Mencari Jejak Mu Yang Hilang

Mencari Jejak Mu Yang Hilang
Kabar Duka dari Amerika.


__ADS_3

"Pah, Markus lama sekali yah siuman. Ini sudah tiga hari setelah Markus di pindahkan keruang rawatan dia belum juga mau membuka mata".


"Iya mah, kita sabar saja. Secepatnya Markus pasti akan segera siuman".


"Amin pah, semoga saja".


DDDDRRRTTT.... DDDDRRRTTT...


Devano mendengar ponselnya berdering, ia lalu menyambar ponsel tersebut dan orang yang sedang melakukan panggilan itu adalah Alex saudara Hernita.


"Siapa pah?" tanya Jenifer.


"Alex mah. Papa angkat sebentar yah. Hallo Lex? Bagaimana keadaan disana?" Suasana tanpa begitu ribut Devano dengar, ia merasa aneh kalau sesuatu sedang terjadi. "Ada apa Lex? Kenapa kamu hanya diam saja?".


Kemudian Alex mengusap air matanya, "Om, aku ingin memberitahu om dan semua keluarga kalau kak Hernita baru saja menghembuskan nafas terakhirnya".


DDUUAARRRR....


Bagaikan disambar petir Devano langsung melihat istrinya itu. Sedangkan Jenifer yang belum tau apa-apa dibuat heran melihat eskpresi wajah Devano yang seperti itu.


"Ada apa pah? Apa kata Elex? Apakah Hernita sudah membaik?".


Tetapi Devano belum menjawabnya, ia malah mengusap wajahnya dengan kasar sampai beberapa kali banyaknya.


"Pah, ada apa pah? Kenapa papa tidak menjawab pertanyaan mama?" dengan rasa penasaran, Jenifer merampas ponsel Devano melihat panggilan mereka masih tersambung. "Hallo Alex! Bagaimana keadaan disana? Hernita baik-baik saja kan? Ayo jawab Tante Lex".


"Maaf Tante, Hernita baru saja menghembuskan nafas terakhirnya".


"Apa?" Jenifer menjerit histeris. "Tidak! Ini tidak mungkin. Ini tidak mungkin kan Lex? Kamu pasti berbohong sama Tante".


"Tidak Tante, aku mengatakan yang sebenarnya. Maaf".


"Aarrkkhhh... Tidak! Tante mohon Lex, tolong katakan ini semua tidak benar. Tante tidak bisa mempercayai ini semua. Bagaimana kalau nanti Markus membuka mata? Dia akan mencari Hernita aaarrrkkkhh hiks.. hiks... hiks...".

__ADS_1


.


Setelah kejadian itu, beberapa hari kemudian Hernita dimakamkan di Amerika dan hanya Devano yang bisa pergi kesana untuk mengucapkan turut berdukacita kepada keluarga itu yang sebesar-besarnya. Dan sekarang, sepasang suami istri itu tidak menyadari kalau putra mereka sudah membuka mata. Markus lalu melihat sekitarnya, dan merasakan sakit di sekujur tubuhnya.


"Kalian siapa?".


Deng!


Mendengar suara tersebut, Jenifer dan Devano langsung melihat kearah Markus yang baru saja membuka mata melihat kepada mereka.


"Ya Tuhan! Markus ku" Jenifer berlari dan memeluk tubuh putranya dengan sangat erat sambil mengeluarkan air mata. "Aarrkkhhh.. Anak ku aarrkkhhh... Akhirnya kamu sadar juga anak ku, akhirnya kamu sadar juga aaarrrkkkhh... Mama sangat merindukan kamu sayang. Mama sangat merindukan kam...


"Kalian ini siapa?".


Jenifer kaget, ia lalu melihat sang suami bertanya ada apa dengan putra mereka. Namun Devano juga tidak tau apa yang terjadi dengan putra mereka, hingga ia pergi keluar memberitahu dokter kalau Markus sudah sadarkan diri.


"Sayang ini mama. Kamu tidak mengenal mama lagi?".


Kemudian sang dokter memasuki ruangan Markus bersama dengan Devano, lalu Jenifer berkata kepada dokter. "Dok, ada apa dengan anak saya? Kenapa dia tidak mengenali kami?".


"Saya mohon tenang dulu yah. Saya akan memeriksa keadaan pasien" sang dokter lalu memeriksa keadaan Markus yang sudah semakin membaik, namun ada satu hal yang membuat ia sedih. "Maaf saya harus menyampaikan kata-kata ini. Sepertinya pasien lupa ingatan".


