Mencintai Pria Buronan Bandar Narkoba

Mencintai Pria Buronan Bandar Narkoba
Firasat Buruk


__ADS_3

"Kau sudah menemukan putramu?" Tanya Varla istri Profesor Chard, yakni ibu sambung Delmond.


"Belum. Mungkin dalam beberapa hari ini aku mau berangkat ke sana, apa kau mau ikut?" Chard kembali bertanya pada istrinya.


"Tidak, aku masih mempunyai kesibukan beberapa hari ke depan."


"Sudah 2 tahun ini aku tidak pernah bertemu dengan anak itu, apa kira-kira dia masih tidak ingin memaafkan aku sampai saat ini?" Chard menerka-nerka apakah Delmond mungkin sudah bisa memaafkan kesalahannya terdahulu.


Varla hanya mengangkat bahu acuh.


"Ini semua kesalahan ku di masa lalu, sehingga dia begitu membenci ku." Lanjut Profesor Chard dengan suara lirih mengingat masa lalunya.


"Baguslah, jika kau sudah menyadari kesalahanmu." Santai Varla menyindir Chard.


Chard hanya bisa menunduk sedih saat mendapat sindiran dari istrinya dan mengingat sikapnya dulu yang tidak bisa memahami perasaan Delmond setelah ia meninggalkan putra dan istrinya.


Flash Back


Chard duduk di atas mobil sambil melihat dua orang anak kecil yang sedang duduk di pinggir jalan.


"Kau tidak ingin mengambil putramu untuk tinggal bersama kita?" Tanya Varla melihat Delmond kecil bersama adik perempuannya.


Saat itu ibu Delmond baru saja meninggal akibat di bunuh. Dan Delmond beserta adik perempuannya hidup di jalanan, karena rumah yang di tempati ibu Delmond hanya rumah kosan.


Chard turun dari mobil menghampiri Delmond kecil. Varla menyusul di punggung Profesor Chard.


"Delmond." Panggil Chard pada putranya yang berpenampilan lusuh, karena saat itu Delmond memang hanya hidup mengemis bersama adiknya.


Delmond melihat ke arah Chard. Anak kecil itu masih mengingat wajah Ayahnya, meski Chard meninggalkannya dulu, semasa dia masih kecil.

__ADS_1


Delmond hanya diam dengan wajah tanpa ekspresi melihat Ayahnya. Ternyata sedari dia kecil lagi, dia memang sudah membenci sosok Ayahnya yang pergi begitu saja meninggalkan ibunya sehingga ibunya depresi dan menjual diri tanpa berpikir panjang.


Chard ingin menyentuh bahu Delmond kecil. Tapi Delmond menghindar dan menatap sinis Ayahnya.


"Ayah ingin mengajakmu ke Jerman. Kita tinggal di sana bersama mommy Varla, kami mau kan?" Lembut Profesor Chard berusaha membujuk putranya.


"Ibuku sudah meninggal, dan aku tidak punya ibu, maupun mommy lagi," Anak kecil itu menjawab penuh penekanan dan menatap dingin Ayahnya.


"Kau harus ikut dengan Ayah, Delmond!" Chard memasak menarik tangan Delmond.


"Tidak! Kau bukan Ayahku! Ayahku sudah mati!" Delmond menggigit tangan Chard sehingga lepas dari tangannya.


"Chard, kau terlalu kasar dengan anak kecil." Varla menegur sikap Chard yang memaksa Delmond.


Varla mensejajarkan dirinya di hadapan Delmond, "Kamu mau-kan? Ikut tante, dan tinggal bersama tante? Kasihan loh kamu hidup di jalanan seperti ini," bujuk Varla tersenyum manis.


Tampak Delmond terdiam seperti sedang berpikir, "Apa tante akan membawa adikku juga?" Tanya Delmond polos.


"Tidak! Untuk apa kau membawa anak itu! Dia bukan adikmu, Delmond! Dia itu anak dari selingkuhan ibumu!" Murka Profesor Chard tidak bisa mengendalikan emosinya dan tidak menyukai gadis kecil yang bersama Delmond, karena menganggap jika ibu Delmond sangat murahan.


"Manusia jahat." Ucap Delmond kecil kemudian menarik tangan adiknya pergi dari hadapan Ayah dan ibu sambungnya.


"Delmond! Berhenti!" Teriak Chard memanggil putranya. Tapi anak itu terus berjalan tanpa memperdulikan panggilannya.


Varla mendengus kesal menghadapi sikap Chard yang tidak bisa mengendalikan diri.


"Wajar saja putramu tidak menyukaimu! Lihatlah sikapmu!" Kesal Varla melangkah naik ke atas mobil.


Selesai Flash Back

__ADS_1


Profesor Chard menarik nafas berat mengingat sikapnya dulu yang membuat Delmond terkesan buruk padanya hingga sekarang anak itu tubuh dewasa masih begitu membenciku.


"Apa dia akan memaafkan aku?" tanya Chard pada istrinya.


"Mungkin, jika kau sungguh-sungguh," jawab Varla.


"Kau bisa menjawabnya dengan baik, Varla," kesal Chard.


"Mana aku tahu, kau koreksi saja dirimu sendiri dulu. Baru kau datang menemui putramu." Varla berdiri dan pergi meninggalkan suaminya.


Profesor Chard hanya bisa menarik nafas panjang.


,,,


Selesai mengantar Ayya pulang ke rumah orang tuanya. Delmond berbaring sambil mengangkat kalung peninggalan ibunya yang sering dia pakai semenjak ibunya meninggal.


Ingat pesan ibu ya, jika kau sudah dewasa nanti. Jangan pernah menyakiti hati seorang wanita, karena sejatinya wanita itu sangat lemah dan rapuh, terkadang wanita terlihat kuat dan bertindak di luar batas. Itu karena wanita memang terkadang berpikiran pendek. Tapi percayalah, semua wanita itu sama, perasaannya lembut dan mudah tersakiti. Maka itu ibu berpesan kepadamu, jagalah, dan sayangilah wanita, seperti mana kau senantiasa menyayangi ibu dan adikmu.


Seperti di atas itulah pesan terakhir sebelum ibunya meninggal.


Semua terasa berat. Tanpa sadar aku sudah berusia 27 tahun... Semua berlalu tanpa terasa seperti baru kemarin ibu pergi... Aku merindukan mu ibu. Batin Delmond memeluk kalung peninggalan ibunya.


,,,


Tiba-tiba saja Ayya merasa tidak enak hati, saat ini dia berada dalam kelas. Ia bahkan tidak mendengar dosen di hadapannya yang sedang menyampaikan beberapa materi.


Ada apa dengan perasaanku? Kenapa aku merasa seperti ada firasat buruk yang akan terjadi?. Batin Ayya tak tenang.


Delmond.... Batin Ayya dengan dada yang semakin berdebar-debar.

__ADS_1


__ADS_2