Mencari Jejak Mu Yang Hilang

Mencari Jejak Mu Yang Hilang
Hari yang sial, Haura kecopetan.


__ADS_3

Begitu Linda keluar dari dalam ruangan Markus, ia mencoba mencoba mencari keberadaan Haura sekarang ini meskipun ia tidak tau tujuan ia harus pergi kemana. Kemudian seorang wanita yang mengenal Linda bertanya.


"Linda, kamu seperti mencari seseorang. Ada apa?" tanya wanita tersebut penasaran.


Linda lalu membalasnya dengan senyuman.


"Iya, aku sedang mencari teman aku. Tapi kalau aku bertanya kepada mu kamu pasti tidak mengenalnya".


"Oh begitu. Terus kamu sudah makan siang Linda? Akhir-akhir ini kamu sangat sibuk sekali sampai-sampai kamu tidak mau makan bersama lagi dengan kita".


Linda tersenyum kembali, "Maafkan aku. Nanti lain kali saja aku akan makan bersama dengan kalian lagi. Sekali lagi aku minta maaf yah, aku harus pergi mencari teman ku".


"Mmmmm, pergilah".


Linda segera pergi meninggalkan mereka dan kembali mencari keberadaan Haura sekarang ini dimana.


"Astaga! Itu anak kemana sih perginya? Harusnya kalau dia mendapatkan masalah seperti ini dia harus memberitahu aku agar aku bisa membantunya. Bukan malah kabur seperti ini. Lalu kemana lagi aku mencariny....


"Cari siapa Linda?" salah satu dari manager Haura melihat kepadanya sambil bertanya melihat ia yang sedang melihat sana sini kemari. "Ada apa?".


"Ekh Bu Nanda" Linda tersenyum menunjukkan keramahan. "Itu Bu, saya sedang mencari salah satu bawahan ibu yang bernama Haura. Dia masih orang baru di team ibu".


"Oh, anak baru itu".


"Hahahaha iya Bu. Maaf Bu, apa ibu tadi melihatnya? Saya sedang mencari anak itu".


"Akh iya, tadi saya melihat dia ke ujung sana perginya, dan seperti yang saya lihat dia seperti membawa sebuah baju kemeja gitu".


"Benarkah Bu??" Linda terlihat senang.


"Iya! Saya yakin dia pasti menuju londriy yang ada di ujung".


"Kalau begitu saya permisi dulu Bu. Terima kasih banyak sudah memberitahu saya. Permisi!".


"Iya".


Linda pun segera mendatangi Haura yang benar-benar berada disana dan sedang duduk seorang diri di salah satu kursi panjang paling ujung. Ia kemudian melihat wajah Haura yang murung, dan itu membuat ia semakin merasa bersalah.


"Haura!" Linda memanggil namanya dan Haura langsung melihat kepadanya. "Maafkan aku".


"Sedang apa kamu disini Linda?" suara Haura terdengar parau.


Lalu Linda mendudukkan diri disebelahnya "Aku disini karna kamu Ra. Dan aku benar-benar meminta maaf sudah membuat kamu seperti ini".


"Kenapa kamu harus minta maaf Linda? Semua ini tidak ada sangkut pautnya dengan kamu, ini semua salah ku. Tapi bagaimana bisa kamu tau? Sedangkan aku tidak memberitahu mu".


Linda menarik nafas, "Saat kamu keluar dari dalam ruangan tuan Markus, saat itu juga aku melihat kepada mu yang sepertinya sedang sedih. Dengan rasa penasaran, aku masuk ke dalam ruangan tuan Markus dan bertanya apa yang sebenernya terjadi. Dan saat itu juga tuan Markus memberitahu apa yang terjadi dengan mu dan beliau".

__ADS_1


"Akh, ternyata dia yang memberitahu mu?".


"Mmmmm, kamu baik-baik saja?".


Haura tersenyum tipis, "Seperti yang kamu lihat, aku selalu baik-baik saja Linda".


"Syukurlah kalau begitu, aku senang mendengarnya".


Keduanya lalu tersenyum bersama.


"Mmmm, Ra. Apapun yang tadi tuan Markus katakan kepada mu. Aku harap kamu tidak akan marah yah? Atau pun sakit hati seperti ini. Namanya juga kesalahan, pasti setiap orang akan meluapkannya kepada orang yang sudah membuat kesalahan tersebut".


"Aku tau Linda. Aku tau kalau aku sudah membuat kesalahan yang begitu sangat besar terhadap tuan Markus. Dan untuk kamu juga aku minta maaf, mungkin tuan Markus juga ikutan memarahi mu".