"Apa? Dokter yakin anak saya lupa ingatan?".


"Iya, sejak awal juga ini yang saya khawatir. Tapi tidak usah khawatir seperti itu, cepat atau lambat pasien akan segera pulih dan kembali mengingat semuanya. Hanya saja keluarga harus membantunya".


Sepasang suami-istri itu langsung terdiam, kemudian Jenifer melihat Devano dan Devano yang dilihat seperti itu mengetahui apa yang ingin Jenifer katakan kepadanya.


"Kalau begitu, kamu permisi dulu".


"Iya dok, terima kasih banyak".


"Sama-sama".

__ADS_1


Lalu Jenifer menarik sang suami sedikit jauh dari Markus yang baru sadarkan diri, "Pah, jika mama pikir-pikir. Ada baiknya juga Markus lupa ingatan. Karna, kalau sampai dia tau Hernita sudah meninggal dunia, pasti Markus akan merasa sangat kehilangan, bahkan Markus akan sangat frustasi. Bukankah begitu Pah?".


"Iya mah, papa juga memikirkan apa yang seperti mama pikirkan. Jadi untuk saat ini, kita tidak usah membahas masalah itu sampai pada akhirnya Markus mengingat semuanya".


"Iya pah, mama setuju" keduanya lalu menghampiri Markus kembali. Mereka melihat putranya itu benar-benar terlihat begitu sangat menyedihkan ditambah luka-luka di tubuh Markus belum juga pulih.


"Sayang" Jenifer menggenggam jemari tangannya. "Mama sangat bahagia sekali sayang, akhirnya kamu bersama dengan kita lagi".


Markus menatap keduanya heran, "Sebenarnya apa yang terjadi dengan ku? Kenapa aku tidak bisa mengenali kalian dan kenapa... Aaakkhh.. Kepala ku sakit sekali".


"Karna kamu sudah menjalankan operasi dan kamu juga sampai koma beberapa hari lamanya. Makanya kamu merasakan pusing sayang. Tapi sekarang sudah baik-baik saja, mama sama papa sangat senang sekali dan sangat bahagia sayang".


"Jadi aku ini putra kalian?".


"Mmmm, kamu putra kedua papa dan mama. Dan kakak kamu yang bernama Gabriel, dia sedang di Amerika sekarang ini. Ya Tuhan! Mama sangat bahagia sekali sayang, mama benar-benar sangat bahagia sekali. Terima kasih sayang, terima kasih sudah pulih seperti ini".


.


4 hari kemudian setelah Markus membuka mata. Sekarang ini ia sudah bisa pulang dengan anjuran dokter kalau pasien jangan dibuat stres dulu dan biarkan pasien beristirahat untuk beberapa hari kedepannya.


Hingga kini mereka telah tiba di istana besar keluarga Gerald. Markus yang melihat rumah tersebut dibuat terheran-heran seolah-olah dia tidak pernah melihat rumah sebesar tempat ia berdiri sekarang ini.


"Rumah siapa ini?" tanyanya polos.


Sepasang suami istri itu langsung tertawa bersama membuat Markus heran.


"Rumah siapa lagi sayang kalau bukan rumah kita atau rumah kamu" kemudian Jenifer menunjuk kearah bingkai foto keluarga mereka yang terpajang besar di setiap sudah ruangan. "Kamu lihat foto itu? Itu foto keluarga besar kita. Dan saat itu kamu masih kecil sehingga kamu kurang terlihat jelas mengenali wajah mu. Disana, kamu lihat foto itu lagi? Itu album foto kita berempat sama kakak kamu Gabriel".


Markus kemudian berjalan mendekati album foto tersebut, dan saat itu juga ia tersenyum tipis karna orang yang berada di dalam gambar itu adalah wajahnya sendiri.


"Jadi aku yang berada di dalam foto itu".


"Iya, itu foto kita berempat. Dan disana juga ada foto kamu sendiri dan juga bersama dengan saudara laki-laki mu. Bahkan di dalam kamar mu... Oh iya, pah" Jenifer memanggil suaminya itu dan membisikkan ditelinga Devano apakah kamar Markus sudah dibersihkan dari kenang-kenangan Hernita atau tidak dan langsung di jawab oleh Devano kalau semuanya sudah bersih.

__ADS_1


__ADS_2