
"Aku merinduimu, kamu kemana saja selama hampir 1 tahun ini?" Tanya Ayya melonggar pelukannya setelah memeluk pria itu cukup lama.
Delmond mendorong tubuh gadis itu untuk menjauh darinya, "Apa kau bisa menjaga sikapmu! Apa kau sadar jika yang kau peluk adalah seorang laki-laki?" Ucap Delmond menegur sikap Ayya.
Bukannya marah, tapi gadis itu malah menatap intens wajah laki-laki di depannya.
Delmond meminggirkan mobilnya. Dan ternyata di belakang mobil Delmond sudah terjebak macet.
"Turun!" Delmond mengusir dan menyuruh Ayya untuk turun dari mobilnya.
"Kenapa kau suka sekali marah-marah? Aku hanya merinduimu, apa salah jika aku ingin melihatmu sebentar untuk melepaskan rasa rinduku? Lagi pula, kemana kau pergi selama ini? Kenapa aku tidak pernah melihat mu lagi?" Ayya mengabaikan sikap dingin Delmond yang mengusirnya.
"Kemana aku pergi itu bukan urusanmu, kau urus saja sendiri urusanmu. Dan jangan mencariku, lagi pula kau dan aku sama-sama tidak memiliki kepentingan apapun!" Tegas Delmond tanpa mempertimbangkan perasaan Ayya.
__ADS_1
Tampak gadis itu tiba-tiba saja mendung saat mendengar ucapan Delmond yang membuat hatinya sedih.
"Kenapa anda tidak bisa berpikir terlebih dahulu sebelum mengeluarkan kata-kata? Saya tahu jika anda tidak menyukai saya, tapi anda tidak bisa menghalangi perasaan saya yang mencintai anda. Anda benar-benar pria yang tidak punya hati," lirih Ayya menahan air mata yang sebentar lagi akan jauh tanpa izin darinya.
Delmond terdiam saat melihat bola mata gadis itu sudah berkaca. Ia tak sampai hati untuk menyakiti perasaan Ayya lagi.
"Apa kau sudah selesai? Jika ia, turunlah," ujar Delmond tidak tertarik jika membahas tentang perasaan.
Gadis itu menunduk dan meremas jemari. Ia merasa jika Delmond sangat keterlaluan. Apa salahnya jika laki-laki itu berpura-pura suka padanya? Dia juga tidak masalah akan hal itu, tak tahu kah dia jika perasaannya sakit saat pria yang dia cintai sama sekali tidak meresponnya dengan baik.
Entah mengapa Ayya sama sekali tidak memikirkan harga dirinya di hadapan Delmond. Memang benar apa kata orang, jika cinta bisa membuat yang merasakannya menjadi tidak terkendali dan kehilangan akal sehat.
"Hidupku tidak pernah tahu apa yang kau bicarakan itu. Jadi berhentilah berbicara soal perasaan denganku, kau hanya akan membuang-buang waktu mu saja," jawab Delmond menatap kedepan tak ingin menatap bola mata gadis di sampingnya, ia tak ingin jika Ayya sampai tahu tentang perasaannya pada gadis itu.
__ADS_1
Tes Tes Tes
Air mata yang sedari tadi ia tahan, akhirnya jatuh juga. Ia tak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya, meski dulu dia pernah sempat mengagumi mantan suaminya. Tapi rasa yang dia rasakan kali ini sangat jauh berbeda dengan perasaannya dulu pada Aldi.
Mengusap bulir bening dari kedua bola mata indahnya, "Apa yang anda ingin saya lakukan? Agar anda bisa tahu betapa besar perasaan ku pada anda? Apa yang bisa membuat anda mengerti jika perasaan ini sangat menyiksaku?" Tanya Ayya mengangkat pandangan menatap dalam bola mata Delmond.
Pria itu melihat ke wajah Ayya dengan raut wajah terlihat sangat tenang. Tapi siapa yang menyangka jika di balik ketenangan itu, hatinya sudah porak-poranda setiap kali mendengar luahan cinta dari gadis yang teristimewah dalam hidupnya.
Tapi yang keluar dari mulutnya, malah sebaliknya, "Kau bisa membuktikan perasaanmu itu, dengan cara melayaniku di atas ranjang. Apa kau sanggup?" Ucap Delmond sengaja agar Ayya berhenti mengharapkan balasan perasaannya dan akan menganggap dia seperti laki-laki brengsek.
Karena Delmond tahu jika gadis itu sering mencari keberadaannya selama hampir setahun ini.
Tampak gadis itu terhenyak kaget dengan ucapan Delmond. Ia semangkin memperdalam pandangannya pada wajah Delmond.
__ADS_1
"Baik, jika dengan cara itu kau bisa mencintaiku, maka aku sanggup menyerahkan tubuhku padamu... Karena aku sangat mencintaimu, meski kau hanya menjadikan aku bayang-bayang dalam kehidupanmu, aku sanggup. Meski kau hanya ingin aku melayanimu di ranjang, aku juga sanggup. Asalkan aku bisa selalu melihatmu," jawab Ayya mantap di luar dugaan Delmond.
Jika tadi yang kaget gadis di sampingnya. Kali ini dialah yang kaget sehingga tak percaya dengan jawaban gadis itu. Ia tak menyangka jika Ayya sangat mencintainya sehingga rela mengorbankan masa depan gadis itu demi untuk dia, laki-laki buronan yang hanya mempunyai masa depan yang gelap.