Mencari Jejak Mu Yang Hilang

Mencari Jejak Mu Yang Hilang
Haura mendapat masalah.


__ADS_3

Kini jam makan siang tiba, Haura kemudian menghampiri Linda yang sedang sibuk dengan pekerjaannya sehingga Linda tidak menyadari akan kedatangannya.


"Wah, kamu terlihat sangat sibuk sekali Linda".


Hingga akhirnya Linda melihat kepadanya, "Iya Ra, pekerjaan ku sangat banyak sekali. Mana tuan Markus menyuruh ku membawa kopi ke dalam ruangannya lagi".


Mendengar hal itu, Haura tersenyum menawarkan diri agar ia saja yang membuatkan kopi tersebut.


Linda pun langsung melihatnya, "Kamu yakin mau membuat kopi untuk tuan Markus Ra? Nanti aku jadi ngerepotin kamu loh".


"Iya, kamu tenang saja Linda. Lagian, pekerjaan kamu masih banyak dan kamu tidak punya waktu untuk menyeduhnya. Jadi biar aku saja, kamu tidak usah khawatir".


Linda tersenyum senang, "Kalau begitu terima kasih banyak Ra. Kamu memang pengertian sekali".


"Hehehehe... Namanya juga teman Linda. Kita berdua itu harus saling tolong menolong. Aku buatin kopinya dulu yah".


"Mmmmm".


Haura pun segera membuatkan kopi panas seperti yang Linda katakan, dan ia membuat kopi tersebut penuh dengan cinta karna kopi yang akan ia seduh untuk atasan yang begitu sangat tampan dan berwibawa.


"Wah, semoga kopi buatan ku dia sukai. Mmmm, semoga saja".


Begitu Haura selesai menyeduh kopi tersebut, ia melihat Linda masih begitu sibuk dengan berkas-berkas yang berada di hadapannya, ia kemudian mengetuk pintu ruangan Markus sebanyak tiga kali sampai ia mendengar suara dari dalam sana menyuruhnya masuk.


Dengan senang hati, Haura pun segara mendorong pintu tersebut dan langsung melihat Markus sibuk dengan pekerjaannya seperti yang Linda lakukan diluar sana.


"Selamat siang tuan, ini saya sudah membuatkan kopi yang tadi tuan Markus minta".


"Mmmmm, taruh saja diatas meja".


"OMG! Suaranya sangat seksi sekali".


Tanpa Haura sadari ia yang asik memandangi wajah tampan Markus yang begitu sangat memesona, ia malah tersandung kakinya sendiri sehingga kopi yang ia bawa tekena jemari tangannya dan juga pakaian Markus serta berkas-berkas yang berada di atas mejanya.

__ADS_1


"OMG! Tamat sudah hidup ku" ucap Haura dalam hati.


Kemudian Markus menatapnya tajam, ia terlihat benar-benar sangat marah hendak ingin melenyapkan Haura detik itu juga dari muka bumi ini.


"Ada apa ini?" Markus mencoba untuk tenang. "Ada apa ini?" ia mengulangi pertanyaannya itu lagi dan Haura semakin gemetaran melihat wajah Markus yang memerah menahan emosi yang telah berada diatas ubun-ubun.


"Maafkan saya tuan, maafkan saya. Sa-saya tidak sengaja tuan, saya benar-benar sangat tidak sengaja. Saya minta maaf tuan" Haura mencoba meraih tangan Markus untuk meminta maaf, tetapi pria itu malah menarik kedua tangannya sambil bangkit berdiri. Lalu berjalan kearah Haura dengan sorot mata tajam sehingga Haura tidak mampu untuk berkata-kata lagi selain menundukkan kepala dihadapan Markus.


"Kamu pikir dengan cara kamu meminta maaf seperti ini, semua bisa kembali semula?".


Deng!


Lagi-lagi Suara bass Markus membuat Haura semakin menundukkan kepala, dan yang ada di dalam benaknya, kini hidupnya sudah berakhir, semuanya benar-benar berakhir. Seketika Haura mengangkat wajahnya, namun saat itu juga ia melihat Markus tiba-tiba membuka pakaiannya dan Haura langsung berpikir aneh-aneh.


"Ya Tuhan, ada apa dengannya? Jangan bilang karna aku sudah melakukan kesalahan yang begitu sangat fatal sehingga tuan Markus mau setubuhi ku? Tidak.. Tidak.. Aku tidak mau. Aku tidak mau kalau sampai aku kehilangan keperawanan ku hari ini juga aarrkkhhh.. Aku tidak mau".


