
"Apa kau terluka?" Tanya Ayya kemudian menaikkan lengan baju Delmond.
Ayya meringis saat melihat luka bekas tembak di lengan Delmond yang di biarkan begitu saja.
Tampak Ayya memegang ujung bajunya, gadis itu ingin merobek ujung baju agar bisa ia buat mengikat luka Delmond.
"Kau mau apa?" Tanya Delmond memegang tangan Ayya yang ingin merobek bajunya.
"Mau memperban lukamu." Jawab Ayya.
Delmond menarik tangannya menjauh dari baju yang berniat ia robek barusan.
"Ada apa?" Tanya Ayya bingung.
"Kau tidak perlu merusak bajumu hanya untuk luka yang tidak seberapa ini," ujar Delmond.
"Apa yang kau bicarakan, lihatlah, luka ini sangat serius, dan kau berkata jika luka ini hanya luka biasa?" Ayya kembali ingin merobek bajunya. Tapi lagi-lagi Delmond kembali menahan aksinya.
Gadis itu mendengus kesal, kemudian menarik jilbabnya. Hanya satu tarikan saja, jilbab itu terbuka dari kepalanya.
"Apa lagi yang kau lakukan ini? Kenapa kau membuka jilbabmu di hadapan laki-laki yang bukan mahram mu," ucap Delmond menatap wajah cantik Ayya yang begitu cantik.
"Bukan mahram, tapi kau sudah melihat semua yang berada dalam tubuhku," upsss gadis itu menggigit bibir bawahnya yang kelepasan mengeluarkan kata-kata.
Wajahnya memerah menahan malu. Sambil berusaha mengikat luka Delmond dengan jilbabnya.
Tentu saja Ayya tahu jika Delmond pernah melihat semua yang berada pada tubuhnya, karena gadis itu masih mengingat kejadian tempo hari saat ia di kerjai oleh pelayan di rumah Delmond, dengan memberikan Ayya obat perangsang.
Delmond tersenyum tipis saat menyadari jika gadis di depannya baru saja kelepasan dalam berucap.
Tiba-tiba perut Ayya berbunyi, menandakan jika dia sedang lapar. Bagaimana tidak lapar, sedari siang dia belum memakan apapun karena sibuk mencari keberadaan Delmond sehingga ia tak memperhatikan diri.
"Kau lapar?" Tanya Delmond.
Gadis itu menyengir.
Delmond berdiri dan menarik tangan Ayya, "Mau kemana?" Tanya Ayya tetap mengikuti punggung Delmond yang menariknya.
Delmond membawa Ayya ke motor sport yang berada di dekat mobilnya.
Sejak kapan ada motor di sini? Kenapa aku tidak mendengar suara motor tadi?. Batin Ayya.
Delmond memakaikan jaketnya pada gadis itu, kemudian menaikkan topi jaket tersebut ke kepala Ayya.
"Kita mau kemana dulu?" Ayya bingung.
Delmond masih tak menjawab, ia memakai helm dan naik ke atas motornya.
"Ayo." Ajak Delmond menyuruh Ayya naik ke atas motor.
Gadis itu menurut dan langsung naik di boncengan Delmond. Pria itu melajukan motornya meninggalkan mobil Ayya.
Ayya memeluk pinggang Delmond dan merebahkan kepalanya di punggung laki-laki itu.
Andaikan aku bisa menghentikan waktu, aku ingin menghentikan waktu sebentar. Agar semua ini tidak akan berakhir, dan aku bisa memeluknya terus seperti ini. Batin Ayya, tanpa sadar gadis itu menjatuhkan air mata.
Aku ingin mengukir semua kenangan indah saat bersamamu. Biarkan cinta ini akan kekal dalam hatiku, tanpa kau harus tahu betapa besarnya perasaanku padamu. Semoga kau bisa bertemu dengan laki-laki yang mencintai mu, dan bisa menjagamu sampai maut menjemput. Batin Delmond dengan perasaan sedih mendalam yang memergoki hatinya.
__ADS_1
Karena ia tahu, malam ini adalah malam terakhir dia bisa bersama dengan gadis yang sudah merubah segala-gala dalam kehidupannya, gadis tempat pelabuhan hatinya yang pertama dan yang terakhir.
Beberapa menit, Ayya dan Delmond sudah tiba di sebuah rumah yang tampak sangat mungil.
Delmond memarkir motor. Ayya turun dari boncengan laki-laki itu, " ini rumah siapa?" Tanya Ayya.
"Rumahku." Singkat Delmond menarik tangan Ayya masuk ke dalam rumah kecil tersebut.
Tiba di dalam, Delmond memutar sebuah kunci rahasia yang membuat lantai rumah kecil itu terbuka.
"Ayo," Delmond kembali menariknya turun kebawa melewati anak tangga.
Lantai itu kembali tertutup setelah mereka berdua tiba di bawah.
"Pintu itu tertutup, bagaimana kita mau keluar nanti?" Tanya Ayya.
"Kau takut?"
"Sedikit" jawab Ayya mengikuti langkah kaki Delmond.
Cklek
Delmond membuka sebuah pintu yang membuat Ayya terpaku melihat kemewahan yang berada di bawah tanah tempat Delmond.
"Wah... Tempat ini indah dan mewah sekali..." Kata Ayya mengedar pandangan.
Gadis itu menghampiri sebuah kaca yang di penuhi berlian berkilauan.
Ayya membuka kaca dan ingin menyentuh salah satu dari berlian-berlian itu.
"Jangan menyentuhnya, berlian itu di dapatkan dengan mengobarkan satu nyawa, tidak baik untuk kau sentuh." ucap Delmond melangkah masuk ke dalam dapur.
