
Di kamar, Ayya duduk dengan wajah yang menggambarkan kesedihan mendalam. Ia tahu jika apa yang di inginkan orang tuanya itu semua demi kebaikannya juga. Tapi mau bagaimana lagi? Hatinya sudah bertuan semenjak ia bertemu dengan laki-laki dingin yang mencuri sekeping hatinya.
Terdengar isak tangis dari bibir mungil gadis itu. Bagaimana aku ingin bersama dengannya? Aku saja tidak tahu apa dia mencintai ku atau tidak. Meski hati kecilku mengatakan jika dia mencintaiku, tetap saja aku ragu kalau bukan dari mulutnya sendiri. Batin Ayya mengusap air mata yang membanjiri wajahnya.
"Kenapa jadi rumit seperti ini? Padahal aku hanya ingin agar bisa bersama dengannya... Tapi kenapa takdir seolah tidak berpihak padaku?" Gumam Gadis itu berlinangan air mata.
Perasaan cintanya pada Delmond benar-benar dalam sehingga dia sendiri tidak bisa mengukur rasa cinta itu. Meski hanya sekejap bersama laki-laki itu. Delmond berhasil masuk ke dalam dasar hatinya yang paling dalam. Ketulusan pria dingin itu yang membantunya tanpa mengharap balasan, membuat perlahan hatinya mencair bagaikan lilin dan merasakan perasaan berbeda yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Apa yang akan aku lakukan jika sampai Papa benar-benar ingin aku menikah dengan laki-laki pilihannya? Apa kah aku harus mengubur rasa cinta ini? Apa kah aku akan bahagia? Mencintai pria lain, tapi menikah dengan pria lain pula. Aku benar-benar dilema Ya Allah. Aku masih sangat berharap akan kemurahan mu padaku, Ya Allah. Aku mencintainya, dan yang aku inginkan adalah dia. Semoga engkau akan mempersatukan aku dengan laki-laki yang telah di pilih oleh hati ini.
Tubuh gadis itu tergucang, sungguh gadis yang sangat malang. Cintanya begitu besar buat laki-laki yang pernah menyelamatkan hidupnya. Serta menjaganya dengan baik sampai ia kembali pada kedua orang tuanya dan masih utuh tanpa cacat sedikitpun.
__ADS_1
Tak beda jauh dengan Delmond yang sedang duduk di balkon kamar. Tampak pria itu seperti termenung jauh. Hidup berkelimpahan harta, tak bisa membuat laki-laki itu bahagia. Justru ia merasa selama ini hidupnya sangat kesepian dan hatinya yang terasa kosong seperti tak memiliki harapan dan masa depan. Hidupnya terasa suram dan tak bermakna.
Tapi semenjak ia bertemu dengan Ayya. Gadis yang sudah berhasil menggetarkan hatinya. Hidup laki-laki itu terasa lebih bewarna, terasa lebih cerah. Hatinya yang selalu dingin mulai terasa hangat.
Tapi sayangnya, semua rasa itu harus ia kubur dalam-dalam. Ia sadar siapa dirinya, ia sadar dia tidak pantas di sandingkan dengan gadis itu.
Delmond juga tidak ingin membahayakan hidup gadis yang dia cintai. Dia rela mengorbankan perasaannya demi keselamatan dan masa depan Ayya.
Delmond mengambil rokok dan kembali membakar kemudian menyesap. Entah itu rokok yang keberapa, tapi itulah dirinya jika hatinya sedang resah.
,,,
__ADS_1
Karena hari ini adalah hari Jum'at. Adam mengajak kedua putranya untuk sholat jum'at di masjid.
Adam melihat Nabhan dengan putranya juga berada di masjid yang sama.
Adam mengajak Frey dan juga Arkan menghampiri Ayah dan anak itu.
"Assalamualaikum." Adam memberi salam pada Nabhan dan Aidil.
"Waalaikumsalam" jawab Ayah dan anak menoleh ke arah Papa Adam, Frey, dan Arkan.
Arkan melihat ke arah Aidil yang tersenyum lembut dengan peci yang menutupi kepalanya. Arkan dan Frey diam-diam memperhatikan pemuda berwajah lembut dan murah senyum itu.
__ADS_1
Tampak wajah pria itu memancarkan cahaya yang menyenangkan bagi orang yang melihat wajahnya. Sekarang Arkan dan Frey mengerti, kenapa Papa Adam ingin sekali mengangkat Aidil menjadi menantu laki-lakinya.