"Tidak! Tuan Markus tidak memarahi ku Ra".


"Benarkah? Syukurlah kalau begitu. Aku senang mendengarnya".


"Mmmmm".


.


Setelah keduanya pergi meninggalkan laundry, Haura kemudian mengetuk pintu ruangan Markus, karna ia harus mengembalikan pakaian tersebut. Namun sudah beberapa kali ia mengetuk pintu, Markus tak kunjung menyuruhnya masuk.


Lalu Linda bertanya, "Kenapa?".


"Tuan Markus tidak menjawabnya Linda".


"Aku juga tidak tau".


"Tunggu sebentar, biar aku buka saja siapa tau...


"Kalian mencari siapa?" Marlon bertanya dari belakang keduanya. "Tadi tuan Markus berpesan kalau beliau ada urusan penting. Jadi beliau sedang di luar".


"Benarkah?" tanya Haura untuk memastikan.


"Mmmmm.. Ada apa Ra?".


Haura tersenyum tipis, "Tidak apa-apa. Kalau begitu aku pergi dulu ya Lin, pekerjaan ku hari ini masih lumayan banyak".


"Ya sudah, pergilah".


Haura pun pergi meninggalkannya, dan ia juga kembali bekerja seperti biasanya.


.


Dan sekarang hari sudah semakin sore, satu persatu para karyawan sudah berpulangan meninggalkan gedung perusahaan. Sedangkan Haura masih sibuk dengan pekerjaannya, kemudian Linda datang menghampirinya dan bertanya.

__ADS_1


"Belum selesai Ra?".


"Ekh Linda. Belum nih, pekerjaan ku masih ada sedikit lagi. Bagaimana dengan mu? Apa kamu juga sudah selesai? Oh iya, apa tuan Markus sudah datang?".


"Belum, tuan Markus tidak akan datang kemari lagi".


"Loh, lalu bagaimana dengan pakaian ini?".


"Ya sudah, kamu bawa saja pulang. Baru besok kamu kembalikan kepada beliau".


"Kamu yakin Linda? Aku takut tuan Markus marah lagi".


"Kamu tenang saja, beliau tidak akan marah lagi. Sekarang ayo segera selesai pekerjaan mu itu, ini sudah hampir jam 7 malam loh".


"Baiklah, tunggu sebentar. Pekerjaan ku sudah hampir mau selesai".


Hingga 15 menit telah berlalu, akhirnya pekerjaan Haura selesai juga. Ia pun segera membereskan meja kerjanya sambil melihat rekannya yang lain telah berpulang kecuali dirinya yang masih disana.


"Ternyata mereka sudah pada pulang semua".


Linda mendengar apa yang baru saja Haura ucapkan, "Sistem bekerja di perusahaan ini memang seperti ini Ra. Setiap karyawan yang sudah menyelesaikan pekerjaannya masih-masing, mereka bisa pulang kapan pun mereka mau".


"Begitu yah, karna itu aku selalu menjadi yang terbelakang. Ayo, pekerjaan ku sudah selesai".


"Ayo, tapi sebelum kita pulang sebaiknya kita mengisi perut dulu. Aku punya tempat yang begitu sangat enak".


"Ayo".


Keduanya pergi meninggalkan gedung perusahaan sampai mereka sudah berada diluar, kemudian Linda menghentikan salah satu taksi, namun taksi tersebut tak kunjung dapat dan selalu berisikan penumpang hingga tiba-tiba seorang pria berpakaian hitam mendekati Haura yang berada di belakang Linda.


"Hallo nona manis. Lagi nunggu taksi yah?" si pria tersebut tersenyum begitu sangat menyeramkan.


"I-iya" jawab Haura takut.


"Mau dibantuin tidak?".


"Tidak usah".


"Benarkah?".


"Iya".


"Tapi...


"Jangan mendekat" Haura spontan menjauhkan diri dari si pria itu ketika si pria tersebut mencoba untuk menyentuh tas sandang miliknya. "Lin, sebaiknya kita pergi saja dari sini. Ayo".


"Ada apa Ra?" tanya Linda yang belum menyadari hal tersebut.

__ADS_1


"Ayo".


Tetapi naasnya, sebelum mereka pergi meninggalkan si pria itu, si pria tersebut telah duluan pergi meninggalkan mereka dengan merampas tak sandang bawaan Haura membuat keduanya menjerit histeris dengan menyebut maling.


__ADS_2