Ayya kembali menarik tangannya tak tertarik lagi ingin menyentuh berlian tersebut.
Ia mengikuti Delmond masuk ke dalam dapur, dan melihat laki-laki itu sedang memotong beberapa bahan makanan.
"Kau bisa masak?" Tanya Ayya menghampirinya.
"Hm." Delmond hanya berdehem.
Ayya melihat ada sebuah foto gadis kecil. Foto itu tampak kusam sepeti foto lama.
Ia mengambil foto itu dan meneliti gadis kecil yang berada dalam foto.
"Siapa gadis kecil ini?"
"Adikku." Delmond mulai memasak beberapa bahan yang sudah ia siapkan. Terlihat pria itu sangat terampil seperti sudah biasa dengan semua pekerjaan dapur.
"Oh. Tapi wajah kalian tidak terlihat mirip, apa gadis kecil ini benar-benar adik kandung mu?" Tanya Ayya lagi.
"Bukan." Singkat Delmond.
"Bukan? Lalu, kenapa kau memanggilnya adik?"
"Kami hanya berbeda Ayah. Gadis kecil itu anak dari hidung belang yang membayar ibuku," ucap Delmond jujur tak menutupi sedikitpun jati dirinya dari gadis yang dia tahu begitu ingin mengetahui tentangnya.
Ayya kaget mendengar jawaban Delmond. Apa maksudnya?. Pikir Ayya menatap wajah Delmond yang begitu serius berkutat dengan alat masak di hadapannya.
__ADS_1
"A-apa maksudmu?" Tanya Ayya hati-hati.
"Ibuku menjual dirinya untuk menghidupi ku, setelah Ayahku kembali ke Jerman," ucap Delmond jujur tak menutupi apapun darinya.
Gadis itu terlihat sedih mendengar kisah haru dari pria yang tak pernah menunjukkan kesedihan dari wajahnya. Ia tak menyangka jika Delmond mempunyai masa lalu yang begitu memprihatinkan.
Ayya tak berniat ingin bertanya lagi, ia tak sanggup mendengar lebih jauh tentang masa lalu Delmond.
"Apa kau pernah menceritakan ini pada siapapun?" Tanya Ayya.
Menggeleng. Delmond hanya menanggapi dengan menggeleng.
"Kenapa kau mau menceritakan tentang dirimu, padaku?" Lanjut Ayya semakin penasaran. Ia berharap jika laki-laki itu juga memiliki perasaan yang sama padanya. Tapi ia tak tahu, jika sebenar, perasaan pria itulah yang paling dalam untuk dirinya.
Karena kau wanita teristimewa yang pernah hadir dalam kehidupanku. Batin Delmond hanya menjawab dalam hati.
"Sudah selesai, aku hanya memasak makanan yang sederhana, apa kau tidak masalah?" Delmond balik bertanya.
Ayya tersenyum manis yang membuat gadis itu bertambah cantik, "Tentu saja, tidak."
,,,
Delmond dan Ayya makan malam bersama malam itu. Ayya tak tahu jika yang Delmond lakukan semua adalah kenangan terakhir di antara dia dengan laki-laki itu.
Selesai makan, Ayya membantu Delmond membersihkan bekas makan mereka.
Pria itu melangkah ke kamar ingin mencuci luka yang ada pada lengannya. Ia mengambil kotak Emergency dan membawa ke ranjang kemudian duduk di sana.
"Sini aku bantu." Ayya mendekat dan membantu Delmond membersihkan luka yang berada di lengan pria itu.
Delmond sedikitpun tidak menolak bantuan Ayya.
Setelah selesai membersihkan lengan Delmond, gadis itu langsung saja memperban lukanya.
Ayya mengangkat pandangan saat ia sudah selesai. Bola matanya bertemu dengan bola mata Delmond yang sedari tadi diam menatapnya dalam.
Kontak mata dari kedua manusia yang saling mencintai itu semakin dalam.
Ayya mengikis jarak di antara mereka.
Cup
Entah keberanian dari mana, gadis itu menyatukan bib*r merahnya dengan bibir laki-laki yang sangat ia cintai.
Deg Deg Deg
Keduanya hanya diam dengan bib*r yang menempel. Jantung kedua berdetak kencang saling berlomba.
"Kau tidak ingin melakukannya, dengan ku?" Tanya Ayya memberi sedikit ruang di antara kedua.
Delmond diam menatapnya, "Tidak, sudah ku kataka---------- ucapan Delmond terhenti saat gadis itu menaruh telunjuk di bibir pria yang hanya berjarak seinci dari wajah cantiknya. Ayya sudah tahu apa yang ingin di katakan pria itu.
"Tapi status ku, janda. Hanya kau yang tahu jika aku masih suci. Jika kita melakukannya... Tidak ada yang tahu jika kau yang menodai ku," lirih Ayya memegang b*bir merah Delmond.
Benar jika cinta memang membuat orang bodoh, dan tidak bisa berpikir waras. Sama halnya dengan Ayya yang begitu mencintai pria di hadapannya, tanpa peduli jika harus menyerahkan mahkota paling berharga dalam hidupnya yang sudah lama ia jaga.
Delmond menatap dalam wajah cantik wanita yang sudah berhasil memporak-porandakan hati dan perasaannya. Memang benar kata gadis itu, hanya dia yang tahu jika Ayya masih perawan, walaupun status gadis itu sudah pernah menikah.
__ADS_1
Mengingat dulu, Delmond lah orang pertama yang membeli keperawanan Ayya dari mantan suami bejatnya.