Mencari Jejak Mu Yang Hilang

Mencari Jejak Mu Yang Hilang
Draft


__ADS_3

"Aku juga merasakan hal yang sama dengan mu, aku juga melihat wajah tuan Markus begitu sangat ber.. Tapi tunggu dulu Lin, sejak pertama kali juga aku bertemu dengan tuan Markus tidak pernah mendapatkan momen yang baik. Jadi aku tidak akan membenarkan perkataan mu".


"Ck" Linda langsung menatapnya dengan kesal. "Kamu ada-ada saja. Lagian salah siapa juga? Kamu ya saja tidak bisa mengatur waktu mu sendiri, sekarang kamu jadi menyalahkan tuan Markus".


"Iya sih".


"Ya sudah, sekarang ayo kita kembali bekerja. Entar tuan Markus marah pula lagi. Kan enggak enak disaat seperti ini mendapatkan amukan darinya. Ayo juga untuk yang lain, ayo kita semua bubar. Entar kita terkena amukan dari beliau".


Mereka semua langsung bubar, kemudian Linda membuatkan beberapa gelas kopi karna saat itu juga beberapa petinggi di perusahaan memasuki ruangan Markus.


"Linda!" Haura menghampirinya ke dalam ruang pantry. "Kamu sedang apa?".


"Membuatkan kopi untuk mereka. Ada apa? Kenapa kamu masih berada disini? Sana pergi kerja, entar kamu dimarahi manager mu".


"Jangan khawatir, aku sudah izin ke toilet sebentar heheheh".


"Terus, kenapa kamu malah berada disini?".


"Ck, hey. Ayolah, aku disini untuk membantu mu membawakan kopi itu kedalam ruangan tuan Markus. Sekalian aku ingin melihat ruangan itu, seberapa besarnya ruangan tuan Markus di dalamnya".


Linda lalu melihatnya, "Jangan mengulah deh Ra. Kita ini sedang bekerja, bukan sedang main-main. Kamu mau di pecat dari pekerjaan ini hanya karna kelalaian kamu?".


"Ck, kamu galak sekali sih Linda? Ya udah deh, aku akan pergi sekarang juga".


Haura pergi dan Linda segera membawa kopi panas tersebut kedalam ruangan Markus dan disana ia melihat ada 4 orang pejabat tinggi di perusahaan, ia lalu menaruh diatas meja dan langsung pergi meninggalkan mereka karna ia tidak mau berlama-lama disana.


Kemudian mereka membahas tentang perusahaan. "Syukurlah sekarang tuan Markus sudah terlihat semakin membaik. Kami turut sangat senang sekali. Lalu bagaimana dengan hubungan kerja sama kita dengan perusahaan xx?".


Devano menganggukkan kepala, "Serahkan kepada ku saja. Biar aku yang mengurusnya".


"Baiklah kalau seperti itu tuan".


"Mmmm, biar Markus dibagian yang ringan-ringan saja. Kalau begitu, kalian boleh pergi. Terima kasih atas waktunya".


"Baik tuan, kami permisi".

__ADS_1


"Mmmmm".


Markus lalu melihat Devano, "Siapa mereka? Kenapa papa begitu sangat mempercayai mereka?".


"Ada apa? Kenapa kamu berkata seperti itu?".


"Tidak apa-apa, aku hanya berpikir kalau mereka itu... Akh sudahlah, itu hanya pikiran ku saja. Maafkan aku".


Devano tersenyum, "Tidak apa-apa. Papa juga mengerti apa yang kamu cemaskan. Sekarang papa pergi dulu, ada banyak pekerjaan yang harus papa kerjakan".


"Baiklah".


"Papa pergi dulu".


Devano lalu pergi meninggalkan ruangan Markus, kemudian ia melihat Haura di ujung sana sedang tersenyum kepadanya membuat Devano berjalan menghampirinya.


"Iya tuan? Ada yang bisa saya bantu?".


Devano menggeleng kepala membalas senyuman Haura, "Bagaimana? Apa kamu menyukai pekerjaan mu?".


"Baguslah kalau begitu, saya juga senang mendengarnya".


"Iya tuan".


Setelah itu Devano pergi meninggalkannya dan itu membuat beberapa dari rekannya yang lain melihat kepadanya dan bertanya-tanya dalam benak mereka masing-masing ada apa dengan Haura, kenapa mereka melihat Haura terlihat dekat sekali dengan Devano orang nomor satu di perusahaan tersebut.


