarang sudah bisa kita mulai?".
__ADS_1
"Iya suster".
.
Detik, menit telah berlalu. Haura mulai merasa kebas diseluruh tubuhnya membuat ia langsung memanggil sang suster, namun sang suster tersebut tidak mendengarnya karena mereka sedang menjalankan operasi. Tetapi meskipun begitu Haura tetap memanggilnya, karna semakin lama ia semakin merasakan sakit di sekujur tubuhnya bahkan ia merasa kalau ia tidak memiliki darah lagi.
"Suster tolong... !!! Suster to-long" dan pada akhirnya Haura jatuh pingsan tanpa mereka ketahui sampai beberapa menit berlalu baru sang suster mengetahui kalau Haura.
"Astaga!" ia kaget. Ia lalu berlari kepada Haura dan melihatnya sudah jatuh pingsan. Kemudian ia mencoba membangunkan Haura yang jatuh pingsan tetapi Haura tidak menjawabnya lagi karna ia sudah banyak kehilangan darah. Lalu sang suster memberitahu dokter, namun sang dokter yang belum selesai juga melakukan operasinya memilih tetap melanjutkan pekerjaannya yang sebentar lagi akan selesai.
"Astaga! Kenapa aku bisa lalai seperti ini sih tidak menyadari kalau ia akan seperti ini".
Sambil menunggu sang dokter selesai, ia memasang alat-alat ditubuhnya agar organ vital Haura tetap berjalan. Sampai pada akhirnya sang dokter selesai, ia lalu memeriksa keadaan Haura.
"Bagaimana dok? Dia baik-baik saja? Maafkan saya dok, saya sampai tidak menyadari kalau dia...
"Sudah, tidak apa-apa. Cepat suntikkan vitamin untuknya".
"Baik dok".
Sang dokter segera keluar, ia lalu memberitahu kepada mereka kalau operasinya berjalan dengan baik dan pasien akan segera di pindahkan keruang ICU.
"Puji Tuhan, syukurlah" ucap Jenifer memeluk sang suami.
"Iya mah, Tuhan itu maha kuasa. Sekarang anak kita sudah berhasil melewati masa kritisnya".
Kemudian Linda bertanya, "Lalu bagaimana dengan teman saya dok? Apakah dia baik-baik saja? Kenapa dia belum keluar juga dok?".
"Dia juga baik-baik saja, tidak usah khawatir. Sekarang dia dalam perawatan".
"Benarkah dok?".
"Iya".
__ADS_1
"Syukurlah".