Secara perlahan Haura melangkah mundur, tetapi Markus masih tetap bisa mendengarnya sampai ia menyuruh Haura berhenti saat itu juga. Kemudian Markus melihat kepadanya dan langsung melemparkan kemeja yang ia pakai tepat di wajah Haura.


"A-ada....


"Apa?" Haura membulatkan mata. "Tapi tuan, bagaimana bisa caranya aku membersihkan pakaian ini dalam jangka waktu 20 menit lamanya dari sekarang? A-ak..


"Kerjakan dari sekarang juga, kalau tidak hari ini juga kamu angkat kaki dari perusahaan ini".


DDDDUUUAARRRR....


Bagaikan disambar petir, Haura melonjak kaget segera menerima pakaian tersebut, lalu ia pergi meninggalkan ruangan Markus dengan air mata berlinang sampai membuat Linda yang menyadari akan hal tersebut dibuat heran dengannya.


"Ada apa dengan Haura? Kenapa dia tiba-tiba keluar langsung pergi begitu saja? Dan apa yang ia bawa itu" dengan rasa penasaran ia mengetuk pintu ruangan Markus masuk ke dalam dan bertanya, namun saat melihat Markus tidak memakai pakaian miliknya membuat Linda mengurung niatnya. Sedangkan Markus malah balik bertanya.


"Bawakan saya pakaian sekarang juga" pintanya dengan tegas.


"Ba-baik tuan. Tapi sebelum saya membawa pakaian tuan ke dalam ruangan ini. Izinkan saya bertanya terlebih dahulu tuan".

__ADS_1


"Kenapa? Apakah dia orang suruhan kamu?".


"Ya? A-ada apa dengan dia tuan?" Linda menunjukkan wajah kekhwatiran dan berpikir aneh-aneh kalau Markus baru saja melakukan hal yang buruk kepadanya.


"Jangan berpikir macam-macam. Saya tidak mungkin melakukan hal konyol itu kepada bawahan saya sendiri. Sekarang cepat bawakan pakaian bersih saya. Akh iya satu lagi, tolong kamu peringatkan kepada wanita itu untuk tidak pernah menginjakkan kakinya lagi ke dalam ruangan ini".


"Apa yang terjadi tuan? Kenapa tuan Markus terlihat sangat marah besar kepada dia? Maaf kalau saya terlalu banyak bertanya".


"Kamu tidak melihat itu? Lihatlah apa yang sudah dia lakukan".


"OMG!" seketika Linda membulatkan kedua matanya melihat kopi yang tadi Haura seduh kini bercucuran di meja kerja Markus. "Astaga ya Tuhan. Maafkan saya tuan maafkan saya, saya benar-benar sangat minta maaf".


"Sudah, sebaiknya kamu bawakan sekarang pakaian itu dan segera bersihkan ini. Saya tidak menyukai ruangan saya berantakan".


"Baik tuan, saya akan membawa pakaian bersih tuan Markus. Tolong bersabar".


"Mmmm".


Begitu Linda keluar dari dalam ruangannya, Markus kemudian menjatuhkan tubuhnya diatas sofa sembari menutup kedua mata dengan tubuh letih.



"Kenapa aku sangat lelah sekali?" Markus menarik nafas panjang. "Wanita itu, bagaimana bisa karyawan ceroboh seperti dia bekerja di perusahaan ini? Apa yang akan perusahaan ini dapatkan dari orang seperti dia? Hhhmmss... Ini benar-benar sangat tidak bisa dibiarkan".


Tidak lama setelah itu, Linda kembali masuk ke dalam ruangannya dan memberikan paperbag tersebut ditangan kanannya.


"Maaf kalau saya kelamaan tuan".


"Tidak apa-apa. Akh kamu, siapa nama wanita itu?".


Linda menatapnya seperti sedang bertanya siapa orang yang Markus sebut.


"Wanita yang sudah membuat saya seperti ini. Siapa namanya?".

__ADS_1


"Akh dia tuan" Linda sedikit takut menjawab pertanyaan Markus dan itu membuat Markus mengernyitkan dahi menunggu jawaban Linda yang ragu-ragu menjawab pertanyaannya.


"Ada apa? Kenapa kamu belum menjawab pertanyaan saya?".


__ADS_2