"Yah.. Yah.. Tadi kalian lihat enggak waktu tuan Devano tersenyum kepada orang baru itu? Aku melihat senyuman tuan Devano begitu sangat tulus kepadanya".


"Iya, aku juga melihatnya seperti itu. Lalu, ada hubungan apa mereka berdua? Kenapa mereka terlihat begitu sangat dekat sekali".


"Iya, aku heran. Kalau begitu, kenapa kita tidak menanyakan saja kepada Haura mereka itu memiliki hubungan apa? Atau mungkin karna itu juga dia diterima bekerja disini? Iya kan?".


"Itu pasti. Ayo kita tanya".


Namun saat mereka hendak bertanya kepada Haura, tiba-tiba Marlon menghentikan langkah kaki ketiga orang itu.

__ADS_1


"Kalian mau kemana? Apakah kalian sudah mengerjakan apa yang tadi aku minta? Ini hampir saja mau jam makan siang".


"Ck, kamu menyebalkan sekali Marlon. Bagaimana mungkin kami menyelesaikan dokumen itu hanya dalam waktu beberapa jam saja. Kamu jangan bercanda deh, enggak lucu tau Marlon".


"Iya, kamu ada-ada saja Marlon. Sudah sana pergi, jangan menghalangi jalan kami" mereka lalu berdiri dihadapan Haura, dan salah satu diantara mereka langsung bertanya.


"Yah, Haura. Siapa kamu sebenarnya? Ayo jawab kami dengan jujur".


Haura bingung mendengar pertanyaan mereka yang seperti itu.


"Maksudnya? Aku tidak mengerti. Dan kemarin juga aku sudah memperkenalkan diri kepada kalian. Apa kalian sudah melupakannya?".


"Ais.. Dia pura-pura tidak mengerti dengar pertanyaan kita lagi. Yah Haura! Kamu pikir kami bertiga tadinya tidak melihat mu berbicara dengan orang nomor satu di perusahaan ini? Sekarang ayo jawab kami dengan jujur, ada hubungan apa kamu dengan tuan Devano?".


"Akh itu" Haura tertawa kecil melihat mereka yang semakin penasaran menunggu jawaban yang akan ia berikan. "Mmmm, aku dan tuan Devano tidak memiliki hubungan apa-apa. Lalu kenapa kalian bertanya seperti itu?".


"Bohong! Kamu pasti sedang berbohong kepada kami. Aku sangat yakin itu. Kenapa kamu tidak mau jujur?".


"Hey, aku mengatakan yang sebenarnya kalau aku tidak berbohong. Aku dan tuan Devano itu tidak memiliki hubungan apa-apa. Hanya saja..." sejenak Haura terdiam mengingat kalau ia sudah menyumbangkan darahnya kepada Markus sehingga ia sekarang dalam keadaan baik-baik saja.


"Kenapa kamu diam? Ayo jawab".


"Mmmmm, bagaimana yah cara aku memberitahu kalian? Jika aku berkata yang sejujurny....


"Ada apa ini?" tiba-tiba Linda muncul dari dibelakang mereka. "Ada apa ini? Kenapa kalian berkumpul disini" suara Linda terdengar sangat tegas membuat mereka takut dan langsung kembali ke meja kerja mereka masing-masing. "Ada apa Ra? Kenapa mereka bertiga melihat mu seperti itu?".


Haura tersenyum menggeleng kepala, "Tidak ada apa-apa Lin. Mereka hanya penasaran saja aku itu memiliki hubungan apa dengan tuan Devano. Karna sebelum tuan Devano meninggalkan lantai ruangan ini, beliau sempat menghampiri ku dan bertanya apakah aku menyukai pekerjaan ku ini atau tidak".


"Benarkah? Kalau begitu, jika mereka bertanya lagi kamu memiliki hubungan apa dengan tuan Devano. Kamu langsung jawab saja kalau kamu itu dengan beliau tidak memiliki hubungan apa-apa. Tidak usah memberitahu yang sebenarnya".


"Aku sudah mengatakan seperti itu. Hanya saja mereka tidak ada yang bisa mempercayai ku. Bahkan mereka malah mendesak ku".


"Ya sudah, kalau mereka masih menanyakan hal konyol itu lagi. Katakan kepada mereka, jika mereka masih penasaran tanyakan kepada ku saja".


Haura langsung tertawa mengangkat jempol tangannya, "Ok, aku akan berkata demikian kepada mereka".

__ADS_1


__ADS_2