
"Kenalkan, ini anak-anak Paman, Aidil," kata Adam pada pemuda itu.
Aidil tersenyum dan mengulur tangan berjabat sebagai tanda perkenalan pada kedua adik kakak itu.
"Aidil"
"Arkan"
"Frey"
Mereka saling menyebutkan nama antara satu sama lain.
Setelah itu ke 5 mereka melangkah masuk ke dalam masjid.
,,,
Drrtt Drrtt Drrtt
Ponsel Ayya yang berada pada Delmond sedari tadi terus berdering. Tapi pria itu sama sekali tidak mengangkat ponsel gadis yang ada padanya.
Tampak Ayya menarik nafas berat karena Delmond seperti sengaja mengabaikan panggilannya.
"Kenapa aku harus menyukai pria seangkuh dia sih." Gumam gadis itu kesal.
"Kau kenapa, Ayya? Dari tadi kau terlihat cemberut dan hanya fokus pada ponselmu?" Tanya Zaza.
"Aku tidak cemberut, aku hanya bete saja," jawab Ayya dengan kedua bola mata masih fokus pada ponsel Delmond.
"Wah, kau sudah mengganti ponselmu dengan yang baru? Coba sini ku liat, cantik banget. Kelihatannya ponsel ini mahal banget," Zaza ingin mengambil ponsel dari tangan gadis itu. Tapi Ayya menjauhkan ponsel Delmond dari Zaza.
__ADS_1
"Jangan, ini bukan milikku,"
"Lalu, itu milik siapa?" Tanya Zaza kepo.
Ayya memilih tak menjawab pertanyaan sahabatnya. Ia kembali menghubungi nomor ponselnya yang ada pada Delmond, tapi masih sama seperti tadi. Laki-laki itu langsung tak ingin menjawab panggilan darinya.
Dia di mana? kenapa dia tidak ingin mengangkat panggilan dariku.
,,,
"Bagaimana? Apa kau sudah berhasil?" Tanya Delmond pada anak buah kepercayaannya yang sedang melangkah masuk ke dalam istana Delmond.
Glek!
Red menelan salivanya dengan susah payah saat mendapat pertanyaan ambigu dari Bosnya.
Delmond tampak mendudukkan diri dengan tenang kemudian menyilang dan bersedekap dada.
"Apa kau tidak tahu, atau kau berpura-pura tidak tahu?" Ucap Delmond menatap Red.
Pria itu gemetaran mendapat tatapan Delmond yang tampak sangat mengerikan.
"Saya benar-benar tidak mengerti dengan arah pembicaraan anda, Bos," Red masih kekeh mempertahankan kebohongannya.
"Kau tahu, dari awal kau bekerja denganku, aku sudah tahu jika tujuan mu berada di sini hanya untuk memenjarakan aku. Tapi aku membiarkan kau melakukan sesukamu, karena aku tahu, meski bukan kau yang berkhianat padaku, aku pasti di kemudian hari, akan ada yang lainnya nanti di belakang yang akan berkhianat," ujar Delmond.
Red mengepal erat kedua tangannya kemudian membalas menatap Delmond, "Oh, ternyata dari awal lagi kau sudah mengetahui tujuanku?" Red akhirnya mengakui pengkhianatan yang ia lakukan selama ini.
"Tentu saja aku tahu, kau yang bodoh, karena kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa. Dari awal aku sudah tahu tujuanmu bekerja denganku hanya untuk membalas dendam mu padaku bukan? Atas kematian kakak mu?"
__ADS_1
Rahang Red mengeras, "Ternyata kau tahu semuanya. Kau itu manusia yang sungguh kejam, kau sudah memperkosa kakakku, kemudian kau membunuhnya dengan sadis! Kenapa kau begitu kejam!"
"Kau benar, jika tujuan ku bekerja denganmu memang hanya untuk menjebak manusia iblis sepertimu! Aku berjanji akan membuat kau membusuk di penjara!" Terlihat dendam yang membara dari kedua bola mata Red.
Delmond mangut-mangut, "Tapi sayangnya, kau membalas dendam mu dengan orang yang salah," Delmond berkata dengan raut wajah tenang.
Boom!
Terdengar suara ledakan dari luar istana. Tepatnya di beberapa bangunan yang berada di sekeliling istana.
"Kau jangan mencoba untuk berdalih! Apapun yang kau katakan, aku tidak akan percaya!" Red mencabut senjata api yang berada di sakunya kemudian menodong pada Delmond yang masih tampak tidak terusik sedikitpun.
Boom!
Lagi-lagi terdengar suara ledakan dari luar. Ternyata persembunyian Delmond sudah di kepung oleh polisi dan istananya mulai di hancurkan satu demi satu.
"Arhhhhh"
"Arhhhhh"
"Arhhhhh"
Suara teriakan dari beberapa pelayan yang bekerja di sana.
"Terserah kau mahu percaya ataupun tidak, yang pasti, bukan aku yang membunuh kakakmu." Delmond berdiri dan ingin melangkah.
Dor!
Red melepas tembakan, tapi secepat kilat Delmond menghindar dari peluru Red.
__ADS_1